Don Giovanni | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Don Giovanni Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:15 Rating: 4,5

Don Giovanni

AGAR ANDA BISA MEMAHAMI CERITA SAYA SEPENUHNYA, saya merasa perlu memulainya dengan mengatakan pada Anda bahwa saya ini merupakan seorang wanita yang amat cantik. Jika Anda pikir saya tidak pantas bicara seperti itu, sebaiknya Anda baca saja cerita-cerita lain yang mengungkap tentang kesederhanaan wanita seperti yang Anda pikirkan. 

Bukti dari kecantikan saya adalah bahwa para lelaki umumnya menghabiskan banyak waktu dan uang mereka untuk membuat diri mereka tampak konyol dalam pandangan saya. Dan meskipun saya hanya dikatakan cantik untuk ukuran daerah saya, saya tahu dengan baik cara-cara menarik hati dan merayu laki-laki, seperti halnya wanita lain di dunia ini. Sebelumnya saya juga bisa mengatakan pada Anda bahwa jika Anda termasuk jenis laki-laki yang menarik perhatian saya, saya tahu apa yang akan Anda katakan pada pertemuan pertama, kedua atau ketiga. Saya sudah cukup sering berkencan dan terkadang juga putus cinta karena saya pikir ia mulai menginginkan saya. Terkadang saya membuatnya memutuskan hubungan cinta kami dengan cara menunjukkan kepadanya bahwa saya menginginkannya. Pada kasus pertama saya merasa bersalah; yang berikut, ia yang merasa bersalah, di samping adanya perasaan-perasaan yang lain, rasa lega karena kehilangan yang biasanya dirasakan oleh kedua pihak. 

Saya kira Anda—siapa pun Anda—sekarang ini cukup bisa memahami watak saya. Bagus, Anda boleh merayu diri Anda sendiri. Tapi saya beritahukan juga bahwa acara pacaran bagi saya merupakan sebuah hiburan yang tidak perlu saya cari, dan tidak pernah menimbulkan kesulitan untuk dipelajari. Saya menyukai baju-baju bagus, acara dansa, dan bermain tenis, seperti halnya yang Anda perkirakan. Saya juga menyenangi musik-musik yang baik, buku-buku yang baik, tanaman, kegiatan beternak, dan juga mengajar anak-anak, seperti halnya yang tidak Anda perkirakan. Dan jika ternyata saya lebih dikenal sebagai si cantik dan tukang merayu dibanding sebagai seorang ahli tanaman atau guru, ini karena tak seorang pun bisa percaya bahwa saya mempunyai kesibukan lain daripada merencanakan sebuah perkawinan yang baik. Laki-laki, bahkan yang kelihatannya paling baik, umumnya hanya berusaha memasuki dunia saya untuk memandangi wajah dan bentuk tubuh saya, dan bukan untuk mengasah otak mereka. Saya biasa menyukai perasaan berkuasa karena ini bisa membuat mereka tersiksa; tapi akhirnya saya mendapati mereka menyukai siksaan seperti halnya anak-anak suka digelitik. Saya merasa perlu berpendapat bahwa waktu yang saya habiskan untuk masyarakat pria sebagai saat-saat yang paling membosankan dalam hidup. 

Pada suatu malam di bulan Oktober, saya menerima telegram dari teman-teman di ibu kota, yang jaraknya 25 mil bila ditempuh dengan kereta api. Isi telegram itu menyatakan bahwa mereka punya satu karcis opera untuk saya. (Jika Anda bukan orang Inggris, mungkin ada baiknya saya ceritakan pada Anda bahwa di sini grup-grup opera selalu mengadakan tour keliling daerah-daerah seperti halnya yang dilakukan orang-orang teater lainnya, dan sering kali grup keliling ini lebih pantas dihargai daripada yang ada di London). Hanya tersisa sedikit waktu untuk berlari ke loteng, membuat diri saya tampil semarak, menyambar secangkir kopi, dan mengejar kereta jam tujuh. Saya pergi sendirian: jika saya tidak bisa pergi sendiri, berarti saya harus selalu tinggal di rumah. Kakak-kakak saya yang laki-laki punya kesibukan lain daripada sekadar jadi pengawal saya; Ayah dan Ibu saya sudah terlalu tua dan punya selera sendiri yang lain dengan dunia hiburan gadis-gadis; dan mengenai pembantu, saya cukup bisa menjaga diri saya sendiri tanpa perlu menjaga satu orang wanita dewasa lainnya. Di samping itu, di tempat kami, berada dalam tempat kereta berarti seperti juga berada di rumah sendiri: semua petugas mengenal kami seperti mereka kenal anggota keluarga mereka sendiri. Jadi Anda tidak perlu menghalangi ketergesaan saya karena saya sudah terbiasa pergi ke kota dengan kereta api; naik taksi menuju gedung teater; menemui teman-teman di sana; kembali lagi ke stasiun; dan mencapai puncak ketidaksopanan—pulang ke rumah dengan kereta api jam setengah dua belas malam: semua itu tanpa kawalan. 

Opera malam ini menyuguhkan cerita Don Giovanni; dan tentu saja karcis pertunjukan laku keras. Dalam kebanyakan pertunjukan opera—bagi mereka yang tahu musik bisa membaca naskah opera untuk diri mereka sendiri seperti halnya orang lain membaca Shakespeare. Sang Don diperankan oleh seorang Prancis, yang dengan suaranya yang sengau serta tak berirama itu tak pernah mencapai nada suara dengan tepat, yang membuat kita tahu apakah ia sedang menyanyi atau tidak. Leporello diperankan oleh seorang Italia yang kasar, yang bukannya menyanyi malah merepet seperti itik. Sang penyanyi tenor, seorang makhluk beriman, meninggalkan Dall begitu saja karena ia tidak punya rasa percaya diri untuk menghadapi itu. Bagian Masetto dan sang Gubernur dimainkan oleh satu orang. Pemeran wanita, Donna Anna diperankan oleh seorang wanita gemuk dan berusia lima puluh tahun; Elvira merupakan penyanyi sopran yang dramatis, yang suaranya selalu pecah setiap kali mencapai nada F tinggi; dan Zerlina, seorang pemula dalam perjalanan itu, yang telah menyelesaikan Batti, batti dan Verdrai carino dengan cadenza di luar pemandangan gila di Lucia, dengan konsekuensi diminta mengulang kedua nyanyiannya itu. Permainan orkestra didukung oleh pemain-pemain amatir lokal, bagian alat tiup dimainkan seolah dari band Hussars ke-10. Setiap orang tampak gembira; dan ketika saya mengatakan bahwa saya tidak senang dengan pertunjukan itu, mereka berkata, “Engkau terlalu kritis dan susah untuk bahagia. Bukankah engkau bisa lebih menikmati kehidupan jika engkau tidak berlaku aneh begitu.” Ingin rasanya saya melempar musik semacam Mozart pada orang-orang idiot itu!

Ketika si call boy dan laki-laki Prancis itu tenggelam dalam ruang bawah gedung karena api merah sampai munculnya raungan Hussars yang ke-10 dan bunyi repetan dari makhluk yang menyebalkan dari bawah meja, saya pun bangkit dan bersiap untuk pergi; saya merasa muak dan kecewa, dan juga heran bagamana orang-orang mau mengeluarkan uang untuk menonton opera semacam itu sehingga tak seorang pun akan menyukai komedi moderan atau Box dan Cox. Hujan turun ketika kami ke luar dari gedung pertunjukan; dan kami harus menunggu sekitar 10 menit sebelum datang taksi untuk saya. Kelambatan itu membuat saya khawatir, takut ketinggalan kereta terakhir; dan meskipun akhirnya merasa sedikit lega karena telah bisa naik ke kereta dengan tiga menit waktu tersisa, saya tidak terlalu gembira ketika petugas mengunci saya seorang diri di gerbong kelas satu. 

Mula-mula saya bersandar di sudut tempat duduk, dekat jendela, dan kemudian mencoba untuk tidur. Namun kereta baru bergerak sebentar ke luar stasiun, ketika terdengar sinyal pertanda turun kabut; dan kereta pun berhenti. Sementara menunggu, dengan mata melotot dan hati menderita, hujan menerpa jendela kereta, membuat saya mengalihkan perhatian ke jendela. 

Malam begitu gelap, saya tidak bisa melihat apa-apa di kaca kecuali bayangan isi kereta, dan tentu saja termasuk bayangan diri saya. Dan saya tak pernah kelihatan begitu mempesona selama hidup seperti pada malam ini. Saya benar-benar cantik. Perasaan pertama yang timbul adalah kebahagiaan saya terhadap kewanitaan saya itu. Namun muncul kesedihan yang segera merenggutnya, ketika saya menyadari bahwa tak seorang pun di gerbong ini, yang berarti bisa memandangi kecantikan saya. Para pembaca, Anda boleh percaya bahwa orang-orang yang amat menawan pun hanya tampil prima dan benar-benar menarik pada saat-saat tertentu saja. Muncul hari-hari yang tidak menyenangkan ketika Anda tidak bisa tampil menarik untuk dipandang, dan juga hari-hari berhuruf merah ketika Anda sedang tampil prima—ketika Anda tidak bisa melihat wajah dan mata Anda sendiri tanpa emosi. Tapi Anda tidak bisa setiap hari berada dalam keadaan seperti itu: bukan jumlah sabun, bedak, atau kesibukan mengurus rambut dan pakaian, yang membuat Anda tampil seperti itu. Jika kecantikan seperti itu muncul—hidup terasa berarti. Kecuali jika itu terjadi pada saat seperti yang saya alami sekarang ini, di mana Anda kehilangan perhatian karena berada di tempat yang sepi atau sedang sendirian, atau sedang berada di tengah-tengah keluarga, yang pada umumnya tidak terlalu perduli dengan penampilan Anda. Bagaimanapun, keadaan ini membuat saya bahagia, menghilangkan gigitan rasa dingin; ini seperti halnya ketika saya pulang larut malam dan mengatasinya dengan marah-marah. 

Akhirnya terdengar bunyi geruduk-geruduk kuat dari rantai penyambung gerbong dan dentuman kopeling kereta; berarti sebuah kereta barang ke luar dari rel. Kami merasakan sebuah sentakan; dan saya menempatkan tubuh saya di sudut tempat duduk dengan wajah saya menghadap ke jendela, dan mencoba menikmati wajah saya sendiri ketika kereta berangkat. Saya tidak memejamkan mata sekejap pun: saya terus saja melotot. Saya mulai memikirkan banyak hal. Opera yang baru saja saya tonton cukup memenuhi kepala saya; dan tiba-tiba muncul dalam ingatan saya, kalau saja saya sudah pernah bertemu dengan Don Giovanni, mungkin saya lebih bisa memahami dirinya dibanding wanita lain mana pun. Saya yakin ia tidak akan bisa membodohi saya, seperti yang ia lakukan terhadap orang lain, seperti yang baru saja diperankan oleh orang Prancis bersuara gemetar itu. Mungkin Don Giovanni yang sesungguhnya amat berbeda; dari pengalaman, saya telah belajar bahwa orang yang terlalu banyak dikagumi sering kali diarahkan untuk terperangkap dalam hubungan-hubungan percintaan dengan orang-orang yang akan ia tinggalkan jika ia berada seorang diri. 

Saya telah berangan-angan terlalu jauh ketika akhirnya saya mulai memandang ke sekeliling saya—saya tidak tahu mengapa; karena pada dasarnya tak ada sesuatu atau seseorang yang bisa dilihat; dan ternyata di sana, berhadapan dengan tempat duduk saya, duduk seorang laki-laki memakai jas merah yang amat bagus dan berpotongan artistik, dengan jahitan amat rapi. Ia mengenakan sepatu bot, terbuat dari kulit yang amat halus, yang panjangnya setinggi lutut: saya tidak pernah melihat sepatu kulit sehalus itu, kecuali sepasang sepatu yang saya beli di Paris, yang lebih mirip kulit bayi daripada kulit sepatu, dan harganya 40 franc. Ia mengenakan topi berbentuk roda kereta dan terbuat dari kulit berwarna hitam. Dan untuk menceritakan kelengkapan penampilannya, laki-laki itu membawa sebuah pedang berlapis emas, yang bentuknya begitu bagus sehingga menyenangkan bila dipandang. 

Saya tidak bisa mengatakan mengapa saya harus bersibuk diri dengan penampilannya itu sebelum muncul rasa heran pada diri saya tentang bagaimana cara orang itu memasuki gerbong kereta ini; tapi begitulah adanya. Mungkin, tentu saja, ia baru pulang dari sebuah pesta dansa dan masuk ke dalam gerbong ketika kereta berhenti lama di luar stasiun. Namun ketika saya mencoba mencuri pandang ke wajahnya—saya perlu mengatakan—bahwa seorang gadis yang berpengalaman tidak akan langsung menatap mata seorang laki-laki ketika mereka hanya berdua-dua dalam sebuah gerbong kereta—wajah laki-laki itu tampan dan halus, tenang, dan tampaknya setia, dan juga sedang memandang ke arah saya. Hal itu membuat saya merasa kecil, meskipun kemudian saya perlu merasa bersyukur karena penampilan saya yang sedang prima. Tapi kemudian saya mempersetankan itu semua: ia hanyalah seorang lelaki. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti diri saya ketika saya menangkap ekspresi kemarahan di wajahnya, seolah saya telah mengusiknya. 

“Tenang-tenang sajalah,” ujarnya dengan suara tenang dan bagus, yang memang cocok dengan penampilan wajahnya; dan kemudian saya mengamatinya lagi—kali ini tanpa menggunakan daya tarik saya, dan saya pun melihat diri sendiri seperti anak umur 10 atau 12 tahun yang nakal. “Engkau sendirian, ya. Aku ini apa yang kalian namakan hantu, dan tidak punya minat untuk berurusan denganmu.”

“Hantu!” saya tergagap, mencoba tetap tegar, dan berpura-pura tak percaya dengan hantu. 

“Sebaiknya engkau meyakinkan dirimu sendiri. Kibaskan kipasmu itu ke lenganku,” katanya dingin sambil mengangsurkan sikunya, dan memandang saya dengan tajam.

Lidah saya terasa tersekat di dasar kerongkongan. Saya berpikir seandainya ia tidak melakukan sesuatu untuk mengatasi saat-saat yang menakutkan itu, tentu rambut saya sudah menjadi putih. Saya meletakkan kipas saya yang terlipat pada lengannya. Kipas itu lewat saja seolah tak ada lengan di sana; dan saya menjerit, seolah kipas itu telah berubah menjadi pisau yang menusuk-nusuk daging saya. Laki-laki di hadapan saya itu benar-benar tampak tidak senang, dan dengan cepat berkata, 

“Karena aku tadi telah mengingatkamu, lebih baik sekarang aku pindah ke gerbong lain.” Dan saya merasa yakin ia akan menghilang ke sana, dan jika ini terjadi—sehingga sambil hampir menangis saya memohon. 

“Oh jangan, jangan: jangan pergi. Aku tidak berani sendirian setelah bertemu denganmu.”

Ia tersenyum kecil; namun ia tampak lebih manusiawi dengan sikapnya yang seperti itu, memandang saya dengan campuran rasa kasihan dan tertarik. “Aku harus tetap di sini jika hal ini memang membuatmu tenang,” katanya. “Tapi engkau harus benar-benar bisa mengatur tingkah lakumu seperti seorang wanita terpelajar, dan jangan berteriak padaku.”

Mikroskop belum lagi ditemukan, yang bisa membuat tampak jelas segala makhluk hidup yang lebih kecil dari yang saya rasakan sekarang. “Maafkan aku,” kata saya merendahkan diri: “Aku tidak biasa dengan peristiwa seperti ini.” Dan kemudian, untuk mengalihkan subyek pembicaraan—karena ia tampak tak perduli dengan permintaan maaf saya, saya pun berkata lagi, “Kelihatannya aneh, engkau perlu naik kereta api segala.”

“Mengapa?”

“Bukan hal yang aneh jika ini merupakan kejadian sehari-hari,” ujar saya, mencoba menunjukkan padanya bahwa saya benar-benar seorang wanita terpelajar. “Tapi bukankah engkau bisa terbang—lebih cepat sampai ‘kan?”

“Terbang!” ulangnya dengan marah. “Kau pikir aku ini burung?”

“Bukan begitu maksudku; hanya saja aku berpikir bahwa hantu itu bisa—bukan sepenuhnya terbang, tapi memproyeksikan diri—dirinya sendiri—dirimu sendiri, maksudku—melalui ruang; dan—itu jika engkau terkondisi oleh ruang dan waktu.” Saya merasa takut sekaligus sombong. 

Namun tampaknya keangkuhan justru menyenangkan hatinya. Ia menjawab dengan ramah. “Aku sudah terkondisi. Aku bisa berpindah-pindah tempat—memproyeksikan diri, seperti yang engkau sebut tadi. Tapi kereta ini bisa menghilangkan kesulitanku.”

“Ya, tapi bukankah jalannya kereta api lebih lambat?”

“Hidupku yang abadi seperti ini tidak membuatku suka terburu-buru.”

Saya merasa bodoh, tidak bisa melihat hal ini. “Tentu saja,” kata saya. “Maafkan ketololanku tadi.”

Ternyata ia marah lagi, dan menepuk-nepuk mantelnya. Lalu dengan cepat ia berkata, “Aku mau menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dan membantumu dengan memberi informasi sebanyak mungkin. Tapi kukatakan padamu bahwa permintaan maaf, perasaan bersalah, dan omongan-omongan yang tidak perlu, semuanya itu bagiku merupakan hal yang amat membosankan. Ingat baik-baik, tak satu pun yang kau lakukan bisa membuatku terluka, sakit hati atau kecewa. Jika engkau berlaku bodoh atau tidak jujur, tak ada gunanya bagiku bertikai denganmu: titik.”

Ketika merasa sudah sembuh dari penghinaan kecil ini, saya langsung bertanya. “Haruskah aku selalu bertanya padamu? Ada tradisi pada hantu … pada orang-orang dari … pada wanita dan laki-laki dari dunia lain.”

“Dunia lain!” katanya kaget. “Apa itu dunia lain?”

Saya merasa pipi saya menjadi merah, tapi tidak berani minta maaf. 

“Umumnya perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan pada hantu,” ujarnya. “Ini karena mereka tidak punya minat berhubungan denganmu; dan mereka juga tidak bisa cukup bersimpati kepadamu sehingga bisa menebak minatmu. Pada saat yang sama, ketika pengetahuan merupakan hak bagi semuanya, bukan hantu yang menjadi pencuri atau orang kikir dan menolak memberi informasi terhadap sebuah pencarian. Tapi engkau tidak bisa mengharapkan kami untuk terlibat dalam sebuah pembicaraan yang tak menentu.”

“Mengapa?” tanya saya agak gelisah gara-gara superioritasnya yang dingin.

“Karena aku tak punya minat sedikit pun untuk membuat diriku mudah sependapat denganmu.”

“Aku minta maaf,” kata saya, ”tapi aku benar-benar tak punya ide untuk menanyakan sesuatu kepadamu. Paling tidak, yang muncul di kepalaku sekarang ini kelihatannya bersifat pribadi dan tak berperasaan.” 

“Jika memang begitu pendapatmu, mungkin engkau ini orang dungu,” ia menjawab dengan tenang dan lembut, seperti seorang dokter yang sedang berbicara pada saya tentang masalah kesehatan saya. 

“Begitulah aku,” ujar saya dengan kesabaran yang mulai hilang. “Bagaimanapun, jika engkau tidak bisa bicara sopan, engkau bisa menyimpan informasimu itu untuk dirimu sendiri.”

“Maaf, kalau aku melukai hatimu; aku harus berusaha keras untuk tidak melakukan itu,” katanya, “lebih baik engkau mengajukan pertanyaanmu, dan mengingat dalam hati bahwa di antara hantu yang usianya berabad-abad dengan seorang gadis umur dua puluh tahun, tidak boleh ada pertanyaan tentang sopan santun.”

Tampak kesabarannya yang mengagumkan di balik penghinaannya terhadap diri saya, yang akhirnya membuat saya bertekuk lutut. Di samping itu, umur saya lebih tua empat tahun dari yang ia duga. “Rasanya aku perlu tahu,” kata saya, “siapa sebenarnya engkau ini; dan apakah engkau sakit parah sehingga membuatmu mati. Kuharap pertanyaan ini tidak menyakitkan hatimu. Jika memang menyakitkan—“

Ia tidak menunggu akhir permintaan maaf saya, yang bernada olok-olok. “Pengalaman kematianku begitu khusus,” katanya, “bahwa aku benar-benar bukan orang yang berwenang terhadap masalah itu. Aku ini seorang bangsawan Spanyol, yang jauh lebih maju dari kebanyakan orang seumurku—yang suka mendendam, senang mistik, ganas, rakus, suka berprasangka buruk, brutal, dan amat tolol jika sedang terlibat cinta, dan secara intelektual picik dan tidak jujur.”

Saya menghela nafas, tertegun dan kagum dengan cara berbahasanya yang mengalir. 

“Meskipun aku ini anggota dinasti Tenario yang terakhir—keluarga yang selama beberapa generasi selalu menjadi pejabat-pejabat pengadilan, aku tidak mau menghabiskan waktu dengan menjadi budak gelar; dan karena penolakan ini di mata keluargaku dianggap tak pantas, aku didorong untuk tidak menghargai diriku sendiri. Ini agak menyulitkan gerakku. Aku punya uang, kesehatan yang baik, dan bisa menjadi tuan bagi diriku sendiri. Dan membaca, bepergian, dan berpetualang, merupakan tujuan-tujuan hidup yang paling ingin kucapai. Sebagai lelaki muda yang memiliki pendapat-pendapat yang berbeda dengan pandangan kuno dan juga mengoleksi humor-humor sinis namun menyentuh, aku memperoleh semua itu dari orang-orang yang dicap ateis dan mereka yang dianggap tidak bisa menghormati wanita; namun kenyataannya, aku ini tidak lebih buruk dari seorang pemikir bebas yang romantis. Sesekali ada wanita-wanita yang memancing fantasi kemudaanku; dan biasanya aku akan memujanya, dari kejauhan dan dalam waktu yang panjang, tanpa pernah berusaha berkenalan dengannya. Jika ada kejadian yang tak terduga, yang membuatku jadi kenal dengan mereka, aku bisa menjadi amat malu, terlalu mempercayai dan menghargai mereka; dan pada akhirnya, beberapa pria yang congkak dan berpengalaman akan menghujani mereka dengan hadiah-hadiah, tanpa sedikit protes pun dariku.

“Akhirnya, seorang wanita yang sudah menjanda, yang rumahnya terkadang kukunjungi, dan yang perasaan-perasaannya terhadap diriku tak kuragukan lagi, merasa tak bisa sabar lagi terhadap kebodohanku, dan pada suatu malam menjatuhkan dirinya dalam pelukanku sambil menyatakan perasaan cintanya padaku. Rayuan dan kecantikannya ditambah keterkejutan dan tiadanya pengalaman pada diriku, membuat perasaanku meluap. Aku tidak mampu menghadapi kebrutalannya; dan selanjutnya, selama hampir sebulan aku mereguk kenikmatan yang ia sodorkan padaku. Itu hubungan percintaanku yang pertama; dan meskipun selama sekitar dua tahun wanita itu tidak punya alasan untuk mengeluhkan kesetiaanku, aku mendapat sisi romantis dalam hubungan kami, yang kelihatannya tak menyentuhnya kecuali pada saat-saat yang amat khusus, ketika kekuatan cinta membuatnya cantik, jiwa dan raganya. 

“Sayangnya aku tidak segera kehilangan ilusiku, sikapku yang malu-malu, dan rasa ingin tahuku terhadap wanita, sehingga aku pun mulai menarik-narik perhatian mereka. Kegembiraanku terhadap kegiatan ini ternyata berubah menjadi bencana. Aku segera menjadi sasaran kecemburuan: di samping tak-tik yang kulancarkan, tak ada temanku yang sudah menikah, yang tak akan berduel denganku tanpa alasan yang mendasar. Pembantuku yang setia menghibur dirinya sendiri dengan cara membuat daftar dari orang-orang yang kutaklukan itu, tanpa pernah membayangkan bahwa aku tidak pernah mengambil keuntungan dari mereka, karena aku lebih menyukai pengagum-pengagum yang masih muda dan belum kawin, dan mereka ini karena melihat kepolosan dan sikapku yang malu-malu, mau melindungiku dari rayuan para nyonya muda kenalanku, dan mereka melakukan kebaikan itu tanpa rasa berat hati—segera setelah mereka mendapati tak ada sesuatu yang bisa diharapkan dariku. Berulang kali aku harus membebaskan dirku dari posisi yang tidak mengenakkan itu, dengan cara meninggalkan tetangga-tetanggaku, sebuah cara melarikan diri yang mudah mengingat kebiasaanku bertualang sekaligus juga membuatku tidak terhormat karena keadaanku yang mirip gelandangan. Pada saat yang bersamaan, pendapat tolol pembantuku mulai tersebar; dan akhirnya aku mulai dikenal sebagai seorang bandot, perayu wanita.

“Reputasi itu terus saja mengembang, seperti bola salju yang menggelinding. Ceria-cerita absurd tentang diriku mulai jadi bahan gosip sehari-hari. Keluargaku tidak mau mengakuiku; dan aku sendiri sudah merasa perlu meninggalkan egotisme Spanyol dan meremehkan segala bentuk rayuan untuk alasan kerukunan bersama. Tak lama kemudian, aku benar-benar harus berhadapan dengan hukum. Seorang wanita muda yang alim, anak seorang Komandan di Seville, telah bertunangan dengan seorang kawan baikku. Terpengaruh oleh apa yang ia dengar tentang diriku, wanita ini membawaku ke sebuah keadaan yang amat menakutkan; namun temanku, karena berharap bisa menyelamatkan perasaanku, ia selalu berusaha menghindariku. Suatu hari, aku membuat janji pertemuan dengan calon istrinya itu. Aku sengaja berkunjung ke rumahnya karena konon masih ada hubungan darah antara keluarga sang Komandan dengan keluargaku. 

“Hari sudah cukup gelap ketika aku bertemu dengan calon istri temanku ini; dan dalam keremangan ia menyambutku dengan pelukan, menyangka aku ini kekasihnya. Penolakanku akhirnya menyadarkannya, tapi ia tidak meminta maaf atas kesalahannya, hal yang membuatku tidak mengerti sampai kemudian ia berteriak, dan ketika ayahnya datang dengan pedang terhunus, wanita itu menuduhku telah menghinanya. Sang Komandan, tanpa berusaha mencari tahu masalah yang sesungguhnya, langsung berusaha untuk membunuhku, dan ia akan sudah berhasil melakukannya seandainya aku tidak mempertahankan diri dengan menubruk tubuhnya. Ia sudah mengakui kesalahannya dan kami menjadi teman baik sekarang; terlebih-lebih karena aku tidak pernah menyebut diriku sebagai jagoan, dan hanya mengakui bahwa telah membuat tindakan yang menguntungkan dalam kegelapan itu. Dan tanpa dibayangkan sebelumnya, sang Komandan meninggal hanya lima menit setelah aku menyerangnya; dan aku dan pembantuku harus melarikan diri sebelum seisi rumah membunuh kami.

“Dan anak perempuannya itu, seorang gadis Spanyol dan penganut Katolik yang taat, amat bernafsu untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Ketika pejabat-pejabat pengadilan Seville membuat patung ayahnya yang sedang mengendarai kuda, gadis itu meyakinkan semua orang bahwa sang Komandan menungguku di Surga untuk melakukan balas dendam. Wanita ini juga berteriak-teriak dan menangis, dan selalu memburuku dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga para pejabat pengadilan berulang kali memintaku untuk melarikan diri dari sidang agar diri mereka tak tepengaruh oleh ucapan-ucapan wanita itu dan juga opini masyarakat yang menuntut penahanan atas diriku, dan para pejabat itu membiarkan aku bebas karena memandang kedudukan sosialku. Wanita itu juga menolak kawin dengan temanku sampai aku mau menebus kesalahanku. Ottavio yang malang, yang harus menderita karena kepicikan calon mertuanya. Ia tahu bahwa aku dan kekasihnya sama-sama bisa disalahkan. Tapi di hadapan kekasihnya ia pernah bersumpah tak akan menyarungkan pedangnya sampai pedang itu menjadi merah karena darah jantungku, sambil diam-diam memberiku informasi tentang laporan-laporang kekasihnya, dan meskipun temanku tetap setia membuntuti kekasihnya seperti seekor anjing terhadap tuannya—karena ia begitu mencintai kekasihnya—ia berusaha agar kami tak pernah berpapasan di jalan.

“Akhirnya reputasiku yang absurd, pengagum-pengagumku dan jaksa penuntut di Seville menjadi begitu lelah, dan ini membuatku ingin mengguncang mereka dengan memutuskan untuk menikah dan menjadi laki-laki terhormat. Dengan anggapan bahwa wanita-wanita dari Old Castile kemungkinan lebih berprasangka buruk padaku dibanding dengan mereka yang ada di Andalusia, aku pun pergi ke Burgos dan di sana berkenalan dengan seorang gadis yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Ketika aku merasa puas, karena tingkah lakunya yang baik dan juga tidak adanya ikatan khusus denganku maupun dengan laki-laki lain, aku pun segera mengawininya. Ketenangan dan tersedianya waktu untuk belajar, dan bukan kebahagiaan, merupakan tujuan perkawinanku. Namun ketika ia mendapati—dengan instingnya—bahwa aku mengawininya bukan karena cinta, dan bahwa aku tidak terlalu memandang tinggi terhadap kecerdasannya, ia pun menjadi amat cemburu. Hanya mereka yang pernah dicurigai oleh pasangannya yang cemburuan yang bisa membayangkan bagaimana tidak enaknya mendapati spionase seperti itu. Aku mencoba bertahan tanpa berkata-kata dan menampilkan isyarat; dan ia tentu saja tak menemukan apa-apa yang bisa dijadikan bukti. Lalu ia pun mulai menyiksa dirinya dengan cara mencari tahu tentang diriku dari kenalan-kenalannya yang punya kontak dengan Seville, dan laporan mereka semakin membakar kecemburuannya sampai pada titik yang ia katakan bahwa aku sedang membunuhnya.

“Suatu hari ia begitu marah sampai-sampai ia mengatakan kalau aku tidak mengakui ketidaksetiaanku atau membuktikan bahwa aku mencintainya, ia akan mati. Sekarang aku tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan bahan pengakuan; dan mengenai kecintaanku kepadanya, tak ada yang bisa kukatakan kecuali mengungkap bagaimana ia telah membuatku amat lelah. Jelas, tak ada sesuatu yang bisa kulakukan. Sebelumnya, terkadang aku menyuruh pembantuku untuk menenangkan hatinya, karena ia mencurigai pembantuku yang dianggapnya selalu membawa pesan-pesanku untuk wanita-wanita simpananku; namun pembantuku cukup siap menghadapi keadaan ini, karena ia sendiri pernah terbawa sampai ke ambang kehancuran perkawinan akibat intrik-intrik dungu. Ketika menerima pesan dariku, pembantuku langsung datang dari Seville ke rumah kami; terus berusaha membuat istriku curiga bahwa aku ada janji di katedral siang itu; dan istriku mengamatiku mengemasi pistol-pistolku dan membungkusnya dengan kain sprei; dan kemudian pembantuku pergi bersamaku menuju Seville sebelum matahari terbenam. Jarak dari Burgos ke Seville 100 liga Spanyol, itu kalau jalannya lurus; dan karena pada saat itu tidak ada kereta api, aku tidak percaya kalau istriku akan bisa membuntutiku, meskipun jika ia tahu tujuan perjalananku.

“Ketika aku menghadapkan kepala kudaku ke arah selatan, tampak kota Burgos—seperti biasanya—suram, seperti sebuah gua pertapa: sementara Seville merupakan tanah yang menyenangkan. Kami tiba dengan selamat; namun aku segera mendapati bahwa keberuntunganku belum tiba. Beberapa saat setelah kami tiba, aku melihat dari kejauhan seorang wanita berdiri di pinggir jalan dan tampak amat sedih. Dengan maksud ingin menolngnya, aku mendapati bahwa wanita itu istriku. Ketika ia minta penjelasan ataas pelarianku itu, aku merasa kehabisan akal, melihat bagaimana ia mendapati kenyataan buruk ini. Dalam keputusasaan, aku mencoba mengalihkan perhatiannya ke pembantuku, dan diam-diam kabur lagi ketika pembantuku telah mengikat perhatiannya. Tak lama setelah aku menghilang, pembantuku—yang khawatir bahwa kerukunan di antara kami akan segera tercipta dan bahwa itu berarti ia harus kembali bersamaku ke Burgos, menunjukkan daftar orang-orang yang kutaklukkan, termasuk 1.003 orang di Spanyol, dan banyak lagi di negara-negara yang bahkan belum pernah kukunjungi. Elvira, yang tak pernah bisa mempercayai setiap pernyataan yang benar tentang diriku, langsung percaya dengan jumlah seribu tiga yang tak masuk akal itu, dengan penuh semangat. Daftar itu di antaranya berisi nama enam wanita yang telah bercinta secara gila-gilaan denganku, dan lima belas orang lainnya yang pernah kuberi pujian meskipun hanya satu atau dua kali. Dan sisanya merupakan cerita karangan, banyak di antara nama-nama itu kuambil dari buku milik pembantu ayahku, seorang penjaga toko minuman keras.

“Ketika Leporello sudah menciptakan cerita bohong sebanyak mungkin, ia akhirnya bisa membebaskan diri dari istriku dengan cara melarikan diri. Sementara itu, aku mencoba mengasingkan diri ke salah satu rumahku di daerah pedesaan, tempat aku berusaha menghibur diri dengan bertani. Kesederhanaan tempat ini pada mulanya tampak menarik, namun segera saja membuatku sedih. Nasib buruk rupanya juga sedang menghampiriku. Suatu hari, ketika aku seperti biasanya sedang berjalan-jalan, aku melihat anak perempuan sang Komandan, masih juga diliputi kesedihan yang dalam, yang membuatnya jatuh sakit. Ottavio yang malang tampak duduk di ujung kakinya. Untungnya dalam cuaca cerah seperti ini, wanita itu tak mengenaliku; aku mungkin akan telah melewatinya sambil mengucap sepatah atau dua patah kata sapaan, ketika tiba-tiba muncul istriku—dan mulai mencercaku dengan sengit. Ia telah membukakan rahasiaku ketika aku melontarkan kata-kata pertama kepada tunangan Ottavio, Don~a An~a. Namun sepertinya Don~a An~a tidak menyadari hal itu; dan ketika kulihat istriku cepat-cepat pergi sambil mengomel panjang lebar, aku membuntutinya. Ketika kami sudah menjauh dari An~a, dan aku mendapati kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa berbuat baik kepada Elvira, aku segera pulang ke rumah.

“Malam itu aku telah mengundang petani-petani kenalanku untuk menghadiri sebuah pesta dansa, yang merupakan sebuah pesta kawin dua orang penyewa rumahku. Pasangan ini kubiarkan mengadakan pesta dengan menggunakan karpet-karpet serta perabotan milikku. Sementara itu, tak ada yang kulakukan kecuali mengganti bajuku dan menerima tamu-tamuku sebaik dan seramah mungkin. Tamu-tamuku ini tampak canggung dan gaduh; namun perhatianku segera teralih dari mereka disebabkan kedatangan tiga orang asing bertopeng, yang segera kukenali sebagai istriku, An~a, dan Ottavio. Tentu saja aku berpura-pura tak mengenal mereka, dan lalu menyambut kedatangan mereka, dan setelah itu asyik berdansa. Ottavio diam-diam berusaha menyampaikan pesan untukku pada secarik kertas yang menyatakan bahwa kemarin itu An~a tiba-tiba saja mengenali suaraku dan kemudian bertemu dengan istriku dan membicarakan kemarahan dan sakit hatinya kepada Elvira. Mereka berdua segera menjadi teman baik, dan mereka memaksa datang ke pestaku dengan mengenakan topeng agar bisa memburuk-burukkan aku di hadapan teman-temanku. Dan Ottavio merasa tak mampu mencegah mereka; dan yang dapat ia sarankan padaku hanyalah seandainya aku menemukan jalan untuk mengungkap hal yang sebenarnya dari masalah ini, ia akan menempatkan diri sebagai musuhku asalkan An~a sedang mengawasiku.

“Pada saat itu aku merasa sampai pada batas kesabaranku. Kuminta Leporello mengambil pistolku dan menyimpan di sakunya. Kemudian aku bergabung dengan orang-orang yang sedang asyik berdansa, dan mengajak mempelai wanita menjadi pasanganku—sebelumnya—pengantin wanita itu kuhindari karena pengantin laki-laki kelihatannya cemburu kepadaku, padahal pengantin wanita itu sebenarnya juga menyerah pada daya tarik neraka—yang juga masih kunikmati. Aku mencoba berdansa dengan irama minuet dengannya; namun gagal—lalu kami mencoba waltz. Ternyata ini di luar kemampuannya; namun ketika mecoba irama country, ia tampak begitu bersemangat sampai-sampai aku merasa perlu segera mencarikan sebuah kursi di ruangan yang lebih kecil. Kulihat kedua wanita bertopeng itu menarik napas lega. Sambil mengajak ngobrol pengantin wanita, aku menawarkan padanya untuk mau melakukan apa yang kuminta. Lalu aku menuju ke pintu; menutupnya; dan menunggu.

“Tiba-tiba Leporello masuk dan memohon padaku untuk menjaga tingkah laku karena orang-orang di luar kamar mulai membicarakan diriku. Dengan tegas kukatakan pada Leporello agar memberi wanita ini sejumlah uang karena kepatuhannya mengikuti perintahku. Ketika Leporello telah melakukannya, dengan tegas kukatakan pada wanita ini: ‘Teriak, berteriaklah seperti setan.’ Ia tampak ragu; namun Leporello, melihat kalau aku memang tidak ingin buang-buang waktu lagi, langsung mencubit lengannya; dan pengantin ini berteriak, tidak seperti satu setan melainkan seribu setan. Selanjutnya, pintu didobrak oleh pengantin laki-laki dan teman-temannya; aku dan Leporello berebut keluar diiringi kegaduhan hebat, kami langsung menuju kedai minum. Namun kalau saja Ottavio tidak menghunus pedangnya dan menceramahiku, orang banyak itu tentu telah menyerangku. Kukatakan pada Ottavio bahwa jika pengantin wanita itu terluka, itu karena kelakuan Leporello. Aku seolah kehilangan kesabaran; menghadang mereka; dan sudah akan melakukan kesalahan, kalau saja Ottvaio tidak terus menghalangiku. Akhirnya Leporello mengeluarkan pistol-pistol yang dibawanya; dan kami sudah sampai di pintu luar, ketika Leporello lari menyelamatkan diri. Setelah sejenak mempertimbangkan, aku mengikuti jejaknya, dan kami berdua mengambil kuda-kuda dari kandang kuda terdekat, dan bisa mencapai Seville dengan selamat.

“Beberapa waktu setelah itu, aku hidup dalam damai, sampai suatu malam istriku menemukan tempatku dari pandangannya lewat sebuah jendela tempat tinggal kami; namun aku melepaskan diri darinya dengan memakaikan mantelku pada Leporello dan kusuruh ia berlaku seperti diriku ketika menyambut istriku. Seperti biasanya istriku, yang merupakan wanita paling cemburuan, ia terlalu egois untuk melihat bahwa aku menghindarinya hanya karena ia selalu menentangku. Ia pun mulai menyebar-nyebarkan berita bahwa aku telah menyuruhnya berjalan dengan Leporello, agar aku bisa merayu pembantu perempuannya ketika ia sedang tidak ada; sebuah pernyataan yang sama sekali tak berdasar, namun bisa amat dipercaya oleh semua orang.

“Sekarang aku sampai pada kejadian yang mengantar aku pada kematian. Pada malam itu juga, setelah melarikan diri dari istriku, Leporello mendatangiku di lapangan tempat patung sang Komandan, di mana aku sedang berbicara sendiri sehubungan dengan isi prasasti dan peran Pejabat Kota. Ketika pembicaraan sedang berlangsung, aku mulai tertawa. Tiba-tiba yang membuatku kaget, sang Komandan atau tepatnya patung ini melancarkan protes dan mengatakan aku sedang menciptakan ketidakseimbangan. Leporello, yang baru mendengar patung itu berkata-kata dengan jelas, menjadi ketakutan luar biasa; sehingga aku sampai merasa muak dengan tingkah lakunya itu.

“Aku memaksanya mendekati patung itu dan membaca prasastinya, seperti halnya jika aku sedang memaksa kuda mendekati obyek yang ditakutinya. Namun prasasti itu tidak bisa meyakinkan Leporello yang malang; dan guna memberi gambaran tentang sebuah hubungan yang aneh, aku berpura-pura memaksanya untuk mengundang patung itu agar mau makan malam di rumah kami. Dan Leporello mencoba membujukku dengan mengatakan bahwa laki-laki dari batu itu telah menganggukkan kepalanya tanda setuju. Rasa ingin tahuku mendadak mengembang. Dengan teliti kuamati patung itu, dan dengan rasa penuh ingin tahu kutanyakan padanya apakah ia benar-benar mau makan malam di rumah kami. Dan patung itu mengatakan ‘ya’—suatu yang membuatku lebih kaget lagi, karena setahuku, sang Komandan masuk sekolah lama yang ketat dengan etiket. Tiba-tiba aku sadar akan kesehatanku; karena sepertinya aku mirip orang gila, atau yang semacamnya; Leporello juga telah mendengar suara itu, sesuatu yang mulanya hanya kubayangkan. Sekarang ini aku hanya memikirkan dua hal. Pertama, kami berdua sudah puasa sejak tengah hari, dan mungkin sedang menderita kelaparan sehingga menyimpan ilusi-ilusi dan kemudian saling menularkannya. Atau bisa jadi seseorang telah mempermainkan kami. Aku memutuskan untuk mempercayai yang kedua dan ingin kembali ke sini lagi besok.

“Kami akhirnya pulang ke rumah dan menyiapkan makan malam dengan semangat. Mendadak istriku mendatangi tempat kami, dan tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak bicara melantur-lantur. Aku merasa ingin mengubah jalan hidup. Mula-mula aku bicara baik-baik kepadanya, dan kemudian tertawa-tawa tanpa memperdulikan dirinya yang menjadi histeris. Dan akhirnya ia berlari ke luar rumah, namun dengan cepat masuk kembali dan berlari menuju dapur. Leporello yang tengah mencek kalau-kalau ada sesuatu di luar rumah yang membuat istriku takut, segera masuk rumah dengan kepanikan luar biasa. Ia mencoba mengisyaratkan sesuatu, menggambarkan patung, dan kemudian mencoba mengunci pintu. Segera terdengar gedoran di pintu, sepertinya rumah sedang terbakar dan penjaga rumah dengan panik memberi tahu kami; karena tak seorang pun di dunia ini yang bisa menggedor pintu dengan cara seperti itu kecuali penjaga rumah. Pintu terbuka, dan aku mendapati patung sang Komandan berada di atas keset. 

“Dalam keadaan seperti itu, mendadak keberanianku lenyap: aku tak mampu bicara apa-apa. Patung itu mengikutiku masuk rumah—jalannya agak pengkor, karena sudah terlalu lama duduk di atas punggung kuda; dan langkah-langkah kakinya telah mengguncang rumahku, seolah setiap langkah membuat lantai tempatnya berpijak runtuh—dan aku merasa tidak perlu menyesal bila harus mengeluarkan banyak uang untuk memperbaikinya. Tak ada gunanya menyilakan ia duduk: tak sebuah kursi pun yang ada di tempat kami yang bisa menyangganya. Patung itu akhirnya mulai bicara, dengan suara bergetar. Aku telah mengundangnya untuk makan malam, katanya; dan sekarang ia datang; dan aku pun meminta maaf padanya, karena lebih dulu duduk tanpa menunggunya. Kukatakan pada Leporello agar segera menata meja sambil aku memikirkan apa yang bisa dimakan oleh benda dari batu ini. Mendadak patung itu berkata bahwa ia tak ingin merepotkan kami dan hanya akan menghiburku pada acara makan malam nanti, jika aku punya keberanian untuk pergi bersamanya. Karena agak takut, namun sekaligus ingin bersikap sopan, dengan lantang kukatakan kepadanya bahwa aku siap untuk melakukan apa pun dan pergi ke mana pun. Leporello telah menghilang; namun aku bisa mendengar bunyi gemeletuk giginya dari bawah meja.

“Patung itu lantas memintaku untuk mengulurkan tangan; kulakukan itu dengan diliputi perasaan berani layaknya seorang hero. Ketika tangannya menyentuh tanganku yang terulur, mendadak aku terserang sakit kepada yang hebat disertai rasa sakit di punggung, dan badanku selanjutnya terasa amat lemah. Keringatku mengucur deras dan membasahi tubuhku, dan aku kehilangan tenaga untuk mengontrol gerakan-gerakanku, pandangan mataku kabur, dan dalam keadaan setengah sadar aku mendapat suara-suara dan pemandangan yang amat menakutkan. Patung itu seperti berteriak kepadaku, ‘Ayo, ayo’, dengan cara yang absurd; dan aku, sama absurdnya, berteriak ‘Tidak, tidak’. Kulakukan itu dengan seluruh keberanian, seperti orang lupa daratan seolah aku sedang berada di Parlemen Inggris, yang suatu kali pernah kukunjungi dalam sebuah perjalananku. 

“Tiba-tiba patung itu melangkah lambat; dan lantai di bawah kami akhirnya membuka jalan untuk kami. Aku terjatuh ke kedalaman 25 kaki, ketika aku merasa tubuhku terlepas dariku dan meluncur ke pusat bumi. Aku meronta-ronta sekuat tenaga ketika melihat tubuhku terbang, dan kemudian mendapati diriku telah mati, dan berada di neraka.”

Sampai di sini ia beristirahat, untuk yang pertama kali. Selama lima menit terakhir mendengarkan ceritanya, rambut saya terasa hampir berdiri. Saya merasa ingin mengumpulkan apa pun agar berani berteriak dan melempar tubuh saya sendiri ke luar gerbong. Namun ternyata saya hanya bisa tergagap-gagap sambil menanyakan macam apa tempat yang ia sebut pada akhir cerita tadi. 

“Jika aku membicarakan itu sebagai tempat pada umumnya,” jawabnya, “berarti aku hanya melakukannya agar ceritaku mudah dimengerti, seperti halnya ketika aku menceritakan kepadamu tentang diriku, sebagai laki-laki memakai topi mantel, dan sepatu bot, meskipun benda-benda itu bukan termasuk yang sesungguhnya kumiliki. Mungkin engkau tidak akan bisa mengikuti jalan pikiranku.”

“Bisa sekali,” kata saya. “Aku suka sekali membaca segala sesuatu yang berbau metafisika.”

“Berarti aku harus membiarkanmu mencari sendiri jawaban atas pertanyaanmu itu melalui serangkaian abstraksi, residu yang membuatku bisa membuktikannya berdasarkan pengalaman. Cukup bisa kukatakan bahwa di sana aku mendapati masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang vulgar, histeris, kejam, lemah, orang-orang jahat, dan semacamnya, yang semuanya itu menentukan reputasi tempat itu dengan cara membuat diri mereka tidak bahagia. Mereka membuat aku bosan dan muak; dan aku membuat mereka amat kebingungan. Pangeran Kegelapan bukan seorang gentleman. Pengetahuan dan wawasannya amat dikenal; namun sebenarnya itu tak lebih dari yang dimiliki krunya. Ia mencoba terus berpura-pura menyukai kehadiranku dan juga pembicaraanku; dan aku berusaha bersikap sopan padanya, dan melakukan apa-apa yang bisa kulakukan agar ia terhindar dari perasaan rendah diri. Namun demikian, aku masih saja merasa bahwa kehangatan hubungan kami sebenarnya merupakan sumber ketegangan bagi diri kami.

“Suatu hari, salah seorang temannya mendatangiku, dan mengatakan bahwa sang Pangeran telah mengatakan pada semua orang bahwa kedatanganku ke tempat ini karena sebuah kesalahan, dan bahwa ia berharap aku bisa pergi ke surga dan memperoleh berkah di sana. Ini bahasa yang amat kuat; dan suatu saat aku mendatangi sang Pangeran, dan mengatakan padanya tentang apa yang kudengar. Pada mulanya ia mengatakan, dengan cara yang kasar dan membuatku jengkel, bahwa informan itu penipu; namun aku agak tidak percaya dengan penjelasannya itu, dan ia mencoba meyakinkan diriku bahwa pertama, ia hanya berharap agar aku bisa pergi ke surga—meskipun ia juga dengan jujur mengaku tidak bisa bersimpati dengan seleraku—dan menganggap aku akan merasa lebih nyaman di surga; dan kedua, kedatanganku ke tempatnya benar-benar merupakan sebuah kesalahan, seperti halnya sang Komandan, yang ia gambarkan sebagai batu Portland yang dungu. Aku bertanya kepadanya atas dasar apa ia menawanku. Ia menjawab bahwa ia tidak menawanku, dan menantangku apakah ada sesuatu atau seseorang yang bisa menahanku untuk pergi ke mana aku suka. Aku terkejut, dan lebih jauh menanyakan mengapa, jika neraka itu sungguh-sungguh merupakan Gedung Kebebasan, semua setan tidak perlu pergi ke surga. Aku hanya bisa membuat permintaannya itu kelihatan masuk akal untukmu dengan mengungkapkan bahwa setan-setan itu tidak pergi dengan alasan yang sama, seperti juga petaruh-petaruh Inggrismu yang tidak sering pergi ke Konser Populer meskipun mereka bebas pergi ke mana saja.

“Namun sang Setan cukup pandai mengatakan bahwa surga itu mungkin lebih sesuai untukku. Ia memperingatkan aku dengan mengatakan bahwa orang-orang surga itu tidak berperasaan, sombong, kaku, dan pembicaraan serta hiburannya kering. Bagaimanapun katanya, aku bisa mencoba bergaul dengan mereka; dan jika aku tidak menyukai mereka, aku bisa kembali ke sini. Ia akan selalu gembira melihatku lagi, meskipun aku bukan orang yang tepat untuk ia harapkan, seperti yang diinginkan oleh sang Komandan. Ia menambahkan bahwa sejak semula, ia menentang bisnis patung. Aku setuju dengannya dan kemudian mengucapkan selama berpisah kepadanya. Ia tampak lega dengan keberangkatanku; namun ia masih memiliki keinginan yang cukup besar untuk memintaku agar tidak bersikap terlalu keras terhadap mereka yang ada di bawah. Mereka memang punya kesalahan-kesalahan, katanya; namun, di atas semua itu, jika aku menginginkan hati dan perasaan yang tulus, humor yang sehat, olah raga cinta yang tak berbahaya, maka aku bisa mendatangi mereka lagi untuk memperolehnya. Tapi dengan jujur kukatakan kepadanya bahwa aku tidak punya maksud untuk kembali, dan bahwa ia terlalu pintar untuk tidak mengetahui bahwa aku benar. Ia tampak senang; dan kami pun berpisah secara bersahabat.

“Sejak itu, aku telah mengadakan perjalanan lebih sering dari yang biasa kulakukan, dengan kondisiku yang seperti ini. Di antara kami, godaan untuk suatu saat muncul ketika kami menemukan lingkungan yang menyenangkan, selalu menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa dari kami punya anggapan bahwa telah ditetapkan baginya lingkungan yang benar-benar menyenangkan. Beberapa lagi—termasuk diriku sendiri—punya minat cukup besar untuk sesekali mengunjungi bumi. Dan kami ini dianggap eksentrik; kenyataannya, hantu-hantu itu memang tergila-gila dengan apa yang baru saja engkau sebut sebagai dunia lain. Bagiku, ini hanyalah sebuah hobi, dan bukan sesuatu yang kumanjakan. Sekarang aku telah menjawab pertanyaanmu tentang siapa sebenarnya aku ini.”

“Engkau baik sekali. Aku rasa aku telah menimbulkan banyak kesulitan padamu,” kata saya, tiba-tiba menyadari bahwa ia mengatakan semua itu hanya didasari oleh rasa tanggung jawab, karena saya telah memintanya untuk melakukannya. “Aku ingin tahu nasib Don~a An~a, dan juga yang lainnya.”

“Ia merawat Ottavio yang sakit tidak terlalu berat, dan temanku itu meninggal karena perawatan yang tanpa kasih, sebuah keadaan yang kemudian tak disesali olehnya. An~a lalu memamerkan kesedihan baru, dan ia menampilkan bentuk rasa kehilangannya itu sampai umurnya empat puluh, saat ia kemudian kawin dengan seorang Presbiterian asal Skotlandia dan kemudian meninggalkan Spanyol. Elvira, mendapati dirinya tidak mungkin menceburkan ke masyarakat lagi setelah hubungannya denganku, kembali lagi ke tempat asalnya untuk sementara. Kemudian ia berusaha menikah lagi, tapi tetap tidak berhasil. Aku tak tahu apa sebabnya; padahal ia cantik. Selanjutnya ia harus mencukupi sendiri kebutuhan hidupnya dengan cara mengajar menyanyi. Gadis petani, yang aku lupa namanya, terkenal karena kepandaiannya sebagai binatu.”

“Namanya Zerlina bukan?”

“Kedengarannya begitu; tapi bagimana engkau bisa tahu itu?”

“Dari cerita. Don Giovanni di Tenario masih tetap dikenang. Dan ada sebuah pertunjukan besar, dan sebuah opera besar, semuanya tentang dirimu.”

“Engkau membuatku kaget. Aku harus melihat pertunjukan-pertunjukan itu. Boleh aku bertanya, apakah mereka menampilkan diriku sesuai dengan watak yang kumiliki?”

“Mereka biasanya menampilkan dirimu sebagai orang yang banyak dipuja wanita.”

“Pasti; tapi apakah secara khusus mereka menunjukkan bahwa aku tidak pernah jatuh cinta kepada mereka, dan bahwa aku bersikap keras terhadap rayuan-rayuan mereka?”

“Tidak, kurasa tidak. Kupikir justru yang sebaliknya.”

“Aneh! Bagaimana fitnah seperti itu bisa terjadi. Aku telah dikenal sebagai laki-laki yang jahat dan tidak bisa menghormati wanita.”

“Oh, bukan bertingkah laku jahat. Engkau sangat populer. Orang-orang akan merasa amat kecewa jika mereka tahu kenyataan dirimu yang sesungguhnya.”

“Mungkin juga. Istri-istri temanku, ketika aku menolak untuk lari dengan mereka dan bahkan mengancam akan mengadukan mereka pada suami-suaminya jika mereka tak berhenti merayuku, langsung memberi julukan ikan atau sayur padaku.”

“Tidak,” kata saya. Selanjutnya saya tidak tahu lagi apa yang ingin saya miliki; tapi tentu saja itu tidak sama dengannya seperti juga dengan laki-laki luar biasa—saya merentangkan tangan saya, dan berkata, “Engkau benar; mereka bukan wanita baik-baik. Seandainya mreka tahu apa yang harus mereka lakukan pada diri mereka sendiri, mereka tidak merayu-rayu seorang laki-laki; tapi aku … aku … aku mencintai …,” aku berhenti bicara, merasa lemas melihat pancaran matanya yang tampak terkejut.

“Bahkan kepada hantu!” teriaknya. “Tidakkah engkau tahu, senorita, bahwa tak seharusnya nona-nona Inggris membuat pernyataan seperti itu terhadap seorang laki-laki asing, dan berada di gerbong kereta api malam?”

“Aku tahu itu; dan aku tak perduli. Tentu saja aku tidak perlu mengatakan, seandainya engkau bukan hantu. Jika engkau ada secara nyata, aku ingin berjalan sejauh 20 mil hanya untuk mendapatkan sebuah tatapan mata darimu; dan aku akan berusaha membuat dirimu mencintaiku di samping sikapmu yang dingin itu.”

“Persis seperti yang biasa mereka katakan padaku! Kata demi kata, kecuali bahwa mereka mengatakan itu dalam bahasa Spanyol! Menyerah: engkau akan melingkarkan lengan-lenganmu di leherku dengan malu-malu; tanyakan padaku apakah aku tak mencintaimu sedikit pun; dan merasakan tangis pelan di dadaku. Ini semua tak ada gunanya: leher dan dadaku merupakan bagian debu Seville. Jika engkau melakukan itu terhadap laki-laki yang seusia denganmu, ingatlah bahwa berat badanmu akan terpusat pada leher jenjang seorang laki-laki, yang membuatnya lelah melebihi dari yang diakuinya.”

“Terima kasih: aku tak punya minat seperti itu. Satu pertanyaan lagi sebelum kereta berhenti. Apakah engkau yakin akan daya tarikmu seandainya engkau hidup sekarang ini?”

“Kesombongan, itu yang biasa mereka sebut. Aku dilahirkan sebagai laki-laki pemalu. Namun dukungan yang berulang-ulang, membuatku berpendapat bahwa aku punya daya tarik khusus; kuminta engkau mengingat hal itu sebagai suatu hal yang mengganggu keberadaanku.”

Kereta berhenti; dan ia pun bangkit, dan berjalan menembus kayu dan kaca pintu. Aku sendiri harus menunggu sampai penjaga membukakan pintu itu untukku. Aku melongok ke jendela, dan menyampaikan sebuah kata perpisahan kepadanya. 

“Adieu, Don Giovanni!”

“Selamat nona Inggris, adieu. Kita harus bertemu lagi dalam keabadian.”

Saya ragu apakah saya bisa bertemu lagi, suatu saat. Saya harapkan begitu.

(Alihbahasa: S. Z. Luxfiati) 

George Bernard Shaw (1856-1950) lahir di Dublin, Irlandia. Sebagai murid yang tidak menonjol, ia memperoleh banyak pengetahuan tentang sastra, musik, seni lukis dengan membaca, menghadiri konser-konser dan mengunjungi galeri-galeri seni. Pada 1876 ia pindah ke London untuk mengembangkan karirnya dalam bidang sastra. Tak berhasil sebagai seorang novelis, ia kemudian mengasah otaknya dengan menjadi anggota The Zetetical and Fabian Societies, dan menjadi terkenal sebagai kritikus drama dan musik. Pada awal 1890-an, naskah-naskah yang ditulisnya tampak terlalu aneh bagi orang-orang sezamannya, namun akhirnya Arms and the Man (1894) mengalirkan uang dan kemasyhuran internasional. Karyanya lebih dari 40 buah termasuk Caesar and Cleopatra (1899); Man and Superman (1901-1903); Pygmalion (1912), yang kemudiannya menjadi dasar musik Lerner dan Loewe, My Fair Lady. Lalu menyusul Androcles and the Lion (1913); dan Saint Joan (1923). Shaw memperoleh Nobel Sastra pada 1925. (Matra, September 1989)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya George Bernard Shaw dan dialihabasakan oleh SZL
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" pada September 1989

0 Response to "Don Giovanni"