Hikayat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hikayat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:26 Rating: 4,5

Hikayat

Hikayat, 1

Si Pandir ke hilir-hilir
keluar-masuk semak-hutan
berpedoman bayangnya sendiri
di tepi-tepi
di air jernih.

Hingga dekat ke kuala
tak ada lagi bayang-bayangnya
sungai keruh coklat, juga jelaga
mata air disedot pipa-pipa.

Akhirnya ia berkaca
ke air muka banyak orang
Banyak yang ia dapat
sebanyak yang ia lepas
Dirinya pun hilang
dalam lalu-lalang
tatapan beribu orang
ah, usah dibilang!

Ia mulai tampak cemas
dan orang-orang pun curiga
Ia ditangkap lalu dibawa menghadap
kepada kepala kotapraja
di kuala penuh bendera.

“Kami curiga cara saudara memandang
wajah kami,” radang Sang Kepala.

“Ya, Paduka, curiga adalah cara hamba
membuat mata ketiga,” jawab Si Pandir
seolah aur bertemu tebing.

Orang-orang terkejut
Lalu seketika kuncup seperti rumput sikejut
menyembunyikan duri-durinya
setelah disentuh kepak lembut seekor lebah.

Hikayat, 2

Si Pandai naik ke hulu
masuk-keluar lorong dan kampung
berpedoman menara dan tiang-tiang tinggi
dapat dipandang dari mana saja
sejauh-jauh ia berdiri.

Hingga hampir ke hulu
pedomannya berganti lalu
dengan pohon-pohon
meranti, besi dan gaharu.

Dan ketika semakin dekat
tinggal kini sebatang nibung
lurus ramping, ia kitari
dari samping ke samping
sama saja. Tak ada tanda lain
yang membuatnya bisa membaca arah
mata angin.

Persis seekor elang
berpusar memberi tanda kabung
begitulah dirinya
tak bisa ke mana-mana.

Di pokok duri
ia menyerah tanpa dikepung
jinak bagai rusa masuk kampung
Tapi orang-orang tak peduli
bahkan pemburu dan tukang jagal
pura-pura menyimpan bedil dan kelewang.

“Adakah sepi yang seasing ini?”
Si Pandai mengeluh
jauh di hulu hari.

Hikayat, 3

Si Sepi memilih pergi sendiri
membawa pancing, dan mulai berkayuh
ke pulau kecil, penuh beting
karang-karang tajam runcing
yang suka mencuri lunas perahu,
menarik dan meremuknya tanpa ampun.

Tapi ia paham sebab tak lengah
maka selalu ia sampai ke pulau
tak kurang suatu apa.

Hanya saja ia mulai berpikir
Tentang nasib perahu dan kapal-kapal lain
yang melintas, adakah pedoman mereka
yang tetap? Pikiran itu menghantui,

mengeram bagai topan
sehingga Si Sepi memutuskan tinggal menetap
Seorang diri, ia dirikan tungku karang
bersusun tinggi, dan setiap malam ia nyalakan api
jadi suar bagi yang melintas hidup
di lautan. Ia pun menulis (mungkin sambil berdiang),

“Lebih baik jadi mercusuar
sepi dan terpencil
bagi gerak kapal-kapal di lautan
daripada menjadi semarak lampu-lampu
di pelabuhan
bagi kapal-kapal yang diam.”

Catatan itu ditemukan setelah bermalam-malam
api di pulau itu padam, dan seorang nakhoda memerintahkan
anak buahnya turun dengan sekoci mencari kabar
Si Sepi ditemukan telah seputih tulang ikan
berserakan di atas karang penghabisan.

Hikayat, 4

Mereka, pihak Si Fulan dan puak Si Tolan,
hidup di negeri alang-alang
hujan-panas gampang terbakar
karena pikiran mereka batu api
terkunci rapat dalam peti-peti tua
warisan karat waktu purba. Sesekali keluar
bersigesek sesamanya, maka api memercik
dan berkobar

tak henti-henti, berkobar, tak mati-mati
Sehingga bahkan teriakan panik,
“Padamkan, padamkan!”
“Tolong kami, selamatkan kami!”
jadi berlaksa bintang api, sengak belerang
juga bumerang.

Pun ajakan sebelum segalanya membesar
“Jangan biarkan api menjalar,”
“Mari bersama kita padamkan,”
diamsal desis suara ular

Bila semua tak bisa lagi dihentikan
di peta-peta yang akan datang
maka negeri itu tinggal nama: alang-kepalang
Sementara pihak Si Fulan dan puak Si Tolan
bersiap menjadi para danyang!


Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisinya antara lain Api Bawah Tanah (2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 17 Januari 2016

0 Response to "Hikayat "