Kekasih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kekasih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:50 Rating: 4,5

Kekasih

RAGU-RAGU GILES BREDON BERDIRI DI UJUNG JALAN itu. Dari sana ia biasa menangkap bayangan rumahnya ketika pergi atau kembali pulang. Rumah itu berada di sebuah tanah yang luas, sebuah bangunan yang kokoh dari bata merah, tempat ia dilahirkan namun yang sekarang tak lagi bersuasana rumah. Sudah lebih dari setahun Giles tak melihat rumah itu, sejak ia mengangkuti barang-barangnya dan meninggalkan Lesley, istrinya, yang saat itu berada di ruang tengah dan hanya berdiri tegak memandangnya. Itu kenangan terakhir Giles tentang istrinya. Dan ketika mencoba mengenangnya, Giles melihat Lesley seperti ketika dirinya hendak meninggalkan rumah itu. Mata Lesley yang gelap dan melankolis, mulutnya yang merah dan kaku, wajahnya yang kuning gading dan agak pucat berpadu dengan rambutnya yang hitam dan lurus. Lesley tak mengucap sepatah kata pun ketika suaminya melangkah meninggalkan ruangan itu. Dan mendadak Giles jadi ragu. 

“Engkau tidak ingin mengatakan sesuatu?” Ia menuntut.

Istrinya hanya menggelengkan kepalanya dan Giles pun pergi sambil membanting pintu. 

Sejak itu komunikasi antara mereka hanya melalui pengacara. Sekali sebulan Giles membayar seluruh anggaran rumah tangga dan juga untuk kebutuhan pribadi istrinya. Ketika Judith, anak mereka satu-satunya, datang menjenguk ke apartemen sewaannya, tak sekali pun ia bertanya tentang ibu anaknya itu. Dan Judith pun bisa mengobrol tentang apa saja dengan ayahnya tanpa pernah menyebut nama ibunya. Setiap kali, Giles berusaha membuat acara pertemuan seperti itu semenarik mungkin, sambil berharap nantinya Judith akan bercerita pada ibunya bahwa ia selalu menikmati saat-saat yang menyenangkan bersama ayahnya. 

Dan seminggu yang lalu, Colton Bates, pengacaranya, telah memaksanya untuk mengadakan pertemuan antar “pasangan yang telah saling menjadi asing”, demikian ia menyebutnya. Ini berarti bahwa sekali lagi ia, Giles, harus menemui istrinya, Lesley. Paling tidak Giles masih harus menganggap Lesley sebagai istrinya. Kenyataannya, kapan seorang laki-laki dan wanita berhenti menjadi suami-istri?

Hari tampak cerah. Angin hangat bertiup dari selatan. Bunga-bunga di setiap halaman rumah bermekaran, menandai datangnya musim semi. Giles berjalan menuju rumahnya. Jika perceraian benar-benar terjadi, berarti rumah ini tak akan menjadi miliknya lagi. Tidak, Lesley tak akan ia biarkan berbuat seenaknya. Ia akan memberikan rumah itu pada Judith, dan Lesley hanya punya izin tinggal di sana. 

Masalahnya adalah bahwa ia dan Lesley telah menikah terlalu muda. Ia baru saja lulus dari Harvard dan besoknya langsung kawin! Orang tua mereka tidak menyetujui perkawinan yang terburu-buru itu, namun ia dan Lesley begitu saling mencinta. Dan sekarang ia menjadi ragu, seberapa besar sesungguhnya cinta mereka itu? Yang jelas, saat itu mereka berdua sama-sama ingin melepaskan diri dari kehidupan yang kaku dan kuno dari dua buah rumah yang kuno. Cinta telah dikacaukan dengan kemandirian. Giles menyeringai sinis pada dirinya sendiri. 

“Aduh, Giles Bredon!” Ia dikejutkan oleh sebuah suara nyaring bernada gembira, dan Giles menoleh ke belakang, tampak sebuah wajah wanita. 

“Halo, Kit,” sapanya. 

Wanita itu, Katharian Baker, seorang tetangga, dan seperti biasanya ia tengah berjongkok, menanam sesuatu di kebunnya. George Baker, suaminya, adalah teman yang membosankan, namun sukses dalam bisnis perabotan rumah. Sambil bertumpu pada tumitnya, Kit mendongakkan wajahnya, dan matahari menyinari pipinya yang cokelat karena terbakar panasnya matahari. 

“Engkau pulang kembali, Giles?”

“Hanya mau membicarakan urusan dari pengacara,” ujar Giles. Meski kedengarannya agak kasar, lebih baik berterus terang daripada nantinya Kit menyebarkan ‘berita baik’ ke semua tetangga!

“Oh, Giles!” matanya yang abu-abu dan jujur itu menjadi sedih, namun bernada menyalahkan. “Lesley begitu baik.”

“Tak ada cerita tentang Lesley yang tidak kuketahui,” ujar Giles dingin.

“Maafkan aku, Giles—tapi apakah engkau telah memliki yang lain?” tanya Kit penuh harap.

“Masing-masing dari kami tak memiliki yang lain,” ujar Giles.

“Lalu apa masalahnya?”

“Tak ada apa-apa,” ujar Giles. “Kami hanya sudah punya jalan hidup sendiri-sendiri.”

Giles tersenyum, menyentuh ujung topinya yang masih bertengger di kepalanya dan kemudian berlalu. Wanita itu tentu akan menyebarkan pembicaraan tadi ke mana-mana, pikir Giles. “Aku sudah tanya sendiri pada Giles. Masak, jawabannya cuma karena sudah punya jalan hidup sendiri-sendiri.”
Namun itulah kenyataan. Sekarang ia berada di depan pintu rumahnya sendiri. Tempat itu tampak terawat baik. Lesley tentu selalu menjaganya. Istrinya memang seorang manajer yang baik. Pintu rumah tampak terbuka. Lesley suka udara segar, sementara ia sendiri menyukai kehangatan. Dulu, berulang kali ia menutup pintu ini. 

Haruskah ia langsung masuk? Kelihatannya aneh jika harus menekan bel rumah sendiri, namun akhirnya ia pencet juga tombol itu. Ia menekan bel lagi. Lalu terdengar suara Lesley dari ruang atas. 

“Masuk saja, Giles. Sebentar lagi saya turun. Duduk saja di ruang tengah.”

Giles masuk ke dalam rumah, melepas topi dan mantelnya, lalu meletakkan benda-benda itu ke dalam lemari di bawah tangga, dan setelah melewati ruang tamu, ia masuk ke sebuah ruangan yang ia kenal dengan baik. Mendadak ia dikejutkan oleh sebuah perubahan. Ia keluar dari ruangan itu setahun yang lalu, meninggalkannya dalam gaya penataan yang lama, yang telah ia kenal sejak tahun-tahun pertama dalam kehidupannya. Apa yang telah dilakukan Lesley? Wallpaper berbunga-bunga yang bagus itu, yang dibeli ayahnya dari Paris, telah lenyap. Dinding itu sekarang berwarna putih aneh, warna putih kusam yang dicat di atas warna abu-abu. Tirai beledu warna hijau tua yang tergantung itu telah diganti dengan kain berwarna kuning terang, dan kain brokat penutup mebel itu sekarang diganti dengan kain kasar, lagi-lagi berwarna putih aneh. Sofa dan kedua kursi yang ada sekarang berwarna merah ceri. Giles duduk di sebuah kursi yang ia ingat dulunya berwarna biru, dan sekarang menjadi putih, dan ia merasa sedih atas semua perubahan itu. Lesley tak berhak. 

Wanita itu masuk ke ruang tengah, tampak rapi dan segar, seperti biasanya. Giles berdiri dan mendadak ia jadi canggung. Bagaimana cara seorang laki-laki memberi salam kepada seorang wanita yang menjadi istrinya, meskipun itu dulu, dan secara hukum juga masih. Haruskah ia menciumnya? Lesley mengakhiri suasana kaku itu dengan mencium pipi Giles, hanya sekilas dan tampak tergesa. 

“Jadi, Giles ….”

Lesley duduk di kursi merah ceri. Giles merasa perlu mengakui bahwa istrinya tampak cakep dengan setelan hitam putihnya itu. Tidak, kata cakep terlalu keras. Lesley cantik. 

“Apa kabar?” tanya Giles.

“Baik, terima kasih,” kata Lesley dengan suaranya yang tetap nyaring. 

Sekarang Lesley berumur empat puluh tahun, batin Giles, dan ia merasa dirinya sepuluh tahun lebih tua dari Lesley. Tapi para wanita itu keras, pikir Giles. Lesley tidak akan merasakan apa yang ia alami saat ini. Dan di samping itu, Lesley memiliki rumah dan Judy, sementara ia harus hidup sendirian di sebuah apartemen brengsek. Giles menolak untuk mengingat saat-saat ia sering mengatakan pada dirinya sendiri tentang betapa menyenangkannya hidup sendiri di kota. 

“Engkau sudah bertemu Colton Bates?” tanya Lesley.

“Ia mengatakan, sebaiknya aku bicara dulu denganmu sebelum kita menyusun sebuah perjanjian,” ujar Giles. 

Dan para wanita itu memang dingin, kata Giles pada dirinya sendiri. Sementara ia merasa sedih, Lesley malah sudah memikirkan urusan dengan pengacara.

“Mengapa engkau ingin bercerai?” tantang Giles dengan marah.

Lesley membuka matanya yang gelap itu lebar-lebar. “Aku rasa, itu telah kita sepakati bersama—karena siksaan batin.”

Beberapa bulan lalu Giles memang menyetujui hal itu. Tapi ketika ia mendengar sendiri dari mulut istrinya, tiba-tiba hatinya berontak.

“Omong kosong,” katanya. “Itu hanya alasan yang dibuat-buat orang ketika ia tak memiliki alasan lain. Engkau sendiri tahu, tak pernah ada siksaan batin pada kita.”

“Aku tidak mengerti. Itu ‘kan tergantung pada bagaimana seseorang mengartikan kata siksaan. Kita berdua mungkin memang tersiksa. Maksudku—kita tidak bahagia.”

Dengan murung Giles mengangguk. “Aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya masalah kita ini.”

“Tak satu pun yang kulakukan bisa menyenangkan hatimu,” ujar Lesley.

“Omong kosong,” ujar Giles sambil menyilangkan kakinya silih berganti. “Engkau sendiri selalu mengritikku untuk segala hal.”

“Ribut lagi, ribut lagi,” ujar Lesley.

Giles mengamati wajah Lesley. Marahkah ia? Tidak, ia benar-benar bisa bersikap tenang. Ribut terus, memang betul. Dan keributan yang mereka ciptakan telah merasuk ke kedalaman hubungan mereka, dan menghancurkan segala bentuk kebersamaan. 

Keduanya terdiam. Giles tahu bahwa Lesley merasakan tatapannya sehingga wanita itu terus-terusan melempar pandangannya ke luar jendela. 

“Dingin di sini,” ujar Giles.

Saat mengucap kata-kata itu Giles sekaligus berharap tak melakukannya, meskipun nyatanya ia telah mengucapkan itu tanpa pikir panjang. Dan biasanya Lesley akan menjawab, “Aku suka udara segar. Engkau ini maunya serba panas.”

Tapi kali ini Lesley tidak mengatakan itu. Bagai memperlakukan seorang tamu, Lesley bangkit dan menutup pintu depan, lalu kembali duduk.

“Cahaya matahari begitu hangat,” kata Lesley, “tapi kelihatannya memang agak mendung.”

Hati Giles tergerak. “Jadi inikah yang disebut siksaan batin?”

“Sebut saja ketidakcocokan, jika engkau mau,” ujar Lesley, “tapi kedengarannya agak kuno, ya. Sebenarnya artinya sama saja.”

“Kedengarannya aneh, membicarakan ketidakcocokan pada orang tertentu sementara mereka sudah cukup lama hidup bersama untuk membesarkan seorang anak. Ternyata, semuanya jadi aneh jika diucapkan dengan kata-kata, kecuali tentang ….,” Giles berhenti bicara, membiarkan kalimatnya tak selesai.

“Benar,” tukas Lesley, “tapi karena alasan tertentu, bukankah kita merasa lebih bahagia saat kita berada terpisah. Begitu, ‘kan?”

“Begitu bagaimana?” tanya Giles, tanpa mendengarkan lawan bicaranya. Ia terus saja memandangi Lesley. Wanita ini begitu dikenalnya. Ada sebuah daya tarik yang ia lupakan ketika mereka hidup bersama. Sekarang, ketika melihatnya kembali setelah berpisah, ia mengenali lagi daya tarik itu.

“Lebih bahagia tanpa diriku,” ujar Lesley tak sabar. Giles memang memiliki kebiasaan tak menyelesaikan kalimat-kalimat yang ducapkannya dan juga tak memperhatikan pembicaraan istrinya, dan sekarang laki-laki ini ingat akan kesalahannya itu.

Dalam beberapa hal, Giles mengaku, meski tak sebahagia yang ia bayangkan. Sekarang ia duduk di ruangan ini, yang meskipun tampak aneh, bisa membuatnya merasakan sebuah kebiasaan lama. Rumah ini, dan kehidupan di dalamnya, ruang tidurnya yang berada di lantai atas—dan di sini—tempat ia biasa menghabiskan hari-hari Minggu paginya dengan bermalas-malasan—surat kabar bertebaran di lantai, makan pagi kapan ia suka, membuat rencana berkebun untuk musim semi. 

“Bagaimana kabar tanaman tulipnya?” tanya Giles. Bunga-bunga tulip itu selalu menjadi kebanggaannya karena kebiasaannya untuk mekar sebelum bunga orang lain bermekaran. 

“Harus ditanam kembali tahun depan,” jawab Lesley. 

Giles menyandarkan punggungnya. “Sekarang sedang musim tulip Belanda. Aku perlu membuat daftar untukmu.”

Lesley tampak kaget. “Boleh saja—tapi aku ada rencana untuk pergi ke Florida musim dingin mendatang. Judith ‘kan masuk perguruan tinggi bulan September ini, dan aku akan sendirian di rumah—atau engkau ingin tinggal di rumah ini? Aku sih lebih senang tinggal di kota—mungkin menyewa apartemen.”

Tiba-tiba Giles marah. “Engkau mau tinggal di apartemen dan meninggalkan rumah sebesar ini?”

“Engkau saja yang tinggal di rumah ini,” ujar Lesley ketus. 

“Dengar, Lesley,” ujar Giles, “seorang laki-laki yang tinggal di rumah seorang diri akan lain dengan jika seorang wanita berada di sebuah rumah. Aku ‘kan harus berada di kantor sepanjang hari.”

“Cari saja penjaga rumah,” tukas Lesley cepat. “Beginilah aku sekarang.”

“Oh begitu,” protes Giles. “Rupanya engkau sudah menjadi kekasih seorang laki-laki tampan. Tak usah merasa bersalah.”

Giles tidak tahu reaksi Lesley terhadap kata-katanya itu. Hanya saja, tiba-tiba ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia terselamatkan dari hukuman yang pantas diterimanya oleh Judith yang sedang berlari menuruni tangga menuju ruangan tempat mereka berdua duduk. Rok Judith yang lebar dan berwarna putih itu melambai seperti kepak sayap-sayap yang menempel di bahu anaknya. 

“Ayah!” teriak Judith. “Seru sekali melihat Ayah ada di sini!” Judith memeluk lengan ayahnya dengan lengannya yang halus. Halus? Lengan-lengan itu begitu kuat seperti baja melingkari lehernya. Judith langsung duduk di pangkuan Giles dan kemudian memalingkan wajahnya ke arah ibunya. Mata Judith biru, seperti miliknya. 

“Ibu sudah bicara sama Ayah?”

“Kami sedang membicarakan urusan penting,” ujar Lesley.

“Jadi, Ibu belum bilang sama Ayah!” teriak Judith.

“Bilang apa?” tanya Giles. 

Judith kembali melihat ayahnya, mengencangkan pelukannya di leher ayahnya. Giles merasakan sentuhan pipi anaknya yang segar pada bibirnya. 

“Ayah, aku ‘kan sedang jatuh cinta!” 

Dengan bibir yang tertekan pipi, Giles bergumam. “Bohong ….”

“Nggak bohong,” ujar Judith menarik pipinya. “Betul—saya sedang jatuh cinta—jatuh cinta ….”

“Sudah, sudah,” ujar Giles. “Kedengarannya kok seperti biasanya. Sekarang ceritakan pada ayahmu tentang percintaanmu itu.”

Mata Giles bertemu dengan mata Lesley, dan ia melihat sebuah senyuman rahasia di balik mata yang gelap itu.

“Cinta membuat Judith kalang kabut,” ujar Lesley. “Maklum saja, ini ‘kan cinta pertama!”

“Ibu jangan sinis, dong,” Judith berontak.

“Kamu itu masih seperti anak kecil, duduk di pangkuan ayahmu seperti itu,” tukas Lesley agak malu.
Judith mendadak berdiri, merapikan roknya dan pindah ke kursi merah ceri yang lain.

“Sudah seminggu ‘kan saya tidak ketemu Ayah,” ujar Judith marah.

“Aku tidak sedang mengritikmu,” ibunya mencoba tenang.

“Iya,” Judith mulai menangis dengan suaranya yang masih marah. Pipinya yang agak pucat menjadi merah dan matanya yang biru berkilat-kilat karena marah. “Ibu selalu bicara sinis karena Ibu tak percaya dengan cinta!”

“Sudahlah, Judy,” ujar Giles. “Engkau ‘kan belum cerita padaku tentang temanmu itu.” Diam-diam Giles menikmati pemandangan di depannya, pertengkaran antara istri dan anaknya. Itu semua membawanya kembali ke sebuah suasana keluarga. 

“Itu, cuma si William Baker,” ujar Lesley.

“Ibu,” jerit Judith, “Ibu ‘kan tahu kalau ia ingin dipanggil Bill! Dan bagaimana bisa Ibu mengatakan ‘cuma’?”

“Apa? Anak George dan Kit?” tanya Giles tak percaya. “Apa ia sudah cukup dewasa untuk dijatuhi cinta? Terakhir aku masih melihatnya memakai ….”

“Diam semua,” jerit Judith disambung tangis. Orang tuanya saling berpandangan, masing-masing kelihatan menyesal. 

“Cinta pertama memang tak mudah,” ujar Lesley penuh perasaan. 

“Aku ingat,” ujar Giles sambil memandang mata istrinya. “Aku tak bisa makan dan tidur, dan aku tetap berdiri di bawah jendela kamarmu setelah kita saling mengucap selamat malam sebanyak dua puluh kali atau bahkan lebih.”

Judith mengangkat kepalanya. “Jangan bandingkan Bill dengan apa yang terjadi pada Ayah-Ibu! Kami berdua benar-benar serius!” Wajahnya masih merah jambu, memancarkan kemarahan. 

“Sayang,” ujar Lesley, “kami hanya sedang mengenang masa lalu. Kelak engkau juga akan begitu.”

“Tidak, tak akan,” sergah Judith. “Saya tidak perlu mengenang-ngenang—saya akan hidup bersama Bill—dan anak-anak kami—selamanya!”

Giles merasakan sebuah pisau menembus jantungnya. Kemarahan? Sakit hati? Ia tidak tahu yang mana.

“Sama dengan yang dulu kami pikirkan,” ujar Giles.

Anak perempuannya mencemoohkan pendapatnya itu. “Pikirkan?” ulang Judith dengan nada marah. “Bill dan saya tidak hanya memikirkan. Kami tahu!”

“Apa yang kau ketahui?” tanya Lesley. Pipinya tiba-tiba memerah, dan Giles memandangnya dan melihat apa yang tak pernah ia amati sebelumnya—muka Judith yang memerah persis sama dengan muka ibunya. Lesley benar-benar seperti seorang gadis pemarah. 

“Engkau membuatku ingat ibumu, Judy,” ujar Giles. “Aku ingat lagi sebuah peristiwa yang terjadi dalam ruangan ini juga, tentu saja tidak dengan perabot yang sama. Suatu malam, orang tua Ibumu dan orang tua Ayah mengadakan pertemuan di sini, umtuk memberi tahu kami bahwa kami terlalu muda untuk pacaran. Ya Tuhan—sekarang ada lagu tentang itu, ‘terlalu muda untuk bercinta’! Ternyata mereka benar.”

Judy berhenti menangis. Ia menyeka matanya, mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dari balik ikat pinggangnya yang lebar dan kemudian melap wajahnya dengan itu. “Mungkin Ayah dan Ibu memang terlalu muda untuk bercinta,” ujarnya—suaranya bergetar. Matanya memandang kedua orang tuanya silih berganti. “Terkadang aku juga berpikir bahwa Ayah-Ibu tak pernah dewasa. Dalam banyak hal, Bill dan saya jauh lebih dewasa dibanding Ayah-Ibu. Beberapa waktu yang lalu kami juga telah membicarakan hal itu. Begitu banyak yang membuat kami cepat dewasa—perang dan—dan segala sesuatu yang terjadi sekarang. Kami tidak bercinta secara asal-asalan seperti yang Ayah-Ibu lakukan dulu. Membayangkan segalanya akan menjadi indah dan damai selamanya. Kami sudah tahu itu.” Gadis ini memandang ibunya. “Itu yang kami tahu, Ibu. Dan kami berdua tahu kami bisa menjalaninya bila kami menghadapinya bersama-sama.”

Lesley kehilangan kesabaran, dan seperti biasa, di balik ketenangannya ia langsung mengungkap dirinya yang sesungguhnya.

“Engkau memang kekanak-kanakan, Judith,” ujar Lesley. “Engkau tidak tahu apa-apa tentang perkawinan. Bill yang sekarang ini di matamu paling hebat kelak bisa menjadi orang yang membosankan.”

“Jika memang begitu keadaannya,” ujar Judith, “tak seorang pun boleh tahu. Saya akan menyimpannya. Saya tak akan meninggalkan Bill.”

Suara siulan pecah dan masuk melewati jendela yang terbuka. Gaungnya mengambang di udara, panjang dan nyaring. 

“Itu Bill, ya?” tanya Giles.

Ia tak perlu bertanya lagi. Mendadak anak perempuannya berubah. Kemarahan lenyap dari wajahnya, matanya menjadi lembut, pipinya putih kembali. Judith bangkit dan berlari ke luar ruangan. Roknya yang lebar berputar-putar mengelilinginya. Kegembiraannya meluap, mengambang di udara seperti semerbaknya wewangian. 

Giles berjalan menuju jendela, dan dari sana ia melihat sebuah pemandangan percintaan, setua umur manusia dan semuda yang tejadi hari ini. Seorang pemuda jangkung keluar dari balik mobil yang tak bisa dibilang bagus, dan ketika mulai melangkah sambil matanya mencari, pemuda itu menemukan anak gadisnya di depan pintu. Di sana pemuda itu memeluk anaknya. Mereka berciuman lama sekali, dan Giles hampir pingsan melihat rambut anaknya yang berwarna emas itu terjurai di pundak pemuda yang bermantel biru itu, dan kemudian ia ingat bagaimana rasa hampir pingsan juga pernah menyerangnya saat ia dan Lesley berciuman untuk yang pertama kalinya, dulu sekali.

“Engkau sudah cerita?” anak laki-laki itu mengangkat wajahnya untuk menanyakan hal itu.

“Sudah,” ujar Judith. 

Giles dapat menangkap suara mereka dengan jelas, seolah mereka tidak peduli percakapan mereka bisa didengar orang lain. 

“Aku sudah mengatakannya pada mereka,” kata Judith, tanpa menjauhkan tubuhnya dari pemuda itu, wajahnya masih menengadah.

“Bagaimana pendapat mereka?” tanya Bill.

“Apa itu jadi masalah?” Judith balik bertanya. Keduanya saling berpandangan.

“Tidak,” kata Bill. Keduanya berciuman lagi.

Giles merasa tak bisa berdiam diri lagi. Ia membalikkan tubuhnya, dan tahu-tahu telah menabrak Lesley, yang ternyata diam-diam telah berjingkat menuju pintu, berdiri di belakang Giles dan dari balik punggung suaminya Lesley telah melihat pemandangan yang sama.

“Maaf,” kata Giles. 

“Tidak apa-apa,” ujar Lesley.

Mereka lalu duduk dalam diam, dan juga mencoba menangkap suara kedua orang muda itu di luar. Giles memutar kepalanya ke arah jendela. 

“Apa Judy tak akan membawanya masuk rumah?” tanya Giles. 

“Aku tidak tahu,” ujar Lesley. “Anak itu begitu aneh. Ia telah menjauhkan diri dari kita.”

“Bagi kita tak jadi masalah,” ujar Giles, kedengarannya kejam.

Lesley tidak menjawab. Kedua tangannya menyilang di pangkuannya. Sambil termenung, diamatinya cincin-cincin yang ada di jari-jarinya. 

“Engkau masih memakai cincin kawinmu,” mendadak Giles bicara seolah tak ada ujung pangkalnya.

“Kurasa aku akan tetap memakainya, kalau engkau setuju,” jawab Lesley. “Ini bisa membuatku merasa aman, lebih-lebih kalau aku sedang bepergian.”

“Engkau ‘kan masih menjadi istriku,” ujar Giles. 

Lesley membuka lebar-lebar matanya yang gelap itu ke arah Giles. “Engkau ingin menolongku atau hanya ingin bicara sinis?”

Giles berusaha mematikan benih keributan ini. “Sekarang mereka berada di dalam mobil,” ujarnya sambil memandang ke jendela. 

“Oh, ya?” ujar Lesley acuh tak acuh. 

Giles tiba-tiba menjadi marah. “Ke sinilah Lesley, kita harus berbuat sesuatu—paling tidak mengomentari sesuatu tentang hubungan mereka. Paling tidak, aku tidak menciummu dengan cara seperti itu—sampai kita benar-benar bertunangan.”

“Kita memang kuno,” Lesley menjawab, masih dengan suara acuh tak acuh. 

“Lihat, mereka telah berubah pikiran,” sambung Giles sambil matanya masih memandang ke luar jendela. “Mereka sekarang masuk rumah.”

Lesley tidak menjawab dan Giles mulai menyalakan sebatang rokok. Bersamaan dengan itu, Judith dan Bill mencapai ambang pintu. Giles mendapati seorang pemuda berambut cokelat, berwajah panjang dan putih. Bukan pemuda yang tampan, pikirnya, terlalu tinggi dan kurus, tapi militer akan membuatnya kekar. Tentu saja perkawinan akan menjadi sesuatu yang absurd jika ada acara wajib militer segala! Jika anak itu pulang, Judith tentu sudah akan menjalin cinta dengan pemuda yang lain lagi. Seandainya saja ia berpisah dengan Lesley pada usia yang sama seperti mereka. 

“Bill ingin bicara dengan Ayah,” dari pintu Judith berujar, seolah memberi pengumuman. Suaranya jelas, lembut, dan terdengar dewasa. 

“Ayo masuk,” ujar Giles. Ia mengulurkan tangannya ke arah pemuda itu tanpa berusaha bangkit dari tempat duduknya. “Aku hampir tidak mengenalmu lagi, Bill—lama sekali tak melihatmu, betul ‘kan?”

“Saya memang sedang belajar di perguruan tinggi.”

Keduanya berjabatan tangan. Pada tangan pemuda itu terasa tonjolan tulang-tulangnya, namun hangat dan bisa menjabat dengan tegas. 

“Engkau sudah tambah tinggi beberapa kaki, ya,” ujar Giles mencoba bersikap ramah.

Bill hanya bergumam. “Saya telah melakukan sesuatu supaya bisa jadi lebih tinggi,” ujarnya lagi.

“Halo, Bill,” sapa Lesley dengan suara datar. 

“Halo, Nyonya Bredon,” ujar Bill. “Belum terlalu lama dari jam dua pagi, ya?”

“Baru sebentar sekali.”

Bill memandang Giles. “Judy dan saya pergi ke pesta dansa tadi malam. Saat itulah kami membuat keputusan.”

Mendadak Giles merasa jadi kebapakan dan menganggap rendah dirinya sendiri dan tidak berkata apa-apa lagi. Bill tampak tenang, terlalu tenang bahkan, pikir Giles. Ia lalu mengenang perjuangannya dulu, juga dalam ruangan ini. Orang tuanya duduk pada dua kursi ini, sekarang kursi-kursi berwarna merah ceri. Dan orang tua Lesley duduk di sofa. Giles ingat, ayah Lesley mengenakan pakaian lengkap karena setelah itu akan menghadiri pertemuan para direktur di bank, dan ibu Lesley memakai gaun abu-abu. Lesley sendiri duduk di atas bantal yang letaknya dekat jendela, mengenakan baju putih seperti yang dipakai Judith sekarang, dan ia tampak seperti bidadari. Giles ingat bagaimana hatinya dipenuhi cinta pada hari itu, dadanya terasa sesak dan mau meledak. Suaranya lemah dan tubuhnya berkeringat seperti basahnya ikan lumba-lumba. Sementara itu Lesley menunggu kekasihnya mengadakan pembelaan untuk dirinya. 

“Saya ingin menyampaikan kabar,” Lesley mengulang pernyataan Giles dengan suara hampir berbisik. 

Dan sekarang Bill sedang bicara. Giles membawa kembali hatinya yang berat ke suasana yang sedang dihadapinya saat ini. 

“Judy membutuhkan rasa aman,” itu yang sedang dikatakan Bill, “dan saya rasa, saya bisa memberikannya. Kami berdua percaya pada cinta sejati—cinta yang tak pernah berakhir.”

“Bill juga memerlukan rasa aman,” Judy menambahkan. Suaranya masih tetap jelas, lembut dan dewasa. “Dua puluh satu hari lagi ia harus ikut wajib militer. Jika kami menikah sekarang, ia akan tenang.”

Lesley tersadar dari mimpinya. “Perkawinan itu tidak langsung berarti datangnya rasa aman—bukan begitu.”

“Bagi kami, begitu artinya,” ujar Bill tegas. 

“Tidak sekadar hubungan percintaan,” ujar Judith dengan keteguhan hati yang sama. “Ini merupakan perwujudan kasih sayang.”

“Bagus,” ujar Giles. Ia menyalakan sebatang rokok lagi.

“Tuan punya saran-saran?” ujar Bill.

“Saran?” ujar Giles, “Untuk apa?”

“Untuk saya,” ujar Bill.

“Belum ada,” ujar Giles. “Aku ‘kan sudah mengenal keluargamu dan dirimu sejak engkau masih bayi. Kalian berdua masih terlalu muda. Namun kukira kalian sudah tahu itu.”

“Saya tidak berpikir bahwa usia yang terlalu muda ada hubungannya dengan rencana kami ini, Tuan,” ujar Bill. “Hal ini tidak berlaku jika Anda membutuhkan rasa aman. Dan Anda sudah memilikinya, Tuan. Maksud saya, ketika Anda masih seusia dengan kami. Saya rasa itu sebabnya Anda begitu mudah membuangnya.”

Tiba-tiba Giles merasakan kerah bajunya menegang. “Apa maksudmu dengan kata-katamu itu,” sergahnya. 

“Kami berada dalam dunia yang berbeda,” ujar Bill. “Judy dan saya merasa perlu menciptakan rasa aman untuk diri kami sendiri atau kami sama sekali tak akan memperolehnya.”

“Kami tidak sedang mengeluh,” sambung Judith. “Kami harus bisa menerima apa yang ada di hadapan kami. Tapi kami tidak ingin anak-anak kami mengalami kehidupan seperti yang kami alami. Kami ingin mereka bisa selalu tenteram karena keberadaan kami.”

Giles hampir berteriak mendengar khotbah anak-anak muda ini, dan pada saat yang sama ia melihat lutut anak gadisnya gemetaran di balik roknya. Seorang anak, meskipun sedang jatuh cinta—tetaplah anak orang tuanya!

“Apakah saya ini kok bisa-bisanya menyuruh kalian melakukan ini-itu?” tiba-tiba Giles berkata. 

“Kawinlah kalau kalian pikir itu baik.”

“Ya, teruskan saja.” Lesley berbicara sambil menahan napas. “Teruskan saja rencana kalian!”

Pemuda dan gadis itu bangkit bersamaan. Judith berjalan menuju ke tempat ibunya, dan kemudian mencium Lesley. Lalu diraihnya tangan Bill, dan sambil bergandengan tangan mereka berjalan ke arah pintu. Tepat di muka pintu, mereka membalikkan tubuhnya. 

“Selamat tinggal Nyonya dan Tuan Bredon,” ujar Bill.

Giles tidak menjawab. Ia menyalakan sebatang rokok lagi, kemudian menyedotnya sambil berdiri. Lesley bangkit, berjalan mengelilingi ruangan, dan kemudian duduk lagi. Di luar terdengar suara mobil dihidupkan dan kemudian pergi menjauh. 

“Menurutmu, anak-anak bodoh itu akan lari dan kawin sekarang?” tanya Giles.

“Mungin mereka tidak akan berlaku sebodoh kita dulu,” ujar Lesley. Diam-diam Giles dan Lesley ingat, pada suatu siang seperti ini, mereka berdua berada di sebuah kantor catatan sipil. Giles juga ingat bagaimana rasa lega memenuhi dadanya ketika mereka sudah bisa disebut sebagai suami-istri. Sambil berjalan ia melingkarkan lengan kanannya ke bahu Lesley, dan bersama-sama mereka berdua menikmati cerahnya udara hari itu. 

“Tak seorang pun bisa memisahkan kita,” ujar Giles. “Kita sekarang bebas, suami dan istri!”

Mereka juga menaiki sebuah mobil tua, mobil yang dirakit Giles sendiri, namun ia tinggalkan ketika masuk perguruan tinggi. Mobil tua itu telah menolong mereka mencapai tujuan yang amat penting. Dan Giles baru membeli mobil lagi setelah setahun menikah. 

“Kalau mereka tidak berlaku bodoh seperti kita, mereka akan rugi,” gumam Giles. 

“Apa tidak lebih baik kalau sekarang kita bicarakan saja urusan kita?” Lesley bertanya. 

Giles berusaha membangkitkan semangat dari dalam dirinya dan ia merasa dirinya sedang terikat dengan serangkaian kenangan. Di malam pertama, mereka tidur di sebuah penginapan di luar kota. Giles menutup matanya dan menyandarkan punggungnya. Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi berani hidup dengan modal cinta. Giles ingat, sudah bertahun-tahun ia tak memikirkan hal itu lagi. 

“Rumah ini,” ujar Lesley. “Aku tak menginginkannya.”

Giles membuka matanya dan dengan kasar berkata, “Aku juga tak menginginkannya. Apa yang akan kulakukan dengan rumah ini—hidup sendiri?”

“Siapa tahu Judith dan Bill mau tinggal bersamamu di sini,” Lesley mencoba memberi pandangan.

“Aku tak akan tahan,” potong Giles. “Ketika kita muda, hanya orang tua yang boleh merasa paling benar. Tapi sekarang, anak-anak muda juga bisa merasa paling benar.”

Tiba-tiba Lesley berbicara dengan hangat. “Benar ‘kan? Aku sudah bilang padamu, bukan pekerjaan yang mudah hidup bersama Judith setiap hari. Anak itu bersikap seolah kacaunya dunia ini lantaran apa yang kulakukan. Kurasa ia dan Bill akan membuat segalanya baik kembali. Mungkin!”

“Mungkin,” Giles setuju. “Yang jelas, ini giliran mereka. Biarkan mereka menghadapi dunia. Aku lelah!”

“Aku juga,” ujar Lesley bersemangat. 

Dalam perjanjian di bawah sadar, Giles dan Lesley saling memandang dengan rasa bahagia. 

“Aku ingin hidup dengan orang yang segenerasi denganku,” Giles melanjutkan bicaranya. “Seseorang yang bisa mengerti apa yang sedang kubicarakan.”

“Aku juga merasakan hal yang sama,” kata Lesley.

Mata Giles tiba-tiba tertumbuk pada kursi-kursi warna merah ceri itu. “Ide gila macam apa yang membuatmu mengubah ruangan ini?” sergahnya.

“Bukan aku yang melakukannya,” ujar Lesley. “Itu semua idenya Judy.”

“Engkau seharusnya tidak membiarkannya melakukan itu semua,” bantah Giles. “Bagaimanapun ini bukan rumah dia—belum.”

“Engkau ‘kan sudah pergi,” Lesley mencoba mengingatkan.

“Engkau yang menyuruhku pergi,” giliran Giles yang mengingatkan Lesley.

Dengan rasa enggan mereka tersenyum satu sama lain. Lalu Giles meringis, dan Lesley tertawa.

“Sayang,” ujar Lesley sambil mengusap matanya. “Sudah lama sekali aku tak bisa tertawa.”

Giles meremukkan rokoknya dan membungkukkan badannya, sikunya berada pada lututnya. Suaranya tegas dan riang. “Mengapa kita tidak lari lagi seperti yang dulu kita lakukan?”

Lesley tertawa panjang. “Oh Giles, lari dari ruangan ini lagi?”

“Takut, ya?”

“Ah, aku sih tidak peduli,” jawab Lesley tak sabar. “Apa artinya rumah? Biarkan Judy berbuat sesukanya dengan rumah ini.”

“Mari kita berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri,” ujar Giles penuh gairah. Ia merasakan timbulnya sebuah semangat baru, sebuah kobaran api lagi di dadanya! “Aku ingin membuat rumah dengan tempat tidur ekstra, banyak ruang duduk dan teras, dan yang letaknya dekat gunung, sehingga kita tak perlu menutup tirai karena tak seorang pun yang akan mengintip ke dalam rumah.”

“Aku selalu membenci rumah ini,” Lesley mengaku. “Aku benci ketika orang tuamu tinggal di sini, dan sekarang aku lebih tidak suka lagi karena semuanya telah diubah oleh Judy.”

“Persetan dengan itu,” kata Giles, “mari kita tinggalkan semua ini!”

Pengertian dan keheranan memancar dari wajah Giles. Ia memukul-mukul pegangan kursi dengan kepalan tangannya. “Kemarilah Lesley, perhatikan—mereka sama saja, anak-anak ini dan kakek-nenek mereka, dan kita tak mau peduli lagi!”

Giles berjalan dengan tiga langkah panjang dan kemudian menarik tubuh istrinya. “Kita masih punya banyak waktu,” katanya. Dibelainya Lesley yang sekarang berada dalam pelukannya. Oh, Tuhan, siapa lagi yang akan melulu bicara tentang cinta remaja? Yang ini ribuan kali lebih indah, merasakan istri kembali dalam pelukan, mengingatkannya pada tahun-tahun yang mereka habiskan bersama. Ini baru yang namanya cinta!

“Aku tak bisa hidup tanpa engkau,” Giles berbisik, pipinya menempel pada rambut Lesley. 

“Aku juga sudah mencoba hidup tanpa dirimu,” ujar Lesley lirih, “rasanya sepi sekali.”

“Jadi, sekarang kita sudah tahu,” ujar Giles.

Telepon berdering. Lesley berusaha mengangkatnya, namun dengan cepat Giles menangkap tangannya dan memeluknya lagi. “Jangan sampai ada telepon di rumah kita.”

“Ya, jangan sampai.”

Namun akhirnya Lesley berdiri juga untuk mengangkat gagang telepon itu. Ia tampak terpaku mendengar pembicaraan di ujung sana. “Judy,” bisiknya pada Giles. Matanya lekat pada Giles sementara telinganya menangkap pembicaraan anaknya. 

“Jadi kalian akan segera menikah? Oh, Judy—tak akan ada pesta perkawinan? Kami tak bisa menyalahkan kalian. Tidakkah kalian tahu kalau kami dulu juga melakukan hal itu? Ya, betul, kami kawin lari. Apa kau bilang, kalian akan hidup bahagia selamanya, tidak seperti kami? Engkau akan kaget Judy, sangat kaget! Bulan madu seminggu? Baik, selamat bahagia sayang. Ya, dia masih ada di sini.”

Lesley memanggil suaminya, dan Giles pun langsung mendekat dan mengambil gagang telepon itu dari tangan istrinya. 

“Judy!” teriak Giles. “Engkau harus malu pada dirimu sendiri! Apa yang telah kulakukan sampai engkau nekat begitu? Tentu aku marah sekali! Aku bahkan belum memberikan persetujuan—tak seorang pun dari kalian yang meminta itu! Tapi terserah padamu dan Bill kalau kalian memang mau jalan terus! Apa? Ya, biarkan dia bicara!”

Suara Bill ada di telinga Giles. “Saya minta maaf, kami merasa harus bertanggung jawab atas putusan kami. Kami juga merasa harus mengatakan hal ini pada Anda.”

“Yah, itu tanggung jawab kalian sendiri. Aku cuci tangan!” Giles mencoba menyembunyikan kegembiraannya. 

“Saya akan bertanggung jawab, Tuan,” ujar Bill. Suaranya terdengar sungguh-sungguh, terlalu sungguh-sungguh bahkan. 

“Aku tidak perlu cerita kepadamu ‘kan, kalau Judy itu punya perangai agak manis kalau sedang sewot,” ujar Giles menggoda. 

“Saya tahu,” ujar Bill. 

“Tidak usah terlalu sabar,” potong Giles. “Dan selamat, ya!”

Dengan cepat diletakkannya gagang telepon, lalu ia menatap Lesley. “Kita sekarang bebas,” ujarnya. 

“Ya, bebas,” ujar Lesley menirukan. 

Selama beberapa saat keduanya berdiri berhadap-hadapan. Pelan-pelan senyum mengembang dari hati mereka, dan merambat ke mata mereka, dan memancar seperti sinar matahari yang menerpa wajah-wajah mereka. Lesley melangkah mendekati suaminya, dan Giles pun memeluknya. Dan tanpa berkata-kata keduanya mulai menari-nari, dari waltz, minuet, sampai jive. Giles berimprovisasi, dan Lesley mengikutinya. 

“Gila-gilaan,” gumam Giles, “sepasang orang gila sedang tergila-gila oleh cinta!”

(Judul asli “The Lovers”, alih bahasa: SZL)


Setelah vakum selama delapan tahun, Pearl S. Buck (1892-1973) menjadi orang Amerika kedua dan wanita pertama yang memenangkan hadiah Nobel untuk Sastra. Meskipun dilahirkan di sebuah kota kecil, Hillsboro, di West Virginia, Buck menghabiskan sebagian dari umurnya di Cina, tempat orang tuanya bekerja sebagai misionaris Presbyterian. Ia mengantongi gelar sarjana muda dan gelar sarjananya dari Randolph-Macom Women’s College dan Universitas Cornell, dan memulai kariernya dalam bidang pengajaran. Pada 1925-1931 Buck mengajar di Universitas Nanking dan Chung Yang di Cina, negara yang baru ia tingggalkan pada 1935, beberapa tahun setelah invasi Jepang. Sebuah hadiah Pulitzer pada 1932 mengawali penerimaannya akan Hadiah Nobel pada 1938. (Matra, November 1989).

Buck akan selalu dikenang karena novel klasiknya The Good Earth (Bumi yang Subur), yang menghadirkan sebuah pemandangan yang hidup dan romantis tentang kehidupan di Cina, yang membuat para pembaca di Barat merasa terkagum-kagum. Kualitas penulisan Buck yang paling kuat adalah kemampuannya melibatkan pembaca dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Dan ia mengkhususkan diri pada tokoh utama yang merupakan wanita cerdas. Dan ketika sementara kritikus merasa bahwa ia merupakan salah seorang penulis paling lemah untuk memenangkan hadiah Nobel, karya-karya terbaiknya (seperti dalam sejumlah cerita pendeknya) memang benar-benar mempesona; dan Buck memberi sumbangan besar terhadap cara-cara penggambaran sebuah budaya yang berada dalam konflik. 


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pearl S. Buck dan dialihabasakan oleh SZL
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" pada November 1989

0 Response to "Kekasih"