Kelimutu - Another's Arms - Ink | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kelimutu - Another's Arms - Ink Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:07 Rating: 4,5

Kelimutu - Another's Arms - Ink

Kelimutu

barisan gunung di Timur menyodorkan gradasi
Warna. Matahari berjubah hijau melemparkan
Cincinnya ke dasar kawah berwarna biru.

Seorang biarawan Lokaria berdoa di puncak tugu, lalu
Menatap ke bawah, dan menemukan seorang perempuan
Sabu menjeratnya dalam cinta yang membingungkan.

Matahari merestui hal yang penuh muslihat itu, membakar
Biara pada hari ketujuh, mengubah warna mineral
Kawah pada hari keempat puluh, menurunkan hujan
Pada hari kedua ratus lima puluh enam, membawa
Mereka ke depan altar pada hari keseribu lima puluh
Tujuh, memberi mereka sepasang anak kembar sembilan
Puluh satu hari sesudahnya

Biarawan-biarawan lain ikut mendaki, menyusuri
Liuk-lekuk hutan bermodalkan peta tanpa legenda,
Lima puluh tahun kemudian. Tak ada nama Tuan Nggalu
Atau Nyonya Tagie membekas di puncak magis itu
Sebagaimana hidup dalam cerita orang-orang.

Doa-doa tak memberi mereka cara untuk membaca
Suasana hati matahari yang lebih sering berubah
Daripada ketiga danau yang hanya sesekali berani
Memperdengarkan komposisi terbaik mereka
Ke telinga para pencari suara semesta

(Kelimutu, 2015)

Another's Arms

Api akan dengan bahagia yang demikian
Lama terpendam memelukmu.
Delapan lengannya yang menjulur
Merindukan tubuh lembutmu.

Rindu membuat kurva-kurvanya
Tak beraturan, dan hanya karena
Marun di ujung setiap lengan menjulurnya
Dan tiga titik hitam di pangkal lengan ketiganya,
Kau dapat segera mengenalinya
Sebagai api sama yang pernah mengurapimu.

Dengarlah suara detak jantungnya yang membutuhkan
Tubuhmu ketika pijar yang terpompa ke seluruh
Penjuru tubuhnya berdesir

Panggung tetap seperti itu: Sebuah vas berisi
Setangkai mawar layu
Teronggok di sudut kiri bagian belakang,
Dan di titik lain drai garis diagonal panggung
Ada sebuah telepon genggam yang masih berdering

Ambil jalan pintas dan jangan berpaling
Saat ia siap merangkummu dalam sekali sentuhan.
Bersiaplah mendnegar tepuk tangan penonton
Seandainya ia gagal menirumu.
Bayang majalmu yang merdeka akan menjadi pemeran
Pengganti yang cukup baik
Dari bagian pertama pertunjukan ini.

(Naimata, 2015)

Ink

Langit menandai keningmu dengan tragedi,
Ayah menandai pipimu dengan ludah kunyahan sirih pinang.

Luka menandadi tanganmu dengan kelopak yang selalu siap merekah.
Cinta menandai hatimu dengan suara sayup dari rimba masa kecilmu.

Ibu menandai tumitmu dengan bisa  seekor ular yang remuk kepalanya.
Bumi menandai kakimu dengan sisa lumpur dan darah.

(Naimata, 2015)


Mario F. Lawi bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Flores. Kummpulan puisi terbarunya adalah Lelaki Bukan Malaikat (2015)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F. Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 24 Januari 2016


0 Response to "Kelimutu - Another's Arms - Ink"