Kepada Tana Paser | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepada Tana Paser Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:31 Rating: 4,5

Kepada Tana Paser

Kau memanggilku dari seberang lautan
Suaramu sayup dan timbul tenggelam
Aku terbangun dari mimpi. Kerinduan serasa menggetir
Kuhitung hari bulan tahun berlarian ke masa lalu
Alangkah pedih keindahan yang dihanguskan waktu
Kenangan gugur. Janji terkubur. cinta sirna sia-sia
Di manakah rumah yang kubangun di dalam hatimu?
Kuremas jantungku yang diselimuti tabir rahasia
Segala yang luput menjelma kabar tak terduga
Berlindapan pertanyaan dan prasangka berhamburan
Setiap kemungkinan sekadar bayangan semu
Yang dikelola kata tak hilang di kalbu
Jagat batin bisa kiamat
Kepercayaan akan terus tumbuh.
Kuterima dirimu. Kau terima kekurangajaranku
Betapa sungaimu menggeliat bagai naga
bermahkota kesunyian menjulurkan badan
ke angkasa raya menggigit rembulan
yang nongol di siang hari
Namun hutanmu nan gulita
menyimpan pelita raksasa lembah keabadian
berpeluk badai hening murni
di bawah tindihan kaki zaman
yang berhenti berjalan
Dan siapakah yang tak terpesona oleh kegulanaanmu?
Keajaiban terpancar dalam bersahai berdaya sihir
Di keluasan matamu berbaring kemegahan hari esok
Di kedua alismu ribuan kapal asing mesti singgah
Di pangkuanmu kenduri besar tersaji sepanjang waktu
Nyanyian kanak-kanak mengalun di balik bianglala
Misteri dininabobokkan senja dalam ramahan bahasa
Kemakmuran dirahmatkan langit melalui jemari bidadari
Harga diri bangkit dari tanah membuka berkah
Aku terngungun. Kangen. Alangkah
sakitnya. Ingin kusentuh pucuk hidungmu
yang tak terjangkau. Kukecup bibirmu yang
terbayangkan pun tidak. Kudekap tubuhmu
yang melenyap dalam ingatanku padamu
Tana Paser kuseru dalam seribu isyarat diamku
Kegundahan memudarkan catatan hitam di buku harian
Penipuan diri mendera. Kemarau jiwa mengkusutkan harapan
Intuisi tertidur. Akal sehat terkilir. Ego mati suri
Andai amsa depan dan masa lalu bertukar tempat
Detik berjalan mundur. Sejarah ngorok di tong sampah.
Kuputihkan yang terlupa. Kusederhanakan hitungan asmara
Menggumamkan cerita. Kosong. Dingin. Sepi. Memuisikan usia
Dan perjalanan mencari sarang angin betapa mencerahkan
Lalu derita membantu menyempurnakan pemahkotaan diri
Yang lepas dari genggaman menjelma bintang
Tumpahnya air mata membasuh luka semesta jiwa
Kemudian terheningkanlah kesalahan yang berabad tertunda
Di mana jejak ikan dalam air comberan yang mengalir?
Di mana puisi yang hamil oleh kata?
Di mana keniscayaan tergadai?
Di mana mimpi membangkai?
Di mana mesti kusergap diriku dalam dirimu?
Kesenjakalaan membusuk. Nestapa merenjana
Kecantikan terungkap oleh ketiadaan
Keserbamungkinan menubuh perlahan
Dan lautan asa
membeku dalam hikayat
waktu yang terbakar rindukan
di ujung penantian tak bertepi
Telah kau nyanyikan lagu surgawi mengurai kesentosaan
Restu Bunda Bumi menyejukkan sukma yang meranggas
Arwah para leluhur purba bersitekur dalam samadi
Menyebar rezeki dari puncak kepala naga waktu cahaya
Betapa tak terelakkan kemenangan melunaskan sangsi
Belantara meraung mendidihkan suara zaman bergelora
Mantra terbungkus rapi teronggok di kelam sunyi
Topan kemasygulan terbirit nyemplung ke samudera
Hidup bukan sekadar mengarungi kekosongan
dengan perahu bocor tanpa layar
dipermainkan gelombang tanda tanya
menunggu genapnya fajar
Kekhawatiran meminjamkan topeng pada yang
bernama ketakmengertian di kesenjangan
hati mempersetubuhkan kefanaan
dengan kebakaan. Senantiasa
peristiwa berputar. Pulang balik. Menggelinyir. Titik
pandang menjelas dan mengabur. Pencarian rampung
Apa yang dituju sampai tak digenggam oleh selesai
Tembang perjaka bisu membuat kasmaran dara tuli
Burung api terbang malam menyalakan rembulan
Dan rembulan jatuh ke dasar telaga ditelan anak buaya
Hanya bagimu Tana Paser,
Kubongkar riwayat sangkakala  yang tertimbun tahun kelabu
Kutulis di atas permukaan air sungaimu yang mengalir
Kebenaran terkecap pahit di bibir pendurhaka tak bermuka
Tapi yang digugatkan puisi mewarnai dataran nurani
Ketakjuban pada pesona kata menggosongkan keterlupaan
Gelisahnya peradaban tak berakhir pada sneyap pikiran
Berkelindandan sesal dan ampunan memuliakan kebajikan
Tawa menutup tangis. Kebahagiaan menggendong kesedihan
yang pergi lalu kembali. Yang pulang lekat di pelukan
Langit cerah ceria. Hutan berdandan. Laut tentram
Demikian elok. Merdeka. Jelita. Dan paripurna. Jingga
Apalagi mesti digumamkan melalui bibir perawan rimba?
Kijang perak bertamu ke rumah menitipkan anaknya
Trenggiling dan landak berteka-teki di ladang tetangga
Seabad ular tidur mendadak terbang menuju cakrawala
Betapa kegaiban hanyalah sekadar hal yang sederhana
Kecuali cintaku padamu; selamanya diselimuti misteri
Kecuali tatapan matamu; irama tembang kabut abadi
Juga perjalanan roh semesta rayaku membedaki kebudayaan
Meski langkah terjegal tapi kaki terus menjejak bumi
Wajah tersipu kujelajahi dengan pandangan mata
Peta tak lengkap tergambar di keteduhan kening
Dunia tak bulat bersandar di penghujung bibir
Apa yang belum kuhisap dari dosa sejarahmu?
Selalukah kerisauan menggamangkan kesetiaan?
Dan bunga bangkai yang tumbuh di
relung kalbuku yang bernanah dan
berdarah hitam legam karena
luka lama dirobek sayatan
pisau pengkhianatan bidadarijelita mestikah
dipupuk kata, kalimat, puisi dan prosa liris?
Betapa anggun tubuh berlepotan lumpur dan ketidakpastian
Dalam irama ganjil kehidupan bunga plastik bermekaran
Matahari keemasan keluar dari mulutmu yang sejahtera

Yogya, 1-2 Agustus 2014


Sri Harjanto Sahid: Lahir di Sragen, 25 November 1961. Alumni Asdrafi dan ISI Yogyakarta. Aktif berteater, sastra dan seni rupa. Kini mengajar di Bengkel Sastra Balai Bahasa Yogyakarta, Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Abhiseka Yogyakarta. 
Tinggal di Lowanu Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Harjanto Sahid
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 Januari 2016

0 Response to "Kepada Tana Paser"