Kidung Murai - Taman Bungkul - Madura | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kidung Murai - Taman Bungkul - Madura Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:53 Rating: 4,5

Kidung Murai - Taman Bungkul - Madura

Kidung Murai 

Kicauku yang berderai
berkubang di teluk dadamu yang dalam

Ketika matahari mekar, pagi-pagi mengunig
menghapus dukana mimpimu semalam

Dengarkan kelembutan kidungku
jerit mahasakit yang menjelma sekuntum bunga
kamboja

Yang ditanam dalam jiwamu bermekaran dan
menyemerbakkan aroma kemenangan

duh, Gusti...
dalam kidungku yang parau kusebut nama-Mu

Maka biarkan kusesap keagungan suara Daud
akan kubengkokkan dan kupatahkan pagar-pagar
bambu ini

Sebab kicauku adalah lengking kerinduan
untuk terbang ke langit dan memandang ke luas lautan

Kutub/Yogyakarta, 27 12 2015 

Taman Bungkul 

Di bawah kibaran sang mahapepohonan
Kau yang mencerna warna-warni kerinduan
Di bangku taman duduk sempoyongan

Kau maknai segala yang dijatuhkan langit
Kau maknai segala yang dilemparkan bumi
Umpama penyair yang selalu ngidam buah puisi

“di taman kota itu, kekasihku
bermacam bentuk keindahan sirna oleh kilau
cahayamu“
suaramu meledak menghancurkan isi jagat raya

kau kupas kulit dingin pada jalan taman
angin pun bergoyang bersama celah-celah
sampai jarum jam tak lagi kuat berputar karena
patah

ditebas ketajaman pedang perasaanmu
yang diasah pada tembok jarak
yang menyusun kerinduanmu

Kutub/Yogyakarta, 28 12 2015 

Madura

Bila kusebut namamu sekali
bergelombanglah laut di jiwa
asinlah segala yang pernah kupijak oleh mata

Jarak bukan penggunting terali-terali cinta
dalam hidupmu aku hidup
dalam hidupku engkau hidup

Bagai sepasang sapi lelaki di medan laga
kupacu dan kucambuk jiwaku yang mabuk dengan doa
supaya lesat segala damba sampai ke palung sorga

karena gersang tubuhmu dibajak dengan bismi allah
kupelajari yang asing dan tampak jauh:
padi-padi menjuntai, daun-daun tembakau menghijau,

dan pelepah-pelepah siwalan, dan jari-jemari cemara
udang,
dan keteguhan reranting jati senantiasa tulus melambai
dan mengucap salam kepada yang datang, pun yang
akan pergi menyeberang

di bungkuk punggung bukit-bukit kapur
kubaca ayat-ayat yang diukir dengan pacul
“perjuangan adalah ketabahan
sebab seperti halnya hidup, mati pun butuh
diperjuangkan“

aku becermin ke cakrawala, memandang
burung-burung terbang dan mengembara
kepak sayapnya merobek-robek sisa kenangan kita

di mana asin lautmu yang membuihkan mutiara
adalah makam tempat nasib berlayar
mengantarku ke masa depan

Kutub/Yogyakarta, 27 12 2015 




Mohammad Ali Tsabit, mahasiswa perbandingan agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Jejak Imaji Yogyakarta..



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Ali Tsabit
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 24 Januari 2016

0 Response to "Kidung Murai - Taman Bungkul - Madura"