Kutukan Rahim (25) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (25) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:54 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (25)

INTINYA, anak Zul bisa menangkap bahwa bisnis proposal yang dijalankan Mos dan sang kepala daerah sangat luar biasa. Banyak fotocopi kuitansi yang juga banyak menunjukkan besarnya sumbangan dari banyak pengusaha dan pihak tertentu lainnya. Anak Zul pun ngiler membayangkan jumlah uang yang terkumpul.

"Lumayan juga keluargaku kecipratan enaknya dari uang sumbangan itu," anak Zul berkelakar pada dirinya sendiri.

Ia juga berpikir apakah maksud Mos bicara ngelantur, bahwa ibunya dijual dalam Pilkada, kaitannya dengan proposal-proposal itu? Tapi, ibunya kan bukan artis ternama? Atau, karena bukan ternama maka justru bisa dibisniskan menjadi rupiah yang melimpah ruah?

"Pilkada, pilkada, betapa ternyata menjadi ladang penyebaran uang yang luar biasa." Lagi-lagi anak Zul berbicara kepada diri sendiri.

***
SUATU hari, sang kepala daerah sebenarnya sempat curiga bahwa anak Zul sudah melihat-lihat data dalam filing kabinet. Sebab posisi filing kabinet tak menutup rapat. Logikanya, pasti ada yang membuka. Tetapi, ia mau marah langsung kepada anak Zul juga tak enak. Akhirnya, ia diam saja.

***
ANAK Zul pun sudah merasa cukup menenangkan diri di rumah dinas sang kepala daerah. Ia akhirnya mau pulang dan kumpul bersama lagi sama ibu kandung dan ayah non-biologisnya. Bahkan dengan berbesar hati ia meminta maaf kepada ayah non-biologisnya jika tindakannya pernah sangat di luar kendali. Ayah non-biologinsnya pun memaafkan dengan lapang hati.

"Yang sudah ya sudah. Yang penting sekarang kita bisa berkumpul lagi bersama-sama," tutur Zul.

Dalam keintiman yang kembali terjalin di antara Zul, anaknya, dan suaminya, anak Zul menceritakan semua pengalamannya ketika diterapi di rumah pak kiai maupun pesantren. Ia menceritakan kesan-kesannya. Begitu pula ketika ia tinggal di rumah dinas nan mewah tempat tinggal sang kepala daerah. Ia merasakan sbeuah kejutan hidup yang luar biasa. Memang, betapa enaknya jika menjadi pejabat. Bahkan Zul pun sempat berseloroh apakah kelak ingin menjadi pejabat juga? Tentu saja mau, jawab anak Zul juga secara berseloroh.

Sampai akhirnya anak Zul juga menceritakan soal data-data di dalam filing kabinet yang ia baca. Soal proposal-proposal dan kuitansi-kuitansi sumbangan, peran Mos dan sang kepala daerah, foto-foto Pilkada, dan yang lain. Tapi, Zul dan suaminya ternyata hanya merespons dengan tertawa geli.

"Sudahlah, kamu tidak usah berpikir macam-macam. Tidak usah berpikir terlalu heran. Tidak usah berprasangka buruk. Begitulah hidup. Kita juga tak bisa seenak sekarang jika tak bertemu dengan Mos dan sang kepala daerah," cetus Zul.

"Ya biarlah, tidak apa-apa. Penting juga lho dia tahu," bela suami Zul.

"Kehidupan ini mirip jual beli, ya? Atau memang sekadar jual beli? ucap anak Zul. Tentu, mendengar isi kalimat itu, sudah menunjukkan sisikedewasaan yang matang.

"Wah, kamu jadi kelewat cerdas setelah banyak diterapi, ya?" sambung Zul.

"Bukan anak kita kalau tidak cerdas," canda suaminya.

"Hahaha...."

Mereka lebur lagi dalam kebahagiaan bersama. Air mata ketiga orang itu pun menitik secara bersamaan. Tanpa sengaja. Padahal suasana yang terbangun justru gembira.

Setelah kelakar usai, suami Zul pamit mau segera bekerja mengantar sang kepala daerah.

Ia tetap setia menjadi sopir. Hanya sopir. Pernah ia ditawari dapat pekerjaan di kantoran oleh sang kepala daerah. Di bagian tata usaha. Ngusrusi surat-surat. Yang pasti, tak lagi nyopir. Namun, ia tidka mau. Ia katakan kepada sang kepala daerah bahwa menjadi sopir sudah merupakan pekerjaan yang sangat terhormat bagi orang seperti dirinya.

Sang kepala daerah pun terharu. Sungguh bersahaja cara hidup dan pandangan hidup suami Zul.

"Kalau menjadi kepala daerah bisa pensiun, Pak. Kalau jadi sopir kan tidak mengenal pensiun," seloroh suami Zul.

"Ah, bisa saja kamu."

"Yang penting kan bis aterus terhargai sebagai manusia."

"Betul kamu. Dan yang penting lagi, meskipun aku kelak pensiun sebagai kepala daerah, kamu tidak kemudian mengantar keluargaku menjengukku di rutan karena korupsi."

"Hahaha...."

"Itu saya yakin tidak akan terjadi pada Bapak."

"Terimakasih kepercayaan dan doa baiknya, ya."

***
UDARA seperti terasa selalu cerah setiap hari. begitu leganya perasaan Zul, anak, dan suaminya yang kini bisa selalu berkumpul kembali. Terkadang, di dalam pikiran mereka memang timbul letikan kegelisahan, kelak ke depan masalah apa lagi yang kemungkinan akan muncul berkaitan dengan hidup berkeluarga?

Ah, tapi, kegelisahan seperti itu tentu saja tak perlu diperpanjang. kalau pun memang muncul persoalan, bagi Zul dan suaminya, kini justru sudah seperti bunga-bunga kehidupan. Justru mewarnai kebahagiaan mereka. Toh kalau dipikir-pikir, tidak ada manusia yang bisa lepas dari persoalan hidup, sekecil apa pun. Maka, mereka kini justru sudah kebal jika ada persoalan, karena menjadi terbiasa, dan selalu beroikir positif mencari jalan keluar.

Waktu-waktu tertentu selalu digunakan Zul, suami, dan anaknya menapaktilasi perjalanan hidup keluarga. Mereka sesekali main ke rumah si dukun, si tokoh supranatural teman kecil Zul yang setelah sang kepala daerah terpilih bertahun-tahun setia menjadi semacam penasihat spiritua pribadi. Mereka juga sesekali menjenguk Mos di rumah sakit jiwa. Bahkan mereka juga sesekali menengok makam ayah biologis anak Zul. Hubungan mereka dengan sang kepala daerah pun senantiasa baik.

"Hanya dengan mempertahankan nilai keikhlasan dalam kebersamaanlah maka hidup kita akan senantiasa bahagia."

Demikian rumusan yang dikeluarkan suami Zul. Zul dan anaknya pun sepakat. ❑ (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 10 Januari 2016

0 Response to "Kutukan Rahim (25)"