Kutukan Rahim (26) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (26) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:59 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (26)

HINGGA suatu ketika, terdengar kabar buruk dari angkasa: sang kepala daerah mati karena diracun. Kronologi kejadian itu: waktu sang kepala daerah memenuhi undangan pernikahan salah seorang koleganya. Ternyata, menu yang ia makan ada yang menaburi racun. Berupa cairan arsenik. Dan hanya menu yang dimakan sang kepala daerah saja!

Kontan seluruh kota berduka. Termasuk Zul sekeluarga. Bagaimana pun kepala daerah tersebut adalah pemimpin yang harum nama dan prestasinya. Tak ada secuil pun cacat yang menjadikannya layak diproses secara hukum. Setidaknya, ia bisa sampai dua kali menjabat jelas karena prestasinya baik. Jabatan pemerintahan yang kedua kalinya itu pun hampir purna. Namun, tiba-tiba, ajal menjemputnya.

Polisi terus berusaha keras mengungkap pembunuhan berencana itu. Sebegitu canggihnya, sampai berminggu-mingu kasus pembunuhan berencana sangat rapi itu tidak terbongkar. Kepala daerah baru pun ada yang menjabat dan hanya bisa berjanji dan berusaha untuk selalu membongkar kasus itu. Namun, faktanya, senantiasa nihil. Tak pernah bisa terwujud dengan baik.

Banyak orang kemudian melupakan kasus tewasnya sang kepala daerah yang mengenaskan itu. Entah keluarganya melupakan atau tidak karena kenyataannya, sang istri kepala daerah malah sempat shock dan diterapi secara khusus di rumah sakit jiwa.

Sementara, Zul dan keluarganya, pelan-pelan juga mulai bisa melupakan kasus itu. Tapi, mereka terus mengabdi kepada keluarga sang kepala daerah. Hanya saja pengabdian mereka dilanjutkan pada keluarga anak sulung snag kepala daerah yang memutuskan tidak lagi tinggal di luar negeri.

Sungguh, banyak orang satu kota benar-benar sudah melupakan kasus terbunuhnya sang kepala daerah mereka. Ya, sebagian besar orang dalam satu kota itu memang tidak ingat lagi bahwa di kota itu ada Mos! Orang yang sama sekali lepas dari kemungkinan dicurigai karena posisinya yang senantiasa ngendhon di rumah sakit jiwa.

Orang satu kota malah sama sekali tidak pernah terpikirkan jika suatu hari Mos berhasil menyuruh si tukang kebun rumah sakit jiwa yang mata duitan untuk membeli racun dan menaruhnya di menu makanan sang kepala daerah. Orang satu kota juga sama sekali tidak pernah terbayangkan bahwa si tukang kebun rumah sakit jiwa mau disuruh sesuai arahan Mos cukup dengan upah selingkar cincin pernikahan yang ada di salah satu jemari Mos. Memang, diam-diam, satu-satunya harta Mos yang masih melekat di tubuh itu kadar emasnya sangatlah tinggi. Itulah yang membuat si tukang kebun yang mata duitan, gampang disuap sana-sini itu, mau melakukan apa yang diinginkan Mos.

Banyak penjaga di rumah sakit jiwa sama sekali tak bisa menangkap arti ocehan-ocehan Mos yang berkaitan dengan gembiranya ia karena sang kepala daerah berhasil terbunuh. Malahan mendengar ocehan atau celotehan Mos di rumah sakit jiwa, banyak penjaga yang tertawa-tawa. Justru terhibur menghadapi Mos yang psikopat.
Kesadaran adalah matahari 
kesabaran adalah bumi 
keberanian menjadi cakrawala 
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata....
Begitulah di antaranya deretan ocehan atau celotehan Mos. Yang banyak membuat petugas jaga rumah sakit jiwa terpingkal-pingkal.

"Hei kenapa tertawa? Gila kalian?" tanya Mos suatu hari, sesudah melontarkan kalimat ocehan itu di tengah suasana bersih-bersih lingkungan sekitar rumah sakit jiwa.

"Bagus puisinya. Itu karyamu sendiri?" respons salah seorang petugas jaga.

"Ah, goblok kalian. Bukanlah. Itu puisi karya orang besar di negeri ini. Namanya Rendra. Dasar bukan orang sekolahan. Kerjanya cuma mengamat-amati, memata-matai orang lain. Sana cari pekerjaan yang lebih bermartabat!"

"Hahaha...."

Tawa puluhan orang, baik petugas jaga maupun para penderita sakit jiwa, di lapangan rumput  di dalam rumah sakit jiwa itu pun meledak keras. Mereka gembira bersama. Hingga tak ketahuan mana yang gila mana yang bukan jika pas tertawa bersama! ❑ (tamat)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Januari 2016

0 Response to "Kutukan Rahim (26)"