Lampu Merah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lampu Merah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:19 Rating: 4,5

Lampu Merah

AKU benar-benar terdesak waktu. Detik-detik menamparkan kecemasan tepat di mukaku. Pucat membiru dalam uap-uap jalanan yang kian mengepul tajam menusuk rongga paru. Ku pasangkan helm hijau yang sudah usang, melaju menuju tujuan.

JEMARI menggenggam stang sepeda motor sekuatnya. Dalam kondisi pelik begini, jatuh terempas ke aspal akan sangat berarti memecah pikiran dan menyemburkan benak-benak yang telah diracuni akumulasi kehidupan. Kecepatan pun makin berlari mengejar detik-detik yang tajam menggelitik, Wusss!!!

Jarak serasa tak juga mendekati, apalagi dibumbui dengan rangkak-rangkak kendaraan yang terjebak dalam kemacetan kota. Terucap karut marut, hampir dari semua manusia yang memacu diri menjemput waktu. Pagi ini, waktu adalah raja, kendaraan adalah panglima, dan manusia hanya poin-pion resah. Resah dalam karut yang mengerut ketika nasib mereka  terancam tercebur dalam kemelut.

Aku terus berpacu, dan juga mereka.

Saat terus mengukur jalanan, aku sampai pada lampu lalu lintas terahir menuju kantor. Ini sudah masuk dalam kawasan lalu lintas yang tertib. Keresahanku bertambah. Tepat di sudut persimpangan, tatapan polisi liar mencari kesalahan pengendara. Jelas ini membuat aku ciut. Sudahlah SIM tak punya, STNK pun ketinggalan di rumah. Kecemasan kembali menampar hingga membuat bibir pasi.

Padahal, ibu telah mengingatkan, "Ben, jangan sampai ada yang ketinggalan. Ini untuk pembuktian. Jangan jadikan yang ertinggal menjadi hambatan."

Sungguh, traffic light terakhir ini membuatku gelagapan. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Satu menit lampu merah menuju hijau serasa seharian. Apalagi, saat mata tajam polisi cukup lama menatapku. Cepat-cepat aku bersiul, menghilangkan kecemasan. Modus yang sebenarnya jelas membuat monyong bibirku sedikit gemetaran. Polisi berjalan pelan mendekatiku.

**
"PAGI, Pak. Bisa diperlihatkan SIM dan STNK-nya," ucap polisi lalu lintas kepada seorang pengendara motor yang sedari tadi terlihat cemas dengan bibir yang sedikit pasi di pemberhentian traffic light ini.

Mobilku tepat berada di samping pengendara berhelm hijau yang sudah terlihat tak layak pakai lagi itu. Aku mengarahkan pandangan sebentar saja kepadanya lalu kembali lagi menuju renungan.

"Pak Is, sekarang saya tunggu di kantor. Apa-apaan ini? Kenapa dibiarkan saja semuanya terendus media?" Isi pesan pendek dari bos yang jelas menjemput keresahan yang menggelepar.

Pagi ini, aku benar-benar terenyak dalam mobil mewah ini. Pesan mengejutkan yang kuterima dari bos tempatku bekerja membuat pikiranku jauh melambung dan termenung. Aku ingin sekali memperlambat detik-detik lampu lalu lintas ini untuk tetap berwarna merah saja. Biarlah saat berhenti di traffic light ini aku membentuk alasan yang tepat untuk pimpinan yang sedari tadi telah menungguku angkuh di ruangannya.

Sekitar 45 detik lagi, lampu merah akan berganti hijau. Jawaban belum terancang. Aku panik. Ingin rasanya memutar arah saat lampu hijau menyala. Aku benar-benar takut. Entah apa nanti yang kuucap kepadanya. Detik menuju hijau terus memacu. Kutundukkan kepala ke setir mobil.

**
MOTOR baru, semangat baru. Benar-benar pagi ini membawa sebuah keceriaan. Berhenti di traffic light ini membuatku merasa semua orang memperhatikan sepeda motor baruku. Terserah orang mengendarai motor atau mobil dengan harga selangit. Aku mengarahkan pandangan ke belakang. Semakin ceria aku melihat orang di dalam mobil mewah itu. Sepagi ini, ia menunduk di setir kendaraannya. Jelas sekali ada masalah yang menumpuk. Aku tersenyum sinis.

Benar-benar berkilau materiku. Biasanya aku menuju tempat bekerja dengan hanya menggunakan motor butut. Sekarang semuanya berubah. Nyata benar pikiranku melukis ketakjuban teman sekantor saat melihat tungganganku ini.

"Kalau mudah begini memiliki sepeda motor, kenapa tidak dari dulu aku melakukannya?" pikirku.

Ya. Sepeda motor ini didapat dengan cara kredit. Lumayan dengan Rp 300.000, aku telah bisa membawa pulang kendaraan ini. Walau memang ada sedikit kontra dari istri, biarlah. Gengsi adalah hal yang nomor satu sekarang ini. Letih juga jika terus-terusan diejek oleh teman sekantor tentang motor butut yang seringkali rusak.

Terkenang juga kata-kata istriku yang berkata sinis, "Bang Zen, anak kita perlu biaya sekolah, utang juga banyak. Kenapa malah membeli sepeda motor? Padahal, yang lama masih bisa untuk transportasi. Apa gunanya berlagak kaya?"

Detik-detik lampu merah menuju hijau terus bergulir. Terserah! Mau cepat atau lama menuju hijau. Aku lagi pamer. Pantas banyak orang yang berusaha untuk memiliki barang baru, ternyata ini sensasinya. Begitu mulus dan berkilau. Terbahak aku dalam hati. Sepuluh detik lagi menuju hijau, aku masih melayang.

**
AKU terus memacu sepeda motor. Dari kejauhan, di persimpangan itu, kulihat lampu merah sekitar 10 detik lagi akan menjadi hijau. Aku terus mengejar. Tua gas terus kupelintir.

Harus cepat. Tidak ada waktu menunggu lagi. Ini adalah kesempatanku membuktikan kepadanya bahwa aku benar-benar ingin memilikinya. Untuk kesempatan pertama pertemuan dengannya, aku tidak boleh terlambar. Teringat lagi SMS darinya subuh tadi tentang jam keberangkatan di stasiun kereta. Ia menulis, Endi, aku berangkat jam 7. Jangan terlambat atau tidak sama sekali.

"Satu detik pun tidka boleh terlambat! Aku tidak ingin kehilangan dia," ucapku sambil terus memacu kecepatan.

Sekarang semuanya jadi terdesak. Kemarin-kemarin bisa saja aku ucapkan tentang hal itu. Tapi, aku sang penunda. Hah! Sekarang tak ada jalan, kecuali memacu kendaraan untuk dapat segera bertemu dengannya. Aku sangat berharap itu.

**
DETIK berangsur menuju satu. Hijau segera datang.

Lima... empat... tiga... dua... satu. Hijau! Brakkk!

Pak Is tak sengaja menabrak motor baru Zen. Zen tersungkir, motor tergolek. Persis pada saat lampu merah berubah hijau. Zen masih melayang dan ketika itu juga Pak Is menginjak pedal gas.

Tak sampai di situ, Endi yang sedari tadi memacu sepeda motornya --untuk mengejar hijau-- tak kuasa mengendalikan motornya. Brakkk! Kuda besi itu menghantam sepeda motor Zen. Zen menatap nanar. Motornya remuk tergeletak dibasahi darah dari kepala Endi yang terus mengucur deras.

Pak Is tak bisa berbuat apa-apa. Melihat kejadian tersebut, ia berbalik arah. Ia lari... lari dari bos dan juga tragedii tersebut. Ia menghilang, jauh meninggalkan kota itu.

Tak ada yang sempat mengenali plat nomor kendaraan Pak Is. Tepat sekali momentumnya untuk menghilang saat Ben dan polisi lalu lintas sedang asyik bercengkerama menentukan "harga." ***

Awang Blackdog, jurnalis, seniman musik, fotografer, dan berbagai hal yang dilakukannya atas nama seni. Beberapa karyanya telah tampil di beberapa surat kabar lokal di Indonesia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Awang Blackdog
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 24 Januari 2016

0 Response to "Lampu Merah"