Maryam Beranak di Limas Isa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Maryam Beranak di Limas Isa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:27 Rating: 4,5

Maryam Beranak di Limas Isa

ADA SEBUAH HIKAYAT yang hendak aku terakan, tentang Bi Maryam, istri Mang Isa. Perempuan yang telah melewati usia kepala empat tapi masih saja rajin beranak. Orang-orang di dusun Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, memanggilnya Bi Mar.

Kita mulai cerita ini pada suatu malam ingusan, ketika bulan tengah mati di kelam raya dan kesiuran angin penanda hujan telah bertiup sejak langit mulai temaram, tepatnya di bilik pengap Bi Mar dan Mang Isa, pada sebuah limas yang terpancang tak jauh dari bibir Sungai Lematang. Dan kisah ini dibuka oleh ucapan Kajut Mis, dukun beranak di dusunku, Tanah Abang.

“Masih belum terlihat, Mar. Kau harus bertahan. Ambil napas lagi, lalu kau ejankan kuat-kuat.”

Bi Mar tersengal, kedua tangannya mencengkeram kuat seruas bambu yang tergantung tepat di atasnya. Seruas bambu yang diikat kuat tali trap—tali yang terbuat dari kulit kayu bernama trap. Keringat telah membanjir di pelipisnya, melucumkan seluruh tubuh dan merembes ke kasur kapuk yang menampung tubuh kepayahannya. Ada rasa sakit yang mengili-ngili tubuhnya, merayap dari sendi-sendi, lalu menjalar ke seluruh pori. Sakit yang bersumber dari satu titik: selangkangannya.

Mertua Bi Mar, emak Mang Isa terlihat cemas di sebelahnya. Padahal, ini bukan kali pertama ia mengawani menantunya ini bertaruh nyawa melahirkan cucu-cucunya. Hampir saban dua tahun sekali, Bi Mar mengulangi adegan yang selalu membuat jantung mertuanya berdebar lebih kencang ini. Meskipun sang mertua pun telah berkali-kali melahirkan, tetap saja, keryit muka penuh nyeri Bi Mar tak urung membuat dadanya mengempis.

“Sudahlah, Mar, tak usah beranak lagi. Kau datangi saja bidan di Puskes sana, minta KB,” itulah ucapan mertua Bi Mar dua tahun silam, ketika usai mengawaninya melahirkan Serina, anak gadisnya yang sekarang baru saja dapat berlari dengan sempurna. Kata-kata serupa terluncur tak dari mulut mertua Bi Mar saja. Emaknya dan Kajut Mis, dukun beranak yang kian uzur itu, pun telah mengucapkannya empat tahun lalu, pun karib-karib Bi Mar. Tapi tidak orang-orang lain di Tanah Abang.

“Tak kau tengok, Mar, anakmu sudah macam rayap? Menyempal-nyempal sampai limasmu sesak. Apa lagi yang nak kau ranakan? Gadis-gadismu sudah banyak. Empat belas orang. Apa kau buta hingga tak dapat menghitungnya?” ujar Kajut Mis–yang bisa jadi telah muak membantunya beranak.

Sejatinya, Bi Mar tak buta. Mata beloknya yang indah itu dapat dengan sempurna menghitung jumlah anak gadisnya. Pun jika hendak menuruti kemauan hatinya, ia sangat ingin untuk menyudahinya. Tetapi, bujukan lakinya, Mang Isa, selalu saja membuatnya tak berdaya, ujung-ujungnya kembali membuat Bi Mar bertaruh nyawa, melahirkan anak-anaknya.

“Kita harus dapat anak bujang, Dik,” itulah kata-kata Mang Isa pada Bi Mar, “Apa kata orang se-Tanah Abang bila jurai limas kita tak tertegak lantaran kita hanya melahirkan anak-anak gadis saja? Pada masanya, bila kita telah uzur dan anak-anak gadis kita telah diboyong laki mereka ke limas seorang-seorang, kita hanya tinggal berdua di limas ini, tak ada yang mengurusi. Lalu, kita akan mati bergilir dalam sepi. Nasib baik jika kita mati bersama, hingga tak ada yang mesti merasa sunyi.”

InterSastra | Ilustrasi oleh @PramoeAga. (IG: @Pramoe)
Ucapan Mang Isa membuat mata Bi Mar menerawang, membayangkan dirinya ringkih dan tertatih-tatih sendiri dalam limas. Menanak nasi, mandi ke Sungai Lematang, mengumpulkan kayu bakar, merumputi lapangan sekitar limas, menyambangi kebun duku-durian, menyayatkan pahat pada kulit balam di pagi kelam. Mendadak, tengkuk Bi Mar meriap. Alangkah menakutkan bayang itu di matanya.

“Kalau kita ada anak bujang, ada yang menunggu limas, memboyong istri dan anaknya ke sini, bersama kita. Mengurus kebun duku-durian, menyadap balam pagi-pagi kelam. Kita hanya tinggal di rumah saja, bermain dengan cucu-cucu yang banyak.Tak usah risau bila ada yang sakit karena tua, tak perlu cemas kalau-kalau kita mati tak ada yang tahu musababnya. Sebab ada yang bersama kita. Anak bujang dengan anak dan istrinya,” tambah Mang Isa membuat mata Bi Mar mengatup rapat. Alangkah indah.

Sekelebat pula sebuah bayangan mengantar-kantar mata Bi Mar yang terpejam. Sebuah bayangan yang mendadak menciutkan kembali nyalinya. Bi Mar teringat akan nasib buruk Mak Salit. Perempuan tua itu kini hidup sendiri di limasnya yang megah setelah lakinya meninggal beberapa purnama silam. Nasib malangnya bukan lantaran Mak Salit seorang perempuan mandul yang tak punya anak. Anaknya banyak, mencapai sepuluh orang. Sayangnya, semua perempuan dan telah mengikuti lakinya ke dusun-dusun tetangga.

Bukan tak ada anak-anak Mak Salit yang tak iba melihat nasib malang emak mereka. Sebenarnya mereka pun takut akan mendapatkan nasib serupa di masa tua lantaran telah menelantarkan emak mereka. Tetapi, apa yang dapat mereka perbuat sebagai perempuan, selain tunduk kepada suami dan adat yang mengingkat? Tak akan mertua mereka mengizinkan, bila anak bujangnya menunggui limas mertua, mengikuti istri melangkah, menegakkan jurai perempuan sembari membunuh jurai seorang lanang.

Itulah mengapa Bi Mar seolah-olah menulikan telinga terhadap ucapan emaknya, mertuanya, Kajut Mis, dan karib-karib sebayanya. Ia harus dapat anak bujang, tak peduli dengan ucapan segelintir orang. Orang-orang Tanah Abang pun paham apa yang hendak ia capai dengan lakinya.

***
“MUNGKIN KAU KURANG syarat, Mar, jadinya selalu meranakkan gadis.” Ucapan itu Bi Mar dapat dari Kajut Muya ketika perempuan tua yang tak seorang pun memiliki anak perempuan itu menyambangi limas Bi Mar, seminggu seusai Bi Mar melahirkan anaknya yang keempat belas, Serina.

“Syarat apa, Jut?” kejar Bi Mar dengan mata berbinar. Ada semangat yang meluap dari dadanya hingga Bi Mar seolah lupa dengan tubuhnya yang masih kepayahan. Di mata Bi Mar terlintas deret-deret bujang Kajut Muya yang elok-elok parasnya.

“Kau malinglah sereket dari kayu ribu-ribu milik bibi atau saudara perempuan lakimu yang telah beranak bujang. Usai itu, kau pakai sekali saja menanak nasi. Nah, nasi-nasi yang menempel di sereket itu kau makan, lalu kau simpan sereket-nya di bawah kasur kapuk kau dengan Isa. Insya Allah, kau akan dapat anak bujang. Aku pun dulu demikian, Mar. Awal-awal menikah hingga anakku bujang semua.”

Bibir Bi Mar mengembang, serupa kuntum bunga yang menemukan masanya mekar. Ada luap keinginan yang rasanya hendak lekas-lekas ia tunaikan. Bila tak sadar dirinya masih terkulai di atas lamat kapuknya, mungkin Bi Mar telah gegas meninggalkan Kajut Muya seorang saja bersama anak gadisnya yang masih merah. Mata Bi Mar berbinar, ia telah tahu limas siapa yang akan ia satroni, dari situ ia akan menggondol sereket kayu ribu-ribu penanak nasi: limas Bi Jumar, adik mertuanya yang memiliki banyak anak bujang.

Begitulah, empat puluh hari usai melahirkan, Bi Mar melancarkan aksinya. Ia berpura bertandang sembari memamerkan anak gadisnya yang merah. Ketika Bi Jumar lengah, Bi Mar mengambil sereket kayu ribu-ribu yang terselip di dinding limas samping periuk yang bergemerutup. Entah apa Bi Jumar sebenarnya paham apa yang dilakukan Bi Mar atau ia benar-benar tak mengetahuinya. Bi Mar melenggang pulang dengan sereket kayu ribu-ribu yang terselip di balik besan-nya.

Di rumah, Bi Mar gegas menanak nasi seperti biasa, meletakkan anak gadisnya yang masih merah dalam ayunan. Lalu, melakukan petuah Kajut Muya padanya. Menggunakan sereket kayu ribu-ribu milik Bi Jumar untuk mengaron nasinya hingga matang. Dan, memamah nasi yang tertinggal di sereket. Usai itu, Bi Mar menyelipkan sereket itu di bawah kasur, tempat ia dan Mang Isa tidur.

***
KEINGINAN BI MAR memiliki anak bujang kian menjadi saja. Sebab, ada berita yang tengah hangat dibicarakan perempuan-perempuan di batang—tempat mencuci dan mandi di Sungai Lematang. Berita tentang Mang Marwan yang berbini dua.

Kata berita yang lagi hangat-hangatnya itu, Mang Marwan berbini dua lantaran tak kunjung mendapatkan anak bujang dari istrinya, Bi Murni. Bi Mar pun ingat, ada lima anak gadis Bi Murni itu. Semua berparas elok, berbibir tipis dengan hidung bangir, berkulit putih dan bermata sipit, mirip Mang Marwan yang memang rupawan.

Mendadak, degup jantung Bi Mar terasa tak normal. Ia merasa mata-mata perempuan yang mencuci dan mandi di batang mencuri-curi pandang ke arahnya. Seolah-olah perempuan-perempuan itu tengah meramalkan nasibnya pun akan seburuk Bi Murni yang tengah mereka kisahkan. Dimadu oleh lakinya lantaran tak kunjung mengoekkan anak bujang dari selangkangannya. Tak kunjung menegakkan jurai limas dengan menetak burung bujang ingusan.

Gegas sekali Bi Mar menyikat baju cuciannya dan membilasnya. Ia menyabuni tubuhnya, lalu membasuh diri dengan air Lematang. Setelah itu, ia terburu melangkah pulang. Dalam hatinya yang kusut-masai, ia percaya mata-mata perempuan di batang masih saja tertuju kepadanya hingga tubuhnya lenyap dari pandangan.

Bi Mar pun mulai was-was melihat tingkah polah Mang Isa. Bila lelaki itu tak kunjung pulang pada malam yang kian larut, hati Bi Mar dibalur cemburu. Jangan-jangan Mang Isa tengah memadu kasih dengan janda di dusun ini atau itu. Bi Mar mengurai rencana dan menyusun kata yang hendak ia ucapkan apabila kelak ia mendapati kabar Mang Isa telah berbini dua.

Bi Mar pun kian risau bila ia mendapati dirinya masih saja datang bulan. Padahal, ia sangat berharap ada sesuatu yang tumbuh di perutnya, buah dari cinta dengan Mang Isa. Sesuatu yang ia harapkan membayar tunai kegalauannya.

Rupa-rupanya, Tuhan mendengar doa Bi Mar, atau ini hanyalah kebetulan semata. Bi Mar kembali hamil muda. Lalu, pelan-pelan perutnya membengkak, bulan demi bulan, seiring anak gadis yang keempat belas belajar berjalan. Segala syarat yang ia dapatkan dari tetua, orang-orang yang telah kenyang asam garam dunia, ia lakonkan, tujuannya cuma satu saja: kali ini ia beranak seorang bujang. Menyudahi pertarungan yang sejatinya enggan ia ulang.

*** 
ANGIN KIAN MENDEDAS di pelipir limas, meningkahi perjuangan Bi Mar dalam bilik pengap. Sesekali terdengar rintik mengimbau di atas genting. Kajut Mis masih terus memberi aba-aba, menyemangati Bi Mar yang kian kepayahan. Usia yang sudah lewat kepala empat, anak yang kata Kajut Mis sungsang, membuat perjuangan Bi Mar kian berat. Sementara itu, di tengah limas, Mang Isa menunggu dengan cemas, anak-anak gadisnya meringkuk dalam senyap. Doanya cuma sebatang kalimat: anak bujang.

Guntur Alam was born in Tanah Abang, South Sumatra, 1986. He studied civil engineering at Universitas Islam '45 in Bekasi, West Java. His stories have been widely published in Indonesian media since 2010, and some were included in Kompas' Best Short Stories 2011-14. His latest short story collection is Black Magic Woman & Night of Fireflies (Gramedia Pustaka Utama, 2015).


Keterangan:
Cerpen ini ditulis oleh Guntur Alam dan telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris oleh Maya Denisa Saputra, dengan editor Marjie Suanda, berjudul "All for a Son"

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Guntur Alam
[2] Pernah tersiar di situs intersastra.com pada 24 Januari 2016

0 Response to "Maryam Beranak di Limas Isa"