Matahari Mabuk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Matahari Mabuk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:54 Rating: 4,5

Matahari Mabuk

PEMBAJAKAN manajer di Jakarta dewasa ini sudah mencapai tarap gila-gilaan. Masya Allah. Manajer andal yang dibajak itu tiba-tiba raib. Entah ke mana. Sore hari ia masih pulang dari kantor lamanya, pagi harinya ia sudah masuk ke kantor barunya, tanpa sepengetahuan keluarganya. Demikian yang terjadi pada Ayah. Siang itu saya menelepon Ayah di kantornya karena Ibu mau bicara. Ternyata Ayah tidak ada, ini kata sekretarisnya. Ke mana Ayah pergi, tak diketahui. Ayah tidak pamit, juga tidak meninggalkan pesan. Dengan demikian tak seorang pun tahu. 

“Tetapi Bapak tidak pernah datang di kantor sampai kita bicara ini,” seru sekretarisnya itu.

Mendengar semuanya ini, Ibu lalu menangis. Ayah serong? Dulu memang pernah terjadi beberapa kali Ayah membuat love affair dengan sejumlah wanita, di antaranya dengan seorang siswi SMA. Tetapi peristiwa percintaan itu sangat tersembunyi, hingga sulit dilacak. Seandainya sekarang ‘percikan cinta’ itu berulang lagi, agak mustahil, karena menyalahi adatnya, yaitu terlalu mencolok. Kabur dari kantor untuk bercinta, sungguh tidak masuk akal akan dilakukan Ayah. Selama ini percintaan Ayah di luar rumah, tak meninggalkan bekas. Bahkan pendeteksi suku Indian sekalipun tak akan mampu mengendus jejaknya. Lantas bagaimana percintaan itu bisa sampai ketahuan? Jawabannya sederhana: Ayah membongkarnya sendiri. 

Sesungguhnya rumah tangga kami dapat mengatasi persoalan-persoalan itu dengan baik. Ibu tampak begitu bijaksana. Bahkan Ayah sering dianggapnya sebagai anak sulungnya yang paling nakal, di antara lima anak yang lain: Meity, Drigo, Atika, Amral (saya), dan Cicap. Ayah nampak begitu sangat berterima kasih kepada Ibu, sudah berhasil dengan tegar mengendalikannya. Sementara itu saudara-saudara saya tampak kurang peduli terhadap sepak terjang Ayah di luaran. Karena barangkali sudah terlalu repot disibukkan urusan sekolah. Saya sebenarnya juga acuh tak acuh, tetapi karena Ibu selalu minta bantuan saya, maka mau tak mau saya terpaksa ikut turun tangan juga. 

Tapi ruang dan waktu agaknya telah menggelar rencananya sendiri, dan langit memahaminya. Sore hari, kira-kira jam 16.30, Ayah muncul dari BMW-nya yang diparkir mulus di depan rumah oleh sopir Sangit. Ayah kelihatan gembira sambil melemparkan senyum kepada kami. Cicap, 17, si centil kolokan, merangkul Ayah sambil menggaet coklat oleh-olehnya. Ayah berjalan gontai memasuki ruang tengah, lalu masuk kamar mandi. Biasa berendam di bath tub air hangat selama setengah jam, Ayah jatuh tertidur selama itu. Dari luar, Ibu berdiri dekat daun pintu kamar mandi. Matanya berkaca-kaca. 

“Dari pagi sampai sore, Bapak di kantor saja. Saya sempat membelikan Kentucky Fried Chicken untuk makan siang,” sopir tua Sangit menerangkan kepada Ibu. “Tapi ngomong-ngomong, rupanya Bapak punya kantor baru.”

“Kantor baru bagaimana?”

“Kemarin di Jalan Juanda. Sekarang di Jalan Sudirman.” 

Saya lihat Ibu tersirap. Kaget sekali. Buru-buru Ibu menemui Ayah.

“Rupanya kamu punya kantor baru, Pap?”

“Kantor baru?” jawab Ayah sambil melonjorkan kaki. Saya menyelinap di balik korden untuk dapat menangkap percakapan Ayah-Ibu dengan baik.

“Memangnya saya punya kantor lama? Sejak dulu kantor suamimu ini ya di Jalan Sudirman itu. Ngapain sih, kamu ini?”

Ibu hanya bisa bengong, lalu beranjak dari kursi. Ibu menangis di dapur. Mbok Nah, pembantu, yang sudah 20 tahun menyangga dapur kami, hanya bisa mengelus dada. Sangit, yang tajam nalurinya dalam menghindari kemacetan lalu-lintas, saya lihat berlalu sambil menenteng piring nasinya. Sayem, pembantu urusan cuci, tertegun dengan onggokan cucian di pelukannya. Warto, tukang kebun, pura-pura tidak tahu persoalan, seperti biasanya kelau ia mendengar ribut-ribut dalam keluarga kami. Pinik, pembantu urusan kebersihan rumah, terus saja mengepel lantai yang lalu meruapkan bau harum. Saya masuk ke ruang perpustakaan, lalu menyelinap menemui Sangit. 

“Ayah tidak mengakui punya kantor baru,” kata saya kepada Sangit.

“Menurut teman-teman saya, Bapak telah dibajak,” tutur sopir itu. Sebagai seorang manajer andal, Ayah telah membuat bank Jalan Juanda maju pesat. Ayah, lulusan Harvard, tidak tampak kesetanan kerja, tapi lebih banyak berpikir, seperti filosof. Orang seperti Ayah agaknya jadi incaran perusahaan-perusahaan. 

Pagi-pagi sekali, Meity dengan Uno-nya melesat ke fakultasnya di Depok untuk mengejar dosen ekonomi pembimbingnya yang mau terbang ke Amerika. Drigo dengan teman-temannya berangkat untuk memotret di Pulau Seribu. Atika terbang—saya anggap terlalu sering—ke Yogya untuk pindah Universitas yang segera dimasukinya. Cicap dengan teman-teman SMA-nya berlatih nyanyi untuk vokal grupnya yang mau ditayangkan TVRI. Ayah nginap di Puncak berapat dengan pimpinan. Saya mengantar ibu ke Expo (= Executive & Performance & Oomph) sebuah biro jasa konsultasi psikologi yang berkantor di Jalan Thamrin. Di situ para pakar psikologi, kenalan saya, mengembangkan juga suatu usaha untuk membantu penampilan para eksekutif. 

“Ini suatu kasus yang aneh,” kata Mbak Elly, direktris Expo, ketika Ibu selesai menceritakan peristiwa pembajakan Ayah. Jas eksekutif warna kremnya dia selimutkan di sandaran kursinya. “Tentu saja saya belum dapat mengambil kesimpulan apa-apa. Masih harus dipelajari dulu.”

“Ibu kok nangis di sini?” sela saya karena melihat Ibu menyapu matanya. 

“Di hadapan Jeng Elly inilah saya setepat-tepatnya menangis. Apa saya harus nangis di hadapan spesialis kandungan!” jawab Ibu. 

Mbak Elly memberi isyarat saya supaya menyingkir. Saya pun menyingkir. Di ruang kelas saya melihat sejumlah orang sedang dites oleh Eva. Putrinya, Sutera Dara, berlarian di sekitar kursi orang-orang yang tekun menulis. Putri yang manis ini sesekali menggoyang-goyang kaki orang-orang itu. Kehadiran putri kecil ini membuat suasana kantor jadi ramah dan akrab. Orang-orang yang dites itu—yang dicoba direkrut oleh sebuah biro arsitektur—sekali-kali menyambut putri kecil itu. Ratni, dosen psikologi UI, direktris art gallery Wijayakusuma, tampak memeriksa lembaran-lembaran tes rombongan pertama. Saya tidak melihat lagi Cippink. Dia sudah diboyong oleh seorang bule, suaminya, ke Eropa Barat. Perkenalan saya dengan para pakar Expo adalah ketika saya membawakan satu lukisan dari Ubud, Bali, yang dipesan Mbak Elly di Jakarta, yang kebetulan pelukis Bali itu teman saya. 

Satu minggu setelah Ayah masuk kantor baru itu, dua orang utusan kantor lama bertamu. Mereka sangat keberatan akan perilaku Ayah. Mereka akan membawa persoalan ini ke pengadilan. Sebaliknya Ayah—aneh sekali—menjawab tak tahu menahu tentang kantor Jalan Juanda itu. Sejak dulu hingga sekarang, ia hanya berkantor di Jalan Sudirman, kata Ayah. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Ayah bahkan balik menuduh mereka memfitnah. Dan akan mengajukannya ke pengadilan. Dengan terheran-heran tamu itu pamit. 

Ternyata, utusan kantor lama Ayah tak datang-datang lagi. Belakangan baru ketahuan bahwa mereka kehilangan file Ayah. Biodata dan segala macam yang menyangkut Ayah, di komputer antara lain, musnah. Apakah ada kerja sama dengan orang dalam? Lalu saya mencari data-data tentang kantor lama Ayah di komputer, yang nongkrong di meja kerja Ayah. Ternyata data-data itu sudah tidak ada lagi. Apakah Ayah telah melenyapkannya?

Ketika Ayah dengan Ibu bersitegang tentang kantor lama dan kantor baru, Cicap terheran-heran sambil nyeletuk: 

“Ayah kesambet!”

“Hus!” bentak saya. 

Ayah bangkit lalu nyerocos: “Kalian pikir Ayahmu ini apaan? Setiap saat kalian ngomel perkara kantor Jalan Juanda. Kalian anggap aku ini bego! Sudah berkali-kali aku tegaskan, aku tak tahu-menahu dengan kantor Jalan Juanda yang merongrong batok kepala kalian. Apa urusanku dengan kantor yang tak pernah kukenal itu! Brengsek! Apa aku salah kalau tidak mengenal itu kantor? Kalian melecehkan aku! Apa menjadi kewajibanku untuk ngurus itu kantor! Atau seluruh kantor di Jakarta jadi tanggung jawabku?”

“Saya mau tidur,” sela Meity. 

“Tidak! Semua harus tetap di sini!” bentak Ayah.

“Kalian menuduh aku pernah bekerja di kantor Jalan Juanda itu. Aku jawab: aku belum pernah bekerja di kantor itu. Lalu kalian tetap ngotot menuduh. Kalian sudah sinting memaksa-maksa orang untuk mengakui apa yang tidak pernah dilakukannya. Apalagi orang itu Ayah kalian sendiri. Kalian menuduh juga bahwa aku pelupa. Sejak kapan aku pelupa. Di luar kepala aku masih hafal seluruh pesan atau perintah kalian yang harus aku kerjakan. Meity minta ganti komputer yang lebih canggih. Drigo ingin tustel terbaru jika aku ke Hongkong. Atika minta diantar ke Yogya untuk suatu pertemuan khusus. Amral minta arloji yang dibeli di kota Jenewa. Cicap minta izin boleh ke Banyuwangi yang ombaknya paling indah di dunia. Apa lagi? Apa lagi? Mama minta BMW-nya diganti yang terbaru secepatnya. Istri Sangit mau pinjam uang untuk modal dagang. Mbok Nah mau ngawinin cucunya. Lusa aku harus ke Wonosobo ngantar tamu. Mertua akan datang sepuluh hari lagi dan nginap seminggu. Rumah sebelah ditawarkan. Kita perlu tambah pembantu lagi. Apa lagi yang mesti kuingat dan kulupa?”

Gaji Ayah menjadi lima kali lipat di kantor baru itu, plus bonus satu rumah di Pondok Indah, satu BMW terbaru, dan satu Baby Benz. Tapi tak menggembirakan kami karena Ayah seperti kehilangan daya ingat. Bagaimana mungkin Ayah bisa lupa kepada kantor lamanya. Atas nasihat Mbak Elly, kami diminta menggunakan peluang yang tepat untuk mengembalikan daya ingat Ayah dengan cara yang sehalus-halusnya. Ketika kami merasa gagal, kami menemui Mbak Elly lagi. Di Pandora, restoran kesayangan Mbak Elly karena steak-nya yang lezat, kami bertemu. Di restoran inilah saya pernah ditraktir Mbak Elly ketika saya membawakan lukisannya dari Bali. Mbak Elly, Ibu, dan saya tampak seperti memikul beban. 

“Memang, ada sejumlah orang mencoba melupakan masa lalunya. Dan berhasil,” kata Mbak Elly dalam akhir bicaranya yang panjang. “Biasanya masa lalu yang dimusnahkan itu masa yang getir yang menoreh hidupnya. Tapi tentang Bapak, sekali lagi ini kasus yang aneh. Hanya sehari dari perubahan tempat kantornya, beliau sudah lupa.”

“Apakah tidak mungkin suami saya ini berpura-pura?” sambung Ibu. 

“Siapa tahu? Apakah Bapak kelihatan berpura-pura?” sambung Mbak Elly.

“Apakah Papamu kelihatan berpura-pura?” Ibu balik bertanya pada saya. 

“Berpura-pura?” celetuk saya. “Kelihatan Ayah berkata bersungguh-sungguh.”

Lalu Mbak Elly berbicara panjang lebar lagi tentang peliknya masalah yang mencuat dari pribadi Ayah. Lancar sekali Mbak Elly mencoba menerangkan seperti kelancaran yang pernah saya saksikan ketika berbicara di depan para eksekutif. 

“Kemudian dari sejumlah persoalan yang mendesak adalah … steak.” Mendengar ini, saya dan Ibu tertawa lebar. Untuk siang ini kami memilih Tornidous Rossini.

“Apakah Jeng Elly pernah menangani kasus kepura-puraan itu?” tanya Ibu.

“Ya, pernah. Satu dua,” jawab Mbak Elly tersenyum. “Seorang suami yang ketahuan membuat hubungan dengan wanita lain, lalu pura-pura sakit. Hanya dengan berpura-pura sakit, seorang suami terbebas dari kemarahan istrinya. Bahkan ada yang minta diopname.”

“Bagaimana kalau istrinya tahu kepura-puraan suaminya?”

“Istrinya lalu saya minta berpura-pura pula memahami keadaan suaminya. Begitu suaminya masuk rumah sakit, si istri saya minta untuk memperhatikan suaminya secara berlebih-lebihan sehari-harinya. Hingga akhirnya si suami sadar bahwa istrinya sebenarnya mengetahui kepura-puraan sakit suaminya, untuk menutupi hubungannya dengan wanita lain.”

“Perhatian secara berlebih-lebihan?” tukas Ibu. “Misalnya bagaimana?”

“Si istri membeli bunga sebanyak-banyaknya yang pengirimnya dilakukan dari teman-teman suaminya. Begitu banyaknya, sampai memenuhi kamar opnamenya, mirip kiriman bunga untuk orang mati.” Ibu dan saya tertawa mendengar cerita Mbak Elly ini.

“Bangkrut, dong, sang istri,” celetuk Ibu. 

“Ya, memang besar juga pengeluaran. Tapi efektif. Si suami jadi kecut, dan diam-diam merasa tersindir. Dan yang penting tidak terjadi pertengkaran.”

“Wah, kok persis sandiwara, ya, Jeng.”

“Ya, kita ini kan sedang menjalani sandiwara yang besar, Bu.” 

Sementara itu pesanan kami muncul, yang segera kami santap.

“Lalu apa pamrih Ayah, jika misalnya saja beliau berpura-pura?” tanya saya. 

“Untuk melenyapkan beban berat, atau peristiwa yang tidak enak ketika bekerja di kantornya yang lama, yang sekarang masih memberati pundak dan hatinya.”

“Bapak tidak menderita di kantor lamanya, Jeng. Beliau tidak pernah mengeluh.”

“Bagaimana kalau keluhan itu Bapak rahasiakan?”

“Apa bisa begitu?” tanya saya. 

“Sangat bisa. Keluhan yang dilempar ke tengah keluarga akan mempengaruhi ketenangan rumah tangga, lalu seorang ayah menyimpan penderitaannya itu rapat-rapat untuk dirinya sendiri.”

“Kalau begitu apa penderitaan Bapak?” tanya Ibu.

“Tapi pembicaraan kita kan masih diselimuti ‘andai kata’, Bu. Kita hanya menduga-duga. Barangkali juga Bapak tidak punya masalah di kantor lamanya. Jika nanti ternyata Bapak tidak punya keluhan terhadap kantor lamanya, justru persoalannya menjadi lebih pelik,” kata Mbak Elly sambil mengakhiri makannya. Kali ini saya mentraktir Mbak Elly (maaf, dengan uang Ibu). 

Entahlah. Tapi Ibu dan saya merasakan kecemasan tentang Ayah. Ya, kalau Ayah selamat, kalau tidak? Mungkin sekali kejadian ini akan berulang. Jika terjadi pembajakan terhadap Ayah lagi, apa yang harus dilakukan? Kali ini saya dan Ibu menemui Kepala Badan Intelijen Bank, Bapak Suwignyo.

“Kantor Jalan Sudirman mengelak tuduhan melakukan pembajakan secara kotor. Mereka bilang tak pernah membajak manajer. Pada suatu hari, kantor mereka ketamuan seseorang, yang ternyata seorang manajer andal. Pucuk dicinta ulam tiba,” cerita Pak Wignyo. “Mereka juga meminta saya untuk menemui Bapak. Aneh sekali. Dengan sangat serius Bapak Ratmaji berkata bahwa beliau tak tahu-menahu tentang kantor Jalan Juanda. Selama hidup, penegasan Bapak, cuma mengenal satu kantor, ya di Jalan Sudirman itu.”

“Apa salahnya dalam bajak-membajak ini, toh sudah jadi tradisi yang sehat,” kata Ibu.

“Masalahnya adalah kantor Jalan Juanda merasa dirampok daripada dibajak.”

“Kenapa begitu, Pak?”

“Tidak ada perundingan apa-apa. Ada satu file yang paling rahasia, yang dalam kontrak perjanjian kerja harus dikembalikan ke perusahaan, jika kedua belah pihak sudah tidak ada kecocokan lagi. Ketika ditagih, Bapak mengelak, dan bilang tak tahu-menahu tentang benda rahasia itu. Mereka menuduh Jalan Sudirman telah menyimpan file rahasia itu. Mendapat tonjokan ini, Jalan Sudirman berang dan menggoblok-goblokkan Jalan Juanda, kenapa barang paling rahasia ikut diseret-seret dalam kontrak perjanjian kerja. Sementara itu jika seorang karyawan minta berhenti, batal sudah seluruh perjanjian.”

“Lalu apa pendapat Pak Wignyo sendiri tentang peristiwa ini semua?”

“Semua benar,” jawab Pak Wignyo.

“Semuanya benar?” sambung Ibu.

“Ya, semuanya benar. Kantor Jalan Juanda punya hak untuk menuntut Pak Ratmaji, karena menyalahi kontrak. Tidak mengembalikan file dan tidak pamit untuk mengadakan perundingan tentang kepindahan ke perusahaan lain. Lalu kantor Jalan Sudirman punya hak untuk menuntut Jalan Juanda karena memfitnah. Mereka tidak membajak, tetapi Pak Ratmaji datang membajakkan diri. Sedang Pak Maji dapat menuntut Jalan Juanda karena telah memfitnah. Apa yang disebut sebagai barang yang paling rahasia itu sebenarnya cuma isapan jempol belaka. Alias tak pernah ada. Bagaimana cara membuktikan bahwa Pak Maji lari membawa file rahasia, sedang saksi tak ada. Dengan demikian marilah kita ambil kesimpulan saja bahwa semuanya menang,” seru Pak Wignyo yang kami sambut dengan tepuk tangan.

Sabtu malam villa kami di Puncak ramai dihadiri undangan. Suara anak-anak menyemarakkan suasana. Mereka berlarian dan main petak umpet. Meity kelihatan ngobrol dengan beberapa teman sefakultasnya. Atika begitu mesra dengan “hero”-nya berjalan bergandengan di tangan. Drigo dengan gerombolannya, para fotografer. Saya dengan dua orang teman yang bercerita serius tentang penghijauan. Cicap ngecap tentang perbedaan ombak-ombak di sejumlah pantai di Jawa dalam petualangannya berselancar. Mbak Elly dan Mas Rachman dengan anak-anaknya, Eva dengan Budi dan Sutera Dara-nya, Ratni dan Mas Ferry ngobrol tentang perburuannya sejumlah lukisan di Jawa Tengah.

Suasana malam itu dimeriahkan oleh Robot Riot Laser Disc, perangkat elektronik yang mampu menghidangkan segala macam musik. Alat itu dilengkapi dengan One Touch Karaoke, Magic Voice, Vocal Partner, dan Nine Level Key Control, serta masih ada sejumlah kecanggihan lagi. Dengan demikian, tuan rumah dan tamu rumah punya tugas bersama untuk memeriahkan malam pesta selamatan atas sukses baru Ayah di Jalan Sudirman itu. Dan alat elektronik itu pun menemani beliau-beliau itu. Meily dan Mas Indra misalnya, malam itu menghibur dengan lagu kesayangannya, Asmaraku Asmaramu. Mbak Niniek dan Mas Karim dengan Fly Me to the Moon, yang lalu disoraki: “Lulus tes astronot dulu, dong!” Lalu Dwi Koen mengubah suaranya jadi Donald yang mengundang tawa. Tampaknya tamu-tamu ingin betul menggembirakan Ayah. Sementara itu Pak dan Bu Aminullah Yassin tampak menemani Ayah. Kelihatan Ibu mondar-mandir menyamper tamu-tamunya satu per satu, Pak dan Bu Eba, Pak dan Bu Arselan, Mas Nashihin dan Mbak Fat, Mas Pri dan Mbak Riana, Pak dan Bu Suryana, Pak Ubaya dan Bu Farida. Nampak juga Mbak Nuniek (yang disebut-sebut sebagai Princess of Mass Media) dan Mas Harun, juga Arswendo (yang disebut-sebut sebagai Prince of Mass Media) dan Mbakyu.

Tampak Rina dan Edwin membopong bayinya yang pertama. Rudy, Amang, Daryono, dan Mas Gatut, serta Tedja sedang asyik membicarakan lukisan yang bermutu yang dapat cepat terjual. Mas Saini, Suyatna, Sanento, dan Pak Djoko dan Mas Kayam berdiskusi bagaimana caranya menjadikan Bandung pusat bursa seni rupa internasional. Tapi Mas Darta, Pirous, Naryo, Tanto dan Mas Kabul Bersaudara tidak setuju. Mereka ingin Bandung tetap sepi, tempat bekerja yang paling nyaman.

Namun demikian Pak Abdalla, Pak Ical, Pak Edward, tetap percaya kepada suasana Bandung yang dapat mengangkat dirinya menjadi ajang internasional untuk apa saja. Barangkali dapat dimulai dari bank. Kelihatan Mas Kamal dan Mbak Tina dikelilingi jemaahnya, antara lain Nurul Hidayati dan Nurul Agustina sedang asyik membicarakan terjemahan sastra Arab ke bahasa Indonesia. Mbak Beryl dan Mbak Dewi serta Mas Faisal ingin menggebrak kota-kota besar dengan bacaan anak-anak. Berdiskusi memang asyik. Tapi menyanyi juga asyik. Maka Mas Kayam dan Mbak Yus ditodong, dan mengalunlah There’s a place for us ….

Malam pesta ini sebenarnya malam yang paling tegang bagi saya. Ayah yang sempat menemui tamu-tamunya selama satu jam, setelah itu lenyap. Berkali-kali para tamu menanyakan di mana Pak Ratmaji, yang saya jawab sedang ngobrol di dalam dengan seorang tamu. Juga Ibu saya bohongi. Segera saya menemui kolega Ayah dari kantor Jalan Sudirman. Mereka kaget sekali. Lebih-lebih lagi Pak Wignyo. Sungguh tidak masuk akal. Orang begini, jalan keluar cuma satu dan sempit, sangat mokal tidak seorang pun memergoki Ayah, jika itu suatu penculikan. Tapi siapa yang menculik? Ada apa? Kenapa mesti dengan menculik?

Secepatnya Pak Wignyo memerintahkan stafnya untuk mengontak Jakarta. Beliau lalu berunding dengan teman-teman sekerja Ayah. Ibu jatuh pingsan. Anak-anak terisak-isak. Saya menduga sudah terjadi lagi pembajakan. Pembajakan dengan cara penculikan? Ketika tamu bubaran, tidak seorang pun boleh tahu bahwa Ayah lenyap. Segera villa yang semula tempat bersenang-senang, berubah jadi pusat komando. Semua pimpinan kantor Ayah Jalan Sudirman dibangunkan. Tak kurang dari presdir dan preskom ambil bagian dalam pelacakan Ayah. Polisi dan seluruh jajarannya terjun seketika. Jarak villa sekian puluh kilometer dari Jakarta, seperti makin memperkuat prasangka bahwa Ayah dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan.

Tak terduga terjadi pengrusakan kantor di Jalan Juanda oleh orang-orang yang tak diketahui identitasnya. Lalu kantor itu menuduh Jalan Sudirman yang mendalanginya. Juga tuduhan dilontarkan kepada Pak Wignyo selalu Kabib, yang dianggap memerintahkan penyerangan. Mereka menganggap Badan Intelijen Bank sudah tidak netral lagi, sudah tidak mengayomi lagi, tetapi sudah berpihak kepada golongan yang disukainya. Dengan demikian mereka mendesak supaya Badan itu dibubarkan saja, atau diganti pimpinannya. Tuduhan itu dibalas oleh tuduhan serupa. Ketika saling ancam itulah terjadi pembakaran kantor Ayah dan penembakan atas Pak Wignyo hingga harus masuk rumah sakit karena luka-lukanya. 

Keadaan menjadi genting. Seluruh bank masing-masing secara diam-diam membentuk pasukan keamanan yang dipersenjatai secara modern. Mereka tidak mau kecipratan musibah akibat pertentangan dua bank di Jalan Juanda vs di Jalan Sudirman itu. Tetapi dengan membentuk pasukan keamanan sendiri justru sebenarnya mengundang musibah. Siapa mempersenjatai diri berarti siap tempur. Dan laras bedil membuat emosi panas, mata jelalatan, tangan gatal ingin selalu menggaet pelatuk. Bank-bank agaknya—yang selalu disebut kumpulnya orang-orang elit itu—terseret ke jurang kekerasan. Pembajakan manajer andal sudah memasuki tahap yang paling brutal. Dan peristiwa itu dilansir koran-koran. Seorang manajer kedapatan berlumuran darah di depan rumahnya. Dikabarkan ia telah dibajak secara paksa. Masih diselidiki, siapa yang kejam itu, dan atas alasan apa. Berita itu lalu disusul oleh berita lain. Seorang manajer hilang, dan disusul manajer-manajer lain. 

Kredibilitas sebuah perusahaan kelihatannya sudah tidak penting lagi. Yang terpenting adalah bagaimana bisa memiliki manajer-manajer andal, meski dengan jalan ‘tujuan menghalalkan cara’. Ini seperti mengundang perang terbuka. Tiap bank lalu dijaga ketat oleh masing-masing pasukan keamanannya. Imbauan BIB supaya tiap bank menahan diri, tak digubris secuil pun. Bahkan bank-bank mencibiri BIB. Dalam keadaan masih terkapar itulah, Kabib Wignyo mencemooh pasukan bank itu sebagai bankot. Entah apa artinya. Meski penjagaan siang malam, pada hari kerja maupun hari libur, masih juga terjadi pengrusakan, pembakaran, atau peledakan bank, beruntun. Seolah-olah ada kerja sama dengan orang dalam.

Benar (!), perang terbuka terjadi! Sebuah jip kedapatan di tengah rel Jalan Gondangdia. Penumpang-penumpangnya sudah tewas. Mereka adalah karyawan sebuah bank di Jakarta Kota. Tembak-menembak di jalan sudah biasa terjadi. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi memuntahkan peluru ke arah sebuah bank yang lalu merontokkan kaca dan melukai para karyawan di dalamnya, merupakan teror terus-menerus yang dilancarkan lawannya. Dewasa ini seorang manajer ke mana-mana, termasuk piknik dengan keluarganya, selalu dikawal paling tidak oleh dua orang bodyguard. Akhirnya kantor Ayah mengirim seorang bodyguard untuk melindungi kami sekeluarga. Kami lalu sadar bahwa hidup kami setiap saat juga terancam bahaya. 

Sebulan sudah Ayah tak ketahuan rimbanya. Pemasangan foto-foto Ayah di halaman depan surat kabar ternyata tak ada gunanya untuk mendorong penemuannya. Ibu selalu jatuh pingsan. Lama-lama kesehatannya dalam bahaya. Lalu lebih baik diistirahatkan di MMC, Kuningan, Jakarta Selatan. Meity menjadi perawat teladan karena selalu menunggui Ibu. Mbak Elly tanpa diminta selalu menjenguk Ibu. Sampai pada suatu hari yang mendebarkan, Ayah bersama dua orang bersayap mengunjungi Ibu. Dalam keadaan terperangah Ibu tak mampu berkata-kata ketika dengan senyuman yang manis Ayah mencium Ibu, dan berlalu. Mendengar cerita Ibu seperti ini, Mbak Elly tidak percaya. Menurut pakar psikologi ini, yang dilihat Ibu hanya seseorang yang mirip Ayah, boleh jadi kenalan dekat. Sedang dua orang yang disangka bersayap itu sebenarnya hanyalah orang yang menyampirkan mantelnya di pundaknya. Inilah penglihatan kondisi orang yang sedang sakit. Ibu tersinggung oleh keterangan Mbak Elly ini. Sayang sekali Ibu tak punya saksi. Para perawat kebetulan tidak seorang pun berada di kamar Ibu waktu itu.

Tapi keresahan Ibu terobati dengan amat memuaskan ketika melihat foto Ayah yang diapit dua orang bersayap itu dipajang di headline surat kabar terkenal. Jakarta gempar. Sekaligus nama fotografer itu melejit. Wajah dua orang bersayap yang kemudian oleh masyarakat dianggap malaikat—lebih nampak memantulkan cahaya, hingga tampak sangat terang. Dengan munculnya gambar yang sensasional itu—aneh juga malaikat bisa dipotret, jika memang benar malaikat—menyebabkan Pak Wignyo menjadi orang yang paling sibuk.

Yang dipersiapkan Pak Wignyo—masih dalam keadaan terbaring di rumah sakit—adalah sepasukan bersenjata untuk menguber dua orang bersayap yang telah dituduh menculik Ayah. Usaha-usaha pemburuan itu telah berubah begitu spektakuler ketika seluruh bank di Jakarta melakukan pengejaran juga. Seluruh bank di Jakarta masing-masing telah memiliki pasukan keamanan. Mereka bergerak berdasarkan kemauan mereka sendiri. Secara terang-terangan mereka sebenarnya telah menolak Badan Intelijen Bank. Tetapi Pak Wignyo yang dinilai sebagai seorang priayi yang lembut, bisa juga naik pitam atas cemoohan mereka terhadap Badan yang dipimpinnya itu. Bentrok antara pasukan BIB dengan pasukan sebuah bank dari Jatinegara sudah tak dapat dihindari. Mendengar peristiwa ini, Pak Wignyo tersodok hingga membuatnya harus lebih lama lagi tinggal di rumah sakit. 

Entah, memperoleh fatwa dari mana, tiba-tiba seluruh bank di Jakarta beramai-ramai mendirikan masjid-masjid sebagus-bagusnya. Kantor-kantor mereka memperlebar tanah ke kiri, ke kanan, ke belakang, untuk pendirian masjid itu. Jika sudah tidak ada tanah yang dapat dibeli lagi, dikosongkannya satu lantai kantor bertingkat mereka dan dibentuklah masjid. Kantor-kantor yang semula sudah punya mushola, dirombaknya, dan digantikannya dengan masjid, meski harus menambah tingkat bangunannya. Sudah tidak ada lagi bank tanpa masjid. Dan masjid-masjid itu dibanjiri jemaah, tidak hanya untuk jumatan, tetapi hari-hari biasa pun orang-orang yang beribadah melimpah. Apa hubungan antara penculikan Ayah-pasukan keamanan bank dan pendirian masjid-masjid, tak seorang pun mengetahuinya. Akhirnya Jakarta menjadi serambi Mekah.

Akhirnya Ayah, ditemukan meninggal di sebuah bangunan bank yang belum jadi. Aneh sekali, tidak terdapat luka sedikit pun yang menandai meninggalnya. Beliau sungguh mirip sedang tidur. Ibu yang masih di rumah sakit ingin menengok jenazah Ayah. Para dokter melarangnya, supaya Ibu tidak terguncang. Penyakit Ibu akan menjadi makin parah bila Ibu terguncang. Semua saran dokter hanya membuat marah Ibu, sampai pada saat yang tak tertahankan lagi, Ibu mengobrak-abrik kamarnya. Semuanya hancur, termasuk jendela. Setelah dikeroyok sejumlah perawat, Ibu menyerah dan lalu diberi obat penenang. Ibu dapat tidur dengan pulas. Lalu datang tiga orang tamu, meski di pintu ditulis pengumuman yang melarang siapa pun masuk. Melihat tiga tamu tersebut, Ibu menjerit-jerit: 
“Suamiku masih hidup! Ia bersama dua malaikat!” teriak Ibu sejadi-jadinya. 

Rumah sakit gempar. Mbak Elly, saya dan sanak-saudara yang masih sibuk mengurus penguburan jenazah Ayah, buru-buru datang menjenguk Ibu. Beliau bersumpah di hadapan kami bahwa Ayah dengan dua malaikat telah menjenguknya seperti dulu. Saya membantahnya dan saya katakan bahwa tubuh Ayah terbujur di rumah, siap dikuburkan. Sementara Meity yang selama ini selalu berada di sisi Ibu, tidak bertemu Ayah dengan dua malaikat itu, karena sedang keluar membeli buah-buahan. Akhirnya Ibu diperbolehkan melihat jenazah Ayah. 

Di rumah terjadi kegemparan lagi. Beberapa saat menjelang keberangkatan jenazah ke kuburan, ketika para tamu memenuhi rumah dan halaman, serta-merta Ibu menyingkap kain yang menutup jenazah Ayah. Ibu menjerit. Jenazah Ayah tidak ada lagi, yang terbujur hanyalah batang pisang!

Ayah menjadi berita nasional lagi. Dan tampillah sejumlah pendapat yang membuat surat kabar jadi makin laris. Masjid-masjid—lebih-lebih masjid-masjid bank—menjadi pusat perhatian para jemaah dalam mencari jawab “Peristiwa Ratmaji”. Para kiai menganalisis dengan sudut pandang masing-masing yang membuat para jemaah terpukau. Pendapat yang berbeda-beda, sering juga saling bertentangan, yang menyebabkan para jemaah makin penasaran. Benarkah Ayah telah diculik dua malaikat? Sejauh apa kecerdasan Ayah hingga para malaikat membutuhkannya? Membutuhkan untuk apa? Hanya para malaikat sajalah yang mampu menciptakan peristiwa-peristiwa adikodrati yang berhubungan dengan lenyapnya Ayah, tapi untuk apa peristiwa-peristiwa gaib itu? Untuk memberi pelajaran kepada masyarakat yang sudah menjadi ajang perebutan kepentingan-kepentingan duniawi?
Masjid-masjid bagus yang didirikan oleh bank-bank itu adalah alat untuk menjaring malaikat? Apa gunanya malaikat hingga perlu dijaring? Jika malaikat saja membutuhkan manajer andal, apalagi sebuah bank yang dikelola manusia? Tapi apa benar malaikat memerlukan manajer andal? Benarkah para malaikat hanya memerlukan Ratmaji, dan bukan yang lain, atau manajer andal? Siapakah Ratmaji itu hingga para malaikat membutuhkannya? Ratmaji adalah sebuah nilai, sebuah ide?

Ketika Ibu, Mbak Elly, saya, Kakak-kakak, Adik, bergabung dengan BIB-nya Pak Wignyo untuk ikut melakukan pemburuan, saat itulah Ayah muncul dan duduk di tiap kursi pimpinan di seluruh bank Jakarta dalam detik yang bersamaan. 

Jakarta, Senin, 25 Desember 1989


Danarto. Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Hingga kini ia baru punya 3 buku kumpulan cerpen: Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), dan Berhala (1987). Kini ia sedang mengumpulkan cerpen-cerpennya yang baru sambil mencari penerbit. Danarto adalah orang yang mudah berbahagia. Di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, misalnya, ia bisa nongkrong di warteg sambil menikmati nasi putih, ikan pedas, dan sayur daun singkong. Lalu ia berkata, “Seandainya surga seperti ini, cukuplah.” Ia pernah mendapat hadiah sastra Buku Utama untuk Adam Ma’rifat. Dua tahun lalu ia juga mendapat hadiah sastra S. E. A Write dari pemerintah Thailand. (Matra, Maret 1990)

***


Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Maret 1990.


0 Response to "Matahari Mabuk"