Membakar Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Membakar Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:34 Rating: 4,5

Membakar Kenangan

AKU melihat cerobong asap rumah-rumah warga tampak mengepulkan asap berwarna hitam keputihan. Kucoba bertanya kepada salah stau warga tentang apa yang sedang dibakarnya. Ia hanya menjawab singkat, "Kenangan."

Entah itu kenangan kesedihan dan keputusasaan mereka, ia tak mau melanjutkan dna langsung masuk ke dalam rumahnya. Aku benar-benar tak habis pikir dibuatnya.

Setiap jam, ada saja asap sisa pembakaran kenangan yang terlihat terbang berseliweran di halaman depan rumah. Menghadirkan tontonan kenangan kesedihan dan keputusasaan yang selama ini jarang diumbar para warga. Walaupun tak berlangsung lama tapi membuatku bertanya-tanya dalam hati, "Sudah tak berartikah kenangan yang mereka bakar?"

Dan ketika pertanyaan itu coba ditanyakan, para warga selalu kompak menjawab, "Kami tak mau lagi kenangan lama yang menyakitkan dan tak berguna karena kami ingin membuka lembaran baru. Lembaran kebahagiaan di tahun depan."

Bagi mereka, kenangan itu sudah tak berarti. Tapi bagiku, itu sebuah keberuntungan. Asap kenangan kesedihan dan keputusasaan mereka membuatku terkadang menangis sendiri. Bahkan terkadnag memberiku inspirasi yang kutangkap dalam tulisan.

Tapi aku, ayah dan ibu jelas tak mau seperti mereka. Membakar semua kenangan, kesedihan dan keputusasaan. Sayangnya tak semua warga suka melihat kami bertiga sering menyaksikan asap kenangan mereka.

Hingga akhirnya ada seorang warga yang datang ke rumah. Lalu dengan beraninya bertanya kepadaku yang sedang duduk santai menyaksikan asap kenangan salah satu warga yang sednag terbang melintasi halaman depan rumah, "Daripada hanya melihat asap kenangan kami, mengapa kalian bertiga tak ikutan membakar kenangan seperti yang sudah kami lakukan?"

Aku terdiam sejenak sebelum kuputuskan menjawab begini, "Aku tak suka bakar-bakar, semua kenangan itu tetap akan kusimpan selamanya."

Seorang warga itu tertegun sejenak. Lalu kembali menyahut, "Tidakkah kepalamu akan terasa berat menyimpan semua kenangan itu?"

Sebelum aku menjawab, ia kembali berkata, "Pikirkan juga hatimu, kasihan ia sering sakit setiap kali mengingat kenangan sedih."

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Lalu bergegas masuk ke rumah sambil mengunci pintunya.

Di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku. Memikirkan perkataan seorang warga tadi.

"Memang benar, kenangan tak semuanya harus disimpan. Tapi aku tak mau kenangan memalukanku diketahui orang," pikirku.

Aku terus berpikir, bagaimana baiknya hingga ras akantuk datang menyergap.

Ketika terbangun, hari sudah malam. Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke ruang makan. Kulihat tak ada apa pun di meja makan. Hanya meja kosong. Kedua orangtua juga tak terlihat.

"Ke mana orangtuaku?" batinku, lalu mencarinya ke seluruh penjuru rumah. 

Samar-samar aku mendengar suara perempuan menangis di sudut dapur. Aku mengenalinya, itu suara tangisna ibuku. Lalu kumendekat. Ibu kaget melihat kehadiranku. Ia berusaha menghapus air matanya.

"Ibu, ada apa?" aku bertanya dengan suara lembut.

"Ayahmu membakar semua kenangan tentang Ibu," jawab ibu sedih.

"Apa Ayah dan ibu tadi bertengkar?" ibu menggeleng pelan.

"Ayah termakan omongan warga untuk membakar kenangan sama seperti yang mereka lakukan," jelas ibu, mmasih dengan suara sedih.

"Sekarang Ayah di mana, Bu?"

"Mungkin di rumah seorang warga sedang membakar kenangan." jawab ibu ragu-ragu.

Aku mengerti dan segera bergegas keluar rumah. Mencari ayah

Aku berdiri di depan halaman rumah. Kuperhatikan asap yang keluar dari cerobong asap beberapa rumah warga. Bukan asap biasa tapi asap kenangan yang dibakar warga.

Sebuah asap kenangan milik ayah yang tergambar sedang menggendongku ketika aku masih bayi, terlihat olehku. Segera kudatangi sumbernya. Tibalah aku di rumah seorang warga yang dulu pernah bertanya mengapa aku tak membakar kenanganku.

Kuketuk pintu rumahnya. Tampak seorang perempuan tua membukakan pintu. Ia lalu mempersilakan masuk. Di dalam rumah, kulihat sudah banyak orang berkumpul menghadap tungku perapian.

"Akhirnya kamu datang juga," kata salah satu warga.

Aku tak menggubrisnya. Kupandangi satu per satu warga yang ada di sana.

"Ayah," jeritku tertahan melihat ayah duduk terdiam di pojok ruangan. Segera, aku mendekatinya. Berusaha membangunkannya. Tapi langkahku dihadang warga.

"Kamu mau apa?"  tanya seseorang yang mengaku pimpinannya, marah.

"Mau bawa pulang Ayahku."

"Bisa. Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Kami ingin kamu membakar semua kenanganmu," katanya

"Aku tak mau, tak ada untungnya bagiku," sahutku membuat warga marah.

Mereka lalu beramai-ramai memukuliku seperti jambret yang tertangkap basah.

Aku yang sudah tak berdaya hanya bisa melihat mulut seorang  dari mereka bergumam sambil mencengkeram kepalaku. Lalu ketika tangannya ditarik, keluarlah segumpalan kenanganku. Gumpalan itu dilemparkan ke perapian yang menyala.

Mereka lantas bergegas keluar rumah. Melihat asap kenanganku yang keluar dari cerobong asap. Samar-samar, kudengar ada yang menangis tersedu hingga kencang.

Aku tak tahu sudah berapa kenanganku yang berhasil dibakar warga. Entah semuanya atau hanya sebagian kecil saja. Yang jelas, sekarang aku tak bisa mengingat kenangan yang ingin aku ingat. Sampai aku sendiri tak ingat namaku, keluarga, dan nama teman-temanku.

Bahkan aku sendiri tak tahu sekarang ada di mana. Yang aku lihat benda maupun orang-orang di sekitarku, semuanya berwarna putih.

"Bagaimana dok, nasib kenangan anak saya?" suara perempuan tua yang sepertinya aku kenal. Tapi aku lupa siapa dan di mana aku mengenalnya.

"Tampaknya semua kenangan yang ada sudah terhapus," jawab si dokter.

"Tolonglah anak saya, jangan sampai saya kehilangan kembali orang yang saya cintai." Suaranya samar-samar mengingatkanku pada sosok seorang ibu tapi aku tak bisa lagi menemukan kenangan tentangnya di pikiranku.

"Bisa, Bu. Sayangnya butuh waktu lama dan biaya yang besar," kata si dokter membuat wajah perempuan tua itu menjadi semakin sedih.

Aku melihatnya mengeluarkan air mata. Rasanya aku pernah melihat air matanya tapi lagi-lagi aku lupa di mana. (k)

 Yogya, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 10 Januari 2016



0 Response to "Membakar Kenangan"