Mesin Pengukir Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mesin Pengukir Mimpi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Mesin Pengukir Mimpi

"SIAL"

Danu mendesisi kesal. Ia membungkukkan badannya sampai 90 derajat, dengan napas yang belum stabil. Terik matahari membuatnya berkeringat.

"Latihan lagi ya, Dan. Kalai di sekolah saja kalah dengan Elang, apa kabar di tingkat provinsi minggu depan? Ini baru simulasi tingkat kota, Dan. Rekor larimu masih kalah jauh dengan Elang." Seorang laki-laki paruh baya menepuk punggung Danu. Danu berdiri tegak, menghadap laki-laki itu, Setya, pelatih tim atletik.

"Kita beruntung, sekolah kita punya dua kandidat yang lolos. Memang lebih beruntung lagi kalau kita dapat dapat dua tempat di podium juara. Tapi, lakukan saja sebisamu," kata Setya, lalu beranjak menuju Elang. Mereka saling berpelukan.

Merasa sudah menang?! Percaya diri sekali, pikir Danu kesal. Ia melangkah gontai menyambar tasnya yang tergeletak di pinggiran lintasan.

"Dan!" 

Tanpa menoleh Danu sudah tahu suara siapa itu. "Apa?"" tanyanya malas.

Elang menghampiri dengan senyum lebar. "Bagaimana simulasi kali ini?"

"Biasa saja." Danu melanjutkan perjalanan.

"Tadi ada wartawan majalah remaja, katanya mereka akan mewancarai pemenang lomba lari 800 meter minggu depan. Haha... aneh ya, belum lomba tapi mereka sudah menemuiku. Aku jadi tidak enak. Maksudnya apa, ya?" katanya santai.

Tidak terdengar angkuh tapi kata-katanya seperti pemandu sorak yang sedang menyoraki kekalahan Danu.

"Mungkin mereka takut kau mati sebelum tanding," kata Danu ketus. Elang memperlambat langkahnya. Lalu kembali mengimbangi Danu.

"Hei, hei, jangan ketus begitu. Mungkin mereka masih punya rubrik yang kosong, seperti Sebuah Kekalahan atau Despresi Remaja. Dan kau bisa jadi narasumbernya," ungkap Elang meledak.

Kali ini Danu yang berhenti melangkah. Lalu menatap Elang.

"Aku lebih suka mengisi harian kriminal, dengan headline tebal bertuliskan Mutilasi Rival Mulut Ember. Bahkan aku tidka keberatan wajahku tidak diblur sebagai kaver," sahut Danu dingin.

Elang diam tak berkutik. Kata-kata Danu cukup mengerikan.

"Hei, jangan sombong begitu. Selamat kalah, ya minggu depan!" Elang berteriak mengiringi Danu yang semakin menjauh. Danu hanya menggerutu, tidak menyahut lagi.

***
BRAKK!!

Karin yang duduk di ruang keluarga sambil menonton drama di TV dengan suara pelan menoleh. Ia sudah bisa mencium bau adiknya dari sini. Danu membanting badannya di sofa tepat di sebelah Karin. Wajahnya merengut.

"Kalah lagi?"

Danu melirik Karin dengan ujung mata.

"Aku memimpin di detik awal. Tiba-tiba si Elang melewatiku dna bertahan di depan. Aku tahu dia mendapatkan pelatihan ekstra dari Pak Setya. Ia melesat bagai angin.  Sial."

"Kau mau bagaimana sekarang?" tanya Karin

"Entahlah. Aku telah memberikan semua usaha yang aku bisa. Tapi, kenapa aku selalu kalah? Apa aku lebih lambat dari siput? Lelah rasanya, tapi kalau mundur tidak mungkin."

"Itu tandanya ka tidak sungguh-sungguh."

"Kurang apa? Berlatih dan menabung untuk beli sepatu sendiri memang tidak mencerminkan kesungguhan??" Danu mulai kesal

Danu mulai memutar otak, kalau dipikir-pikir memang Danu sudah pol-polan berlatih.

"Pasang target. Misalnya bisa keliling lapangan sekolah dalam waktu lima detik. Lalu..."

"Kau gila?" Danu memotong omongan Karin.

"Kau yang gila. Baiklah, kalau tidak lapangan sekolah coba yang lebih sederhana seperti mengalahkan Elang. Atau hal-hal ekstrim lainnya," lanjut Karin.

"Realistis, Kak. Bedakan itu. Ini hidup nyata. Target kalau dijadikan eksperimen hanya buang-buang waktu."

Karin mendengus pelan. "Kau seperti mau mati besok saja. Lagi pula target memang terkait eksperimen, kan? Proses realisasinya adalah tahap percobaan, yaitu eksperimen yang kau bilang tadi. Tapi, aku lebih senang menyebut target itu mimpi."

"Jadi, apa yang harus aku lakukan dengan mimpi itu?"

"Ingatlah mimpi-mimpimu ketika kau jatuh dan lelah. Supaya bisa bangkit lagi. Kau harus membuat mimpimu itu jadi begitu nyata. Ibarat manusia, sebagus apa pun pigura yang mengelilingi, sosok asli tentu saja lebih mudah kau ingat dibanding hasil cuci klise. Buatlah dia nyata."

"Bagaimana caranya?"

"Ukirlah mimpimu dengan mesin pengukir mimpi. Mesin itu berguna untukmu. Fungsinya membuat mimpimu yang berbentuk khayalan sederhana, menjadi suatu bentuk tiga dimensi. Contohnya, lomba minggu depan. Dengan alat itu kau bisa meruntuhkan segala sesuatu yang menjadi hambatan dan kekuatanmu. Dan kau akan meraih mimpi itu dalam dunia sesungguhnya. Bukan lagi maya, namun nyata," jelas Karin.

"Teori yang bagus. Sekarang berikan aku mesin pengukir mimpi itu, agar visualisasi mimpiku jadi lebih nyata."

"Kau harus membelinya."

"Di mana?"

"Hati. Department store of morality."

"Lalu, aku harus bayar dengan apa? Darah?"

"Bukan. tapi tekad. Ada banyak di sudut lain hatimu, bersebelahan dengan si penjual mesin tadi. Hanya saja tekad dengan kualitas bagus sulit didapat. Kalau mau dapat, bersungguh-sungguhlah. Berhentilah menyalahkan ketidakmampuanmu. Kesalahanmu di masa lalu, siapa rivalmu, dan yang terpenting berhentilah lari dari tantangan yang harusnya kau pecahkan. Mulailah fokus pada mimpimu, meningkatkan kemampuanmu, mensyukuri apa yang kau punya, dan menyadari bahwa semua hal dari sepele sampai yang kompleks sudah ada yang mengatur."

***
RIBUAN orang memadati kursi penonton. Dua puluh delapan peserta siap memerebutkan sebuah medali. Danu melakukan pemanasan. Ia masih ada di pinggir lapangan. Peluru siap ditembakkan ke langit. Suasana di lapangan tambah memanas karena matahari dan lebih-lebih semangat para peserta lari. Elang tersenyum sinis pada Danu. Sementara Danu membalasnya dengan senyum ramah.

Begitu suara tembakan terdengar, dua puluh delapan pasang kaki mengayun menuju tujuannya. Bagi Danu tujuannya adalah kemenangan. Menyongsong sinar matahari. Merengkuh kemenangan itu ke dalam dunia nyata. Produk mesin pengukur mimpi segera menjadi nyata!  ❑

Devi Eka. Doplang RT 05/ RW 02, Kec Purworejo, Purworejo, 54114

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Devi Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 10 Januari 2015


0 Response to "Mesin Pengukir Mimpi"