Nasgitel - Harmoni Pasar - Jenang Alot | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nasgitel - Harmoni Pasar - Jenang Alot Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Nasgitel - Harmoni Pasar - Jenang Alot

Nasgitel 

Di warung nasi sudut pasar, biji-biji kopi
lebur diguyur air panas dari mulut ceret
berpantat hitam yang tak pernah turun
tahta dari tungku pembakaran. Entah berapa
tahun lamanya, kerak jelaga melindungi
kulit tubuhnya dari kobaran api cinta

Bilah-bilah kayu gemeretak membaca
puisi sapardi. Ia tak punya waktu mengungkapkan
rasa pada api. Sisa-sisa kayu
berharap cinta terus emnyala di tungku
mata penyair. Sebelum tubuhnya lebur
menjadi abu, sebaris pesan bergelora:
saat menebar kata, jangan lupa
memaknai cinta.

Bersama manis gula, biji-biji kopi lebur
tanpa sempat menyemai sapa. Saat
hanyut dalam seruput, ia berharap sebaris
makna mengendap dalam kepala, terlahir

kembali dalam bait-bait puisi.

Depok, 31 Agustus 2015

Harmoni Pasar 

Tiang-tiang kayu jati,
sekuat bantalan rel kereta api
tak lekang digilas laju peradaban,
tak lelah menjaga setiap harapan.

Sepekan pasaran dua kali
cukup setengah hari,
merawat harmoni indah
antara niaga, sawah, dan ibadah.

Tawar-menawar setengah harga,
tarik ulur benang percakapan,
merajut kesepakatan
hingga satu titik pertemuan

Lapak dagangan los tanpa dinding,
serupa rumah-rumah tanpa pagar
di perkampungan,
menjaga keterbukaan dan kepercayaan,
tetangga tak akan melanggar batas-batas

Dalam harmoni pasar,
kerajinan dan hasil bumi digelar,
kejujuran jual beli ditakar.

Jenang Alot

Jenang alot seliat kulit penjualnya,
perempuan-perempuan tua.

Usah berbusa berbicara emansipasi,
mereka lebih paham bagaimana berjuang
menghidupi diri.
Pasar-pasar dikuasai Kartini.

Selepas puncak anak tangga,
kujumpai senyum ikhlas bertabur gurih wijen,
Berkebaya dan selendang batik
tak lelah menyapa rumah,
dalam semangat hidup yang tak pernah
menjadi remah.

Geliat pasar akan tetap terjaga
oleh perempuan-perempuan tua,
dengan kulit seliat jenang alot,
merawat langgam hidup menolak kolot.


Setiyo Bardono: Lahir di Purworejo mukim di Kampung Kekupu Rangkapan Jaya Pancoran Mas Depok Jawa Barat. Bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam). Penulis buku antologi puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (2012) dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (2012), serta novel Koin Cinta (2013) dan Separuh Kaku (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setiyo Bardono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Januari 2016



0 Response to "Nasgitel - Harmoni Pasar - Jenang Alot"