Penyanyi Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penyanyi Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:56 Rating: 4,5

Penyanyi Langit

Di angkot selepas siang
Perempuan berbaju merah duduk di sudut
Aku menuju pasar kota, katanya
Senyum setelah perkenalan itu menghangatkan hujan di luar
Belanja?
Tanyaku sekadar
Tidak, mau ke langit, awan memanggilku
Untuk apa, lagipula mengapa turun di pasar kota, ke langit
hanya lewat bandara
Dia memandangku lekat
Bandara hanya untuk yang melewati langit, aku akan
menetap di sana, jadi harus lewat pasar kota
Ini seperti perbincangan dalam mimpi, semua mungkin
Maka aku mengulangi tanya, untuk apa
Kali ini dia tersenyum dulu, baru berkata
Aku penyanyi langit, aku akan menyanyi saat bumi mene-
mu akhir, awan-awan menjadi saksi
Tunggu, tanda kiamat adalah terompet
Dan nyanyianku, perempuan itu menyahut
Akhir adalah kebahagiaan, aku menyanyi untuk itu, aku
juga telah berlatih dengan bahagia
Latihan di mana, kafe, studio, atau kamar mandi, aku
menjaga kewarasan
Dalam mimpi, hanya boleh di sana, dalam terjaga tidak,
aku hanya menyanyi sekali dalam hidup dan itu saat
semua mati
Aku tertawa, sopir angkot juga
Pasar kota di ujung jalan, adalah manusia yang lelah
bertanya, adalah pintu masuk langit, menurutnya, adalah
retribusi untuk bersama awan
Lantas apa yang kau nyanyikan, requiem..
Itu sudah banyak dilantunkan oleh pepohonan, gunung-
gunung, dan juga laut, aku diminta menyanyi hanya untuk
kebahagiaan
Siapa yang memintamu
Aku tak bisa bilang
Siapa yang memilihmu
Hanya aku yang tahu
Siapa yang..
Seharusnya bukan siapa, tapi kapan
Angkot berhenti mendadak, lampu merah dan sosok
berseragam membuat penumpang jumpalitan
Hujan masih deras, seperti angan bersama penyanyi lan-
git
Bagaimana aku atau kami bisa percaya kau adalah
penyanyi langit
Kalian tidak harus, aku sendiri tidak
Angkot berjalan lagi, masih kami bertiga di dalamnya,
sopir membunyikan klakson
Perempuan itu memandang ke depan, aku memandang
ke depan
Jalanan adalah biru langit, awan-awan menjadi halte
Pasar kota satu perempatan lagi
Aku bertanya, lalu kapan
Penyanyi langit menjawab pelan, di halte itu aku turun,
jawabanmu ada di sana
Tapi tujuanku bukan pasar kota
Mungkin, tapi siapa yang tahu apa yang didapat dalam
perjalanan ke tujuan
Bisa jadi tujuan itu tak penting lagi, katanya
Sok filosofis, gerutu di batin
Tapi aku ikut turun di halte setelah perempatan
Kini kami berdiri di atas awan, angkot berlalu
Perempuan penyanyi langit merapikan pakaiannya lalu
berkata, bertemu denganmu adalah kebahagiaan, itu
alasan untukku bernyanyi
Halte atau awan itu kini menjadi panggung, perempuan
berbaju merah berdiri sendiri di sana
Aku duduk di deretan bangku penonton
Tak ada kelompok musik yang mengiringi
Tak ada pengeras suara
Hanya kau, panggung, dan baju merah
Lalu tepuk tangan penonton
Aku

Januari 2016


A Kaliksanan -Pernah menetap di Kudus, kini tinggal di Kota Semarang. Bergabung di Mangga Pisang Jambu Project.  Tengah menyusun buku kumpulan puisinya yang pertama.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Kaliksanan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 17 Januari 2016

0 Response to "Penyanyi Langit"