Perempuan Limited Edition (1) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (1) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:55 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (1)

NADIA berusaha memahami situasi kebobrokan moral yang terjadi di sekelilingnya. Namun hatinya berontak jika harus mengikutinya. Nadia bukan orang suci yang tak punya dosa. Namun bila sudah menyangkut seks bebas yang seperti ia lihat di sekitarnya, ia akan mundur jauh-jauh. Semua itu diluar konsep hidupnya.

Sebagian orang yang mengenal sekilas Nadia, hanya mencibir. Nadia janda yang jelas-jelas butuh belaian. Namun dibiarkannya suara-suara itu. Percuma harus membantah. Toh orang tidak akan percaya dengan yang dijelaskan kata hati Nadia.

Nadia berusaha mencari pendukung prinsip-prinsipnya itu. Namun siapa yang sepaham? Siapakah yang bisa mengerti? Justru kata-kata yang tidak enak di telinganya sering terdengar. Sok suci! Munafik dan lain sebagainya.

Nadia bukan termasuk orang yang introvert, namun ada sesuatu yang tak pernah bisa dimengerti oleh siapapun atas prinsip-prinsipnya. Begitu juga dengan visi misi hidupnya. 

Pernah satu ketika ia bercerita pada teman karibnya. Namun jawaban yang didapat justru membuat alisnya berkerut, tanda heran dan tidak setuju. Kemudian bercerita pada teman lain, hasilnya juga sama. Bahkan menjadi bahan tertawaan. Jadi kemana ia harus mengadu? Mencari orang yang sepaham dengannya, seperti mencari jarum dalam jerami!

Seperti hari ini, airmatanya tak bisa dibendungnya lagi ketika Nadia berada dalam kamar. Bantal adalah teman setianya dalam menumpahkan segalanya. Menuangkan segala uneg-uneg hatinya yang tak bisa dikeluarkan pada siapapun. Nadia memukul-mukul bantal. Rasa kesal terus menggelayuti hatinya sejak siang tadi.

Ketika sedang sibuk mempersiapkan barang-barang orderan yang akan dikirim, tiba-tiba datang seorang sales yang sudah beberapa kali datang. Memperhatikan gerak-geriknya yang gesit menata barang. Ketika selesai, Nadia kembali duduk di meja kerjanya. Dan Laki-laki itu duduk tepat di depannya.

"Ya Mas, barang yang kematin masih banyak tuh," kata Nadia ramah.

"Ini Mbak mau nawarkan barang baru, siapa tahu bisa laku di sini," jawab laki-laki itu sambil mengeluarkan sampel barang yang dibawanya.

"Lho ganti dagangan lagi?" kata Nadia, tangannya meneliti barang yang ditawarkan.

"Iya Mbak, ini lebih menjanjikan hasilnya sih," jawab laki-laki itu sambil matanya tak lepas memandangi Nadia tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Nadia merasa risih dipandangi seperti itu. Belum sempat Nadia bertanya kenapa, laki-laki itu kembali bicara.

"Mbak, cekatan banget ya kalau kerja," katanya. Dan Nadia hanya menarik sudut bibirnya  dengan masih meneliti barang yang dibawa laki-laki tadi.

"Mbak single parents yang hebat," kata laki-laki itu lagi dan Nadia kembali hanya menarik sudut bibirnya lagi. Malas sekali emmbahas hal yang tidak ada hubungannya dengan kerjaan kata hatinya.

"Mbak, gimana jika saya bantu Mbak, supaya Mbak tidak begitu sibuk dan saya juga bisa mengajari Mbak  bagaimana caranya bercinta!" kata laki-laki itu tanpa beban. Sontak Nadia memandang laki-laki di depannya itu dengan muka ketusnya.

"Mas ini mau menawarkan barang atau apa?" Suara Nadia tinggi.

"Maaf Mbak, cuma becanda saja kok," kata laki-laki itu ringan.

"Maaf ya saya tidak suka cara bercanda kamu! Lain kali saja saya pesan barang ini," ucapnya sambil menyerahkan barang yang sejak tadi  di tangannya.

"Maaf Mbak, kok gitu saja marah sih."

"Sebaiknya Mas pergi saja, saya nggak ada waktu untuk bicara yang tidak ada hubungannya dengan kerjaan. Permisi!" kata Nadia sambil meninggalkan meja kerjanya. Rasa kesal masih menggumpal di dadanya. LAncang sekali orang itu, kata hatinya.

Memang semenjak ia memilih jalur hidup sebagai single parents, teras hidupnya banyak menjadi gunjingan orang-orang di sekitarnya. Bahkan ada yang terang-terangan mengajaknya selingkuh saat ia membohongi suaminya ada dan sedang berada di Kalimantan.

"Saya mau lho jika diajak selingkuh!" Begitu orang itu berterus terang.

Ingin rasanya Nadia menampar orang yang mengatakan itu. Namun tidak dilakkukan. Ia tidak ingin menambah keributan apapun dalam meniti hidupnya ini. Pilihan sudah diambil dan ia harus menanggung semua risiko, yang pastinya akan lebih banyak dialami dibandingkan saat rumah tangganya utuh.

"Aku harus kuat dan tak boleh terpancing situasi apapun! Tujuanku hanya satu membesarkan anakku agar menjadi orang besar kelak, dan tidak minder di antara anak-anak seusiannya," batinku

Benar. Nadia masih bertahan dengan kesendiriannya, sekarang putranya mulai menginjak remaja, tanpa adanya kepincangan yang dirasakan oleh putra tunggalnya itu. Semuanya berjalan normal, dan putranya tak pernah merasakan kekurangan apapun. Dari segi materi dan kasih sayang dirasakan sangat cukup diterima putranya. Dan itu menjadikan Nadia lega. Namun keisengan orang-orang yang otaknya penuh mesum membuatnya sangat tidak nyaman. Seperti yang terjadi tadi, salah satu yang sangat mengganggu hatinya sehingga merembet memengaruhi aktivitasnya. Hanya Radmi salah satu pembantunya yang bisa mengerti keadaannya. ❑  (c)

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 Januari 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (1)"