Persekutuan Malam Jahanam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Persekutuan Malam Jahanam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:51 Rating: 4,5

Persekutuan Malam Jahanam

AKU takluk dengan asap batu dupa yang dibakar Bapak setiap malam. Bapak menjadi orang paling khusyuk mengirim doa dalam ritual kekekalan. Bau dupa menyengat, sarak menusuk hidung dan tenggorokan. Kerap aku ketakutan, lalu menutup wajah dengan tangan di dada Ibu. Tahukah kau bahwa ketika batu dupa dibakar, maka akan ada beberapa makhluk halus yang datang menghampirimu? Mulanya aku ketakutan, namun kali ini tidak. Justru aku menjadi perempuan yang mencintai batu dupa.

Setiap malam, ketika kami sudah mulai terlelap, Bapak keluar kamar menuju ruang kosong yang kerap dipakai ritual. Aku terbangun, ruang itu di dpena kamarku. Aku melihat dari gorden yang sedikit terbuka, ia menyalakan api, membakar batu dupa. Semacam mengucap beberapa mantera, kemudian ia bercakap-cakap entah dengan siapa. Entah berbicara apa. Ia telanjang dada, dengan kain yang diikatkan di kepala.

Lismiyatin, janda kaya telah memanggil Bapak agar lekas ke rumahnya malam itu juga. Memang, soal perempuan bapak selalu lemah, ia semacam menepiskan kharisma yang menyerabuti jiwanya. Lismiyatin meminta sawahnya sebentar lagi melaksanakan panen raya, segera 'dinyetri' dengan sesajian yang disemburatkan mantera.

Selain meminta macam permisi kepada Dewi Sri, juga sebagai bentuk syukur penjagaan dari iblis yang mencintai batu dupa, juga dirinya. Kelak diperlancarkanlah acara panen raya.

"Apa yang harus aku lakukan, Mbah?" ucap Lismiyatin.

"Besok malam aku datang kembali. Kau cukup menaburkan bunga melati yang sudah direndam air dan serpihan batu dupa ke atas kasurmu."

"Apa hubungannya dari semua itu?"

"Ada, tenang. Selain kau siapkan itu, aku yang akan menyiapkan segalanya untuk ritual panen rayamu."

"Baiklah" ucap Lismiyatin sambil menyipitkan mata.

Bapakku pulang. Kembali merebah di samping Ibu. Ibuku selalu tunduk dengan setiap perkataan Bapak. Namun sayang, itu hanya nampak luar. Ia sebenarnya terjebak dalam kungkungan yang tak pernah ia bayangkan. Ia merasa lepuh batin dengan pekerjaan Bapak. Mulanya Bapak adalah tukang becak ketus yang terobsesi kaya di jalur Gunung Kemukus. Setelah melakukan beberapa syarat yang melekatkan niat, ia kembali ke rumah dan merapal mantera di setiap malam.

***
Rindu Lismiyatin kepada mantan suaminya telah digetirkan lengking pohon bambu di beranda rumah. Kemudian rindu itu menjadi rentangan tangan dalam upacara pembakaran batu dupa. Sudah dua tahun ini ia mengawini libidonya dengan cara tersendiri. Wajah yang cnatik, tubuh bahenol dengan pakaian serba ketat membuat para lelaki terpikat. Namun tak satu pun lelaki yang menarik hasrat.

"Bagaimana? Suah kau persiapkan?" kata Bapakku. Ia telah datang pada malam yang sudah dijanjikan. 

"Sudah" ucap Lismiyatin.

Bapak menengok kiri, kanan, dan belakang sebelum memasuki rumah Lismiyatin. Mereka memulai percakapan di dalam kamar.

"Bagaimana dengan rencana yang aku harapkan, Mbah?" bisik Lismiyatin.

"Beres. Sudah aku lakukan ritual dari rumah. Sudah pula kukirim mantera sebagai penjagaan sawahmu, juga pelancaran panenmu nanti."

"Lantas, kasur yang ditabur bunga serta percikan air batu dupa buat apa?"

"Buat syarat malam kita."

"Lantas?"

Bapak telah menciumi bibir Lismiyatin hingga menggigilkan birahi yang memuncak sepi. Keduanya memintal keringat, kemudian mereguk malam hingga tandas.

***
Rupanya Bapak memang sakti. Sawah berkabut kebahagiaan usai upacara panen raya. Ibarat tanduk penyucian padi kepada Dewi Sri. Mantera sunyi dan rapalan sesaji yang mengungkung diri, telah berbuah kebahagiaan. Semalam aku bermimpi kembali, bahwa aku sedang diantar iblis-iblis yang setia dengan kesunyian, ia mengabarkan bahwa ibuku tak lama lagi akan mati. Aku tak pernah takut soal mimpi. Aku terbbangun, diam penuh keringat. seperti melahirkan bara api di dalam tungku Ibu.

"Jangan pergi, Mas." kata Ibu.

"Kenapa? Ini malam Jumat bulan purnama pula, ini baik buat ritualku."

"Semalam aku telah bermimpi. Kau memakai baju pengantin. Namun, kau tidak duduk denganku di pelaminanku itu, tetapi kau telah bersama kerbau di kusris pelaminan itu."

"Itu kan hanya sebatas mimpi, tak perlu kau pikirkan," ucap Bapak sambil mengikat kain di kepalanya.

Aku sudah menduga, ia akan memaksa pergi meski menyimpan wajah ketakutan.

"Siapa yang tak sedih jika hari baik yang seharusnya dinikmati bersama suami, namun justru ditinggal pergi. Apalagi kecemasanku bertalu soal mimpi itu," ucap Ibu.

Bapak tetap pergi, meninggalkan kami. Rupanya ia tidka menjalankan ritual di sebuah makam luhur yang dikeramatkan (sesuai pamitan). Justru ia berbelok ke rumah Lismiyatin. Pintu rumahnya setengah terbuka, Bapak masuk kemudian menutupnya. Sementara Lismiyatin sudah menunggu di dalam kamar dengan baju tidur yang tipis dan membelah dada. Mereka melakukannya lagi, berkali-kali, sampai tidak terhitung berapa kali, setiap hari.

"Kapan kau akan nikahi aku, Mbah?" ucap Lismiyatin.

Rupanya Lismiyatin sangat serius mencintai Bapak. Adakah mantera yang dilekatkan di bibirnya, sehingga ia begitu cepat jatuh hati kepada Bapak? bapak terdiam beberapa saat, hingga ia mengulang pertanyaan.

"Nanti"

"Kapan?"

"ya, nanti," bapak berkelit, mengelus rambut legam Lismiyatin.

"Menunggu apa?"

"Aku punya istri. Bukankah hubungan kita sebatas penyatuan syarat dalam ritual yang kau inginkan?"

"keparat kau, Mbah. Nikahi aku atau kubeberkan ulahmu?"

"Beberkan saja. Bukankah jutsru kau yang akan malu?"

"Bedebah!"

Lismiyatin menangis. Namun raut wajah Bapak tak bisa diculik. Sebenarnya ia juga benar mencintai, bahkan ada hasrat menikahi. Bapak mencoba meredam dengan kalimat membujuk.

"Baiklah aku akan menikahimu, setelah semuanya tuntas" ucap Bapak sambil mencium, kemudian kembali memintal keringat bersamanya yang ke sekian kali.

***
Malam itu Bapak tidak di rumah. Ia pun tidak pamit kepada Ibu soal kepergiannya. Ibu sudah menerka bahwa ia akan berkunjung ke rumah Lismiyatin perempuan perusak rumah tangga. Ibu tetap waspada, ia tetap merapal mantera.

"Sudah, Mbah?" ucap Lismiyatin

"Sedang menuju ke sana."

Bola api yang dikirim Bapak rupanya telah berjalan menuju rumahku. Bola api yang dihantarkan iblis-iblis yang mencintai dirinya. Aku menduga, itu dikirim untuk mencelakai Ibu kematian Ibu. Yaa Tuhan, mengapa ia begitu tega ingin membunuh Ibu hanya lantaran memilih pelacur itu? Barangkali ia sudah tenggelam dalam pekat birahi, sehingga ia lupa diri.

Mulanya bola api mengitari genteng rumahku. Perlahan-lahan hendak memasuki kamar ketika Ibu sedang berpula terlelap. Namun sesampai di depan pintu, bola api itu kembali menuju tuannya. Membakar Bapak dan Lismiyatin ketika saling melucut telanjang dada. Mereka terbakar atas mantera dan iblis-iblis yang tak patut lagi bersamanya. Ibu tersenyum, meski ia menahan duka yang sangat panjang.

"Mengapa ia begitu tega merelakan aku mati hanya demi perempuan yang mulanya tak ia kenali?" batin Ibu.

Ibu masih merebah di atas tempat tidur. Sementara bibirnya masih memegang secarik kertas dan merapalkan mantera penolak teluh milik Bapak. Ia curi dari laci ketika Bapak lupa mengunci.  -o

Tangerang, Desember 2015

Aksan takwin Embe. Buku kumpulan cerpennya Gadis Pingitan (BiEm 2014). Pendiri Komunitas sanggar sastra Tuban, Komunitas Teater Laboratorium Tuban, Komunitas LaDa Banten. Kini menjadi guru di Tangerang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aksan Takwin Embe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 17 Januari 2016


0 Response to "Persekutuan Malam Jahanam"