Putri Cempaka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Putri Cempaka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:17 Rating: 4,5

Putri Cempaka

KABAR hilangnya Putri Cempaka menyebar secepat api melalap daun-daun kering. Menurut cerita yang beredar, Putri Cempaka pagi itu sedang jalanjalan di pasar melihat keramaian. Tentu dengan ditemani sejumlah pengawal. Namun, entah bagaimana, para pengawal lengah dan Putri Cempaka menghilang begitu saja. Segalanya terjadi begitu cepat. Dan nasib para pengawal yang gagal menjalankan tugas itu sudah jelas: kepala mereka berakhir di tiang gantung.

Raja kalap. Amarahnya meletup-letup serupa gunung berapi hendak meletus. Ibunda Putri Cempaka menangis tak sudah-sudah. Seolah ia telah kehilangan sesuatu paling berharga yang pernah dimilikinya. Kesedihan sang istri membuat raja panik. Pasukan kerajaan dikerahkan sepenuhnya untuk mencari Putri Cempaka, seorang putri jelita kesayangan sang raja.

Para waskita dikumpulkan malam itu. Mereka diminta menerawang keberadaan Putri Cempaka. Sayang, hanya ada gelap. Hampir semua menyatakan keberadaan sang putri sulit diketahui. Namun, seorang yang paling tua di antara para waskita itu berani mengatakan bahwa seorang pendekar yang teramat tangguh dari Jatiputih telah menculik Putri Cempaka. Menurutnya, raja pernah membuat suatu kesalahan yang tak termaafkan sehingga membuat pendekar itu marah dan menyimpan dendam.

Raja disarankan membuat sayembara berhadiah besar. Dengan harapan, orang-orang, terutama para pendekar, lekas bergerak dan Putri Cempaka segera ditemukan. Saran itu dituruti raja. Hari itu juga, pengumuman perihal sayembara disebar. Telinga para pendekar menangkap jelas isi pengumuman itu. Mengingat besarnya hadiah yang ditawarkan, mereka bersegera berangkat ke Jatiputih. Tampak gairah mereka membara. Kepala mereka penuh bayangan indah: dapat menemukan Putri Cempaka, membawanya pulang, lalu meraup hadiah besar.

***
Arya, pendekar pilih tanding jago pedang, berada di antara para pendekar yang menuju Jatiputih untuk menemukan Putri Cempaka. Ia telah menempuh perjalanan cukup jauh menuju Jatiputih. Namun, ia tak habis pikir. Dalam perjalanan, ia sering bertemu dengan beberapa pendekar yang saling baku hantam dan kadang adu pedang. Bahkan, Arya tahu, di antara mereka ada yang dulunya berasal dari satu padepokan. Ada apa gerangan? Inikah akibat buruk perebutan hadiah besar dari raja?

Arya terus berjalan. Karena kelelahan, Arya bermalam di sebuah lembah. Pagi ketika Arya bangun tidur, sebilah pedang telah teracung tepat di depan hidungnya.

”Jika kau bermaksud mencari Putri Cempaka, maka hadapilah aku!”

Dengan gerakan kilat Arya meraih pedangnya dan menangkis pedang yang teracung di depan mukanya. Ia bangun dengan satu gerakan dan adu pedang tak terhindarkan. Pagi belumlah sempurna. Dan lembah itu masih dikepung kabut.

Rupanya, pendekar yang datang terlalu pagi itu salah memilih lawan. Pedang Arya merobek perutnya pada sabetan ketujuh. Dengan malas, Arya menyeret mayat pendekar itu menuju sungai. Dilemparnya mayat itu ke tengah deras arus sungai. Arya lantas melucuti pakaian dan berendam di arus tenang sambil memejam mata.

Lamat-lamat, Arya mendengar suara dari semak-semak tak jauh dari tempatnya berendam. Ia siaga penuh. Tibatiba sebilah anak panah meluncur ke arahnya. Arya sigap menghindar. Ia sembunyi di balik batu. Satu anak panah melesat menghantam batu. Diikuti lesatan anak panah berikutnya.

Arya mengumpat pelan. Ia sungguh heran melihat kegilaan para pendekar yang mengikuti sayembara raja. Satu sama lain saling bunuh demi menjadi yang pertama menyelamatkan Putri Cempaka.

Perlahan Arya berenang ke tepian. Gerakannya ditangkap pemanah dari balik semak. Anak panah kembali menyasarnya. Luput. Arya memungut pakaian dan pedangnya lalu bersembunyi di balik pohon. Pemanah keluar dari balik semak dan berlari mengejar Arya. Tahu pemanah memburunya, Arya lari masuk hutan.

Sang pemanah berhenti seketika saat ia mendapati buruannya lenyap. Tak mungkin ia bisa berlari secepat itu, ia pasti masih berada di sekitar sini, batinnya.

”Keluar kau! Aku tahu kau masih di sini!”

Dari balik rimbun daun Arya mengawasi pemanah yang mengejarnya. Ternyata seorang perempuan berpakaian serba hitam dan bercadar.

Arya keluar dari persembunyian. Ia berdiri di belakang perempuan bercadar. Sigap, perempuan itu menghunus pedang. Arya tampak tenang.

”Tidak perlu terburu-buru. Apakah tidak lebih baik kita berkenalan dulu?” Arya menggoda dan tersenyum nakal.

”Tak perlu basa-basi. Terima ini!” Perempuan bercadar menerjang-menyerang. Cepat Arya mencabut pedang. Pertarungan kedua dalam satu pagi tengah berlangsung. Kesunyian hutan pecah oleh suara pedang yang beradu.

Rupanya perempuan bercadar itu bukan pendekar sembarangan. Arya dibuat kerepotan menghadapi sabetan pedang yang bertubi-tubi menyerangnya. Saat Arya lengah, sebuah gerakan cepat menguncinya. Pedang perempuan bercadar itu tepat berada di leher Arya. Sekali tarik habislah Arya.

Tiba-tiba perempuan itu membuka cadar.

”Apa kau tak mengenaliku?”

Arya melirik perempuan itu. Ia terperangah. ”Putri Cempaka?!”

”Ya, aku Putri Cempaka.”

”Jadi...”

”Benar, aku tidak diculik oleh pendekar dari Jatiputih seperti kabar yang beredar selama ini. Aku melarikan diri. Perlu kau tahu, aku sekarang memimpin Pasukan Mawar, kumpulan orangorang  terlatih yang suatu hari nanti akan menjatuhkan ayahku yang lalim.”

Arya melongo mendengar pernyataan itu.

”Sekarang aku berikan tawaran kepadamu. Aku tahu kau pendekar jago pedang yang tak bisa dipandang sebelah mata, meski masih beberapa tingkat di bawahku. Kau pilih, bergabung dengan Pasukan Mawar atau bergabung dengan pendekar-pendekar lain yang lebih dulu tewas akibat sabetan pedang ini?”

Saat itu juga Arya seperti kehilangan daya. Kakinya lemas. Ketakutan dan keterkejutan jadi satu. Tubuhnya bergetar. Ia berpikir keras, bagaimana bisa Putri Cempaka memimpin pasukan pemberontak dan hendak melakukan kudeta? Gila!

Mendadak kepala Arya berdenyutdenyut. Pening sekali. (*)-k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Zakky
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 24 Januari 2016

0 Response to "Putri Cempaka"