Radio Penebus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Radio Penebus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:59 Rating: 4,5

Radio Penebus

RADIO itu teronggok di sudut gudang. Beberapa tombolnya hilang dan antenanya terselimuti jaring laba-laba. Aku ingat ketika berkunjung ke rumah nenek Lebaran tahun lalu, radio itu diberikan kepadaku oleh nenek secara cuma-cuma setelah aku mengutarakan keinginanku memiliki radio.

"Anggap saja ini hadiah lebaran. Nenek nggak bisa beri kamu angpao karena uang pensiunan belum turun," kata nenek, yang selalu mengandalkan uang pensiun setiap bulan dari mendiang kakek sebagai biaya hidup.

Aku girang. Aku menjadikannya teman dalam keadaan apa pun. Ia mengiringiku dengan lagu-lagu populer. Kadang wawasanku bertambah bila siaran berganti berita. Informasi yang disampaikan radio kuserap dalam kepala.

Sungguh disayangkan radio kuno berbentuk persegi panjang tersebut kini telah rusak. Knop pemindah slauran sudah tak berfungsi. Singkatnya, radio itu layaknya fosil yang terpajang kaku di museum.

Padahal radio merupakan jalan lain bagi keirianku pada teman-teman yang telah memiliki handphone. Aku ingin sekali memutar lagu koleksiku sendiri. Namun, karena belum mampu membelu, akhirnya radio menjadi pilihanku. Itu sudah cukup bagiku.

Saat aku meminta radio baru pada ibu, ia hanya menggeleng. Ia seolah pasrah dan tak sekalipun memberi janji bahwa kelak akan membelikan anaknya radio. Aku heran. padahal kedua orangtuaku setiap hari bekerja. bapak selalu membuka usaha percetakan dan ibu berjualan pakaian di pasar. Aku percaya, uang tak berhenti mengalir ke kantung mereka.

Mestinya pendapatan mereka tak akan berkurang bila harus menyisihkan sebagian uangnya membeli radio. Kenyataannya, mereka tampak kewalahan dalam memenuhi kebutuhan. Ibu selalu menampakkan raut muka cemberut, seakan bibirnya tak sanggup lagi menyunggingkan senyum setiap mengetahui betapa terbatasnya biaya menyambung hidup.

"Duit tiga puluh ribu kok langsung luss. Langsung habis," begitu biasanya ibu mendengus usai belanja di pasar.

Pernah aku persoalkan kondisi ini pada ibu dan bapak di ruang tamu.

"Kok kita serba kekurangan sih, Pak?"

"Apanya yang kurang?" Bapak balik bertanya.

"Buat beli radio saja nggak sempat."

"Karena kami tidak bekerja hanya untuk kamu."

"Benar. Kita mengutamakan kebutuhan di atas keinginan," ibu menimpali.

"Radio kan juga demi kebutuhanku."

"Nak, kebutuhan itu mengenal prioritas. Kamu mau nggak makan seminggu cuma buat beli radio."

Aku tahu kalau aku masih bisa menyanggah. Bahkan aku siap menerima risiko ditempeleng Bapak bila terus melawan. Sebab tujuanku masih sama: beli radio. Ya, sebelum sebuah ketukan menghentikan perbincangan kami.

Ibu beranjak dan membukakan pintu. Tanpa permisi dua orang pria dewasa langsung masuk ke dalam rumah. Mereka berkepentingan menemui bapak.

"Kami menunggu angsuran Bapak."

"Apa bisa diulur tiga hari lagi?"

"Maaf, Pak. Tapi sudah hampir sebulan Bapak menunggak." Ada penekanan pada kata menunggak yang terucap dari salah satu mereka.

"Baik, tunggu sebentar."

Sekilas mata Bapak melemparkan isyarat kepada ibu. Ibu lantas masuk ke dalam kamar, dan kembali dengan membawa sejumlah lembar Rp 10 ribu dan satu lembar Rp 5 ribu. Ibu menyerahkannya pada bapak.

"Ini baru ada tujuh puluh lima. Anda bisa ke sini lagi minggu depan."

Mereka menerimanya dengan dingin. Mmebuka catatan sejenak. Lalu berkemas hendak pergi.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

Setelah kedua pria itu hilang di balik pintu, aku menyadari maksud orangtuaku yang bekerja tidak hanya untuk anaknya semata.

***
DEMI mewujudkan keinginanku memiliki radio, aku mulai menabung setiap hari. Kuubah kaleng bekas biskuit menjadi celengan dengan menorehkan segaris lubang pada penutupnya, kemudian aku rutin mengisinya dengan uang jajanku sebanyak Rp 2 ribu. Aku rela menahan lapar di sekolah demi impian memperoleh radio baru.

Ibu dan bapak sengaja tak kuberi tahu agar mereka tidak ikut memikirkannya. Akan repot bila nanti mereka membantuku di saat kondisi keuangan keluarga tengah kritis.

Dalam sehari saja, ada tiga lintah darat berbeda yang singgah ke rumahku. Kedatangan mereka tak pernah diundang, sebagaimana jailangkung. Kami juga tak mengharapkannya karena sering merugikan. Tapi apa boleh buat? Tugas adalah tugas. Mereka melakukannya juga untuk mengejar target dari kantor demi menyelamatkan kariernya. Kami tak mungkin mengelak. Sudah menjadi risiko kami menanggung beban hutang akibat jatuhnya usaha percetakan Bapak setahun lalu.

***
SEMBARI menunggu uangku terkumpul, ada kesempatan lain bagiku untuk memiliki radio ketika kampungku menyelenggarakan jalan sehat berhadiah utama radio player. Aku membeli tiga kupon berupa bendera dari panitia agar setidaknya ada tiga harapan yang kugenggam.

Saat pengumuman dimulai, tak satu pun dari ketiga kuponku tertukar hadiah. Nomor yang diumumkan tidka pernah cocok, bahkan hingga pengumuman pengundian hadiah utama. Aku sudah frustasi. Hampir saja aku ingin membuang semuanya kalau telingaku salah menangkap hasil undian terakhir.

"234. Siapa yang merasa punya nomor 234 silakan maju ke depan mengambil hadiah utama, radio player" ujar salah seorang panitia di atas panggung.

Aku terperanjat. Nomor 234 adalah nomor kuponku. Aku segera berlari ke depan, beberapa panitia mengecek kuponku. Betul saja. Aku mendapat hadiah utama. Akhirnya aku memiliki radio player. Kudengar keluh kekecewaan dari orang-orang yang gagal mendapatkan hadiah utama. Wajah mereka menampakkan kekesalan. Aku merasa menjadi pemenang.

***
SELAMA tiga hari aku menikmati alunan musik dari radio baruku. Bahkan aku bisa memilih lagu kesukaanku karena ada tempat untuk memutar kaset di bagian depannya. Aku tak menyangka mendapatkannya. Kukira ini keberuntungan. Ibu dan bapak ikut sumringah.

Selama tiga hari itu, setidaknya aku merasakan kebahagiaan, karena pada hari keempat radio itu telah raib. Aku tak tahu apa sebabnya. Aku menduga radio tersebut digadaikan saat aku sedang tidak ada di rumah. Barangkali karena kejadian kemarin, saat beberapa lintah darat singgah ke rumah kami, merecoki bapak dan ibu yang kembali menunggak angsuran dua bulan.

 ❑ Sabtu, 26 Desember 2015

Ahmad Yasin. Alun-alun RT 38 RW 09, Purbayan Kotagede Yogyakarta 55173. Kelas XII Kejar Paket C di PKBM Wijaya Kusuma Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yasin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Januari 2016



0 Response to "Radio Penebus"