Rumah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:42 Rating: 4,5

Rumah

KARTA hanyalah seorang anak kecil yang suka memburu belut di lubang-lubang dekat pematang sawah atau selokan, juga berenang melawan arus sungai besar yang ketika pagi-pagi benar banyak udang berwarna kepedakan yang selalu dicari oleh banyak teman-temannya. Udang-udang itu kemudian tak hanya direbus bersama mi instan, tetapi juga untuk dilepas lagi atau diberikan sebelum umpan memancing atau pakan ayam kendati justru kucing yang memakan udang itu. Udang-udang itu pula yang menyebabkan ia harus meninggalkan kampung. Suatu hari, Karta pulang membawa banyak udang yang ditaruhnya pada sebuah botol bekas. Sambil bernyanyi-nyanyi, ia melangkahkan kaki dengan cukup cepat. Emaknya sangat suka udang. Kadang dicampur dengan tumis sayuran, atau nasi goreng, bahkan hanya direbus dan dimakan setelah ditaburi garam. Ia tiba di rumah ketika mendengar suara teriakan dari dalam. Itu teriakan Emak.

TONI berdiri di depan stasiun yang ramai, menunggu seseorang yang akan datang dari sebuah kampung yang jauh untuk menginap selama kurang lebih satu minggu. Ia sudah menduga bahwa hari-hari ke depan adalah hari yang tidak akan mudah untuk dihadapi.Rumahnya --yang baru saja dibeli kurang lebih satu bulan-- akan ditempati tak hanya oleh mereka berdua, tapi juga oleh Ibu Diana yang sebentar lagi akan keluar dari pintu gerbang berwarna putih itu. Dari kerumunan dan desakan-desakan, Toni melihat ciri-ciri mertuanya, tepat dengan apa yang disampaikan Diana melalui pesan singkat; batik terusan, tas tangan berwarna cokelat, dan sebungkus besar entah apa isinya. Mungkin hasil panen semacam singkong atau buah ara, favorit Diana.

Toni memang tidak pernah bertemu dengan mertuanya itu, bahkan ketika pernikahannya lima tahun yang lalu. Selain jarak antara kampungnya dengan kota terlampau jauh, Diana pernah mengatakan bahwa ibunya akan setuju saja ia menikah dengan siapapun sehingga kabar pernikahan hanya perlu dikirim melalui surat. Tapi, begitulah, kedatangannya kali ini untuk mendoakan rumah kami yang baru. Konon, hal seperti ini wajib dilakukan di kampungnya untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan di rumah baru tersebut.

Diana pernah bercerita bahwa suatu ketika keluargannya dulu, ketika ia masih kecil, tidak mengadakan doa dan selamat pada rumah bibinya yang baru dibangun dari hasilnya bekerja selama lima tahun di luar negeri sana. Menurut bibinya, bahkan doa dan selamatan tidak dilakukan oleh bosnya, tetapi tak ada hal-hal yang dikhawatirkan. Dua dari tiga anak bosnya bersekolah di Amerika, istrinya gemuk dan tak pernah terdengar sekali pun mengeluh. Mobil tak hanya dua, mungkin lima atau enam dan tersebar  di rumah-rumahnya. Bibi berpendapat, uang doa dan selamatan itu akan lebih berguna jika ditabung.

Tapi, tak sampai satu tahun setelahnya, bibi diberhentikan dari pekerjaannya. Ia ketahuan menggunakan agen tenaga kerja bodong, yang kabur membawa uang jaminan serta biaya penerbangan selanjutnya. Suaminya tak bisa lagi bermain kartu di terminal dan akhirnya tertangkap polisi karena kedapatan mengedarkan sabu di lingkungan anak-anak sekolah. Rumahnya ludes terbakar. Diana percaya, rummah itu dibakar dengan harapan bahwa suami dan bibinya itu tak akan bicara macam-macam di hadapan Polisi. Sejak saat itu, ibu Diana berjanji akan selalu mengadakan doa dan selamatan bagi rumah baru.

"Nak Toni?"

Toni tersenyum seraya mengangguk dan emncium tangannya. Toni memasukkan bawaannya ke dalam mobil. Ibu Diana duduk di depan dan kebingungan sebentar sebelum Toni memperlihatkan caranya mengenakan sabuk pengaman dengan benar.

"Panggil saja 'ibu', Nak."

**
DIANA tidak terlalu setuju dengan ide ini sebetulnya. Ia tidak percaya bahwa doa dan selamatan bisa menyebabkan kehidupan suatu rumah tangga berjalan baik. Diana hanya yakin, sebagaimana yang ia lihat, rekan-rekan kerjanya yang lebih tua darinya pun sama sekali tidak terlihat tidak bahagia. Mereka dapat bekerja dengan baik dan menikmati akhir pekan dengan berlibur bersama keluarga. Diana sering dengan hati-hati bertanya, apakah mereka mengadakan doa dan selamatan. Tak jarang mereka menjawab, "Aku lebih percaya pada kerja keras. Denagn itulah kebahagiaan akan datang."

Soal bibinya yang kemudian jatuh bangkrut dan kembali ke usaha pertanian, seperti sebelumnya, bagi Diana itu hanya persoalan cara. Seandianya dari awal bibinya tidak menggunakan agen tenaga kerja ilegal, Diana yakin, rumah tangga mereka akan baik-baik saja kendati tidka berdoa  dan selamatan di rumah baru itu. Dan sebuah kenyataan bahwa tetangga atau sanaknya yang lain tetap saja tidak berangsur kaya meskipun rajin melakukan doa dan selamatan pada rumah baru ataupun sehabis renovasi. Tapi, Toni meyakinkan Diana supaya mengizinkan ibunya mengadakan selamatan, Tidak akan terlalu mahal, kata Toni.

Diana sudah bekerja selama lima tahun dan termasuk salah satu pegawai yang naik pangkat dengan lekas. Diana menerima lamaran Toni yang saat itu bekerja sebagai kasir di sebuah pasar swalayan. Mereka saling mencintai setelah hanya melalui satu malam di sebuah pertandingan kesebelasan sepak bola yang sama-sama mereka sukai. Di mata Diana, Toni adalah seorang pria berkulit hitam manis dengan  rambut agak keriting yang pemalu dan terlihat tangguh untuk melakukan pekerjaan yang berat meskipun badannya dapat dikatakan tidak terlalu kokoh. Melihat Toni, Diana teringat pada kekasih pertamanya di kampung dahulu yang mati disambar petir ketika memetik buah ara di perkebunan milik perusahaan swasta, satu hari sebelum Diana berulang tahun.

Diana tak pernah meminta apa pun dari Toni yang bahkan hingga saat ini gajinya lebih kecil dari dirinya, kecuali izin untuk bekerja sampai larut malam. Diana tak kesulitan meyakinkan Toni bahwa pekerjaannya memang banyak dan rumit. Dengan begitu, Diana berharap Toni tak perlu banyak menduga macam-macam, sesering apakah Diana pergi ke klub malam sepulang kerja, meski memang cukup sering pula. Diana melakukan hal itu atas ajakan teman-temannya. Sepulang dari sana, meski sudah lewat tengah malam, meski lelah, Diana sudah siap pada kecupan Toni yang telah lama sabar menanti. Diana suka ketika Toni mengecup tanda lahirnya di bagian punggung, lalu menggeliat, dan lama.

**
IBU menggoyang-goyangkan kaki, duduk di sebuah kursi rotan yang diberi cat yang menampilkan kesan mewah, di teras depan. Ia cukup enikmati teh manis hangat yang disediakan pembantu rumah tangga meskipun itu tidak menghilangkan kekhawatiran pada Diana yang sampai larut belum juga sampai di rumah. Ibu selalu ingat bahwa Diana kecil, sebelum pindah untuk kuliah dan kini bekerja di kota, adalah seorang gadis dengan rambut poni dan berkuncir yang tidak mau keluar pada malam hari dan selalu memilih untuk belajar atau tidur. Bahkan ketika bulan purnama sedang terang, ia selalu menolak ajak teman-temannya untuk bermain-main di lapangan.

"Apa memang Diana selalu bekerja sampai malam hari, Nak Toni?"

"Begitulah, Bu. Semua ini adlaah keinginannya."

JIka tidak ingat anaknya adalah orang yang keras kepala, tentu ibu akan melanjutkan pertanyaannya Sebetulnya, ia ingin bertanya, mengapa harus Diana yang bekerja sampai larut dan mengapa Toni yang menjemputnya siang tadi. Jika bukan karena takut menyinggung perasaan dan tahu bahwa Toni pun bekerja di sebuah swalayan dan mengambil cuti hari ini, sudah pasti ibu akan bertanya, apa yang seharusnya seorang mertua tanyakan pada menantu lelakinya. Ibu yakin semua telah berjalan dengan baik meski --jika di kampung-- hal ini akan mengundang pembicaraan dan akan terus berjalan lebih baik sebab esok hari akan diselenggarakan suatu doa dan selamatan untuk rumah baru ini.

**
DIANA membanting pintu dengan sebuah tenaga yang menyebabkan lampu kristal di ruang tamu bergetar dan membuat Toni bergegas menyalakan sepeda motor. Toni saat itu berharap Diana belum pergi terlalu jauh dan tidak mengemudi dengan kecepatan yang tinggi. Malam sudah larut, bahkan beberapa jam lagi pagi akan datang. Sebetulnya, jika bukan karena ibu yang memintanya untuk mengejar Diana, Toni akan dengan senang hati untuk melanjutkan tidur sebagaimana biasa ketika Diana pulang dengan mata merah dan mulut yang menguarkan bau minuman beralkohol.

**
"SEMUANYA sudah selesai Toni!"

"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Kau pikir gajimu itu bisa melunasi semua utang kita? Bahkan mobil dan rumah baru itu masih menunggu puluhan juta . Oh, tidak. Mungkin juga ratusan, atau ribuan, atau..."

"Kau mabuk, Diana. Mari pulang dan mintalah maaf pada ibumu."

"Hah, ibu? Dia tak pernah menjadi ibuku. Untuk apa aku meminta maaf pada seorang yang selama ini hanya mengaku-ngaku? Dan kini, ketika melihat piaraannya sudah punya uang banyak, ia datang hanya untuk meminta bagiannya, sama seperti yang ia lakukan pada orang-orang lain."

"Kau terlalu banyak minum."

"Orang-orang bodoh itulah yang kebanyakan minum. Mereka pikir siapa, berani memecatku seenaknya?"

"Mari kita pulang, Sayang. Ibumu pasti khawatir menunggu terlalu lama."

"Jika aku pulang dan dia masih ada, akan kutampar lagi. Kali ini, pipi kirinya!

**
SESUNGGUHNYA Toni ingin membuat Diana mengerti bahwa hanya perempuan itu yang membuatnya tak ingin kembali pada masa-masa di mana malam menjadi tempat yang nyaman untuk menangis. Tapi, ia pun tak bisa menghalangi kekuatan itu muncul lagi, sebuah kekuatan yang entah dari mana asalnya, menyebabkan pagi kemarin rumahnya kedatangan polisi dan beberapa juru berita.

Toni sempat bersyukur bahwa berita tentang kematian seorang perempuan muda itu dibaca di bagian belakang surat kabar, bukan bagian muka. Ia membaca, sampai berita itu diturunkan, polisi masih menduga bahwa kematian perempuan itu karena bunuh diri disebabkan stres menghadapi cicilan utang dan pemecatan dari pekerjaannya.

Toni membaca berita itu dari sebuah kios koran di terminal. Ia baru saja menandaskan satu cnagkir kopi hitamnya. Ia kembali pada sebuah pikiran yang acap mengganggunya, bilamana ia kembali ke kampung sana, untuk berdoa di depan makam ibunya yang meninggal dua puluh tahun lalu. Saat itu, ibunya berjanji padanya untuk pergi dari rumah tanpa mengajak siapa pun lagi. Saat itu, ia ingat, betapa ia cukup pandai menghidangkan udang rebus pada ayahnya yang beberapa jam lalu memintanya untuk membantu mengubur istrinya di belakang rumah setelah mencekiknya sampai kehabisan napas. Saat itu, ia masih bernama Karta, sebelum mengganti namanya dengan nama ayahnya yang bernama Toni, yang ia tinggalkan ketika mulutnya berbusa setelah memakan udang rebus yang telah ia campur dengan pupuk.***

Azzam FA, lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2014. Beredar di Bandung dan Cianjur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Azzam FA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 10 Januari 2016