Sepelemparan Batu - Said yang Kembali - Aku dan Bumi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepelemparan Batu - Said yang Kembali - Aku dan Bumi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:15 Rating: 4,5

Sepelemparan Batu - Said yang Kembali - Aku dan Bumi

Sepelemparan Batu

bulan tampakkan dirinya
dengan wajah cabul penuh nafsu
lewat jalan Mmasjid raya dengan udara
dipengapi bau parfum murahan
dan keramaian yang sepi; walau Tuhan ada di antaranya
dan cekikikan itu, yang menggoda, yang merayu
hampiri aku yang lewat sepelemparan batu
dengan sarung, dan peci; lengkap sudah

“maksudmu?” sungguh retoris
“ya, hanya kita berdua,” godanya

aku tanggalkan sarung, peci
karena aku tak dikebiri

2014

Said yang Kembali

said datang
bawa pulang mulut berbau topi miring
digenggamnya sebuah kapak
bernoda darah
habis tebas kepala orang

pagi turun said pergi
bilang mau nafkahi anak biar pintar ngaji
said cium kening isteri
isteri tersipu; malam saja bang
tapi malam datang
polisi tangkap said
diringkus bak binatang buruan

sosok mayat ngambang di kali; tnapa kepala
disangkalah said
berkata itu isteri muda
minta uang cuma tak ada
maka nyawa menjawab
amis getih menyeruak di ruang kontrakan malam kemarin

kini said datang
setelah reranggas daun menutup halaman
setelah mentari beribu kali berpulang
minta maaf pada isteri, pada anak pintar ngaji
tak digubris ia
tapi Tuhan yang lebih dekat daripada urat leher
mengerti
said sudah kembali

2015

Aku dan Bumi

aku gambarkan diriku
sebagai bumi
hutan-hutan tumbuh bagai rambut;
terbakar api, panas serakah mengulum
gambut di bawahnya

tanah serupa wajahku
disana mengalir limbah-limbah industri,
minyak menggenang
para pemancing murung sebab ikan tak jua muncul
sampai senja habis
dimakan racun

kulitku makin berlubang
diambilnya lemak dan daging
rapuh tulang menjaga agar diriku tak jatuh

rasanya gatal ini makin mengakar
di syaraf-syaraf tubuhku
namun tak bisa kugaruk lantaran
karena-Nya manusia masih diberi kesempatan
buat kembali
sementara sebagian masih dihanyutkan
keserakahan
mungkin lupa bahwa sekali garuk
nikmatnya laut-laut bergejolak di atas
tubuhku
tanah serupa cermin pecah
dihantam citra diriku

2015


Fikry ’Ainul Bachtiar, tinggal di Majalengka


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fikry ’Ainul Bachtiar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 24 Januari 2016

0 Response to "Sepelemparan Batu - Said yang Kembali - Aku dan Bumi"