Sunyata - Bapak Mengerti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sunyata - Bapak Mengerti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:19 Rating: 4,5

Sunyata - Bapak Mengerti

Sunyata

Jika tiba-tiba aku mati di sini
dan tak sempat
mengatakan satu kata pun
pada dunia

sampaikan pada ibuku,
aku kalah bertarung,
menghadapi hidup dan nasib

dunia ini lebih mengerikan
dari pikiranku sendiri
dan jalan satu-satunya untuk merdeka
adalah tunduk pada nasib

penyair sepertiku,
tak harus mati
meninggalkan kata-kata

sebab aku tidak cukup
bijaksana atau gila,
untuk menertawakan dunia ini

dan jika ada yang memandang
siapa di atas bukit?
Jangan memandang kepadaku

Ia yang bijaksana,
tidak mengeluh
karena didesak hidup,
tidak mengutuk
karena diinjak tengkuk dan dahinya

ia terbebas dari segala sayatan
sanggup berdiri di atas
keheningan dan kekosongan

kutub, 2015

Bapak Mengerti 

Bapak mengerti
kapan air susut
kapan air pasang,

kapan ia datang
kapan ia pulang

bintang-bintang
di langit remang
menjadi pentunjuk jalan

di mana ikan,
di mana persinggahan

bapak mengerti
di laut, angin
bagai pengantin

di darat, ibu
bagai keparat

sebab ketika perahu merapat
ibu mendekat
mulut pun mengumpat

Gowok, 2015


Salfa Abidillah, mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, dan aktif mengelola LSKY (Lembaga Sastra Kutub Yogyakarta). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salfa Abidillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 24 Januari 2016


0 Response to "Sunyata - Bapak Mengerti"