Tuah Tinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tuah Tinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:57 Rating: 4,5

Tuah Tinta

TANGANNYA gemetar. Hatinya bergetar. Pandangan matanya, kabur. Kulit jemari tangannya, kebas. Mati rasa. Begitu mendengar perintah, Mas Lurah Sastrarengga langsung diliputi rasa takut. Pengageng Kawedanan Reksa Pustaka, Kanjeng Raden Tumenggung Wignyo Hadisusastra, telah memerintahkan menambahkan beberapa pupuh dalam Serat Sarasilah Kapunjanggan.

Pagi tadi, ketika ML Sastrarengga hendak memulai tugas harian menyalin kitab-kitab pusaka di Bangsal Reksa Pustaka, Kanjeng Wignyo memberinya selembar kertas berisi dua pupuh tembang. "Sisipkan pupuh ini seperti yang pernah saya minta!"

"Kanjeng, mohon maaf. Tugas saya hanya menyalin, tidak boleh memasukkan naskah baru. Ini pekerjaan mutrani, Kanjeng."

"Tugasmu juga mematuhi perintahku.

"Saya takut, Kanjeng."

"Tidak perlu takut. Ini tanggung jawabku. Tulis seperti yang aku mau!"

ML Sastrarengga merunduk. Ia tahu Kanjeng Rengga pejabat istana yang sakti, mistikus, punya banyak batu bertuah. Mendengar perintah itu, gemetaran. Tangannya yang telah memegang pena, penuh tinta basah bergetar. Ia buru-buru meletakkan penanya, takut tinta menetes di kertas kosong yang tergeletak di meja tulisnya. Kertas kiriman Kaisar Tiongkok, khusus digunakan untuk menyalin pustaka kuno.

Tahun ini, ML Sastrarengga harus dapat menyelesaikan penyalinan Serat Sarasilah Kapujanggan. Penyalinan ditulis tangan langsung dari buku induk yang mulai rapuh. Tradisi penyalinan harus memegang teguh adab adeg jejeg, tidak boleh menambah, mengganti, atau mengurangi. Pedoman etik itu selalu dipegang ML Sastrarengga dalam menyalin kitab-kitab pustaka. Suatu pekerjaan yang telah ditekuninya sejak 30 tahun silam. Di samping karena tulisan tangan ML Sastrarenngga sangat bagus, indah, dan enak dibaca, juga pengetahuan sastra tembang, sangat dikuasainya.

Sepanjang pengabdiannya, baru kali ini ada pengageng yang berencana menyisipkan naskah dalam salinan kitab pusaka. Dua pupuh tembang Dandanggula oleh Kanjeng Wignyo diminta menyisip di antara pupuh kedua dna ketiga naskah aslinya. Bagian ini meriwayatkan asal muasal leluhur para pujangga Jawa sebelum zaman tradisi kapujanggan masuk ke dalam birokrasi negara, sebagaimana tradisi keempuan dalam pembuatan keris.

Susastra dan tosan aji pusaka berkembang dalam tradisi kerakyatan. Tradisi kapujanggan ditarik masuk dalam tradisi kerajaan sementara tradisi keempuan dalam tosan aji tetap dibiarkan ada di kalangan rakyat. Tradisi susastra dalam masyarakat tinggal menyisakan tradisi lisan.

ML Sastrarengga tahu persis, asal usul kapujanggan punya nasab tiga lajur saja. Semua pujangga Jawa hanya berasal-usul dari tiga empu, yang melahirkan garis-garis Sedah-Panuluh, Parapanca, dan Kanwa. Secara tidak jelas, kronologi mereka ini dilajur ke arah Wyasa dan Walmiki. Pupuh tembang yang disodorkan Kanjeng Wignyo, menyiratkan adanya lajur keempat yang merupakan sempalan-sempalan rumit sehingga melahirkan garis-garis ke dalam pujangga yang dikenal di abad-abad akhir. Suatu masa yang sudah sangat dipengaruhi serat babad jinarwi dari kalangan petani pedesaan dan sujarah para ambya dari kalangan saudagar pesisiran.

"Kamu salin saja. tidak usah kau pikir. Sepenuhnya tanggung jawabku." Begitulah pesan berulang-ulang Kanjeng Wignyo. "Ini urusan politik kuasa, ramalan kuasa, dan peruntungan masa datang. Tempatkan dirimu sepenuhnya sebagai juru salin," perintah Kanjeng Wignyo berulang-ulang karena ML Sastrorenggo belum juga memulai menyalin naskah yang harus disisipkan itu.

Ml Sastrarengga bukan juru salin kemarin sore yang miskin pengalaman. Sebelum menyalin, ia selalu berulang membacanaskah aslinya. Begitupun, ketika selembar naskah dari Kanjeng Wignyo dibacanya berulang, terbersit dalam bayangan bahwa isi dari dua pupuh tembang Dandanggula itu, bisa menyesatkan.

"Ini pembelokan sejarah. Saya bukan takut padamu Kanjeng, tapi saya takut kepada sejarah masa depan. Saya berkhianat pada perjalanan hikayat, membelokkan riwayat sarasilah. Terlalu besar dosanya," bisik ML Sastrarengga kepada diri sendiri.

ML Sastrarengga teringat petuah Kanjeng raden Ngabehi Ranggadisastra, Pengageng Kawedanan reksa Pustaka terdahulu.

"Lurah Sastrarengga, sejarah itu semestinya meulis dirinya sendiri. Tetapi karena sejarah selalu yakin pada kekuatan kebenaran, maka ia tidak menuliskan dirinya tetapi membiarkan dirinya ditulis mereka yang punya kehendak, punya kepentingan, dan punya harapan besar kepada masa datang. Sejarah selalu ditulis mereka yang berpihak dan punya kepentingan," katanya ketika Sastrarengga baru berpangkat Jajar dan mulai mengabdi di Reksa Pustaka.

"Karena aku yakin kau tidak segera mengerjakannya, maka hari ini kamu salin dan aku tunggui. Lakukan!" Perintah Kanjeng Wignyo yang sudah duduk bersila di depan meja tulis yang biasa digunakan Sastrarengga niat menyalin naskah.

Kalung emas, berbandul batu akik besar tergantung di leher Kanjeng. Meja tulis, meja kerja rendah yang bisa dijangkau hanya dengan duduk bersila. Permukaan meja kayu itu agak miring dengan dataran atas berlubang untuk menaruh gelas cairan tinta Cina dan lekukan emmanjang untuk menaruh logam pen celup bergagang penyu. Meja kerja sehari-hari ML Sastrarengga.

Dengan segenap gemetaran yang ditahan-tahan, ML Sastrarengga mulai menyalin sehuruf demi sehuruf. Baris demi baris. Setiap kali menyelesaikan satu baris kalimat, ia menitikkan air mata. Kanjeng Wignyo kembali memerintah dengan suara keras setengah membentak. "Tidak perlu bersimbah air mata. Ini tentang nasibku, bukan nasibmu. Jadi tulis saja apa adanya!"

ML Sastrarengga terus menyalin. Lembar naskah bikinan Kanjeng Wignyo tergeletak di sisi kiri. Lembar kertas salinan yang telah diformat ukuran salinan naskah yang diselesaikan sebelumnya, terus terisi tarian tangan menuliskan kalimat salinan. Rupanya, ML Sastrarengga menulis kalimat semaunya saja, tidak meniru persis naskah pemberian Kanjeng wignyo.

Mula-mula Kanjeng Wignyo tidak terlalu memperhatikan, tetapi melihat Sastrarengga menulis sangat cepat, membuatnya curiga. Kanjeng Wignyo tahu kelakuan ML Sastrarengga. Marahnya meledak sambil teriak emmaki-maki ia menjungkirkan meja kerja Sastrarengga. Meja terbalik, kertas berceceran dan tinta tumpah seluruhnya. Tumpahan tinta mengguyur rata lembaran naskah buatannya.

"Bajingan kamu! Trarengga! Waduh, naskahku kena tinta semua. Wah... wah... blaik tenan ini!!!"

Meski diliput ketakutan, ML Sastrarengga masih punya kuasa beranjak dan berlari meninggalkan Reksa Pustaka. Kanjeng Wignyo meratapi naskah miliknya yang telah terguyur penuh tinta hitam, menutup semua tulisan yang dimintakan Sastrarengga menyalinnya. Semua larik kalimat dalam dua pupuh Dandanggula itu menjadi tak lagi bisa terbaca. Kanjeng Wignyo mendekap naskah miliknya itu rapat-rapat ke dadanya. Meremas-remasnya. Kertas basah tinta itu merapat dan berhimpit dengan batu akik besar yang terbandul dalam kalung emasnya.

Kanjeng Wignyo kemudian menyadari, kain akiknya terkena tinta hitam. Ia menjauhkan perlahan dua telapak tangannya yang meregam kertas basah tinta dari batu akiknya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Terngiang-ngiang pesan guru kesaktiannya, "Kekuatanmu akan lumpuh, kedudukanmu akan runtuh, kalau akik ini tersiram cairan tinta. Batu mustika ini tidak kuat melawan ganasnya pencatat sejarah. Cairan tinta."

Petang harinya, ML Sastrarengga sudah bersila duduk takzim di Bangsal Balemangu. Berhadapan dengan Pradata Nagri, untuk dimintai keterangan kesaksian-kesaksian terakhirnya bertemu Kanjeng Wignyo sebelum menemui ajalnya. Sejarah sedang berkehendak menulis dirinya. (k) 

Pengasih Kulonprogo, November 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Januari 2016



0 Response to "Tuah Tinta"