Tukang Cukur Terhormat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tukang Cukur Terhormat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Tukang Cukur Terhormat

TIDAK SEPATAH KATA pun keluar dari mulutnya ketika ia melangkah masuk. Saya sedang mengasah pisau cukur di kulit pengasah. Begitu saya sadar siapa yang masuk itu tubuh saya gemetar. Untung saja ia tidak memperhatikannya. Untuk menyembunyikan rasa takut, saya terus mengasah pisau. Setelah itu saya menguji ketajamannya di ibu jari saya dan kemudian mendekatkan pisau itu ke lampu.

Ketika itu ia melepas ikat pinggangnya yang penuh deretan peluru, ikat pinggang yang juga tempat pistolnya tergantung. Ia menggantungkan ikat pinggang itu pada gantungan di dinding lalu meletakkan topinya di atas ikat pinggang itu. Sambil melonggarkan ikatan dasinya ia berpaling menatap saya seraya berkata, “Panasnya luar biasa. Tolong cukur saya.” Kemudian ia duduk di kursi pangkas. 

Saya kira ia sudah tidak bercukur selama empat hari—empat hari yang dilaluinya dalam ekspedisi memburu pasukan kami. Wajahnya kelihatan merah terbakar matahari. Dengan hati-hati saya mempersiapkan sabun, saya memotong sabun dengan beberapa irisan, memasukkannya ke dalam mangkuk, mencampurnya dengan sedikit air panas dan mengocoknya dengan sikat. Dalam sekejap buih mulai menyembul.

“Teman-teman lain dalam pasukan juga sepanjang ini janggutnya,” ujarnya. 

Saya terus mengocok sabun di mangkuk.

“Tapi kami sukses. Tokoh-tokohnya kami tangkap. Sebagian tertembak mati dan sebagian lainnya masih hidup. Tapi tak lama lagi semuanya akan mampus.”

“Berapa banyak yang Anda tangkap?” tanya saya.

“Empat belas orang. Kami harus menyerbu ke tengah hutan untuk menangkap mereka. Tapi skor hampir sama. Tidak seorang pun dari mereka nanti bisa keluar dengan selamat.”

Ia menyandar ke punggung kursi ketika melihat saya telah siap dengan buih sabun. Saya belum mengenakan kain pelapis tubuhnya. Saya segera mengambil kain dari laci, meletakkannya di sekitar dadanya dan mengikatkannya di lehernya. Ia terus saja berbicara. Mungkin ia merasa saya bersimpati pada pihaknya. 

“Kota ini mestinya bisa menarik pelajaran dari apa yang telah kami lakukan,” katanya. 

“Betul,” sahut saya sambil membetulkan ikatan kain di lehernya yang hitam dan berpeluh.

“Pelajaran yang bagus, kan?”

“Sangat bagus,” ujar saya sambil menjangkau sikat. Lelaki itu menutup matanya dan menunggu saya menghapuskan buih sabun yang dingin itu. Ia kelihatan letih sekali. Saya tidak pernah sedekat itu dengan dia. Pada hari ia memerintahkan seluruh penduduk di kota itu berbaris di halaman sekolah untuk menyaksikan para pemberontak yang digantung di sana saya sempat bertatapan dengan dia sejenak. Tetapi menyaksikan orang tergantung seperti itu saya seakan lupa memperhatikan wajah orang yang memerintahkan penggantungan itu. Wajah yang kini ada di depan saya. 

Wajah itu sendiri menyenangkan dan janggut serta jambang itu yang membuat ia kelihatan lebih tua, sama sekali tidak sesuai di wajah itu. Namanya Torres—Kapten Torres. Lelaki penuh imajinasi. Betapa tidak, dialah orangnya yang memerintahkan penggantungan itu dan kemudian menjadikan mayat yang tergantung itu sebagai sasaran latihan menembak. 

Saya mulai memoleskan buih sabun ke wajahnya. Dengan mata tertutup ia terus berceloteh, “Sebenarnya saya mengantuk sekali, tetapi masih banyak yang harus dikerjakan sore ini.”

Polesan buih sabun saya hentikan sambil bertanya. Saya bersikap begitu rupa seakan-akan saya tidak tertarik pada keterangannya. “Regu tembak?”

“Ya, seperti itu. Cuma tidak tergesa-gesa.” 

Saya kembali memoles janggutnya. Tetapi tangan saya kembali menggeletar. Lelaki itu tampaknya tidak menyadari itu dan ini menguntungkan saya. Tetapi sebenarnya saya lebih senang kalau ia tidak datang ke tempat saya. Mungkin banyak teman-teman saya yang melihatnya masuk. Dan musuh yang berada di bawah atap seseorang bisa menimbulkan masalah. 

Saya berkewajiban mencukur jambang itu seperti halnya mencukur jambang orang lain, dengan hati-hati, dengan sopan, seperti memperlakukan para pelanggan lain, di samping harus menjaga jangan sampai ada pori-pori yang mengeluarkan setetes darah pun. Saya harus cermat sekali agar semua helai rambut terpotong. Dengan begitu setelah selesai wajah itu akan kelihatan bersih dan sehat, sehingga tidak sehelai rambut pun akan terasa di punggung tangan saya ketika saya mengeluskan punggung tangan itu ke pipi dan dagunya. Betul, secara rahasia sebenarnya saya seorang pemberontak, tetapi saya juga seorang tukang cukur sesungguhnya yang bangga dengan kerja saya yang rapi, yang dituntut dari seorang tukang cukur. 

Saya mengambil pisau cukur, melepaskan dari pembungkusnya dan mulai mencukur jambang di salah satu pipi lelaki itu. Pisau cukur saya meluncur dengan baik. Jambang lelaki itu cukup tebal tetapi tidak terlalu panjang. Sepotong demi sepotong wajahnya mulai kelihatan bersih.

Saya berhenti mencukur sebentar untuk membersihkan wajahnya, lalu mengambil kulit pengasah untuk mengasah pisau cukur saya. Itu saya lakukan karena saya adalah seorang tukang cukur yang melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. 

Lelaki itu, yang sejak tadi menutup matanya, kini membuka mata itu, mengeluarkan salah satu tangannya dari balik kain yang membungkus tubuhnya, lalu meraba bagian-bagian tertentu dari wajahnya yang telah bersih dari buih sabun. Kemudian terdengar suaranya, “Datanglah ke sekolah pukul enam hari ini.”

“Untuk melihat kejadian seperti dulu itu?” tanya saya cemas. 

“Mungkin lebih seru dari itu,” jawabnya. 

“Apa yang telah Anda rencanakan?”

“Saya masih belum tahu. Tapi kami akan menghibur diri kami sendiri.” Sekali lagi ia menyandarkan diri dan menutup matanya. Saya menghampirinya dengan pisau cukur di tangan.

“Anda bermaksud menghukum mereka semua?” Saya bertanya dengan malu.

“Semua.”

Buih sabun di pipinya telah mengering. Saya harus segera menyelesaikan tugas saya. Saya melihat ke jalan raya melalui cermin. Masih tetap seperti biasa—toko penjual barang pecah belah dengan dua pelanggan atau tiga pelanggan yang sedang berbelanja. Saya melihat jam, pukul 2.20 sore. 

Pisau cukur saya terus bekerja dengan gerakan dari atas ke bawah. Kini yang mendapat giliran adalah jambang di pipi sebelah lagi. Jambang lebat dan acak-acakan. Mestinya ia memelihara jambang dan janggut itu, seperti para penyair atau pendeta melakukannya. Kalau ia memeliharanya seperti itu pasti akan kelihatan sesuai. Banyak orang yang tidak akan mengenalnya. Ini akan menguntungkannya, pikir saya. 

Di bagian leher pisau cukur terus dipergunakan dengan hati-hati sekali, karena janggut di bagian ini agak keriting. Kalau tidak cermat mungkin saja ada pori-pori yang terluka dan mengeluarkan darah. Tapi, seorang tukang cukur yang baik akan berusaha agar itu tidak terjadi. 

Berapa banyak di antara kami yang telah diperintahkannya untuk ditembak? Berapa banyak di antara kami yang telah diperintahkannya untuk dirusak tubuhnya? Lebih baik hal itu tidak dipikirkan. Torres tidak menyadari, saya adalah musuhnya. Ia tidak tahu itu, juga teman-temannya. Ini rahasia yang hanya diketahui beberapa orang saja, agar saya dapat memberikan informasi kepada kaum revolusioner tentang apa yang dilakukan Torres di kota kami dan apa yang direncanakannya setiap kali ia melancarkan operasi mencari pemberontak. 

Karena itu sangat sukar menjelaskannya kepada siapa pun, mengapa orang yang telah berada di tangan saya, saya biarkan pergi dengan tenang, selamat dan dicukur rapi. 

Hampir semua janggutnya kini saya bersihkan. Ia tampak lebih muda beberapa tahun dibandingkan dengan ketika ia datang tadi. Saya kira hal seperti ini terjadi pada setiap orang yang telah selesai bercukur. Setelah bersentuhan dengan pisau cukur saya, Torres menjadi lebih muda—lebih muda karena saya adalah seorang tukang cukur yang baik, terbaik di kota kami, kalau saya boleh berkata begitu. 

Betapa makin panasnya hari ini. Tentulah Torres mandi peluh seperti halnya saya.

Tetapi ia orang yang tenang, yang bahkan tidak memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan para tawanan sore ini. Sebaliknya, saya dengan pisau cukur di tangan, dan menggunakan pisau itu di kulitnya tidak dapat berpikir dengan jelas. 

Sialan, mengapa ia datang ke sini! Saya orang revolusioner tapi bukan pembunuh. Dan betapa mudahnya untuk membunuhnya. Dan ia pantas dibunuh. Kan begitu? Tidak! Setan! Untuk menjadi seorang pembunuh orang tidak perlu membutuhkan pengorbanan orang lain. Apa yang akan diperoleh dari pembunuhan itu? Tidak ada. Yang lain dan yang lain lagi akan datang, lalu yang pertama akan membunuh yang kedua dan yang kedua ini akan menjadi korban yang ketiga—dan akan terus berlangsung seperti itu hingga segalanya menjadi lautan darah. 

Saya memang bisa saja menyayat tenggorokannya—zip, zip! Saya tidak akan memberikan kesempatan kepadanya untuk melawan dan karena matanya tertutup ia tidak akan menyaksikan pisau cukur yang berkilau atau mata saya yang menyala. Tetapi, saya gemetar seakan-akan saya seorang pembunuh sejati. Dari lehernya akan memancar darah yang membasahi kain penutup tubuhnya, ke kursi, ke tangan saya, ke lantai. Saya harus menutup pintu. Dan darah akan terus mengalir di lantai, hangat, tidak dapat dilenyapkan, tidak tertahan, hingga darah itu mencapai jalan raya bagaikan arus kecil berwarna merah. 

Saya yakin, dengan sekali hunjaman, sekali torehan yang dalam, rasa sakit akan dapat dilenyapkan. Ia tidak akan menderita. Tapi apa yang akan saya lakukan dengan mayat itu? Di mana saya akan menyembunyikannya? Saya harus melarikan diri, meninggalkan semua milik saya dan mencari perlindungan di tempat yang jauh. Tetapi mereka akan mencari terus hingga saya ditemukan. “Pembunuh Kapten Torres. Ia menyayat tenggorokan Torres ketika kapten itu sedang bercukur—pengecut.”

Dan kemudian di pihak lain. “Ia membalaskan dendam kita semua. Sebuah nama yang harus dikenang. Ia seorang tukang cukur di kota ini. Tidak seorang pun tahu, ia membela perjuangan kita.”
Pembunuh atau pahlawan? Nasib saya tergantung di ujung pisau cukur ini. Saya bisa saja menekan pisau cukur ini lebih keras dan membenamkannya di leher lelaki ini. 

Kulit ini akan begitu lembut seperti sutra, seperti karet. Tidak ada yang lebih lembut daripada kulit manusia dan darah itu senantiasa di sana, siap untuk muncrat. 

Tetapi saya tidak ingin menjadi pembunuh. Dia datang kepada saya untuk bercukur. Dan saya melaksanakan tugas saya dengan terhormat …. Saya tidak ingin tangan saya berlumur darah. Berlumur buih sabun boleh saja. Dia memang tukang jagal, tetapi hanya saya tukang cukur. Setiap orang mempunyai tempatnya sendiri dalam setiap pekerjaan. 

Kini dagunya telah bersih dan rapi. Lelaki itu berdiri dan menatap cermin. Ia mengelus pipinya dengan tangannya dan ia merasakan kesegaran itu. 

“Terima kasih,” ujarnya. Ia melangkah menuju tempat gantungan di dinding untuk mengambil ikat pinggangnya, pistolnya dan topinya. Baju saya kuyup dengan peluh dan saya merasa wajah saya pucat sekali. Torres mengenakan ikat pinggangnya, membetulkan letak pistolnya dan setelah merapikan rambutnya ia mengenakan topi. Dari saku celananya ia mengambil sejumlah uang logam dan memberikannya kepada saya sebagai pembayar jasa yang saya berikan dan kemudian ia melangkah ke pintu.

Di jalan menuju pintu itu ia berhenti dan berkata: “Mereka bilang kamu akan membunuh saya. Saya datang untuk membuktikannya. Tetapi membunuh bukanlah pekerjaan mudah. Percayalah pada omongan saya.”

Setelah itu ia berpaling dan terus melangkah.


Alih bahasa: Sori Siregar


Hernando Téllez (1908-1966) Eseis dan penulis cerita pendek Colombia ini dilahirkan di Bogota. Sebagai penulis is pernah bekerja di beberapa majalah terkemuka negara itu di samping pada beberapa surat kabar, pernah bertugas sebagai Konsul Colombia di Marseilles, Prancis, dan sebagai senator. Reputasi literarnya dikenal terutama melalui kumpulan cerita pendeknya yang terbit setelah ia berusia di atas 40 tahun: Cenizas para le viento y otras historias (1950). Tellez juga dikenal sebagai eseis terkemuka dalam membahas berbagai hal. (Matra, Februari 1990)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hernando Téllez
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Februari 1990

0 Response to "Tukang Cukur Terhormat"