Yang Pernah Hilang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Yang Pernah Hilang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:53 Rating: 4,5

Yang Pernah Hilang

"ILYA, kamu mungkin percaya atau tidak. Di kelasku ada cowok keren tapi pendiam. Sumpah." Tiba-tiba saja Annisa mengagetkanku dengan beberapa omelannya ketika aku sedang duduk di bawah pohon beringin di samping sekolahan sewaktu istirahat.

"Tumben kok kamu bahas cowok," kataku ketus.

"Ya iyalah. Ilya. Cowok itu beda. Beda banget. Ya, awalnya sih aku nggak ngurusin sama sekali. Tetapi speerti apa ya, aku nggak bisa njelasin. Pokoknya tiba-tiba aku tertarik."

Sesugguhnya, temanku bernama Annisa ini sangat cerewet memang. Untung saja kecerewetanya itu dibarengi dengan kepandaiannya. Tetapi meskipun cerewet, ia tak pernah sama sekali membahas yang namanya cowok. Baru kali ini ia membicarakan itu. Seperti siang-siang ada petir.

"Tarik napas dulu. Pelan-pelan ngomongnya, ntar keselek."

Annisa mendekatiku. Ia diam sejenak, ambil napas, seperti apa yang kukatakan. Kemudian tersenyum dan itu kelihatan sangat cantik. Temanku sejak sekolah dasar itu memang dari dulu cantik . Banyak cowok yang menyukainya, tetapi ia tak ambil peduli. Ia lebih sering berkutat pada buku-buku. Buku apa saja kecuali buku pelajaran sekolah. Ia menyukai novel-novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan buku-buku ilmiah. 

"Kamu tahu, Il." Ia berbisik di telingaku seakan-akan apa yang dibicarakan ini patut dirahasiakan dari orang-orang. "Aku jatuh cinta!"

"Ha! Kamu jatuh cinta?" Spontan aku berteriak. Orang-orang juga ada yang menoleh. Tetapi kemudian sibuk lagi dengan keperluannya masing-masing.

"Stttt, jangan kenceng-kenceng dong." Ia menaruh telunjuknya di bibirku.

"Sumpah, Sa. Aku gak nyangka banget."

"Aku juga nggak nyangka kok. Apalagi kamu."

"Bentar-bentar. Aku perlu menanyakan sesuatu nih."

"Iya, tanyakan saja sekarang." Annisa sangat antusias. Ia terlalu bersemangat. Jemari-jemarinya  ia remas sendiri dan itu membuatku penasaran.

"Cepat ceritakan bagaimana kronologinya kamu jatuh cinta. Aku nggak percaya kamu cuma jatuh cinta hanya gara-gara orang itu keren doang. Banyak cowok keren yang cinta sama kamu, kamu tolak semuanya."

"Bukan kutolak, Il. Cuma aku belum mencintai mereka."

"Ya, ya, pokoknya itulah intinya." Aku nggak terima pembicaraanku dipotong. "Apa cowok yang kamu sukai itu pintar, cerdas, militan, kreatif, sederhana, kaya, atau semuanya bisa."

"Gini. Mulanya...." pembicaraan Annisa berhenti. Matanya memandang seseorang yang berjalan ke sini. "Il, diterusin besok saja ya." Ia merapikan pola duduknya.

Huh. Kenapa orang itu datang pada waktu yang tidak tepat. Mengganggu saja.

"hai, Il. Hai, Annisa." Sapanya dengan mimik muka yang sudah sangat aku kenali.

"Sedang ngomongin apa sih. Kok kayaknya serius banget." Ia mendekatiku. Kemudian duduk di sampingku. Ia pacarku, namanya Iqbal.

Annisa kemudian pamit pergi. "Haha. Ntar mengganggu pembicaraan kalian."

"Annisa..." panggilku saat ia melangkah dengan berlari kecil.

"Biarkan dia pergi." Iqbal menyahut.

Aku tahu antara Annisa dan Iqbal ada masalah. Dari dulu sejak jadi pacarku, Annisa selalu saja mengatakan kalau dia kurang setuju. Bagaimana cocoknya, aku orang yang menyukai kesederhanaan dan Iqbal orangnya boros dan mewah-mewahan, kata Annisa.

Seminggu berlalu tapi Annisa belum pernah menemuiku. Aku mencari di kelasnya juga tidak ada. Apakah ia tidak pernah masuk ke sekolah lagi atau masuk tetapi selalu menghindar jika aku ke kelasnya. Aku jadi bingung. Apa salahku? Aku SMS tidak dibalas dan aku telepon nomernya tidak diaktifkan. Aku harus bagaimana ini?

"Heh, ngapain bengong di sini!" bentak seseorang dari belakang ketika aku sedang melamun di taman sekolahan.

"Sial. Kirain kamu sudah minggat," jawabku setelah tahu itu Annisa.

"Tuh, tuh, lihat cowok itu. Keren kan." Ia tiba-tiba menunjuk seseorang yang tidak menghadap ke sini. "Ya Allah, Ilya. Kemarin kamu tahu nggak?"

"Ya nggak tahulah pesekkkk. Kamu aja ngilang kayak ditelan bumi," potongku ketus.

"Dia kemarin ngungkapin perasaannya coba." Annisa girang tak kepalang. "Dan kami akhirnya jadian."

Dilihat dari belakang, cowok itu sepertinya aku pernah mengenali. Tetapi tidak. Aku tak boleh sok tahu. Aku bahagia temanku ini jatuh cinta, ya paling tidak dia sama dengan aku. Sama-sama pacaran.

"Galuh," panggil Annisa pada cowok itu.

Dadaku terasa bergemuruh. Ketika ia melihat ke sini. Deg. Jantungku seakan mau copot. Galuhkah itu? Orang yang dulu pernah aku cintai sewaktu di kelas dua SMP di kotaku?

"Hai."

"Eh, kenalin ini temanku," kata Annisa.

"Lho, Ilya?"

"Galuh?"

"Kalian sudah saling kenal?" Tetapi suara Annisa tidak kami hiraukan. Mungkin saja Galuh mengingat-ingat masa lalu seperti aku saat ini.

Aku mengenal Galuh  sejak kelas satu SMP. Orangnya sangat baik. Kami mulanya berkirim-kiriman surat dan puisi. Ia juga menceritakan perjalanannya dari Bali ke kotaku. Kenapa ia malah pindah dari kotanya. Semuanya ia curahkan padaku lewat surat-surat itu. Aku juga seperti Galuh. Menceritakan apa yang ingin aku ceritakan. Akirnya kami jatuh cinta dan pacaran pada waktu kelas dua.Tetapi pas lulu SMP ia pergi. Katanya mau pulang ke Bali. Ibunya sakit dan harus dioperasi.

Setelah itu kabarnya tidak kuketahui lagi. Kini ia datang lagi setelah lama menghilang. Kini kami sama-sama kelas dua dan tak tahunya bertemu kembali di Surabaya ini. Bertemu dengan Galuh, tiba-tiba perasaanku yang dulu muncul kembali. Kemdudian pertemuan ini bubar karena bel sekolahan telah berbunyi.

Lima hari setelahnya, Galuh mengirimiku surat lagi. Dadaku berdebar membukanya. Di situ tertulis:

Maukah kau bercerita seperti dulu. Menulis puisi bersamaku. Aku merindukanmu. Aku masih cinta kamu.

Lama sekali aku memandangi surat itu. Aku juga mempunyai perasaan yang sama. Aku berpacaran dengan Iqbal sama saja seperti tidak berpacaran. Kemudian aku sadar, aku harus melakukan sesuatu. Diiringi tetes air mata yang membasahi pipiku, tanganku menulis surat jawaban. Tanpa berpikir panjang apa balasan galuh nanti.

Tetapi kau milik orang lain. Aku tak ingin melukai hati sahabatku sendiri. Sahabat sejatiku. 

Luluk Nur Sayyidatin Nisa' Gang Sunan Ampel no 7 Surabaya. Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya jurusan PMI. Gabung Teater UnSa dan FLP Surabaya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Luluk Nur Sayyidatin Nisa'
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 Januari 2016


0 Response to "Yang Pernah Hilang"