Bayangan Terbalik | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bayangan Terbalik Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:16 Rating: 4,5

Bayangan Terbalik

Tiga Hukum Robot
1: Sebuah robot tidak boleh mencelakai seorang manusia atau, karena kelalaian, menyebabkan seorang manusia celaka.
2: Sebuah robot harus mematuhi perintah-perintah yang diberikan manusia kepadanya, kecuali jika perintah-perintah tersebut bertentangan dengan Hukum Pertama.
3: Sebuah robot harus melindungi keberadaan dirinya sendiri sepanjang perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan Hukum Pertama dan Kedua.

LIJE BALEY baru saja memutuskan untuk menyalakan kembali pipa cangkelongnya ketika pintu kantornya terbuka tanpa ada ketukan atau pemberitahuan dalam bentuk apa pun sebelumnya. Baley memandang dengan amat jengkel dan kemudian menjatuhkan pipanya. Pipa yang dibiarkan tergeletak di tempatnya dan terjatuh berbicara banyak tentang keadaan pikirannya saat itu. 

“R. Daneel Olivaw,” katanya, dengan kegembiraan yangspa mengejutkan. “Jehoshaphat! Itu adalah Anda, bukan?”

“Anda sangat benar,” kata pendatang baru yang tinggi dan berwarna perunggu itu, roman mukanya yang rata tidak pernah kerlap-kerlip sekejap pun karena ketenangannya yang terlatih. “Saya menyesal telah mengejutkan Anda dengan masuk tanpa memberi tahu lebih dahulu, tapi situasinya sulit dan keterlibatan di pihak manusia dan robot haruslah sesedikit mungkin meskipun di tempat ini. Bagaimanapun saya senang bertemu Anda kembali, kawan Elijah.”

Dan robot itu mengulurkan tangan kanan dengan sikap semanusiawi penampilannya. Baleylah yang menjadi begitu tidak manusiawi oleh keterkejutannya dengan memandangi tangan itu dalam ketidakpahaman sesaat. 

Tetapi kemudian ia menyambut tangan itu dalam kedua tangannya, merasakan kekokohannya yang hangat. “Tapi Daneel, mengapa? Anda dipersilahkan untuk datang kapan saja, tetapi—situasi yang bagaimana yang kau makusd situasi sulit ini? Apakah kita dalam kesulitan lagi? Bumi, maksudku?”
“Tidak, kawan Elijah, ini tidak menyangkut Bumi. Situasi yang kumaksud sebagai situasi sulit adalah yang menyangkut penampilan luar, hal kecil. Suatu sengketa antara para ahli matematika, tidak lebih dari itu. Karena suatu hal yang sangat kebetulan, kami berada pada suatu jarak Loncatan yang mudah dari Bumi—“

“Jika demikian sengketa ini berlangsung dalam sebuah kapal luar angkasa?”

“Ya, betul. Suatu sengketa kecil, namun sangat besar bagi manusia yang terlibat.”

Baley tak dapat menahan senyumnya. “Saya tidak terkejut jika Anda mendapatkan manusia itu mengherankan. Mereka tidak mematuhi Tiga Hukum itu.”

“Sebetulnya, hal itu merupakan suatu kelemahan,” kata R. Daneel dengan payah, “dan saya kira manusia itu dibingungkan oleh sesama manusia itu sendiri. Mungkin Anda tidak sebingung jika dibandingkan dengan orang-orang dari dunia lain, karena lebih banyak manusia yang tinggal di Bumi daripada di dunia makhluk angkasa luar. Jika demikian, dan saya yakin memang demikian, Anda dapat menolong kami.”

R. Daneel berhenti sejenak dan kemudian berkata, barangkali suatu perlindungan yang terlalu dini, “Namun ada aturan-aturan tingkah laku manusia yang telah saya pelajari. Misalnya, tampaknya saya kurang memahami etiket menurut ukuran standar manusia dengan tidak menanyakan tentang istri dan anakmu.”

“Mereka baik-baik saja. Anak lelakiku menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan Jessie sibuk dengan urusan politik lokal. Semua kebutuhan diperhatikan. Sekarang ceritakan padaku bagaimana Anda sampai ke sini.”

Seperti yang saya katakan, kami berada dalam suatu jarak Loncatan yang mudah dari Bumi,” kata R. Daneel, “jadi saya usulkan pada Kapten untuk berkonsultasi dengan Anda.”

“Dan Kapten menyetujuinya?” Baley mendapatkan suatu gambaran yang tiba-tiba tentang kapten pesawat ruang angkasa penerbangan antar bintang, yang angkuh dan otokratis yang menyetujui pendaratan di Bumi—dari semua dunia—dan berkonsultasi dengan seorang manusia Bumi—dari semua manusia.

“Saya yakin,” kata R. Daneel, “bahwa ia berada dalam suatu posisi di mana ia harus menyetujui apa saja. Di samping itu, saya sangat memuji Anda; meskipun untuk lebih meyakinkannya saya hanya menyatakan yang sebenarnya. Akhirnya saya setuju untuk melakukan semua perundingan supaya tak satu pun dari awak pesawat, atau penumpang, perlu memasuki kota-kota manusia Bumi.”

“Dan berbicara dengan manusia Bumi mana pun, ya. Tapi apa yang telah terjadi?”

“Para penumpang pesawat angkasa luar, Eta Carina, menaikkan dua ahli matematika yang sedang dalam perjalanan menuju Aurora untuk menghadiri sebuah konperensi neurobiofisik antar bintang. Tentang dua orang ahli matematika, Alfred Barr Humboldt dan Gennao Sabbat, inilah pesengkataan itu terpusat. Barangkali Anda pernah mendengar salah satu, atau kedua mereka ini?”

“Tak seorang pun,” kata Baley dengan mantap. “Saya tidak mengetahui apa-apa tentang matematika. Begini Daneel, Anda tentu belum menceritakan pada siapa pun bahwa saya bukan seorang penggemar matematika atau—“

“Sama sekali belum, kawan Elijah. Saya tahu Anda bukan penggemar matematika. Itu tidak menjadi soal, karena sifat matematis yang terlibat di sini tidak mempunyai relevansi sama sekali dengan pokok masalah yang disengketakan.”

“Baiklah, kalau begitu teruskanlah.”

“Karena Anda tidak mengenal satu pun dari mereka, kawan Elijah, izinkanlah saya mengatakan pada Anda bahwa Dr. Humboldt telah jauh memasuki dekade kedua puluh tujuh—maafkan saya, kawan Elijah?”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa,” kata Baley, dengan marah. Ia hanya berkomat-kamit tak karuan pada diri sendiri sebagai reaksi wajar terhadap masa hidup yang panjang dari makhluk ruang angkasa (Spacers) itu. “Dan meskipun tua, ia masih aktif? Di Bumi, ahli matematika setelah usia tiga puluhan atau lebih ….”

Daneel berkata dengan tenang: “Dr. Humboldt adalah satu dari tiga ahli matematika top dengan reputasi yang mapan sejak lama di Galaxy. Tentu saja ia masih aktif. Sebaliknya Dr. Sabbat masih sangat muda, belum lima puluh tahun, tapi ia telah memantapkan dirinya sebagai bakat muda yang paling mengagumkan dalam cabang matematika yang paling sulit.”

“Kedua-keduanya hebat kalau begitu,” kata Baley. Ia ingat pipanya dan memungutnya. Ia menganggap tak ada gunanya menyalakannya sekarang dan membersihkan sisa abu tembakau di mulut pipanya. “Apa yang terjadi? Apakah ini kasus pembunuhan? Apakah salah seorang dari mereka jelas-jelas membunuh yang lainnya?”

“Dari kedua lelaki yang memiliki reputasi hebat ini, salah satu di antaranya berusaha merusak reputasi yang lainnya. Menurut nilai-nilai kemanusiaan, saya yakin, ini dapat dianggap lebih buruk daripada pembunuhan fisik.”

“Kadang-kadang saya menduga-duga. Yang mana yang mencoba merusak yang lainnya?”

“Mengapa, itu, kawan Elijah, adalah masalah yang dipersoalkan sebenarnya. Yang mana?”
“Teruskanlah.”

“Dr. Humboldt menceritakan cerita itu dengan jelas. Tak lama setelah ia naik pesawat ruang angkasa itu, ia mendapatkan gagasan tentang kemungkinan penggunaan suatu metode penganalisa jalur-jalur saraf dari perubahan dalam pola-pola penyerapan gelombang mikro dari daerah-daerah lapisan cortex lokal. Gagasan itu betul-betul suatu teknik matematis murni yang luar biasa peliknya, tapi tentu saja saya tidak dapat mengerti atau menyampaikan secara jelas rincian-rinciannya. Bagaimanapun ini tidaklah menjadi masalah. Dr. Humboldt menganggap masalah itu dan setiap jam bertambah yakin bahwa ia memiliki suatu gagasan yang revolusioner, sesuatu yang akan mengkerdilkan semua pencapaiannya yang telah lalu dalam bidang matematika. Kemudian ia mendapatkan Dr. Sabbat di pesawat yang sama.”

“Ah. Dan ia mencobakannya pada Sabbat yang muda?”

“Persis. Keduanya telah pernah berjumpa pada pertemuan-pertemuan profesional sebelumnya dan mengenal satu sama lain secara mendalam melalui reputasi. Humboldt mempelajari hal itu dengan Sabbat secara terperinci. Sabbat mendukung analisa Humboldt secara penuh dan tak habis-habisnya memuji pentingnya penemuan itu dan kecerdikan si penemu. Berbesar hati dan diyakinkan begitu, Humboldt menyiapkan paper ikhtisar secara ringkas mengenai karyanya itu, dan dua hari kemudian menyiapkan pengajuannya secara lokal angkasa luar pada kelompok ketua konperensi di Aurora, dalam usahanya agar dapat memantapkan secara resmi prioritasnya dan merencanakan kemungkinan diskusi sebelum pertemuan ditutup. Betapa terkejutnya ia menemukan bahwa Sabbat telah siap dengan sebuah papernya sendiri, yang pada pokoknya sama dengan paper Humboldt, dan Sabbat juga menyiapkan papernya itu untuk diajukan pada pertemuan Aurora.”

“Saya kira Humboldt marah.”

“Sangat!”

“Dan Sabbat? Bagaimana ceritanya?”

“Persis sama dengan cerita Humboldt. Kata demi kata.”

“Kemudian apa yang menjadi masalah?”

“Kecuali untuk penggantian nama-nama yang dibuat terbalik. Menurut Sabbat, dialah yang memiliki gagasan, dan dia yang berkonsultasi dengan Humboldt; Humboldtlah yang menyetujui analisa itu dan memujinya.”

“Kemudian masing-masing menuntut dan mengakui bahwa ide itu miliknya dan bahwa yang lainnya mencuri. Bagi saya kedengarannya amat sepele. Dalam hal-hal yang menyangkut dunia keilmuan, tampaknya hanya diperlukan menunjukkan catatan (dokumen) penelitian, diberi tanggal dan diparaf. Penghakiman menyangkut prioritas dapat dibuat berdasarkan itu. Meskipun seseorang itu dipalsukan, hal itu dapat diketahui melalui ketidak taat-azasan internal.”

“Biasanya, kawan Elijah, apa yang Anda katakan itu bisa jadi benar, tapi ini matematika, dan bukan ilmu pengetahuan eksperimental. Dr. Humboldt menuntut bahwa ia telah menyusun hal-hal pokok di kepalanya. Tidak ada yang ia tuliskan sampai ia menyiapkan paper itu. Dr. Sabbat tentu menyatakan hal yang persis sama.”

“Wah, kalau begitu perlu lebih tegas dan diselesaikan dengan cara yang lebih meyakinkan. Lakukan penyelidikan paranormal atas masing-masing mereka dan temukan yang mana dari keduanya yang berbohong.”

R. Daneel menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, “Kawan Elijah, Anda tidak mengerti kedua orang ini. Mereka berdua berkedudukan dan ilmuwan yang berkelas, Anggota Imperial Academy. Mereka tidak dapat diadili karena perbuatan keprofesian, kecuali oleh suatu dewan juri yang terdiri dari rekan-rekan mereka—rekan-rekan profesional mereka—kecuali jika mereka secara pribadi dan dengan suka rela melepaskan hak istimewa itu.”

“Lakukan hal itu pada mereka kalau begitu. Orang yang bersalah tidak akan melepaskan haknya karena ia tak akan mampu menghadapi penyelidikan paranormal. Orang yang tak bersalah akan segera melepaskan hak itu. Anda bahkan tidak akan memerlukan penyelidikan itu.”

“Tidak begitu caranya, teman Elijah. Melepaskan hak dalam kasus demikian—diselidiki oleh orang-orang awam—adalah suatu pukulan yang serius terhadap prestise dan mungkin tak dapat disembuhkan. Kedua lelaki itu bersiteguh menolak untuk melepaskan hak untuk diadili pengadilan khusus karena menyangkut harga diri. Masalah bersalah, atau tak bersalah, merupakan hal sampingan.”

“Kalau begitu, biarkan saja sekarang. Peti eskan saja masalahnya sampai Anda tiba di Aurora. Di konperensi neurobiofisika, akan ada sejumlah besar rekan profesional, dan kemudian—“

“Itu akan berarti suatu pukulan yang amat besar pada ilmu pengetahuan itu sendiri, kawan Elijah. Kedua lelaki ini akan menderita karena menjadi alat skandal. Bahkan yang tak bersalah pun akan disalahkan karena telah menjadi pihak dalam suatu situasi yang begitu menjijikkan. Akan disesalkan mengapa tidak diselesaikan dengan cara diam-diam di luar pengadilan bagaimanapun caranya.”

“Baiklah. Saya bukan warga angkasa luar, tapi saya akan mencoba membayangkan bahwa sikap ini dapat diterima akal. Apa yang dikatakan oleh mereka yang bersengketa?”

“Humboldt setuju sepenuhnya. Ia berkata bahwa jika Sabbat mengakui pencurian gagasan itu dan membiarkan Humboldt untuk terus dengan penyampaian paper itu—atau setidaknya penampilannya di konperensi itu, ia tidak akan memaksakan tuduhan itu. Kelakuan tak senonoh Sabbat akan tetap dirahasiakannya; dan tentu juga oleh kapten, yang merupakan satu-satunya manusia lain yang merupakan bagian dari sengketa itu.”

“Tapi Sabbat yang muda tidak akan setuju?”

“Sebaliknya ia sependapat dengan Dr. Humboldt sampai ke hal yang sekecil-kecilnya—mengenai pembalikan nama-nama. Masih bayangan terbalik.”

“Jadi mereka hanya duduk di sana, tak menemui jalan keluar?”

“Saya yakin, kawan Elijah, masing-masing mereka sedang menunggu yang lainnya untuk menyerah dan mengakui kesalahannya.”

“Yah, kalau begitu, tunggu saja.”

“Kapten telah memutuskan bahwa hal ini tidak dapat dibiarkan. Anda tahu, ada dua alternatif sebagai akibat menunggu. Yang pertama bahwa keduanya akan tetap membandel, sehingga sewaktu pesawat mendarat di Aurora, skandal intelektual ini akan pecah. Kapten, yang bertanggung jawab atas keadilan di atas pesawat akan menanggung malu karena tidak dapat menyelesaikan persoalan ini secara diam-diam, dan hal itu baginya sungguh suatu hal yang tak tertanggungkan.”

“Dan alternatif kedua?”

“Apakah yang satu atau lainnya dari ahli matematika itu akan mau bersungguh-sungguh mengakui kesalahannya. Apakah yang mengaku salah itu betul-betul mengaku karena sungguh-sungguh salah, atau karena keinginan mulia untuk mencegah skandal? Tidakkah salah menghapuskan penghargaan pada orang yang cukup etis untuk lebih memilih kehilangan penghargaan itu daripada harus melihat ilmu pengetahuan menderita secara keseluruhan? Jika tidak, pihak yang bersalah akan mengaku pada saat terakhir, dan sedemikian rupa sehingga tampak bahwa ia melakukan itu hanya untuk ilmu pengetahuan, sehingga ia terhindar dari aib perbuatannya dan melemparkan bayangannya pada orang lain. Kapten hanya satu-satunya orang yang mengetahui semua ini, tapi ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya merenungkan apakah ia telah menjadi satu pihak dari kegagalan peradilan yang aneh sekali itu.”

Baley mendesah. “Suatu permainan intelektual pengecut. Siapa yang pecah lebih dahulu manakala Aurora semakin dekat dan dekat? Itulah cerita lengkapnya sekarang. Daneel?”

“Tidak persis. Ada saksi-saksi atas transaksi itu.”

“Jehoshaphat! Mengapa tidak kau katakan saja sekalian. Saksi-saksi apa?”

“Pelayan pribadi Dr. Humboldt—“

“Sebuah robot, saya kira.”

“Ya, tentu. Namanya R. Preston. Pelayan, R. Preston ini hadir pada konperensi pertama dan ia mendukung Dr. Humboldt dalam segala hal.”

“Maksudmu ia mengatakan bahwa gagasan itu gagasan Dr. Humboldt; bahwa Dr. Humboldt menjelaskannya secara terperinci pada Dr. Sabbat; bahwa Dr. Sabbat memuji gagasan itu, dan seterusnya.”

“Ya, sepenuhnya.”

“Saya mengerti. Apakah hal itu menyelesaikan persoalan ini atau tidak? Barangkali tidak.”

“Anda sangat benar. Itu tidak menyelesaikan masalahnya, karena ada saksi kedua. Dr. Sabbat juga memiliki pelayan pribadi, R. Idda, robot lain yang kebetulan modelnya sama seperti R. Preston, dan saya yakin, dibuat dalam tahun dan di pabrik yang sama. Keduanya telah mengabdi sama lamanya.”

“Suatu kebetulan yang ganjil—amat ganjil.”

“Suatu kenyataan yang menurut saya menyulitkan untuk sampai pada suatu pertimbangan berdasarkan atas perbedaan-perbedaan yang jelas antara kedua pelayan itu.”

“R. Idda pun menceritakan kisah yang sama seperti R. Preston?”

“Cerita yang sama persis, kecuali pembalikan nama-nama.”

“R. Idda menyatakan bahwa Sabbat muda yang belum berusia lima puluh tahun”—Lije Baley tidak mempertahankan nada sengit suaranya secara keseluruhan; ia sendiri belum berusia lima puluh tahun dan ia merasa jauh dari muda—“pertama-tama memiliki gagasan; bahwa ia menjelaskannya secara terperinci pada Dr. Humboldt yang memuji-muji dengan gencar, dan seterusnya.”

“Ya, kawan Elijah.”

“Kalau begitu salah satu robot berbohong.”

“Tampaknya demikian.”

“Seharusnya lebih mudah menentukan yang mana yang berbohong. Saya kira dengan pemeriksaan luar saja seorang ahli robot yang baik dapat melakukannya—“

“Seorang ahli robot tidak cukup dalam hal ini, kawan Elijah. Hanya seorang ahli jiwa robot yang cukup berkualitas dan berpengalaman dapat mengambil suatu keputusan dalam kasus sepenting ini. Tidak ada seorang pun yang cukup ahli di pesawat itu. Pemeriksaan yang seperti itu hanya dapat dilaksanakan saat kami tiba di Aurora—“

“Dan sebelum saat itu tiba, aib ini sudah akan tersebar. Yah, tapi Anda berada di sini di Bumi. Kita dapat mencari seorang ahli jiwa robot, dan tentu, apa pun yang terjadi di Bumi tidak akan pernah mencapai telinga-telinga di Aurora dan tak akan ada skandal.”

“Kecuali bahwa, baik Dr. Humboldt, maupun Dr. Sabbat tidak akan mengizinkan pelayannya diselidiki oleh seorang ahli jiwa robot Bumi. Manusia Bumi harus—“ Ia berhenti.

Lije Baley berkata dengan tenang, “Ia harus menyentuh robot itu.”

“Ini adalah pelayan-pelayan tua, sangat dihormati—“

“Dan tidak boleh dinodai oleh sentuhan manusia Bumi. Persetan, lantas apa yang Anda inginkan saya lakukan?” Ia berdiam sejenak, menyeringai. “Maaf, R. Daneel, tapi saya tidak melihat alasan mengapa Anda melibatkan saya.”

“Saya berada di pesawat dalam suatu misi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah ini. Kapten itu berpaling padaku karena ia harus berpaling pada seseorang. Saya tampak cukup manusiawi untuk diajak bicara, dan cukup robotis untuk menjadi penerima rahasia yang aman. Ia menceritakan keseluruhan cerita dan menanyakan apa yang akan kulakukan. Saya sadar bahwa Loncatan berikutnya dapat membawa kami ke Bumi semudah mencapai tujuan kami. Saya katakan hal itu pada Kapten, meskipun saya sama saja bingungnya dengan dia dalam memecahkan bayangan terbalik itu, ada seorang di Bumi yang mungkin dapat membantu.”

“Jehoshaphat!” Baley berkomat-kamit perlahan.

“Pertimbangkanlah, kawan Elijah, bahwa jika Anda berhasil dalam memecahkan teka-teki ini, akan bermanfaat bagi karirmu dan Bumi itu sendiri mungkin akan memetik manfaatnya. Masalah ini tidak dapat dipublisir tentunya, tapi Kapten itu cukup berpengaruh di dunianya sana dan ia akan sangat berterima kasih.”

“Anda hanya menambah beban mental yang lebih besar padaku.”

“Saya memiliki segala keyakinan,” kata R. Daneel dengan tenang, “bahwa Anda sudah memiliki gagasan mengenai prosedur yang harus diikuti.”

“Sungguh? Saya kira prosedur yang jelas adalah mewawancarai kedua ahli matematika itu, satu di antaranya akan tampak seperti seorang pencuri.”

“Saya khawatir, kawan Elijah, bahwa tak seorang pun di antara mereka akan datang ke kota ini. Tidak juga mereka menginginkan Anda datang kepada mereka.”

“Dan tidak ada cara memaksa seorang warga angkasa luar untuk mengadakan hubungan dengan makhluk Bumi, betapapun gawatnya persoalan itu. Ya, saya mengerti itu, Daneel—tapi saya memikirkan suatu wawancara dengan televisi closed-circuit.”

“Tidak juga itu. Mereka tidak akan menyerah untuk diinterogasi makhluk Bumi.”

“Kalau begitu, apa yang mereka inginkan dariku? Dapatkah saya berbicara dengan robot-robot itu?”
“Mereka juga tidak akan mengizinkan robot-robot itu kemari.”

“Jehoshaphat, Daneel. Anda telah datang.”

“Itu keputusanku sendiri. Saya mendapat izin saat berada di pesawat untuk mengambil keputusan demikian tanpa veto dari manusia mana pun, kecuali Kapten itu sendiri—dan dia berkeinginan untuk mengadakan hubungan. Saya, karena sudah mengenalmu, memutuskan bahwa hubungan televisi saja tidak cukup. Saya ingin berjabat tangan denganmu.”

Lije Baley menyambut. “Saya hargai hal itu, Daneel, tapi saya terus terang saja masih lebih suka jika Anda tidak memikirkan saya sama sekali dalam hal ini. Dapatkah saya berbicara dengan robot-robot itu, paling tidak lewat televisi?”

“Saya kira, itu bisa diatur.”

“Paling tidak, sesuatu. Itu berarti saya akan melakukan pekerjaan psikologis robot—dengan cara yang kasar.”

“Tapi Anda seorang detektif, kawan Elijah, bukan psikolog robot.”

“Yah biarkan sajalah. Sekarang sebelum saya menghubungi mereka, mari berpikir sedikit. Katakan padaku: adakah kemungkinan bahwa kedua robot itu menceritakan yang sebenarnya? Mungkin percakapan antara kedua ahli matematika itu kurang jelas. Mungkin hal itu bersifat sedemikian rupa, sehingga masing-masing robot sejujurnya percaya bahwa tuannya sendiri adalah pemilik gagasan itu. Atau barangkali salah satu robot mendengar hanya sebagian saja dari pembicaraan itu dan yang lainnya mendengar bagian yang lain, sehingga masing-masingnya dapat menduga bahwa tuannya adalah pemilik gagasan itu.”

“Itu sangat tidak mungkin, kawan Elijah. Kedua robot mengulang percakapan itu dengan cara yang sama. Dan kedua pengulangan itu pada pokoknya tidak konsisten.”

“Kalau begitu, sangat mungkin bahwa salah satu robot berbohong?”

“Ya.”

“Dapatkah saya melihat transkrip dari semua bukti yang diberikan sebegitu jauh dengan dihadiri Kapten, jika saya menghendakinya?”

“Saya telah menduga Anda akan meminta itu dan saya memiliki dua salinan pada saya sekarang.”

“Karunia yang lain. Sudahkah robot-robot itu diperiksa ulang sama sekali, dan apakah hasil pemeriksaan ulang itu dicantumkan dalam transkrip?”

“Robot-robot itu hanya mengulang cerita-cerita mereka. Pemeriksaan ulang hanya akan dilakukan oleh ahli jiwa robot.”

“Atau oleh saya sendiri?”

“Anda seorang detektif, kawan Elijah, bukan seorang—“

“Baiklah, R. Daneel. Saya akan mencoba mendapatkan psikolog ruang angkasa langsung. Seorang detektif dapat melakukan itu karena ia bukan seorang psikolog robot. Mari berpikir lebih jauh. Biasanya sebuah robot tidak akan berbohong, tetapi ia akan melakukan itu jika diperlukan untuk mempertahankan Tiga Hukum Robot itu. Ia mungkin berbohong untuk melindungi, dengan cara yang sah, keberadaannya sendiri menurut Hukum Ketiga. Ia lebih mudah berbohong jika itu diperlukan untuk mengikuti suatu perintah yang sah yang diberikan seorang manusia kepadanya menurut Hukum Kedua. Ia paling pandai berbohong jika itu diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan seorang manusia, atau jika mencegah marabahaya yang akan menimpa seorang manusia menurut Hukum Pertama.”

“Ya.”

“Dan dalam hal ini, masing-masing robot akan mempertahankan reputasi profesional tuannya, dan akan berbohong jika diperlukan. Dalam keadaan itu, reputasi profesional akan hampir setara dengan kehidupan dan mungkin ada keadaan yang mendesak yang hampir sama dengan mendesaknya Hukum Pertama bagi kebohongan itu.”

“Namun dengan kebohongan itu, masing-masing pelayan akan mencelakakan reputasi profesional dari tuan robot lainnya, kawan Elijah.”

“Jadi demikianlah yang akan terjadi, tapi masing-masing robot mungkin memiliki konsepsi yang lebih jelas mengenai nilai dari reputasi tuannya sendiri, dan dengan jujur menganggap atau menilainya lebih hebat dari reputasi yang lainnya. Kerugian akan lebih kecil atau ringan jika ia berbohong daripada jika ia berterus-terang menurut pemikirannya.”

Setelah mengatakan hal itu Lije Baley berdiam diri selama beberapa saat. Kemudian ia berkata, “Baiklah, jika demikian, dapatkah Anda merencanakan suatu percakapan bagi saya dengan salah satu robot itu—dengan R. Idda dulu, saya kira?”

“Robot Dr. Sabbat?”

“Ya,” kata Baley dengan acuh tak acuh, “robot sobat muda itu.”

“Saya hanya membutuhkan tidak lebih dari beberapa menit,” kata R. Daneel. “Saya memiliki sebuah pesawat penerima mikro yang dilengkapi dengan sebuah proyektor. Saya hanya akan membutuhkan dinding kosong dan saya kira yang ini cukuplah jika Anda mengizinkan saya memindahkan sebagian lemari film ini.”

“Silakan. Apakah saya harus berbicara dengan melalui semacam mikropon?”

“Tidak, Anda akan dapat berbicara dengan cara yang biasa. Maafkan saya, kawan Elijah, karena penundaan yang lebih lama. Saya harus menghubungi pesawat dan menyiapkan R. Idda untuk diwawancarai.”

“Jika hal itu akan menyita cukup banyak waktu, Daneel, bagaimana kalau saya meminta bahan tertulis dari bukti yang ada sebegitu jauh.”

Lije Baley menyalakan pipanya sementara R. Daneel menyiapkan peralatan, dan membolak-balik lembaran-lembaran tipis yang diberikan padanya.

Menit-menit pun bergulir dan R. Daneel berkata, “Jika Anda siap, kawan Elijah, R. Idda juga. Atau Anda memerlukan beberapa menit lagi dengan transkrip itu?”

“Tidak,” Baley mendesah, “saya tidak mendapatkan sesuatu yang baru. Hubungkanlah dengannya dan usahakan untuk merekam wawancara itu dan menuliskannya.”

R. Idda, yang tidak nyata dalam proyeksi dua-dimensi di dinding, pada pokoknya berstruktur seperti logam—sama sekali tidak berupa makhluk menyerupai manusia seperti halnya R. Daneel. Tubuhnya tinggi tapi seperti balok, dan tidak banyak yang bisa dibedakan dari kebanyakan robot yang pernah dilihat Baley, kecuali untuk struktur bagian kecil yang tak penting.

Baley berkata, “Salam, R. Idda.”

“Salam, Pak,” kata R. Idda, dengan suara yang dihaluskan yang kedengarannya tak dinyana mirip manusia.

“Anda adalah pelayan pribadi Gennao Sabbat, ya kan?”

“Betul, Pak.”

“Sudah berapa lama, buyung?”

“Selama dua puluh dua tahun, Pak.”

“Dan reputasi tuanmu bernilai bagimu?”

“Ya, Pak.”

“Apakah Anda menganggap penting melindungi reputasi itu?”

“Ya, Pak.”

“Melindungi reputasinya sama pentingnya dengan melindungi kehidupan fisiknya?”

“Tidak, Pak.”

“Melindungi reputasinya sama penting dengan melindungi reputasi orang lain?”

R. Idda ragu-ragu. Dia berkata, “Hal-hal seperti itu harus diputuskan atas dasar manfaatnya masing-masing, Pak. Tidak ada cara menetapkan peraturan secara umum.”

Baley ragu-ragu. Robot-robot angkasa luar ini berbicara lebih halus dan lebih intelektual daripada robot-robot buatan Bumi. Ia tidak yakin sama sekali bahwa ia dapat berpikir lebih baik daripada robot itu.

Katanya, “Jika kau memutuskan bahwa reputasi tuanmu lebih penting daripada reputasi orang lain, katakanlah, reputasinya Alfred Barr Humboldt, apakah Anda berbohong untuk melindungi reputasi tuanmu?”

“Akan saya lakukan, Pak.”

“Apakah Anda berbohong dalam kesaksian Anda menyangkut tuanmu dalam sengketanya dengan Dr. Humbolt?”

“Tidak, Pak.”

“Tapi jika Anda berbohong, Anda akan mengingkari bahwa Anda berbohong untuk melindungi kebohongan itu, bukan?”

“Ya, Pak.”

“Nah, jika demikian,” kata Baley, “mari pertimbangkan hal ini. Tuanmu Gennao Sabbat, adalah seorang ahli matematika muda dengan reputasi yang hebat, tapi ia orang muda. Jika, dalam kontroversinya dengan Dr. Humboldt ini, ia telah menyerah pada godaan dan bertindak secara tidak etis, ia akan menderita kemerosotan reputasi, tapi ia masih muda dan punya cukup waktu untuk memperbaiki diri. Ia akan mendapatkan banyak kemenangan-kemenangan intelektual di masa depan dan orang-orang pada akhirnya akan melihat atau menganggap usaha plagiat ini semata-mata karena kesalahan anak muda yang berdarah panas, kurang pertimbangan. Sesuatu yang akan dapat ditutupi dengan pencapaian lain di masa depan.”

“Jika, sebaliknya, Dr. Humboldt yang mengalah pada godaan, masalahnya akan menjadi jauh lebih serius. Ia seorang tua yang reputasinya telah menyebar selama berabad-abad. Reputasinya tanpa cacat hingga saat ini. Tapi semua itu akan terlupakan karena kejahatan di usia tuanya ini, dan ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki reputasinya dalam waktu yang relatif singkat dalam sisa hidupnya. Hanya sedikit yang masih bisa ia capai. Begitu banyak waktu rusak dalam kasus Humboldt jika dibandingkan dengan tuanmu, dan kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali ke posisi semula jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tuanmu. Anda mengerti, bukan, bahwa Humboldt menghadapi situasi yang paling buruk dan pantas mendapat pertimbangan yang lebih besar?”

Ada keheningan yang panjang. Kemudian R. Idda berkata, dengan suara tak berubah, “Bukti saya adalah kebohongan. Dr. Humboldtlah yang memiliki karya itu, dan tuanku telah mencoba dengan cara yang salah untuk merampas penghargaan atas karya tersebut.”

Baley berkata, “Bagus, buyung. Anda diminta untuk tidak mengatakan apa-apa mengenai hal ini sampai diberi izin oleh Kapten pesawat. Anda bebas.”

Layar kosong dan Baley mengisap pipanya, “kau kira Kapten mendengar itu semua, Daneel?”

“Saya yakin begitu. Ialah satu-satunya saksi, selain kita.”

“Bagus. Sekarang untuk yang lainnya.”

“Tapi adakah artinya itu, kawan Elijah, mengingat apa yang telah diakui oleh R. Idda?”

“Tentu saja ada. Pengakuan R. Idda tidak ada artinya.”

“Tidak ada artinya sama sekali. Saya jelaskan bahwa posisi Dr. Humboldt lebih buruk. Sudah sewajarnya jika ia berbohong untuk melindungi Sabbat, ia akan beralih ke kebenaran seperti yang sesungguhnya ia tuntut ia telah lakukan. Sebaliknya, jika ia menceritakan yang sesungguhnya, ia akan beralih ke kebohongan untuk melindungi Humboldt. Ia masih merupakan bayangan terbalik dan kita belum memperoleh apa-apa.”

“Lantas apa yang akan kita peroleh dengan menanyai R. Preston?”

“Tidak ada, jika bayangan terbalik itu sempurna, tapi ia tidak. Bagaimanapun, salah seorang robot menceritakan yang sesungguhnya, dan yang satu berbohong, dan itu merupakan suatu titik tak simetris. Izinkan saya menghubungi R. Preston. Dan jika transkripsi pemeriksaan R. Idda selesai berikan kepada saya.”

Proyektor dipergunakan lagi. R. Preston memandang keluar darinya; sama dengan R. Idda dalam segala segi, kecuali untuk rancangan dada yang tidak begitu penting. 

Baley berkata, “Salam, R. Preston.” Ia menaruh rekaman pemeriksaan R. Idda di hadapannya sewaktu ia bicara. 

“Salam, Pak,” kata R. Preston. Suaranya sama dengan suara R. Idda.

“Anda pelayan pribadi dari Alfred Barr Humboldt, bukan?”

“Betul, Pak.”

“Sudah berapa lama, buyung?”

“Selama dua puluh dua tahun, Pak.”

“Dan reputasi tuanmu bernilai bagimu?”

“Ya, Pak.”

“Apakah Anda menganggapnya penting untuk melindungi reputasi itu?”

“Ya, Pak.”

“Samakah pentingnya melindungi reputasinya dengan kehidupan fisiknya?”

“Tidak, Pak.”

“Samakah pentingnya melindugi reputasinya dengan reputasi orang lain?”

R. Preston ragu-ragu. Ia berkata, “Kasus-kasus demikian harus diputuskan berdasarkan manfaatnya masing-masing, Pak. Tidak ada sama sekali cara menetapkan suatu peraturan secara umum.”

Baley berkata, “Jika Anda memutuskan bahwa reputasi tuanmu lebih penting daripada reputasi orang lain, katakanlah reputasi Gennao Sabbat, akankah Anda berbohong untuk melindungi reputasi tuanmu?”

“Akan saya lakukan, Pak.”

“Apakah Anda berbohong dalam kesaksianmu menyangkut tuanmu dalam sengketanya dengan Dr. Sabbat?”

“Tidak, Pak.”

“Tapi, kalaupun Anda berbohong, Anda akan mengingkari bahwa Anda berbohong, untuk melindungi kebohongan itu, bukan?”

“Ya, Pak.”

“Baiklah kalau begitu,” kata Baley, “mari pertimbangkan ini. Tuanmu, Alfred Barr Humboldt adalah seorang tua dengan reputasi besar dalam bidang matematika, tapi ia seorang yang telah tua. Jika dalam sengketa dengan Dr. Sabbat ini, ia menyerah pada godaan dan bertindak secara tidak etis, ia akan mengalami suatu kemunduran reputasi, tapi umurnya yang telah tua dan pencapaiannya selama berabad-abad akan menentang itu dan akan menang. Orang mungkin akan melihat usaha plagiat ini sebagai kesalahan dari seorang lelaki tua yang sakit, yang tidak lagi yakin akan pertimbangannya.

“Jika sebaliknya, Dr. Sabbatlah yang menyerah pada godaan, persoalannya akan menjadi lebih serius. Ia seorang lelaki muda, dengan reputasi yang jauh dari mapan. Sedianya, ia akan memiliki waktu berabad-abad di masa depan, di mana ia dapat mengumpulkan pengetahuan dan meraih hal-hal yang besar. Hal ini akan tertutup baginya sekarang karena dibayangi oleh satu kesalahan di masa muda. Ia akan kehilangan masa depan yang lebih panjang daripada kehilangan tuanmu. Anda mengerti, bukan, bahwa Sabbat menghadapi situasi lebih buruk dan pantas mendapatkan pertimbangan yang lebih besar?”

Ada keheningan yang panjang. Kemudian R. Preston berkata, dengan suara tak berubah, “Bukti saya adalah seperti saya—“

Pada saat itu ia memutuskan hubungan dan tidak mengatakan apa-apa lagi. 
Baley berkata, “Tolong lanjutkan, R. Preston.”

Tidak ada jawaban.

R. Daneel berkata, “Saya khawatir, teman Elijah, bahwa R. Preston berada dalam keadaan statis (tak dapat bergerak). Ia rusak.”

“Baiklah, kalau begitu,” kata Baley, “kita akhirnya telah menghasilkan suatu asimetri. Dari sini kita dapat melihat siapa yang bersalah.”

“Dalam hal apa, kawan Elijah?”

“Pikirkanlah! Misalkan Anda seorang yang belum pernah melakukan kejahatan dan robot pribadi adalah saksi bagi Anda. Tak ada yang perlu Anda lakukan. Robotmu akan mengatakan yang sebetulnya dan menyokong Anda. Namun, jika Anda seorang yang telah melakukan kejahatan, Anda akan bergantung pada robot Anda untuk berbohong. Itu merupakan posisi yang agak lebih besar resikonya, karena meskipun robot itu akan berbohong, jika diperlukan, kecenderungan yang lebih besar adalah untuk berterus terang, sehingga kebohongan itu akan kurang kokoh daripada kebenaran. Untuk mencegah hal itu, orang yang melakukan kejahatan sangat berkemungkinan harus memerintahkan robotnya untuk berbohong. Dengan begitu, Hukum Pertama akan diperkuat Hukum Kedua; mungkin sangat diperkuat.”

“Tampaknya beralasan,” kata R. Daneel.

“Misalkan kita punya robot dari masing-masing tipe. Robot yang satu akan beralih dari kebenaran, tidak diperkuat, ke kebohongan, dan dapat bertindak demikian setelah sedikit ragu-ragu, tanpa kesulitan yang berarti. Robot yang lain akan beralih dari kebohongan, sangat diperkuat, ke kebenaran, tapi hanya dapat bertindak demikian hanya dengan meresikokan terbakarnya berbagai jalur-jalur positronis di otaknya dan jatuh ke dalam keadaan statis.”

“Dan karena R. Preston menjadi statis—“

“Tuan R. Preston, Dr. Humboldt, orang yang bersalah melakukan plagiat. Jika Anda menyampaikan hal ini pada Kapten dan menekannya untuk menghadapi Dr. Humboldt dengan masalah ini segera, ia mungkin dapat memaksakan pengakuan. Jika demikian, saya harap kau menceritakannya segera.”

“Tentu saya akan melakukannya. Kau akan memaafkan saya, kawan Elijah? Saya harus berbicara dengan Kapten secara pribadi.”

“Tentu saja. Gunakan ruang konperensi yang terlindung itu.”

Baley tidak dapat melakukan apa-apa dengan ketidakhadiran R. Daneel. Ia duduk gelisah dalam kediaman. Banyak yang akan tergantung pada nilai analisanya, dan ia benar-benar menyadari kekurang-tahuannya tentang dunia robot.

R. Daneel kembali dalam waktu setengah jam—sangat mungkin merupakan masa setengah jam yang terasa paling lama dalam hidup Baley. 

Tentu saja tidak ada gunanya mencoba menentukan apa yang telah terjadi dari ekspresi muka yang menyerupai manusia namun tak berperasaan itu. Baley mencoba menjaga agar wajahnya tetap tenang, tanpa ekspresi.

“Ya, R. Daneel?” ia bertanya.

“Persis seperti apa yang Anda katakan, kawan Elijah. Dr. Humboldt telah mengaku. Ia berharap, katanya, Dr. Sabbat akan memberinya jalan dan membiarkan Dr. Humboldt mendapatkan satu kemenangan terakhir. Krisis ini telah berakhir dan Anda akan menemukan Kapren sangat berterima kasih. Ia telah mengizinkan saya untuk mengatakan bahwa ia sangat mengagumi kecerdikan Anda dan saya yakin bahwa saya sendiri akan mendapatkan penghargaan karena telah mengusulkan Anda.”
“Bagus,” kata Baley, yang lututnya lemas dan keningnya basah sekarang, bahwa keputusannya telah terbukti benar, “tapi Jehoshaphat, R. Daneel, jangan taruh saya pada posisi yang sulit seperti itu lagi, ok?”

“Saya akan coba untuk tidak lagi, kawan Elijah. Semuanya tergantung, tentunya pada pentingnya suatu krisis, dekatnya Anda, dan pada faktor-faktor tertentu lainnya. Sementara itu, saya mempunyai pertanyaan—“

“Ya?”

“Tidakkah mungkin untuk menduga bahwa jalan dari suatu kebohongan menuju kebenaran itu mudah, sementara jalan dari kebenaran menuju kebohongan itu sulit? Dan dalam hal itu, tidakkah robot dalam statis telah berjalan dari suatu kebenaran menuju kebohongan, dan karena R. Preston berada dalam statis, tidak mungkinkah seseorang menarik kesimpulan bahwa Dr. Humboldtlah yang tak bersalah dan Dr. Sabbat yang bersalah?”

“Ya, R. Daneel. Mungkin saya mempertengkarkannya begitu, tapi argumentasi yang lainlah yang terbukti benar. Humboldt betul-betul mengaku, bukan?”

“Betul. Tapi dengan argumetasi yang mungkin dari dua arah, bagaimana Anda, kawan Elijah, begitu cepat memilih yang benar?”

Untuk sesaat, bibir Baley berkedutan. Kemudian ia tenang kembali dan bibirnya membentuk senyuman. “Karena, R. Daneel, saya mempertimbangkan reaksi-reaksi manusia, bukan reaksi robot. Saya lebih banyak tahu tentang manusia daripada tentang robot. Dengan kata lain, saya memiliki pemikiran sehubungan dengan ahli matematika yang mana yang bersalah sebelum saya mewawancarai robot-robot itu. Begitu saya memancing suatu respons asimetris dalam diri mereka, saya hanya mengertikannya sedemikian rupa dengan maksud untuk menempatkan kesalahan pada yang saya yakini bersalah. Respons robotisnya cukup dramatis untuk mematahkan orang yang bersalah; analisis saya tentang tingkah laku manusia mungkin tidaklah cukup untuk melakukan hal itu.”

“Saya merasa penasaran ingin mengetahui bagaimana analisismu tentang tingkah laku manusia?”

“Jehoshaphat, R. Daneel: berpikir, dan Anda tak perlu bertanya. Ada hal lain tentang asimetris dalam kisah bayangan terbalik ini di samping persoalan salah-dan-benar. Ada persoalan umur dari kedua ahli matematika itu; yang satu sangat tua dan yang satu sangat muda.”

“Ya, tentu, terus?”

“Mengapa ini. Saya dapat memahami seorang muda, tiba-tiba dirasuki oleh gagasan revolusioner yang mencengangkan, mendiskusikannya dengan seorang tua yang telah ia anggap setengah dewa dalam bidang itu, sejak masa-masa ia masih menjadi mahasiswa. Saya tidak dapat menerima pemikiran tentang seorang lelaki tua, kaya dengan penghargaan dan terbiasa dengan kemenangan-kemenangan, muncul dengan gagasan revolusioner yang mencengangkan secara tiba-tiba, berkonsultasi dengan seorang lelaki yang usianya berabad-abad lebih muda darinya, yang ia cenderung anggap sebagai seorang pemuda yang congkak—atau istilah apa saja yang digunakan oleh makhluk angkasa luar. Kemudian, juga, jika seorang lelaki muda memiliki kesempatan, akankah ia mencoba mencuri gagasan dari seorang setengah dewa yang dihormati? Sulit dibayangkan. Sebaliknya, seorang lelaki tua, sadar akan kekuatannya yang merosot, berkemungkinan sekali merampas suatu kesempatan terakhir untuk mendapatkan kemashuran dan menganggap seorang bayi dalam bidangnya tidak pantas atas hal-hal yang biasa ia dapatkan. Secara ringkas, adalah suatu hal yang sulit diterima akal bahwa Sabbat mencuri gagasan Humboldt; dari kedua sudut pandang itu, Dr. Humboldt bersalah.”

R. Daneel mempertimbangkan hal itu dalam waktu yang lama. Kemudian mengulurkan tangannya. “saya harus berangkat sekarang, kawan Elijah. Senang bertemu dengan Anda. Semoga kita bertemu lagi segera.”

Baley menggenggam erat tangan robot itu dengan hangat. “Jika Anda tdak keberatan, R. Daneel,” katanya, “jangan terlalu cepat.”


Alih bahasa oleh Drs. Majelis, MSLS, dari judul asli “Mirror Image

Isaac Asimov dianggap sebagai salah seorang penulis fiksi ilmiah terbesar abad ini, dan juga penyumbang yang besar bagi dunia ilmu pengetahuan. Ia mendapatkan gelar Ph.D. dalam bidang Ilmu Kimia dari Columbia University (1948), dan meskipun ia tidak lagi tinggal di daerah Boston, ia adalah seorang Lektor Kepala dalam bidang Biokimia di Boston University. Ia telah menerima banyak penghargaan atas tulisan-tulisan ilmiahnya yang menggugah inspirasi dalam berbagai bidang ilmu. (Matra, April 1990)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Isaac Asimov yang dialihbahasakan oleh Drs. Majelis
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" April 1990

0 Response to "Bayangan Terbalik"