Bukit Jagung Lamaholot - Obituari Buluh - Meratap-ratap di Dapur One | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bukit Jagung Lamaholot - Obituari Buluh - Meratap-ratap di Dapur One Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:23 Rating: 4,5

Bukit Jagung Lamaholot - Obituari Buluh - Meratap-ratap di Dapur One

Bukit Jagung Lamaholot

Bukit jagung
Apakah hanya sampah jagung yang ada di bukit jagung
Detak yang ingin kudengar
Debar yang ingin kuraba
Apakah bukan apa-apa apakah bukan siapa-siapa
Kecuali daun-daun jagung
Kecuali bunga-bunga jagung
Kecuali angin yang bermain-main mencari dirinya?

Kutemui desa-desa yang nestapa
Abu tempurung
Sepah kelapa
Kukerik lidah tetua yang asin
Kukukus isinya
Tak kuhidangkan
sampai arwah-arwah yang bersembunyi memohon ampun
dalam koda yang menghiba

Aku mengaku dosa
Telah kubawa orang-orang ke dalam mimpi buruk
peledang pecah
paus kelaru yang terluka
Kubiarkan mereka terceguk
di Laut Sawu yang mengamuk dalam pekik elang laut

Aku juga yang membawa mereka ke kubur penyihir yang keji
Perawan gua berbulu
Kompas yang dikutuk
Kutinggalkan anak-anak gadis bersama gunting di tangan seorang
kapitan mabuk

Aku tak berdaya
Ketika kapitan itu mencukur bulu-bulu di tubuh mereka
Ia pakaikan mereka kain dan baju
sidok lokan
cincin selaka
Ia ikat kening mereka dengan perisai bulan yang hampir susut cahayanya

Aku mengaku dosa
Dari bukit jagung yang telah layu aku mengaku dosa
bagi tiang-tiang janur yang ditinggalkan
bilik pengantin yang runtuh
kumbang pohon kenangan
Sepucuk surat yang tak kan sampai masih kutulis
di sela-sela isak yang tertahan-tahan

Aku sendiri yang membacanya
Detak yang ingin kudengar
Debar yang ingin kuraba
Aku sendiri yang mengantar ke penyeberangan
Kusiapkan untuknya bis laut
tas kulit jinjing
titian papan ke geladak
Kubiarkan ia pergi
membawa janji yang belum sempat kutunaikan
belis yang belum kuisi
isi kebun yang belum dipanen

Dan hewan-hewan ternak yang masih lepas
Aku sendiri yang akan menjadi sabananya
Aku sendiri yang akan menggembala alang-alang
lebah gurun
pelepah lontar yang memapah cakrawala
Aku sendiri yang akan menopang dusun-dusun
dengan batu matahari
golok perabas
gagang cangkul yang lecet digenggam peluh para petani

Aku sendiri yang mengayunnya
menugal benih
menabur pupuk
menunggu hujan tiba

Supaya dapat kutelanjangi sajak yang nestapa
Detak yang kudengar
Debar yang kuraba
Agar tidak menjadi sampah pesta
Tapi tumbuh menjadi bukit-bukit jagung yang sedang tumbuh
Bukit-bukit yang menjunjung bukit-bukit
Bukit-bukit yang menghimpit bukit-bukit
Bukit-bukit yang meletup serupa kayu puntung
di ambang subuh

Aku sendiri yang menyulutnya
Aku sendiri yang mendaki
Lalu muntah di puncaknya

2015

Obituari Buluh

Buluh-buluh
Selamat jalan
Pergilah bersama rambut nan sehelai
Pergilah dari tempat engkau jatuh
Pergilah membawa miang badan

Dari rahim Pagaruyung
Tanah asal nan selempung
Pergilah bersama badai
Bawalah amuk
Bawalah puing-puing
Bawalah kusut yang tak kan terurai

Peniup buluh
Selamat jalan
Pergilah ke pucuk yang tertinggi
Laut yang terdalam
Jemputlah induk buluh
Jemputlah batang terendam

2015

Meratap-ratap di Dapur One

Ke mana perginya puntung di tungku dapur One
Ke mana abu yang jernih
uban yang putih

Angok talang yang lapang, bagaimana ia pulang
Apa terang baginya api
Apa cukup baginya ratap yang dikekang
dengan seutas tali sunyi

Ada terbaun aroma garing bada kering dioseng-oseng
Pucuk sikujur penukuknya
Petai mentah digatok
Asam limau kapas yang harum diracikkan ke lado kutu
yang amat halus gilingannya

Menitiklah airmata
Mengejanglah ingatan kepada orang dapur yang menukar dapur
dengan dapur yang tak ada puntungnya
tungku dengan tungku yang tak memendam abu misal

Ke mana perginya larut malam yang lincah memancak bunga-bunga
Kaos lampu petromak yang jatuh karena terkencang memompanya

Mengapa hanya tinggal sasaran kosong
Mengapa langkah jadi telanjang
Hingga kaki galembong sejantung betis
kini naik ke kerampang

Kenapakah kita
Kenapa ambek dan gelek tak berguna
Kenapa sintak yang lembut menjadi kasar bersapa-sapa

2015

Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli 1975 di Talamau, Sumatera Barat. Buku puisinya antara lain Mencari Kubur Baridin (2014).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Dhamparan Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 21 Februari 2016

0 Response to "Bukit Jagung Lamaholot - Obituari Buluh - Meratap-ratap di Dapur One"