Celah - Maghrib Y - Dengung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Celah - Maghrib Y - Dengung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Celah - Maghrib Y - Dengung

Celah

     Dan waktunya hampir tiba. Ciumlah pipi-
nya sebagai tanda. Jika dialah orangnya.
Yang telah berjalan di atas air. Yang
memeluk si terhukum. Yang menjinakkan
badai. Yang mengembalikan si mati.
Yang kelak membuka rahasia yang diam-
diam telah dimiringkan. Dan yang kau
sebut sebagai si terpilih dengan kakik
telanjang. Tapi terus saja tersenyum.

     Dengan senyum yang paling indah.
Senyum (yang jika tak lagi di depanmu),
akan kau bandingkan dengan keindahan
sayap cecapung. Sayap cecapung yang
beterbangan di halaman rumah milik 
penarik pajak, kurir, serdadu, pembelot,
juga perawi yang dengki atau sebaliknya.
Halaman rumah yang ketika kau lewati,
selalu saja mengingatkan pada bisik:

    "Memang, dialah yang akan menuntun
pada yang dihasrat." Bisik yang begitu pelan
tapi terngiang. Dan bisik yang digores
di pintu-pintu. Dengan warna kuning
keemasan. Warna yang membuat kau 
yang telah berjanji bergerak, akan segera
bergerak. Meski nanti (setelah kakimu
melangkah), pun balik menyangkal:
"Siapa yang peduli pada semacam bisik!"

    Terus melirik pada awan yang berarak di
langit utara. Awan yang ingin kau panggil
sebagai pembela. Tapi malah menukas:
"Jika dia benar orangnya, bagaimana
mungkin kau hendak meninggalkannya."
Dan waktu itu, memang banyak yang turut 
menguping. Tapi lebih banyak lagi, yang
cuma lewat begitu saja. Seperti lewatnya
para pencari yang merasa paling patuh.

    Dan paling piawai menemukan
celah yang disangka utama.
(Gresik, 2016)

Maghrib Y

   Maghrib masuk ke rumahku. Wajahnya
yang oval begitu rupawan. Serupawan
gerak kematian yang telah dikaribkan
denganku. Tapi dipisahkan mendadak.
Ketika limpahan umur harus aku jalani.
Limpahan umur yang berujung pada 
garis, di mana kematian akan kembali
menemuiku dengan pelukan hangat. Juga
tanya-jawab yang terasa renyah. Tanya-
jawab yang membuat aku dan kematian 
tak ingin dipisahkan lagi. Lalu maghrib
melihat-lihat buku-buku yang ada di rak.
Buku-buku yang aku gelisahkan. Seperti 
aku menggelisahkan sosok yang suka 
ngintil di belakangku. Sosok yang setiap aku
lirik, pun ikut melirik. Tapi jika aku berbalik
agar dapat menatapnya, pun buru-buru 
melengos. "Kenapa selalu berulah seperti 
itu?" begitu tanyaku ketika merasa jika apa
yang diulah itu sudah sampai puncak.

   Tapi sosok itu tak menjawab. Malahan, 
dengan tenang, masuk ke kamar mandi.
Jebyar-jebyur, gosok gigi, dan menyanyi
tanpa juntrungan. Seperti tak mau tahu,
jika aku (yang berdiri di luar) begitu kesal.
Begitu ingin sekali mendobrak pintu.
Dan memaksanya untuk menjawab.

   "Ternyata, kemahiranmu menulis puisi
semakin terasah," sela maghrib tiba-tiba,
setelah tahu, jika di antara buku-buku yang
ada di rak, terselip tiga kumpulan puisi
yang aku tulis sendiri. Tiga kumpulan puisi 
tentang udara, makanan, dan rerumput.
Tiga tema yang memang aku sukai. Sebab, 
di samping aku penyuka hidup sehat,
juga penyuka rempah-rempah dan warna
hijau. Lagian, aku punya pikiran, jika
aku menjaga kesehatan, tentunya akan
berumur panjang. Meski aku juga tahu,
umur panjang tak menjamin punya jiwa
yang sehat. Seperti jiwa milik si bung-
besar yang pernah aku kenal. Meski sudah
belimpah harta, tapi untuk urusan utang-
utang kecilnya suka berlagak bego. Malah
kerap berujar: "Oke, bagaimana jika
besok. Sebab itu adalah waktu yang paling
tepat untuk melunasi." Dan ujaran itu pun
diulang terus. Sampai para penagih jengkel.
Tapi si bung-besar justru berlalu tanpa
rasa bersalah. "Kau memang ada-ada saja,"
kembali maghrib menyela. Dan bertepatan
dengan selaan yang ini, jam menunjukkan
pukul 18.20. Dan aku belum sembahyang.
(Gresik, 2016)

Dengung

    Dengan apa aku memahami dirimu.
Yang selalu datang padaku tanpa menanyakan:
Apakah hatiku miring atau lurus? Apakah
mataku terpejam atau terbuka seperti 
ikan dalam telaga? Dan lewat rahasia,
yang hanya dipahami mekarnya kelopak,
dirimu pun menarik keseluruhanku. Seperti 
kekasih yang menarik hari Minggu untuk
pertemuannya. Hari Minggu yang cerah
dan mendebarkan. Tapi, apakah dirimu
tahu jika aku kerap melengos dari dirimu?
Juga tak bosan menghapusi sebagiaan
dirimu diam-diam? Senyuman dirimu
begitu manis. Begitu sedap. Senyuman
yang terpampang setiap aku membuka 
pintu di pagi hari. Senyumanmu yang 
menyapa: "Bagaimana tidurmu semalam,
nyenyakkah?" Dan aku tahu dirimu juga tak 
pernah pergi dari gerakanku. Dengan riang
dirimu terbangkan apa saja yang ada untuk
melindungiku. Apa-apa yang memapak 
dan menyalipku dirimu atur. Apa-apa yang 
aku makan pun dirimu perhitungkan.
Dan terpisahlah antara racun dan obat.
Serat dan tepung. Juga air dan kelenjar
untukku. Oh, apakah ini yang disebut
hubungan yang bertepuk-sebelah-tangan?
Hubungan yang selalu membuat dirimu
aku abaikan tapi tetap saja datang. Singa-
singa mengaum pasti tahu apa yang akan
disergapnya. Tawon-tawon mendengung
juga pasti tahu mana kembang dan 
sebaliknya. Tapi, kenapa dirimu
padaku seperti tak ingin menggunakan
hikmah dari keduanya? Dengan apa,
dengan apa aku memahami dirimu?
(Gresik, 2014)

Mardi Luhung, lahir di Gresik, 5 maret 1965. Lulusan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpen pertamanya adalah Aku jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011). Buku puisi terakhirnya, Teras Mardi (2015). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 31 Januari 2016

0 Response to "Celah - Maghrib Y - Dengung"