Dongeng Peranakan - Lanskap Leluhur - Liu Ngie | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dongeng Peranakan - Lanskap Leluhur - Liu Ngie Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:52 Rating: 4,5

Dongeng Peranakan - Lanskap Leluhur - Liu Ngie

Dongeng Peranakan

--maxine hong kingston-- 

kau tahu, bilamana daun-daun
tak lagi kembali ke akar
: bibit berakar di tempat jatuh!

begitulah mereka memungut umpama
helai demi helai, sambil mengenang
    suatu musim gugur kelabu

namun di atas tanah kita tumbuh, ribuan mil
dari pepokok pohon silsilahódipupuk
    oleh tabah dan derita, maxine
kita bukanlah perindu
bukan pula pelupa yang lugu

maka kubayangkan ladang kisah baru
dengan sisa ingatan pada cerita ibu
yang lucu, tentang orang-orang yang
menjual sepetak kampung halaman
    untuk tiket, uang saku,
dan masa depan biru

seraya itu kautakik dongeng kanak-kanak
     di antara hantu-hantu yang terus
gentayangan dari waktu ke waktu
Yogyakarta, 2015 

Lanskap Leluhur

di tanah asing bagi jatuh sauhmu,
   aku telah menyusu pada
       sejarah tak utuh

   hingga ari-ariku
yang terpotong dari luka
di pusar ibu;
     hangus juga oleh kobaran dendam
masa silam itu

tapi telah kuwarisi
dendang ibu, dan mantera
yang kau tuliskan di sekujur tubuhku
    jadi penangkal bala
di setiap pintu rumah (dan cerita hantu)

walau tak kunjung merindu
pada tempat kau melepas sauh
dengan panji-panji merah
terpancang di keningmu, tebingku!

o, sempurnalah tubuhku
sebagai aksara ganjil
    yang menerima dan menolak
takdirmu: hikayat pahit
    terampas dari buritan kapal yang berlayar di ganas lautan
dengan tiga titik nyala dupa
mengasapi hari lahirku

di sini, kuperas darahmu
dari setiap ujung kesakitan di tubuh,
dari seluruh lekuk sejarahku
sebagai perantau abadi
di tanah kelahiran yang pilu!
Yogyakarta, 2008 


Liu Ngie

aku tak sedang mencatat
     warna ajalmu, karena
tak pernah tiba waktu ruwat
     untuk mataku
yang terhujam mata pacul
di parit-parit tambang

selokan-selokan tergarit
     seperti masa depan yang kaunujum
dan menjelma nasib buruk bagi pepohonan

ah, lihatlah tanganku yang tersayat
meraba cerita kelam pelayaran
dalam perih tubuhku, di mana jejak
darahmu yang mengering
jadi bentangan peta baru

tak hanya pasir timah
   yang bocor dari pecah papan sakan
tapi juga doa dari hatimu yang rawan,
masih menetes di tiap pendulangan
hingga pohon-pohon yang hilang
berganti tiang gantungan!

aku sedang tak melawat kematianmuÖ
walau dari biji matamu yang menyala
pada luka mataku, terus terkenang
gemuruh parit dan kabar pemberontakan

karena begitulah riwayatmu
yang dikukuhkan takdir;
tak pernah berhenti
   mengayak pasir nasibku
   di anyir penambangan yang
menjelma kampung halaman

Belinyu-Yogyakarta, 2008 

Sakan: talang timah (Sa=timah, Kan=talang, berasal dari bahasa Cina-Hakka) 


Sunlie Thomas Alexander lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Buku puisinya yang sudah terbit berjudul Sisik Ular Tangga (Halindo, 2014). Saat ini sedang merampungkan novel 'Di Negeri Asing' dan 'Di Bawah Kibaran Empat Bendera'.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to "Dongeng Peranakan - Lanskap Leluhur - Liu Ngie"