Gadis yang Selalu Memotong Rambutnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gadis yang Selalu Memotong Rambutnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:22 Rating: 4,5

Gadis yang Selalu Memotong Rambutnya

HARI ini genap seminggu, sejak aku diterima kerja sebagai kapster salon. Walaupun tak bisa mengenyam bangku kuliah tapi niatku meringankan beban orangtua, kurasa lebih tepat saat ini. Kupergunakan kemampuanku belajar di sekolah kejuruan dulu untuk bekerja, di sebuah salon kecantikan yang tak pernah sepi pelanggan itu.

Beberapa hari aku bekerja, kutemui berbagai pelanggan dengan tipe berbeda. Ada yang sudah langganan dan manut peraturan salon, ada juga yang marah-marah tak jelas, minta ini itu dengan cepat. Namun sebagai pekerja, sabar serta ramah menjadi tuntutan bekerjaku dan lama-lama aku terbiasa.

Aku mendapat pelanggan pertama siang ini. Seorang gadis yang usianya tak terpaut jauh dariku, sepantaran. Rambutnya panjang ikal, ayu, dan penampilannya sangat rapi. Hanya saja saat ia kupersilakan duduk. raut wajahnya seperti linglung, mungkin saja gadis itu melamun atau mungkin perasaannya sedang tidak menentu. Gadis itu memintaku merapikan rambutnya, aku mengiyakan dengan senyuman ramah. Ia duduk di depan cermin, wajahnya sungguh sangat manis namun sayang sepertinya ia sedikit pelit tersenyum.

"Rambutmu mau dipotong model apa, Nona?" tanyaku saat ia menatap cermin dengan lurus.

"Rapikan sedikit saja, Mbak," jawabnya datar dan singkat.

Aku mengambil peralatan memotong, lalu kusisir dan kuarahkan gunting ke rambutnya perlahan-lahan.

"Rambutmu bagus, Nona. Sayang sekali, kenapa tak membiarkannya panjang saja?" Aku berusaha mengajakanya bicara agar suasana tak begitu kaku, tapi gadis itu malah menatapku kosong, aneh.

"Apakah begitu? Sudah rapikan saja, Mbak."

Aku segera menyelesaikan pekerjaanku tanpa pembicaraan basa-basi lagi kepada gadis itu, padahal pelanggan-pelanggan biasanya tanpa kuajak bicara saja sudah seperti kereta kalau bicara. Setelah selesai, ia hanya mengucapkan sepatah kata terima kasih lalu meninggalkan biaya pembayaran dan pergi. Gadis ini aneh, pikirku.

Tiga hari kemudian gadis itu datang lagi. Kali ini dia datang dengan raut wajah seperti habis menangis, terlihat dari kelopak matanya yang sedikit membengkak dan eyeliner matanya yang sedikit luntur acak-acakan.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Tolong rapikan rambutku sedikit lagi ya, Mbak?" jawabnya sambil meremas jari-jari tangannya, tampaknya sedang gelisah.

"Apakah kemarin kurang puas pelayanan kami? Kenapa dipotong lagi, sepertinya baru tiga hari yang lalu?" Aku berusaha basa-basi, kali ini kulakukan karena aku penasaran. Gadis itu tidak menyahut, pandangannya lagi-lagi kosong. Mungkin banyak yang dipikirkannya, aku melanjutkan merapikan rambutnya tanpa berkata apa-apa lagi hingga selesai.

Aku benar-benar sangat heran dengan kelakukan aneh gadis tersebut. Hingga pada suatu hari saat sedang tidak ada pelanggan, aku dan teman-teman membicarakan tentang keanehan gadis itu. Bagaimana tidak, setelah dua kali memotong rambutnya selang jarak dua minggu gadis itu sudah datang kembali, minta dipotong rambutnya, kesepuluh kalinya. Dulu saat pertama kali ia datang rambutnya panjang sepinggang, tapi kini jadi pendek sekali di bawah telinga. Dan lagi, akulah yang selalu memotong rambutnya.

Sore di akhir bulan yang sejuk sehabis hujan, aku bersiap merapikan semua peralatan-peralatan yang tersebar di ruangan sebelum pulang. Dua temanku sudah pulang duluan. Saat aku memasukkan beberapa gunting ke dalam laci, aku mendengar pintu depan terbuka dan gadis yang memotong rambutnya untuk kesepuluh kalinya, datang kembali. Aku benar-benar terkejut dan pura-pura tidak melihatnya. Mau apa lagi dia? Ini sudah masuk jam pulang, bisa-bisa aku terlambat sampai di rumah.

"Mbak, belum tutup kan? Tolong rapikan rambut saya?"

"Maaf, tapi ini sudah masuk jam tutup. Mungkin nonabisa kembali saja besok," jawabku menghindari bertatap muka dengannya.

"Tolong saya, Mbak. Untuk sekali ini saja, tolonglah."

Seperti biasanya aku tidak bisa menolak permintaan seseorang, apalagi gadis ini tampak kacau sekali. Ia habis menangis, rambutnya kusut dan sepatunya dicangkung karena robek satu. Ia lalu duduk memandangi cermin, memegangi rambutnya yang makin pendek untuk dibuat pendek lagi dengan resah.

"Mau dirapikan seperti apalagi? Rambut nona sudah semakin pendek dan ini kesebelas kalinya nona meminta saya untuk memotongnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa setiap nona tampak muram dan sedih selalu memendekkan rambut?" Aku berani bertanya setelah sekian lama diam dan bersabar. Sembari aku menyisir dan urung menggunting rambunya, gadis itu terdiam cukup lama. Tiba-tiba air mata menggenangi pelupuk matanya lalu tumpah pecah menggilas keheningan.

"Aku merasa selalu dikejar-kejar kekosongan, ia seperti putaran angin hitam pekat yang bisa menelanku, di mana pun aku berada ia selalu menemukanku. Aku jengan selalu menghadapi hidupku seorang diri, aku besar di panti asuhan. Ketika semua temanku mendapatkan orangtua angkat, hanya aku sendiri yang tak pernah dijemput calon orangtua angkatku. Mimpiku disayang Ayah dan Ibu sirna sejak lama. Aku bahkan pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa, mereka menganggapku gila karena aku selalu ketakutan dengan kekosongan yang kurasakan. Demi Tuhan, aku kabur, aku tidak gila."

"Semoga apa yang dituduhkan kepada Nona itu tidak benar. Lalu, apa alasan nona selalu memotong rambut?"

Gadis itu menghela napas. "Karena lebih mudah memotong rambut daripada memotong kesedihan-kesedihanku, ketakutan-ketakutanku."

Aku memegang pundak gadis yang terlihat rapuh itu, mencoba menegarkannya. Belum lama gadis itu tenang, kulihat sebuah ambulans putih diparkir di depan salon. Beberapa petugas mengenakan seragam putih-putih masuk begitu saja dan sepertiku memberi kode. Mendadak mereka memegangi kencang tangan gadis malang itu lalu membawanya masuk ambulans. Gadis itu berteriak, menangis, meronta-ronta minta tolong. Aku tidak bisa bertindak apa pun selain berdiri mematung tak percaya.

"Maaf mengganggu, kami dari rumah sakit jiwa. Andari pasien kami yang kabur tiga minggu lalu, jiwanya terganggu. Dia tampak sehat seperti orang biasa, namun jika traumanya kambuh maka ia bisa menyerang siapa saja." Petugas itu memberitahuku setelah lama melakukan pencarian.

Tak lama kemudian kudengar gadis itu tertawa hingga tersedak bercampur sisa tangisnya. Baru kali ini aku melihat pelangganku tersebut tertawa seperti melepaskan ribuan beban di kepalanya. Bukan tawa biasa. Suara tawa itu berubah nyeri.

Aku tak sanggup memandangi gadis malang itu. Percaya atau tidak, kurasa ia hanya butuh teman dan penyemangat hidup. Gadis itu sebenarnya hanya kesepian, merasakan kekosongan dalam hidupnya yang terlampau lama. Hidup memang selalu memunculkan banyak pelajaran tak terduga. Perlahan mobil putih itu melesat membawa gadis yang selalu memotong rambutnya itu kepada kehidupan yang tak adil baginya. []


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Marfuah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 7 Februari 2016


0 Response to "Gadis yang Selalu Memotong Rambutnya"