Gugur Musim - Di Stasiun Lempuyangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gugur Musim - Di Stasiun Lempuyangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:57 Rating: 4,5

Gugur Musim - Di Stasiun Lempuyangan

Gugur Musim 

-kepada perempuan yang senantiasa
menyimpan gerimis di lukisannya
bahkan pada saat puisi ini ditulis
aku melihat alis matanya masih menyimpan
gerimis, kunamai engkau: titik..titik..titik

ihwal kau dan hari itu

di garis bibirmu:

seperempat percakapan kita
seperti larik-larik puisi
yang tak terduga

kita tak menyepakati apa-apa
selain kita mengutip kata-kata
yang tersisa dari percakapan
dada dan mata:

“ucapkanlah cinta sebanyak
kita bisa--untuk ke sekian kalinya
kita akan senantiasa belajar pada merpati:
terbang, tak lupa rumah pulang“

meski kau kini pulang, tanpa ancang-ancang
sebelum meninggalkan galeri, telingamu
mendapati bisikanku:

“kau tahu, sesungguhnya yang sedang pameran
adalah matamu juga seluruh pandangmu!“
memang begitu adanya

begini seharusnya:
kau menjadi kuas, agar tak mengenal ranggas
dan biarkan aku menjadi kanvas: selalu
menyimpan cemas

ketahuilah, pada saat puisi ini ditulis
aku ingin melupakan semua kejadian
di luar puisi ini-

sebab, di langit yang tak lagi klimis
di dalam lukisan yang itu-itu juga
alis matamu masih setia menurunkan
gerimis yang benar-benar mistis, maka
dengan perasaan yang paling perih
engkau kunamai:

perempuan yang datang perlahan
kemudian pergi membawa kalimat
perpisahan, dan menginginkan diriku
menjadi kenangan, bukan keabadian

Di Stasiun Lempuyangan 

Jauh sebelum kita berjumpa
sebuah puisi yang tak tuntas
kubaca, kini mengalir di reranting
pohon milik seseorang di kafe semesta

/1/
katamu, sebelumnya remang lampu itu
bukan siapa-siapa dari kita
sebab ia hanya terang

jawabku, ketahuilah siapa yang bisa
menjebak kita, selain kata jumpa?

kau berjalan semakin jauh, menjauh
meninggalkan kata jumpa

/2/
suara seorang petugas di toa
bagiku tidak lebih dari suara
panggilan ketiadaan di langit sana

jam keberangkatan kembali tertunda
di samping kiri dan kananku
tak ada siapa-siapa

selain degup cemas
dari sebuah berita yang ganas

/3/
menziarahi dingin rel
tubuhku seperti arus listrik
yang kemudian diparalel

satu bagian merasa sakit
semuanya menjadi setengah
seperti bulan kala itu, sabit

/4/
di kursi tempat aku menunggu
waktu seperti pemburu, selalu
melempar isi peluru, ke dadaku
yang penuh dengan cemburu


Mohamad Chandra Irfan, lahir di Pagerageung, Tasikmalaya, 17 April 1993. Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, jurusan Teater. Alumni Ponpes KH Zainal Muthafa, Sukamanah, Tasikmalaya.Menulis puisi, esai, menjadi aktor teater, dan meneliti seni. Aktif bergiat di LPM Daunjati, Zheus Theatron, Hymen Act, dan Sanggar Sastra Tasik (SST).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohamad Chandra Irfan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 14 Februari 2016


0 Response to "Gugur Musim - Di Stasiun Lempuyangan "