Hari-Hari 1965-1967 - Kampung Hilang dari Peta - Mata Air - Sungai Gajah Uwong - Menyusuri Leluhur di Kampung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hari-Hari 1965-1967 - Kampung Hilang dari Peta - Mata Air - Sungai Gajah Uwong - Menyusuri Leluhur di Kampung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:17 Rating: 4,5

Hari-Hari 1965-1967 - Kampung Hilang dari Peta - Mata Air - Sungai Gajah Uwong - Menyusuri Leluhur di Kampung

Hari-Hari 1965-1967

Udara membingungkan dan beracun
sulit bernapas walau untuk berpikir
tentang makna waktu

Pohon tumbang bersama dongeng
jejak-jejak sunyi membekas di mata bayi
yang kerontang, basah oleh air mata

Ulu hati terkepung,
dendam menggilas
jalan desa dan kota

Yang bergegas
tidak kelihatan penculikan
kecuali bayang-bayang hitam merah

Ada latihan perang
berujung latihan penculikan
kebun-kebun digali kedalamannya

Tembok-tembok menjadi hidup
oleh huruf-huruf raksasa penuh tenaga
menjadi arah berita

Seperti ada yang hendak diruntuhkan
jiwa sendiri, lagu menikam
malam, tabir yang sempurna

Mimpi
mengejarku
sampai hari ini

2015

Kampung Hilang dari Peta

Sebagaimana burung yang digergaji sarangnya
rumah-rumah dirobohkan
terlihat sisa sumur, dapur, boneka dan gar-
du hancur
"Kami tidak diusir dengan bedil
 tapi dengan bisik-bisik
 selembut permukaan uang kertas."

Hilang kampung hilang jejak
meski luka amat berharga
"Ini bukan zaman bertegur sapa,
 ngobrol, mendengarkan suara burung
 sambil melinting rokok.
 Ini zaman bisu yang gaduh."

Perkakas besi tidak dapat diajak bicara
Gemuruh mesin tidak dapat dijadikan nada
Cita-cita sunyi pemilik baru
tidak bisa disurutkan
walau oleh ancaman kehilangan surat izin
yang ada hanya suara tawa sekering cadas
kemarau

Kota
menuju satu warna:
benteng, loji
seperti dulu.

2015

Mata Air

yang jernih di sela batu
yang gembira menerobos akar pohon
yang hangat di waktu malam
yang hadir tiba-tiba
mata air sunyi
bergerak mencari selokan
ikan yang patuh pada zaman
memberi salam pada angin
dan serangga malam

Rumah-rumah terbuka halamannya
pohon buah dan bayangnya
terbagi untuk semua, asal mau datang
dan bernyanyi
gembira karena bersama
mengetahui nama dan leluhur tetangga
"Ini juga mata air jiwa,"
kata kakekku.

2015


Sungai Gajah Uwong

Kau pernah mengalir di tubuh anak-anak ko-
ta ini
saat mereka habiskan siang dan sore
dengan merenangi airmu
batu-batu padas menjadi pusat permainan
jongkok, melompat, dan menari
dengan tubuh telanjang.

Daun rumput diremuk
digosokkan ke kulit
pengganti sabun
bersama batu licin
Celoteh, jerit, dan tawa
memenuhi langit.

Jadilah kisah panjang hari ke hari,
sebelum hari libur menyusur ke atas
di lubang kawat berduri
kebun binatang, tepat di atas kandang buaya.
Saat libur puasa, semua ramai
menyusur ke bawah
melewati bendungan dan bawah jembatan
sampai di makam gajah dan pawangnya.

Ini sungguh sungai amat panjang
mengaliri ingatan puluhan generasi.
Puluhan jenis bambu, perdu, pohon gayam,
berjenis talas, rumput dan glagah di pinggirnya.
Mata airnya hanya sehembusan napas,
ketika bertemu dengan Kali Opak
sudah dalam
dan bergelombang
seperti cintaku.

2015


Menyusuri Leluhur di Kampung

Menyusuri leluhur di sebuah kampung
Karangkajen, setiap ada pemakaman di be-
lakang masjid
kubayankan leluhuru nenek dari ayahku
mengapa mereka harus menyeberangi Sun-
gai Progo
untuk sampai sini?

Masih jelas di peta itu, di masa kecil selalu
setiap lebaran datang, membaca jalur sau-
dara
siapa yang mewarisi darah guru
siapa yang mewarisi darah pendekar
siapa yang mewarisi darah prajurit
siapa yang mewarisi darah pedagang
siapa yang mewarisi kata-kata dan sejarah

Aku rindu ada pohon duku dan pohon ramb-
utan
rumah-rumah teduh di barat dan timur jalan
raya
teh manis, tempe bacem, sayur selalu pak-
ai santan
dan kisah keluarga disegarkan kembali
saat kampung ini masih berdenyut sebagai
desa.

Nama-nama yang pernah kujumpa
wajah-wajah yang lama
rangkaian peristiwa
kadang mengabur
kadang muncul
di saat waktu menyeretku
entah ke mana.

2015



Mustofa W. Hasyim, tinggal di Kotagede, Jogjakarta. Aktif di berbagai komunitas sastra, menerbitkan enam kumpulan puisi. Menjadi ketua Studio Pertunjukan Sastra Jogjakarta, anggota Dewan Kebudayaan Kota Jogjakarta, serta anggota Himpunan Sastrawan dan Komunitas Sastra Jogjakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustofa W. Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 14 Februari 2016

0 Response to "Hari-Hari 1965-1967 - Kampung Hilang dari Peta - Mata Air - Sungai Gajah Uwong - Menyusuri Leluhur di Kampung"