Hari Raya Bu Wagu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hari Raya Bu Wagu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:37 Rating: 4,5

Hari Raya Bu Wagu

BAGI Bu Wagu, tak ada yang lebih setia dan memahami dirinya ketimbang anjing-anjingnya. Setelah suaminya meninggal dan anak-anaknya punya rumah sendiri, Bu Wagu memelihara anjing. Binatang-binatang setia dan penuh pengertian itu diberi nama Cokelat, Kopi, Susu, dan Teh Tubruk.

“Bagus, Bu. Ketimbang kau kesepian,” kata anak bungsunya ketika menelepon dari luar kota. “Tapi apakah Ibu yakin peliharaan itu tak membikin masalah dengan para tetangga?”

“Tidak. Aku akan menjaga mereka baik-baik.”

Sejak mula para tetangga mengetahui bahwa Bu Wagu memelihara anjing. Dalam ajaran agama mereka, air liur anjing najis bila menyentuh kulit, tapi mereka hanya berkasak-kusuk. Hingga suatu sore Bu Wagu melepas anjing-anjingnya ke jalan di depan rumah.

Cokelat, Kopi, Susu, dan Teh Tubruk berkejar-kejaran, termasuk anak-anak tetangga yang baru pulang bersepeda dari TPA dekat masjid kompleks rumah. Bocah-bocah itu menjerit ketakutan sampai menangis.

“Saya sedang di dapur. Tidak mendengar keributan di jalan depan,” begitu kata Bu Wagu ketika para tetangga mengetuk pintu rumahnya. Salah seorang dari mereka membawa tongkat panjang—untuk menggebuk anjing.

“Sebaiknya hewan-hewan itu dikandangkan agar tak membikin resah!”

Bu Wagu mengangguk, tetapi hatinya tak sudi menurut. Ia merasa punya hak membiarkan peliharaannya bebas berkeliaran. Ia sudi bersabar dan bersikap seolah-olah tak pernah terganggu azan masjid yang dikumandangkan keras-keras, bahkan saat pagi buta, lalu mengapa kebebasan anjing-anjingnya harus dibatasi?

Bu Wagu tak pernah mengerti perilaku para tetangganya. Ia tinggal di kompleks perumahan nasional. Itu artinya, rumah para warga berderet dan berdempet. Selirih apa pun percakapan di dalam rumah, pasti akan terdengar di rumah sebelah. Sekecil apapun gangguan, terasa begitu besar dan membikin tak nyaman.

Setelah beberapa hari menahan peliharaannya, suatu sore Bu Wagu berpura-pura lupa mengunci pagar. Anjing-anjingnya berlarian ke jalan. Seorang bocah yang baru pulang TPA menjerit ketakutan. Ia mengayuh sepeda kencang-kencang sambil menangis. Di belakangnya, anjing Bu Wagu yang berukuran paling besar menggonggong mengejar.

Para tetangga bermunculan keluar: “Ada apa ini?”, “Ada keributan apa ini?” Begitu mengetahui sumber perkara adalah para anjing laknat yang jauh-jauh hari telah mereka benci, mereka bersiap melabrak si empunya hewan.

Bu Wagu segera berteriak memanggil. “Dian! Iwan! Jaka! Nita!” Perempuan itu telah membiasakan anjing-anjingnya dipanggil dengan nama baru. “Pulang!”

Para tetangga yang berdiri di halaman depan rumah masing-masing tak jadi meledak. Mereka berdiri melongo, serempak memperhatikan empat anjing yang berlarian masuk rumah Bu Wagu. Empat dari beberapa tetangga itu bernama Dian, Iwan, Jaka, dan Nita.

Perbuatan Bu Wagu membikin mereka gempar. “Kurang ajar!” kata Nita.

“Bu Wagu mengabaikan tata krama hidup bermasyarakat! Ia telah melukai perasaan kita semua!” maki Dian, yang diangguki penuh semangat oleh Iwan, Jaka, dan Nita.

“Kita tak usah lagi peduli padanya!” kata Jaka.

“Ya. Biar, biar saja. Ia menganggap mampu hidup sendiri. Nanti kalau dia mati, biar anjing-anjingnya yang menelepon memberi kabar anak-anaknya yang tinggal di luar kota!” sahut Iwan.

Bu Wagu tak ambil pusing dengan semua kegusaran tetangganya. Ia tak butuh mereka. Hidup sendiri ditemani Cokelat eh Dian, Kopi eh Iwan, Susu eh Jaka, dan Teh Tubruk eh Nita sudah lebih dari cukup. “Hanya kalian yang paling mengerti.”

Keempat anjing itu mendengking-dengking, seolah mengiyakan.

*** 
Ilustrasi intersastra dari flickr.com
SUATU SORE BU Wagu mendapat surat perintah dari Pak RT, menjelaskan bahwa anjing-anjing Bu Wagu tak diizinkan berkeliaran di jalan, hanya boleh di dalam dan di pekarangan rumah saja.

“Keputusan ini sudah kami bicarakan bersama, Bu,” jelas Pak RT.

“Bersama siapa? Saya merasa tidak pernah mendapat undangan—”

“Bersama para warga yang lain.”

Bu Wagu melongo. “Tapi, saya kan juga warga yang—”

“Jelas-jelas anjing-anjing sampean menimbulkan keresahan bagi kami yang hendak menjalankan ibadah sembahyang berjamaah ke masjid.”

“Anjing-anjing ini saya kandangkan setiap kali azan dikumandangkan!” Bu Wagu berusaha membela diri. “Mereka tidak pernah sekalipun….”

“Mereka mengejar anak-anak yang hendak berangkat atau pulang TPA, maksud saya. Itu kan mengganggu sekali.” Pak RT buru-buru meralat alasannya.

“Setidaknya pendapat saya juga patut dipertimbangkan. Tidak boleh main ambil keputusan seperti ini.”

“Kami bermusyawarah dalam arisan bapak-bapak. Tentu Bu Wagu tak mungkin bisa datang turut berembuk.”

Jawabannya mencla-mencle! pikir Bu Wagu. Ia mengernyit, mulai merasakan kesal dalam hati. “Tapi, Pak…..”

“Keputusan adalah keputusan, Bu. Hasil kesepakatan bersama demi kebaikan warga.” Pak RT pamit. “Saya masih banyak urusan. Mari, Bu Wagu.”

Ketika menelepon untuk menanyakan apakah mantan-mantan karyawannya masih lowong, Bu Wagu teringat ke masa lalu. Para tetangga memprotes usaha produksi tempe dengan dalih limbah hasil olahan membikin got mampet dan bau bacin.

“Sudah tahu tinggal di perumnas, malah membuang limbah di selokan kompleks.”

Para tetangga kemudian bersahut-sahutan menanggapi. “Bacin bukan main!”

“Seharusnya mereka membeli rumah di pinggiran kota atau di desa, khusus untuk produksi tempe.”

“Mereka benar-benar egois. Melakukan apa saja yang mereka suka, tanpa memperhatikan kenyamanan para tetangga.”

Persoalan tersebut dibawa ke rapat RT. Pak Wagu ditegur keras dan diingatkan agar tak lagi membuang limbah di selokan perumahan. Suami Bu Wagu tersebut berjanji akan mencari tempat lain untuk pembuangan limbah.

“Tidak ada waktu. Esok hari juga limbah sudah tidak boleh dibuang ke selokan kompleks! Lagipula, mengapa hal seperti ini tidak dipersiapkan sejak awal? Sampean benar-benar gegabah!” tegur keras salah seorang tetangga.

“Kami hanya tidak mengira bahwa bekas pencucian kedelai ini menghasilkan aroma tak sedap sedemikian mengganggu, Pak,” Pak Wagu berusaha meminta sedikit pengertian.

“Ah, pokoknya kami tidak mau tahu!”

Sebelum Pak Wagu menemukan lokasi lain untuk membuang limbah, laki-laki itu meninggal dunia. Tak ada penyebab mencurigakan, memang Pak Wagu sudah tua. Produksi tempe mandek. Bu Wagu yang terlalu bersedih menghabiskan hari-harinya dengan menangis.

Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, Bu Wagu memerintahkan karyawannya membuang limbah di sungai yang berjarak lumayan jauh. Limbah cairan itu dikumpulkan dalam jeriken berukuran besar, diangkut menggunakan pikap, lalu satu demi satu jeriken-jeriken itu dikosongkan ke sungai.

Para tetangga mengetahui perbuatan ini, tapi tak bisa protes. Mereka hanya menggerundel, mengira-kira kapan perangkat desa memberi sanksi kepada Bu Wagu karena telah mencemari air sungai.

Tak menemukan cara untuk menghalangi usaha produksi tempe, para tetangga mengembuskan isu lain, yaitu: Jangan beli tempe buatan Bu Wagu, karena bisa jadi telah kena najis nafas dan air liur anjing. Sebagai muslim yang baik, wajib memastikan setiap makanan terjamin kehalalan dan kebersihannya.

Tempe yang Bu Wagu titipkan pada tukang sayur yang berjualan di sekitar kompleks selalu kembali dalam keadaan membusuk. Cokelat dan berair.

Benar-benar jahat dan tak tahu diri, batin Bu Wagu muram. Hidup bermasyarakat macam apa kalau sekelompok orang yang berkuasa gemar menggencet seorang minoritas yang lemah?

Bu Wagu sudah terlalu letih untuk membalas dendam. Ia sudah abai total dan tak sudi sedikit pun berurusan dengan para tetangganya. Saat arisan ibu-ibu, ia datang, tapi hanya untuk membayar kewajiban lalu duduk diam di pojokan. Ia juga tak ikut kegiatan jalan santai di bulan Agustus dalam rangka merayakan hari kemerdekaan. Saat berpapasan dengan tetangga-tetangganya di jalan, Bu Wagu hanya melengos.

“Sebaiknya Ibu sedikit melunakkan sikap,” nasihat anak sulung Bu Wagu di telepon. “Jika satu atau dua orang membenci Ibu, bisa jadi masalah ada pada mereka. Namun, bila sampai seluruh warga kompak memiliki sikap yang sama, aku kira Ibu sebaiknya berintrospeksi.”

Bahkan anakku pun tak mendukungku dan lebih membela para tetangga!

“Lagipula Ibu sudah sepuh, lho. Sebaiknya lebih fokus pada ketenangan hati. Seharusnya tak lagi bersikap kekanakan dan menyebar permusuhan dengan orang lain.”

Bu Wagu telah membulatkan tekad. Ia tak lagi sudi berurusan dengan para tetangga. Toh, semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Ia punya beberapa karyawan yang bisa dimintai tolong. Ia juga punya anjing-anjingnya yang bisa diajak bicara dan dikeluhkesahi.

“Aku menyayangi kalian,” katanya pada anjing-anjingnya. “Selama ada kalian, aku tak membutuhkan siapa-siapa lagi.”

*** 
TAHUN INI BULAN Ramadan berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Masjid nyaring mengumandangkan azan magrib, dilanjutkan sampai malam hari dengan pembacaan ayat-ayat Alquran. Ketika Bu Wagu akhirnya memejamkan mata sekitar tengah malam, pukul tiga dini hari ia terbangun karena kaget mendengar seruan keras, “Sahur! Sahur!” Ketika Bu Wagu mulai kembali tertidur, teriakan “Imsyaaak…!” mengguntur, dilanjutkan azan subuh yang berkumandang begitu lantang.

Bu Wagu tetap menjalankan produksi tempe sambil menanti libur lebaran, saat orang-orang pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk menyambangi sanak saudara. Lingkungan perumahan akan sepi. Ia akan bebas, setidaknya selama tiga atau empat hari.

Hari yang dinanti-nanti tiba. Para pekerja produksi tempe, baik yang merayakan lebaran atau tidak, mendapatkan jatah libur dan THR. Seusai salat Id di masjid, para tetangga dengan mengenakan busana paling apik berkumpul di tanah lapang. Mereka saling bersalaman, meminta maaf lahir dan batin. Bu Wagu tetap tinggal di rumah. Hatinya masih terlalu sakit dan letih sehingga enggan untuk keluar.

“Kami tak mau datang kalau Ibu tak segera mengubah sikap.” Kali ini anak bungsunya yang menelepon. “Memang benar, Ibu telah dipojokkan, tapi sebaiknya Ibu tetap menjaga hubungan baik.”

“Kau tak memahami perasaanku.” Bu Wagu berusaha agar suaranya tak terdengar tersendat oleh rasa sedih. “Kau sampai tega menyebutku egois, padahal tak mengalami sendiri apa yang aku jalani.”

“Kami tak menyebut Ibu bersikap semaunya sendiri. Hanya saja—”

“Tak ke sini juga tak apa-apa,” sahut Bu Wagu lirih. Mungkin ini memang garis takdir hidupnya: kesepian di masa tua. Anak-anak yang dibesarkan dengan rasa cinta dan penuh perlindungan, kini bersikap seolah sama sekali tak memahami kesulitan hidup ibu mereka.

“Meski kami mendapat jatah libur lebaran, tahun ini aku dan kakak-kakak bersepakat untuk tak pergi menjenguk Ibu.” Si bungsu setengah mengharap ibunya luluh. “Kecuali Ibu berjanji Ibu akan berbaik-baik dengan—”

Bu Wagu mematikan sambungan telepon. Bila diteruskan, percakapan ini berpotensi menimbulkan rasa perih dan pedih yang berlebih-lebih.

Keriuhan menyurut ketika hari menjelang siang. Mobil demi mobil berisi rombongan keluarga dilajukan ke luar kota. Lingkungan kompleks perumnas begitu sepi. Hari yang begitu tenang dan membahagiakan.

Bu Wagu melepas keluar keempat ekor anjingnya. Mereka berlarian, mengibaskan ekor, menyalak-nyalak, berkejaran sesuka hati. Saat sore, Bu Wagu memanggil mereka pulang.

Sejenak, Bu Wagu berdiri mendongak di pekarangan depan rumah. Keempat hewan peliharannya duduk mengelilingi majikan mereka. Anjing-anjing itu turut mendongak, searah dengan tatapan Bu Wagu. Matahari sore telah melorot turun di sebelah barat. Langit keoranyean, terhampar luas dan hening tanpa seruan azan yang seringkali dikumandangkan hingga membikin pekak telinga.

Bu Wagu tak membenci azan. Tak ada yang salah dengan panggilan ibadah bagi setiap pemeluk agamanya. Tak ada yang salah dengan kebebasan memeluk dan menjalankan ibadah beragama. Hanya saja… hanya saja…

Ketika Pak Wagu masih hidup, setahun sekali kediaman mereka mendapat jatah mengadakan kebaktian di rumah. Pak dan Bu Wagu beserta para jemaah melantunkan doa dan melagukan beberapa kidung Madah Bakti. Suasana ibadah khusyuk dan menggetarkan kalbu jemaah. Namun, tidak bagi para tetangga.

Selama kebaktian dilaksanakan, beberapa dari mereka lewat di depan rumah Bu Wagu sambil batuk keras-keras. Ada pula yang bergumam, “Ya ampun, nyanyian itu benar-benar mengganggu ketentraman hidup kami.” Muncul juga anak-anak yang bermain perang-perangan atau kejar-kejaran sepeda dengan berisik. Saat ibadah usai, para jemaah keluar diiringi tatapan sengit para tetangga.

“Mereka berhak membikin keributan menggunakan pengeras suara yang dipasang di puncak menara masjid, mengapa kita yang hanya sesekali mengadakan kebaktikan diperlakukan seperti ini!?” tanya Bu Wagu gusar.

“Tidak apa-apa,” Pak Wagu menenangkan istrinya. “Tindakan mereka hanya gertakan. Yang penting dan harus disyukuri adalah ibadah hari ini berjalan lancar.”

Hari raya Idul Fitri tahun ini begitu damai dan tenang bukan main. Bu Wagu merasakan kedamaian yang luar biasa. Keheningan itu membuatnya meresapi keindahan hari raya agama lain. Tanpa teriakan pelantang suara masjid yang nyaring, tanpa bisik-bisik tetangga yang meresahkan, tanpa tatapan dengki, dan tanpa hal-hal negatif lainnya.

Walaupun ia tanpa teman, walaupun hari itu hari raya agama yang tak dipeluknya, Bu Wagu merasa Tuhan sedang mencurahkan perhatian kepada dirinya. Mencurahkan kasih sayang pada dirinya dan juga hewan-hewan peliharaannya yang kini sedang mendengking-dengking lirih.

Bu Wagu menoleh dan berkata kepada mereka, “Ya, hari ini indah luar biasa.”

Desi Puspitasari was born in Madiun, East Java, 1983. She graduated from Gadjah Mada University in Yogyakarta, where she now lives. Her novel Strawberry Surprise was adapted by Hanny R. Saputra into a film with the same title. Her other novels include Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku, Girl-ism, and On a Journey.

Keterangan:
Cerpen ini ditulis oleh Desi Puspitasari diterbitkan bersamaan dengan Valentine Day, dan telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris oleh Andy Fuller, dengan editornya adalah Pam Allen, berjudul "Mrs. Wagu's Great Day"

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di situs intersastra.com pada 14 Februari 2016

0 Response to "Hari Raya Bu Wagu"