Huruf-Huruf Hidup | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Huruf-Huruf Hidup Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:20 Rating: 4,5

Huruf-Huruf Hidup

Times New Roman

Waktu melekat di tubuhnya.
Waktu yang keras dan bergegas
seperti serdadu.

Dia dibangkitkan dari masa silam
garis-garis tajam, lengkung perisai
dan pedang.

Dan dia berpaling. Berbelok
seturut penghematan ruang.

Setelah menghabiskan langit
utara, akan ditahbiskan lagi
sebuah bentukan baru untukmu.

Seperti telah ditemukan benua
baru untuk menanam ragamu.

Di sana, dia berbaris
seperti baru turun dari gurun.
Dan waktu menjadi namanya.

Helvetica

Sungguh wajar jika kau merengut
melihatnya membesar dan mengkerut
-- tapi bajunya selalu tampak longgar.

Katanya, "Sama seperti pendahuluku,
selalu padaku-- dua cerita. Satu tentang
kepatuhanm, dan yang lain soal kerisauan."

Dunia baginya adalah segala
yang berputar, dikelompokkan, dan
pandangan sempit tentang kebenaran.

Ya, Kau setuju sebab dia terlihat
lebih lurus tetapi tidak begitu kurus,
dan sedikit membulat pada lengkung
di sebuah ujung.

Tapi, sungguh, dia tak akan pernah
membuatmu bingung. Hanya
di beberapa tempat, dia sempat
mengubah suhu lempeng besi.

Monotype Corsiva

Telah dia tebalkan beberapa
lekuk dan ujung, agar apa yang
telah tertulis sebelumnya
semakin kabur dari sejarah panjang
gotika, kitab-kitab antik, dan seseorang
yang menolak keunggulan manusia.

Telah dia layarkan dari Roma
dan Venezia, agar apa yang terhidang
untukmu tidaklah serupa membuka
sebuah halaman dan memandang
kerusakan yang telah lama
kau biarkan berkembang
di sana.

Tidak: Dia tak ingin memalingkan
wajahmu dari sebuah lanskap
kuil. Dia justru ingin memalukan
perasaan yang terperangkap
pada lekuk mungil

yang ditambahkan
secara berlebihan.

Sans Serif

Tanpa garis atau sebentuk
mistar di kedua ujungnya,
dia tertawa padamu.

"Jangan percaya pada
namaku. Sebab jelas, tak akan
pernah ada kaitannya dengan
tubuhku."

Kau kita dia muncul dari gurun tandus
atau semak kaktus. Lalu membesar
sebagai kepala berita.

"Aku hanya mengabadikan
garis lurus dan lengkung, Buyung,
selebihnya kau akan mengira
aku sebagai ragam paling sederhana."

Kau tahu, di masa lalu, dia datang
tiba-tiba di tengah halaman. Sebagai
firman itu. Tapi, seingatmu, tak ada
peranan suci. Hanya mempertegas

atau mengingatkan sebuah wacana.

Jika kau kenakan sedikit kemiringan,
atau diberi pakaian kebesaran, dia
akan memberimu dua nama
yang berbeda.

Dan ke dingin puncak-puncak
gunung, di antara kerumunan
sapi, dia tampilkan perannya
yang terakhir.

Arial

Katamu, dia lempang dan terbuka.
Seperti garis sederhana.

Hanya sejarah membalikkan keadaan
sebab pernah dia bertanya tentang Tuhan.

Telah tertulis--katanya--firman
dilayangkan seperti sebuah pukulan
sekali waktu. Lalu dibangkitkan
mereka dari Arab, Gerika, Sirilik, dan
Koptik. Mereka yang lurus lagi bagus.

Kau terpesona padanya.
Seperti telah ditetapkan dia
menjadi pasangan abadi.

Katamu, dia lempang dan terbuka.
Tapi aku lebih menyangka:
Dia adalah tanpa,
dengan kebebasan di tangannya.

Georgia

Sebenarnya, dia ditakdirkan menjagamu.
Menjagaimu seperti ladang gandum itu.
Tapi dia memilih mengunjungi taverma
dan mabuk anggur tua. Dan ketika

seekor burung putih mematuk kepalanya,
kau baru sadar pada pengkhianatannya.

Sebenarnya, dia lurus dan juara
melihat hal-hal dengan resolusi rendah.
Seperti membedakan gambar yang dikurangi
kontrasnya. Tapi karena dia lebih menyukai
lencana Sirilik sebelum milenia kedua,
ketulusanmu tak terlihat lagi olehnya.

Bagiku, wajar jika kau pergi ke angkasa.
Meninggalkannya hanya sebagai sepotong kepala.
Lalu kau mencari penjaga liyan, dari keluarga
kecil yang lmbut. Keluarga pembuka jendela.


Dedy Tri Riyadi, pekerja iklan. Bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam. Buku puisinya, Liburan Penyair (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 13 & 14 Februari 2016

0 Response to "Huruf-Huruf Hidup"