Indonesia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Indonesia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:13 Rating: 4,5

Indonesia

KETIKA diminta mewakili Indonesia dalam Malam Kesenian Internasional di Cornell, Nana bingung. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya panik. Ia tidak bisa menari Jawa, Bali, Sunda atau salah satu tarian dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Ia datang untuk belajar ilmu politik bukan untuk mempromosikan Indonesia.

Ada yang menyarankan untuk menyanyikan sebuah lagu Indonesia. Tapi tak satu pun lagu Indonesia yang benar-benar dihapalnya. Pontang-panting ia menelepon teman-temannya untuk mencari bantuan. Kemudian dia berhasil mengumpulkan beberapa buah kaset lagu Indonesia. Selama satu minggu ia mencoba memilih dan berlatih. Tetapi ketika lagu itu coba-coba diperdengarkan kepada panitia, semuanya menggeleng. “Itu kan lagu pop Amerika, coba cari yang lain yang betul-betul Indonesia,” kata mereka.

Nana membantah, “tapi ini Indonesia!” katanya dengan sengit lalu menunjukkan kaset lagu yang menjadi pegangannya. Panitia hanya mengangkat bahu. Mereka mengatakan, sudah banyak yang menyanyikan lagu seperti itu. “Ini malam internasional, bukan kontes lagu pop. Mengapa kamu tidak menari saja?” tanya mereka sambil menggerak-gerakkan tangan seperti penari India. Nana keki lalu mencampakkan kaset lagu itu.

“Mengapa mesti menari?” bantah Nana dengan keras. “Menari itu tidak bisa dipelajari satu dua hari. Bagaimana kalau memperkenalkan pakaian daerah?” Lalu ia memamerkan gaun-gaun batik yang dibelinya di butik sebelum berangkat. Panitia menjamah gaun itu dengan melotot. Mereka suka sekali. Ada yang menanyakan harganya dan ingin membelinya. “Tetapi ini kan Malaysia, coba yang lain yang lebih Indonesia,” kata mereka.

Nana mulai kesal. “Orang-orang ini di samping tidak tahu apa itu Indonesia, tetapi sudah kurang ajar. Mereka mau mendiktekan apa itu Indonesia menurut persepsi mereka. Menari atau tidak menari, menyanyi atau tidak menyanyi, aku tetap Indonesia,” bisik Nana dalam hatinya. “Apa pun yang aku lakukan, itu adalah mewakili Indonesia, karena aku adalah orang Indonesia. Dan aku orang Indonesia masa kini, bukan orang Indonesia masa lalu. Aku harus berani mewakili Indonesia menurut eksistensiku sendiri. Ini adalah bagian dari Indonesia.”

Setelah itu Nana diam-diam saja. Ketika panitia menanyakan apa ia masih bersedia untuk tampil, Nana menjawab, “tentu saja.” “Tetapi apa?” tanya mereka. Nana hanya tersenyum dan mengangguk. “Lihat saja nanti. Ini surprise!”

Panitia ternyata tidak mau surprise. Mereka merencanakan acara ini dengan teliti. Mereka mau semuanya benar-benar dengan perhitungan. “Jadi kamu akan menari Nana?” tanya mereka seperti memojokkan. Nana tak menjawab karena marah. “Kamu akan menari kan? Negeri kamu begitu terkenal dengan tariannya, mengapa kamu menyia-nyiakan kesempatan ini?! Kamu kurang nasionalis!” Nana makin dongkol. “Jadi bagaimana?” Karena kesal Nana mengangguk. “Tari Jawa?” Nana mengangguk lagi. “Kamu perlu tape rekorder atau yang lainnya?” Nana menggeleng. Panitia curiga. “Kami ingin mencek waktu dan membuat komposisi acara, jadi kami minta kami suka mendemonstrasikan tarianmu,” kata mereka dengan tegas.

Nana melupakan sama sekali malam kesenian internasional itu. “Ini bukan satu-satunya forum untuk menyatakan eksistensi Indonesia,” katanya menghibur diri. Tapi tiba-tiba panitia itu muncul kembali meminta nomor tari untuk dimasukkan ke dalam daftar acara. Nana bengong lalu marah-marah, tapi panitia hanya tertawa. “Kamu jangan mempermainkan kami Nana,” kata mereka sama sekali tak peduli. 

Nana tak bisa mengelak lagi. Untung masih ada waktu. Ia pontang-panting menghubungi Sumarsam, lalu minta kursus kilat tarian yang paling gampang. Tetapi semua tarian sulit kalau sudah dipelajari. Yang paling sederhana dan gampang pun memerlukan waktu dan ketekunan penuh untuk menguasainya. Nana menyerah kalah. Untungnya panitia tidak memburu-buru lagi, sehingga Nana merasa terlepas dari bahaya. “Tidak terwakili dalam alam kesenian internasional tidak berarti Indonesia lalu tidak ada,” kata Nana menghibur diri.

Tetapi ketika undangan disebarkan, nama Nana sudah tercantum di urutan tengah. Kembali Nana panik. Ia buru-buru menghubungi panitia, untuk komplin. Tetapi panitia hanya mengangkat bahu. “Itu salah kamu sendiri, kamu tidak pernah mengatakan tidak sanggup Nana. Kami kekurangan acara. Tak ada yang mewakili Asia Tenggara. Kamu harus muncul karena sudah masuk ke dalam acara,” kata mereka sambil tersenyum. Nana mati kutu. 

Dengan kesal Nana terpaksa kembali melanjutkan belajar menari. Di Indonesia ia sama sekali tak punya perhatian pada kesenian daerah. Sekarang tak ada jalan lain. Dengan tersiksa ia belajar menggerakkan tangan, kaki, kepala, melempar selendang, menjaga pandangan mata, posisi bibir, mengontrol emosi dan sebagainya. “Menari tidak hanya berarti mengolah tubuh dan menghapalkan gerak. Menari adalah pendidikan mental, mempelajari disiplin, berkontemplasi, bukan hanya hiburan tetapi ritual,” kata Sumarsam dengan tersenyum mengajarinya dengan sabar. 

Nana sulit sekali menguasai tarian. Tetapi pada akhirnya karena sudah dijadwalkan, ia berhasil. Ia sendiri takjub. Tak percaya bahwa ia bisa berdialog dengan musik tradisional yang diciptakan pada masa yang lampau. Heran bagaimana ia bisa mengorganisir anggota tubuhnya, termasuk emosinya dalam satu paket tertentu. Apalagi setiap kali menari ia merasakan seperti pengalaman baru. Nana seperti mendapat kesegaran karena menari menolongnya berekspresi. 

Semua teman-teman Nana memuji. Mereka menganggap Nana memiliki bakat terpendam. Tapi Nana sendiri tak peduli. Ia tak pernah meragukan dirinya tak mampu, hanya saja ia memang tak pernah tertarik. “Mengapa mesti menari untuk menyatakan diri kita orang Indonesia. Mengapa kita tidak bisa keluar dari pola itu. Apa kalau tidak menari kita bukan Indonesia?” tanyanya.

Pada malam internasional itu semua orang berkeplok tangan untuk Nana. Teman-temannya bangga. “Indonesia malam ini jadi bintang,” kata mereka. Tetapi Nana sama sekali tidak bangga. Ia pulang dengan pikiran kusut. “Aku tidak mengerti mengapa aku harus bangga. Aku sudah menolong mereka senang. Tetapi aku tidak puas sama sekali, karena mereka tidak menerima Indonesia apa adanya, tetapi mereka memaksakan aku menontonkan Indonesia sebagaimana yang sudah ada dalam cetakan pikiran mereka,” kata Nana dengan kesal. 

Sesudah malam internasional itu, Nana sering kali diminta untuk menari kembali. Tetapi ia selalu menolak. “Sekarang bukan karena tidak bisa, tapi karena itu bertentangan dengan ideku tentang Indonesia,” katanya. “Indonesia bukan hanya tarian-tarian tradisional, tetapi juga bangsa yang hidup, yang haus pada kemajuan ilmu pengetahuan, yang memerlukan identitas lain selain barang tontonan. Indonesia harus diterima apa adanya sekarang manusia Indonesia. Tidak hanya dengan tarian, tetapi juga dengan slogan-slogan kita dan kepalan tangan kalau perlu,” kata Nana berapi-api.

Tak ada yang berani menganggu Nana, karena ia amat yakin, keras dan serius. Teman-temannya mulai memahami apa yang menjadi prinsip-prinsipnya. Ketika ada kesempatan malam internasional yang lain, Nana tidak lagi diajak. Buat Nana itu kurang adil. “Mengapa Indonesia tak diikutsertakan, padahal aku ada di sini?” tanyanya dengan marah.

Panitia hanya mengangkat bahu. “Ya kalau kamu mau menari silakan, tetapi kalau kamu mau menyanyikan musip pop seperti Madonna, terima kasih saja,” kata panitia. Nana makin marah. “Lho apa yang kalian ketahui tentang Indonesia? Kamu kira Indonesia itu cuma bisa menari? Lebih baik tidak ada malam internasional kalau kalian mencoba mendiktekan apa yang kalian inginkan dari kami!”

Panitia tidak peduli. “Dengan atau tanpa Indonesia, malam ini akan terus berlangsung. Kamu tinggal pilih, mau ikut atau tidak, Nana, kamu bebas, kami tidak akan memaksa kamu!” kata panitia sambil tersenyum. “Hubungi kami cepat sebelum deadline, kalau kamu berubah pikiran!”

Nana kembali marah-marah. Dengan ditindih kekesalan ia pergi ke rumah Sumarsam, untuk melepaskan rasa dongkolnya. Tetapi Sumarsam menyangka, Nana ingin meneruskan pelajaran tari. Ia menyiapkan kaset dan memberikan Nina selendang. “Tarian kamu dulu masih kasar, sekarang perlu disempurnakan detailnya. Tarian tidak hanya berhenti setelah dikuasai dasarnya, tetapi dikembangkan sehingga muncul sari-sarinya dari jiwa penari. Di situ baru akan terasa bahwa menari itu sebagai gerakan batin yang menolong untuk berekspresi,” kata Sumarsam sambil tersenyum. “Nanti bentuknya tidak lagi penting, yang paling utama adalah pesannya.”

Nana bingung. Tetapi karena ia tidak mau menyakiti hati orang tua itu, ia mengikuti Sumarsam ke ruangan tari. Musik dipasang dan Nana mulai menari. Rasa dongkolnya untuk sementara hilang. Tetapi prinsip-prinsipnya tak pernah goyah. “Aku tak rela kalau manusia Indonesia cukup puas kalau sudah disuruh menari. Identitas kita mestinya lebih dari sekadar menari. Kita sama dengan siapa saja bangsa di dunia ini. Kita bukan hanya bangsa tontonan yang dipajang di museum,” katanya sambil menggerakkan tangan, kaki, dan selendang.

Sumarsam memuji setinggi langit, setelah latihan berakhir. “Begitu mestinya, itu baru menari,” katanya sambil menepuk-nepuk pundak Nana. “Menari itu mengucapkan diri. Apa yang kamu lakukan tadi tidak hanya melenggang-lenggok seperti kebanyakan penari, tetapi kamu sudah mulai berdialog dengan dunia. Kamu mengucapkan diri lewat gerakan-gerakan itu, sehingga apa yang kamu lakukan akan memberikan pengalaman spiritual buat orang yang melihatnya dan buat dirimu sendiri. Ya kan? Apa kamu akan menari lagi untuk malam internasional kali ini. Banyak orang yang menarikan tarian tradisional, tetapi mereka menari sedemikian rupa sehingga tarian itu tidak nampak hidup. Kamu membuat semuanya hidup, sehingga itu bukan hanya sekadar kelangenan, tetapi menciptakan citra kita sebagai orang Indonesia sekarang?”

Nana terdiam. 

“Betul. Dengan menari seperti itu jelas bahwa gerak-gerakan itu bukan semata-mata keindahan, tetapi juga adalah pengucapan konsep-konsep dan filosofi kita di dalam kehidupan. Tanggapan kita sebagai bangsa dalam jagat ini. Kamu harus menari untuk mewakili kita!”

Nana menarik napas panjang. Ia tak ingin mengecewakan hati orang tua itu. Ia diam saja.

“Bagus,” kata Sumarsam dengan gembira, “Banyak orang yang sudah malu menari, karena merasa itu tidak cocok lagi dengan zaman sekarang. Tetapi tarian ini meskipun memang diciptakan di masa lalu, ia tetap memiliki citra kita sampai sekarang, kalau memang kita sendiri tak salah menempatkannya. Bukan tariannya yang salah, tetapi pikiran orang yang membawakannya selama ini salah sehingga banyak tarian seperti hanya gerak mati yang hanya merupakan bagian dari masa lalu yang usang. Tapi apa yang kamu lakukan tadi benar-benar lain. Itu tradisional tapi juga amat modern. Ya tidak? Coba tanyakan pada orang nanti yang menontonnya!”

Nana tetap tidak menjawab. Tetapi ia jadi penasaran. Lalu ia menelepon panitia malam internasional, mengatakan supaya Indonesia tercatat dalam daftar acara. “Tapi kami sudah terlalu banyak lagu pop, kami juga tidak mau pembacaan sajak atau pameran tata busana, kami mau sesuatu yang khas Indonesia,” kata panitia dengan tegas. “Ini Indonesia,” seru Nana setengah berteriak. “Kami tahu, tapi kamu sudah punya kriteria tersendiri yang harus diikuti oleh semua penyumbang. Kami hanya bisa menerima sumbangan acara Indonesia dari mahasiswa Indonesia.” Nana langsung mendamprat: “Ini Indonesia!”

Pada malam internasional itu, Nana menari. Kembali semua orang berkeplok tangan. Kembali semua orang memuji-muji dan mengatakan malam itu bintangnya adalah Indonesia. Dalam resepsi makan setelah pertunjukan kesenian selesai, ia dikerubut puji-pujian dan pertanyaan. “Bagaimana kamu bisa menggerakkan jari-jari kamu semacam itu? Mengapa tangan kamu bisa kecil sekali? Kaki kamu kok bisa melangkah seperti itu tanpa kehilangan keseimbangan. Pandangan kamu begitu agung. Musiknya fantastis dan pakaiannya betul-betul menarik. Kamu dari Thailand?”

Nana termenung lama. “Mungkinlah Indonesia masih berupa cita-cita?” tanyanya dengan sedih. Pulang dari gedung pertemuan, ia mengangkat telepon, bicara dengan orang tuanya di Indonesia. “Saya sedih sekali Pak,” katanya begitu terdengar suara ayahnya di pesawat, “tak seorang pun yang menerima kita sebagai bangsa yang hidup. Mereka hanya menerima masa lampau kita. Dan kita diam-diam sudah mengikuti perangkap mereka. Kita dimasukkan ke dalam museum. Ini kasar sekali! Mereka tak pernah berhenti menjajah kita.”

Ayahnya tertawa di pesawat. Ia menyangka Nana sedang mengucapkan sebagian dari papernya. Ia minta supaya tidak terlalu emosional. “Karena pernyataan-pernyataan seperti itu juga sudah jadi klise sekarang. Setiap orang bisa mengucapkannya. Apakah kamu punya bukti-bukti yang baru, itu soalnya,” kata ayahnya. “Ya!” teriak Nana.

“Apa?”

“Saya baru saja menari tadi untuk menunjukkan eksistensi Indonesia!”

“Terus? Berhasil?”

“Apa maksud Bapak?”

“Berhasil tidak kamu menari?”

“Ya berhasil. Mereka semua memberikan pujian. Tapi apa itu Indonesia?”

“Kenapa bukan?”

“Ada yang menyangka itu Thailand.”

Ayahnya tertawa lagi. “Itu karena pelajaran geografi mereka memang kurang.”

“Oke. Kalau toh mereka tahu itu Indonesia, itu Indonesia yang mereka inginkan. Bukan Indonesia yang sebenarnya. Indonesia bukan hanya itu kan? Saya dengan blue jean dan musik-musik pop saya juga Indonesia. Saya tidak menari, saya tidak memakai kebaya, saya belajar ilmu politik, saya mampu dapat A plus seperti mereka untuk semua kredit yang saya ambil, saya mampu berdiskusi dalam seminar, saya juga orang Indonesia yang akan menggantikan generasi yang sudah tua, meskipun saya tidak bisa menari! Saya minta diperhitungkan!”

“Tapi kamu sudah diperhitungkan!”

“Saya tidak bicara untuk diri saya. Saya minta negeri kita diperhitungkan!”

“Sudah kan? Karena itu mereka minta kamu ikut mengisi acara. Mereka merasa kurang lengkap kalau kamu tidak ikut? Ya tidak?”

“Betul. Tapi bukan sebagai barang museum!” 

“Lalu apa?”

“Sebagai bangsa yang wajar. Setaraf!”

“Kamu yakin itu lebih bagus?”

“Ya!”

“Kalau begitu mengapa kamu mau menari dan belajar menari, padahal dulu di rumah kamu paling ogah kalau disuruh mempelajari kesenian tradisional?”

“Karena itu jalan satu-satunya supaya diperhitungkan!”

“Nah ya kan?!”

“Maksud saya karena terpaksa, karena mereka tidak memberikan peluang lain!”

“Maksud kamu, kamu mau mengemis supaya mereka mau memberikan peluang lain?”

“Siapa bilang mengemis!”

“Lalu apa? Apa yang akan kamu kerjakan kalau memang hanya itu peluang yang mereka berikan? Mengharap belas kasihan? Minta bantuan orang lain? Atau apa?”

“Saya tidak tahu? Saya hanya tidak bisa terima! Apa?”

“Barangkali itu sebabnya kamu sekolah sekarang, ya tidak?”

Nana meletakkan telepon dengan kesal. Ayahnya tak pernah menyokong kalau ia mengadu. Tak pernah memberikan jawaban, tetapi memaksa supaya ia sendiri memutuskan jawabannya. 

Ia mengangkat telepon lagi dan bicara dengan Sumarsam. Tetapi tak ada yang mengangkat. Nana baru sadar jam sudah menunjuk pukul tiga. Ia meraih aspirin. Sebelum menelannya, ia memandangi tablet itu lalu ngomel. “Aku tahu ini bukan Indonesia, tetapi demi Tuhan sudah hampir pagi, aku harus tidur supaya jangan mengantuk dalam kelas besok,” katanya lalu menelan tablet itu cepat-cepat.
Esoknya Nana mengunjungi Sumarsam.

“Saya tak mengerti,” katanya sebelum guru tari itu menyeretnya ke ruang latihan, “mengapa kita harus menari untuk menjadi orang Indonesia? Apa orang yang tak bisa menari bukan Indonesia? Apa orang Indian Amerika harus tetap tinggal di dalam tipi dan memakai mokasin supaya tetap Indian. Bagaimana dengan orang Amerika sendiri? Mereka tidak memakai topi koboi lagi, banyak di antaranya yang sudah pakai blangkon, makan gudeg dan bicara medok seperti orang Yogya, tapi mereka tidak luntur sebagai orang Amerika. Mengapa kita harus menerima mereka, sedangkan kita tidak mereka terima, dalam persoalan yang sama?”

Sumarsam mengangguk-angguk mengerti. “O ini lagi marah-marah?” katanya dengan lucu, “sedang keki ya?”

“Habis masak mereka selalu memaksakan maunya sendiri?” 

“Tapi memang begitu kalau kita di negeri orang, mau apa?”

“Kita tidak pernah memperlakukan mereka seperti itu, kan?!”

“Karena mereka bukan kita! Apa enaknya kalau mereka sama dengan kita?”

“Nah, pasti itu dasar pikirannya membuat mereka berpendapat kita berbeda dengan mereka. Kita hanya dijadikan hiburan!”

Sumarsam menggeleng. 

“Itu tidak betul. Mereka belajar dari kita!”

“Kalau begitu mereka harus mengakui kita?”

“Jelas!”

“Tapi kan yang diakui hanya masa lalu kita, bagaimana dengan keadaan kita sekarang?”

“Itu memerlukan waktu.”

“Berapa lama?”

“Itu tergantung dari kita sendiri.”

“Saya mau sekarang!”

“Boleh.”

Nana terkejut.

“Apa?”

“Maunya sekarang?”

“Ya, sekarang!”

“Ya boleh.”

“Boleh bagaimana?”

“Silakan.”

“Silakan apa?”

“Silakan berusaha, katanya maunya sekarang?!”

“Caranya bagaimana?”

Sumarsam menunjuk ke ruang tari.

“Nanti di situ akan jelas. Akan bertambah jelas.”

Ia langsung menuju ke ruang tari. Nana mengikuti seperti kerbau yang dicocok hidung. Lalu pintu ditutup. Terdengar suara gamelan dari kaset. Nana meneruskan belajar tari. Dalam suara gamelan sambil menggerakkan tangan, memindahkan kaki dan mengatur pandangan mata, Nana mulai memperoleh jawaban. “Semuanya memerlukan waktu,” katanya makin sabar dan makin mengerti.

Setahun kemudian, menjelang hari internasional, telepon Nana berdering kembali.

“Hallo Nana, ini kamu? Kami panitia Malam Kesenian Internasional, kami sudah memilih kamu untuk mewakili Indonesia.”

“O ya? Lagi?”

“Tidak. Sekarang kamu pasti suka. Kami minta supaya kamu menyanyikan lagu pop kamu. Lagu-lagu rock kamu, karena acara ini temanya adalah pop culture.”

“Bagaimana kalau aku mau menari?”

“Tidak bisa. Kamu harus menyanyikan lagu pop dan memakai batik.”

“Kenapa?”

“Ya, karena itu tema kita sekarang.”

“Jadi aku harus menyanyikan lagu pop karena temanya begitu, bukan karena aku orang Indonesia?”

“Dua-duanya.”

Nana diam beberapa lama.

“Bagaimana Nana, kamu masih di situ?”

“Ya, masih. Aku sedang berpikir.”

“Jadi kamu akan menyanyikan lagu pop. Lagunya apa?”

“Tidak, aku tidak akan menyanyi, aku akan menari untuk mengenalkan Indonesia.”

“Kamu tidak bisa menari, kamu hanya bisa menyanyi, itu tema kita sekarang. Dan lagu pop. Kamu juga harus ingat kamu harus pakai pakaian batik kamu yang terkenal itu!”

“Tidak. Aku akan menari!”

“Kami tidak menerima tarian!”

“Tidak peduli. Kalau kalian ingin Indonesia hadir, kalian harus memasukkan tarian!”

“Kami ingin sekali setiap negara hadir. Tetapi tema kami kali ini adalah pop culture di negeri masing-masing. Kalau toh kamu ingin menari kamu boleh saja, tetapi tarian apa, itu soalnya? Kamu akan menarikan tari klasik?”

“Ya dong!”

“Tidak bisa. Kami mencari pop culture!”

“O kalian tidak bisa menentukan apa itu Indonesia. Aku orang Indonesia kan, kalau kamu ingin Indonesia tampil, aku yang menentukan apa yang bisa merepresentasikan negeriku! Jangan ngaco!”
Suara di telepon itu tertawa.

“Maaf Nana, ini sudah keputusan bersama.”

“Keputusan kalian kan? Mengapa mesti selalu kalian yang penting, bukan kami?”

“Karena kami panitia, kami sudah menentukan begitu!”

“Tapi itu salah! Itu tidak adil!”

“Oke kalau kamu tidak setuju, Indonesia akan kami coret.”

“Tunggu!”

Telepon diputus. Nana marah sekali. Ia memutar telepon kembali, tetapi nomor itu selalu sibuk. Akhirnya Nana hanya bisa memaki-maki. Teman sekamarnya, orang dari Puerto Rico menanyakan mengapa Nana jadi senewen. Ketika ia mendengar apa yang dikatakan Nana, ia ikut memaki-maki. 

“Kita selalu kalah,” katanya dengan sengit. “Kamu harus berontak, Nana, kalau tidak mereka akan tetap memperlakukan kamu seenak perutnya. Mereka selalu berusaha melihat kita dengan mata mereka. Kita selalu jadi objek sampai dunia kiamat!”

Nana makin marah.

“Aku tidak peduli. Aku akan datang dan aku akan menari!” katanya uring-uringan. Ia menelepon kawan-kawannya untuk membagikan marahnya. Tetapi mereka hanya mendengarkan, tak begitu antusias menyokong, sehingga Nana makin kecewa. “Bagaimana sih kalian, kok melempem. Kita disepelekan, tapi kalian diam saja. Ini persoalan kita semua, ini penting!”

“Dulu kamu ngotot mau menyanyikan lagu pop dan tidak mau menari, sekarang kamu mau menari dan tidak mau menyanyikan lagu pop. Kamu sendiri yang tak konsisten,” kata seorang kawannya. 

“Hee, tunggu dulu, bukan itu soalnya!” bantah Nana dengan sengit. “Soalnya bukan tari tradisional atau pop culture, tapi ini soal penjajahan imej. Mereka tidak bisa seenaknya menentukan format kita, menurut kebutuhan mereka, kita punya hak untuk menyatakan eksistensi kita. Ini demokrasi. Ini bukan zaman kolonialisme lagi!”

Anak-anak melapor pada Sumarsam bahwa Nana marah-marah. Lalu orang tua itu memanggil Nana supaya datang makan gado-gado di rumahnya. Setelah selesai makan Sumarsam menanyakan mengapa Nana begitu uring-uringan.

“Habis, bagaimana tidak?” kata Nana seperti dapat kesempatan muntah. “Kita tak pernah diperlakukan dengan adil. Kita diberi kemerdekaan, tetapi kita tetap hanya dianggap dan diperlakukan sebagai budak. Mungkin kita harus menyerang seperti Jepang, baru mereka sadar bahwa Asia itu bukan hanya bayi gendut, tetapi beruang yang bisa buas kalau diperlakukan tidak adil. Ini masalah keadilan yang sudah dikorup begitu sempurnanya sampai merembet pada soal-soal kecil, seperti menentukan acara dalam malam kesenian ini. Kalau kita diamkan, bisa tambah parah. Kita berhak menentukan siapa kita. Yak kan pak Marsam?”

Sumarsam tersenyum.

“Jadi mereka tidak mau lagi ada tarian?”

“Itulah, masak mereka mau kita menyanyikan lagu koboi?”

“Tapi mereka juga banyak yang menari dan menabuh gamelan kita kan?”

“Nah itulah soalnya. Kalau mereka jungkir balik pakai blangkon, atau menyanyikan lagu Walang Kekek juga tidak bakalan apa-apa, kan mereka sudah maju. Mereka tak punya beban mental. Itu semuanya hanya ekspansi budaya. Tapi kalau kita yang makan saja tak cukup, ikut-ikutan naik kuda dan menyanyikan Blowing in The Wind, itu kan hanya ikut-ikutan dan tak lebih dari akulturasi?”

Sumarsam kembali tersenyum. 

“Jadi Nana tidak mau Indonesia ditampilkan malam itu?”

“Bukan begitu. Indonesia harus muncul, kalau negara-negara lain juga muncul, itu prinsip. Nana hanya tidak mau mereka yang menentukan apa itu Indonesia. Saya mau kita sendiri yang menentukan apa itu Indonesia! Jadi saya akan menari!”

“Kalau mereka menolak?”

Nana tersenyum.

“Saya sudah mengancam mereka bahwa saya akan melakukan protes, kalau mereka tolak. Lebih baik malam ini ditiadakan sama sekali kalau temanya berbau kolonial seperti itu! Saya mengancam akan menyabotnya. Kita punya hak yang sama untuk menentukan. Ini negeri merdeka kan?! Mereka takut juga. Lalu mereka mengizinkan saya satu-satunya yang muncul dengan tarian tradisional, sementara yang lain-lain semuanya jingkrak-jingkrak.”

Sumarsam tercenung. Lalu Nana minta Sumarsam mengecek kembali tariannya. Mereka berdua masuk ke ruang latihan, di basement. Istri dan anak-anak Sumarsam ikut turun untuk menonton. 

Nana menari dengan sungguh-sungguh. Mukanya kelihatan tegang. Ia benar-benar ingin membuktikan kepada gurunya bahwa ia seorang penari yang jempolan. Semua lalu keplok tangan, ketika tarian itu berakhir. Tetapi wajah Sumarsam kelihatan kurang cerah. 

“Bagaimana Pak?” tanya Nana seperti mengharapkan pujian.

Sumarsam mengangguk-angguk saja dan tersenyum. 

“Yah, tidak ada yang salah. Hanya saja rasanya berbeda dengan ketika kamu dulu menari. Kebagusan itu tidak bisa dipaksakan. Tidak cukup hanya betul, tidak cukup hanya tepat sebagaimana seharusnya, tetapi harus didorong oleh rasa yang ada di dalam diri. Rasa itu harus pas, kebagusan akan lahir dengan sendirinya kalau memang semua unsur-unsur itu berpadu dengan baik. Kalau belum, walaupun memang betul, akan terasa seperti dipaksakan. Dan segala sesuatu yang dipaksakan yang tidak lahir dengan sendirinya, hanya akan menjadi kaku dan semu. Kalau ingin mencari penari yang baik harus mencari kewajaran itu, bukan kebagusan yang kaku. Sebaiknya segala sesuatu itu jangan dipaksakan. Kalau memang betul, dengan sendirinya akan menimbulkan rasa bagus pada diri orang lain. Ya kan? Pengakuan itu tidak bisa dipaksakan tetapi dengan sendirinya akan terucap oleh orang lain kalau memang sudah benar-benar bagus. Jadi soal waktu saja.”

Nana kecewa mendengar komentar itu. Ia cepat-cepat minta diri pulang. Tetapi Sumarsam juga kelihatan agak kecewa karena Nana tak mengerti apa sebenarnya yang ingin dikatakannya. Ketika ia mencoba menelepon untuk menerangkan lebih lanjut, telepon Nana sibuk terus. Sumarsam tahu, anak itu tak mau dihubungi. 

Pada malam internasional, sementara semua penyumbang membawakan berbagai unsur-unsur pop culture, Nana tampil dengan tarian tradisional. Ketika ia muncul, semua hadirin terdiam. “Inilah Indonesia, kamu suka atau tidak suka terserah, tapi inilah negeri saya,” kata Nana di tengah panggung, lalu memberi isyarat supaya tape diputar.

Lagu Jawa dari kaset itu terasa asing dan aneh pada malam yang lebih menyerupai hura-hura itu. Para pengunjung yang tadinya berkeplok dan ikut berjingkrak-jingkrak, mendadak diam. Lemah gemulai gerakan Nana, serta musik yang seakan-akan datang dari surga itu benar-benar memutuskan irama yang sedang menggebu-gebu.

Mula-mula semuanya terdiam. Semua mata terpaku. Tetapi lewat lima menit, penonton mulai gelisah. Apa yang ada di panggung mulai terasa sebagai hukuman. Lalu seruan uuuu-uuuuu-uuuu mulai terdengar. Dan akhirnya anak-anak muda itu tak bisa lagi menahan dirinya. Mereka berkeplok, mengganggu dan menyuruh tarian itu dihentikan. 

Nana tak peduli. Ia terus menari. Masih separuh tarian lagi. Ia justru senang dapat menyiksa orang-orang itu. “Mengapa cuma kita selama ini yang harus sabar untuk mengerti mereka, mereka juga harus sabar untuk kita, kalau mau tahu siapa sebenarnya kita,” katanya dalam hati sambil senyum puas. Kepuasan Nana tampak oleh semua penonton. Mereka jadi marah dan tak berbasa-basi lagi untuk menyatakan protesnya. Bukan karena tarian itu buruk, tapi karena bukan itu yang mereka harapkan. 

Tiba-tiba suara musik terputus. Nana tertegun. Ia melirik ke samping panggung. Temannya orang Puerto Rico itu mengangkat tangan mengatakan tape menghadapi kerusakan teknis. Penonton berkeplok riuh karena puas. Nana terkejut. Ia menunggu beberapa detik, tetapi temannya memberikan isyarat tak ada harapan. Seuan uuuuuu tambah santer. 

Waktu itu Nana melihat mikropon masih ada di ujung kanan panggung. Tiba-tiba ia membebaskan dirinya dari posisi tari. Ia bergegas mengambil mikropon. Lalu berdiri di bagian depan tengah panggung. Memandangi hadirin dengan menantang, lalu menghentakkan kaki, one-two-three, dan begitu saja menyanyikan: “Larilah hai kudaku, larilah ayo lari, tariklah keretaku ….” Hangat dan gembira.

Penonton bersorak riuh, meledak seperti terlepas dari maut. Semua mengikuti irama Nana dengan keplokan tangan. Dengan kostum penari Jawa Nana berjingkrak-jingkrak menyanyi. Selesai lagu, penonton berkeplok gemuruh tak mengizinkan Nana pergi dari panggung. Panitia muncul memegangi Nana dan minta ia menyanyi sekali lagi. Nana tak bisa menolak. Lalu ia menyanyikan lagu dangdut sambil meliuk-liuk. 

“Cukup sekali aku merasaaaaaa ….”

Ia kelihatan hebat dan penonton suka sekali. Beberapa orang malah bergoyang-goyang mengikuti suaranya. Nana jadi bintang lagi. Ia tidak diperkenankan berhenti. Semua orang minta dia terus, terus, terus menyanyi. 

“Kamu hebat. Kamu bintang malam ini. Indonesia kembali jadi bintang malam ini!” kata teman-teman Nana setelah selesai pertunjkan, memeluk dan menciuminya. Panitia merangkul Nana dan mengucapkan terima kasih. “Kami tidak menyangka kamu membuat kejutan. Kami kira tadinya kamu mau merusakkan acara, ternyata kamu membuat acara ini berhasil! Yang lain semua kalah! Hidup Indonesia!”

Nana tak menjawab. Ia telan saja semua puji-pujian itu. Di apartementnya, setelah sendirian, ia menangis. “Ya Tuhan,” bisiknya. 

Medison 10 Juni 1987

Putu Wijaya, lahir di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Sarjana hukum lulusan Universitas Gadjah Mada, 1969, ini lebih dikenal sebagai penulis dan orang teater, ketimbang sebagai wartawan. Kelompok teaternya, Teater Mandiri, aktif berpentas di TIM, Jakarta. Pernah tinggal 6 bulan di Jepang, bergabung dengan para petani dan menjadi petani. Dua tahun bermukim di Amerika Serikat dan sempat memanggungkan lakon karyanya di La Mama, Off-Off Broadway, New York. Pementasan terakhirnya, 1989, di Gedung Kesenian Jakarta, berjudul Wah. Ia bekerja di majalah TEMPO dan rajin menulis kritik teater dan film. (Matra, Mei 1990)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Mei 1990

0 Response to "Indonesia"