Jejaka Lusuh - Frame Senja - Doa Ibu - Rindu Ini Telah Menua - November Ini - Kursi Tua - Para Pencari Koin - Gelas-Gelas Kosong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jejaka Lusuh - Frame Senja - Doa Ibu - Rindu Ini Telah Menua - November Ini - Kursi Tua - Para Pencari Koin - Gelas-Gelas Kosong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:33 Rating: 4,5

Jejaka Lusuh - Frame Senja - Doa Ibu - Rindu Ini Telah Menua - November Ini - Kursi Tua - Para Pencari Koin - Gelas-Gelas Kosong

Jejaka Lusuh

Di bangsal barokah tapak kakimu berbekas
Di atas lantai-lantai basah yang kau usap dengan peluh
Sorot mata pada kamar tujuh itu tak berkesudahan
Menarik kembali benang yang sudah terpintal
Sampai-sampai lupa kau pada
Angka yang menggeliat di sekujur tubuh
Hingga mengeriput kulit yang membungkusmu

Purwokerto, 18 Mei 2015

Frame Senja

Kalaulah kau sudah enggan
Merebah di atas larik-larik kata yang
Di bariskan mega merah
Adakah kau akan patahkan buhul di patok gubug itu
Ketika tinta malah merongrong
Atas sepi yang terbantah jemarimu

Purwokerto, 18 Mei 2015

Doa Ibu

Jarum jam pada dinding kamarmu
Memberi irama pada tiap sepertiga malam
Dia mungkin kan menua dan rapuh
Tapi semesta kan terus mengeja salam yang kau
layangkan pada anakmu

Banteran, 3 Oktober 2015

Rindu Ini Telah Menua

Aku titipkan rindu yang mendaun
Pada ranting-ranting do’a
Dan fatihah kan sampaikan
Tentang setiap helai daun itu yang telah menua
Yang teralamatkan pada waktu

Banteran, 3 Oktober 2015

November Ini

Gerimis menyetubuhi malamku yang sunyi
Adakah kau di sana sama
Terselimuti rindu yang begitu mendung
Ingin kuuapkan biar jadi hujan
Namun kau pun tak kunjung pulang
‘’november ini’’ katamu

Purwokerto, 19 Oktober 2015

Kursi Tua

Masih saja matamu menatap ke luar jendela. Sudah lebih
dari sekian tahun lalu kau hanya duduk di sana, ditimang
kursi tua, yang hampir rapuh di makan waktu. Kau bahkan
tak sadar bahwa tubuhmu kini mulai senja. Kau hanya
menggulirkan harimu, menapaki jalan di anganmu di atas
kursimu seperti kekasih. Masih berharap kau pada lelaki
yang biasa menggendongmu ke atas kasur pada berpuluh-
puluh tahun lalu.

Banteran, 3 Oktober 2015

Para Pencari Koin

Dari jalan tikungan itu
Kulihat kau membungkuk
Mengiikuti alur sinar senter yang membuat
Matamu menari ke kanan dan kiri
Mengais koin yang entah
Akan kau dapatkan atau hanya angin
Yang akan membalut perutmu malam ini
Sesekali matamu ikuti arah lampu sen yang melintas
Nanar memandang semoga akan ada koin juga darinya
Kau mungkin sudah kebal dengan duri duri dan paku
Yang sewaktu waktu dapat menancap dikaki senjamu

Kemranjen, 13 Januari 2016

Gelas-Gelas Kosong

Bagaimana aku akan meminum
Sedangkan tak ada susu atau pun madu
Yang kau janjikan dalam gelas itu
Sampai angin yang bernyanyi bersama sunyi
Memenuhi gelas gelas yang kau biarkan kosong
Apakah kau benar benar ingin
Membuatku haus akan penantian ini
Menantikan tanganmu mengucurkan madu
Membersihkan dinding dinding gelasku dari rindu
Yang semakin membuatku sekarat

Sumbang, 13 Januari 2016


L Nurul Fadhilah adalah seorang mahasiswi semester III Jurusan KPI. Bergiat di LPM Obsesi dan Komunitas KPI Art Freedom. Mahasiswi kelahiran Banyumas,11 September 1996 ini sekarang tinggal di Karangturi, Puisinya termuat dalam antologi Pilar Puisi II (2015), Perempuan dan Telapak Kaki (2015), dan Merantau Malam (2015). (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya L Nurul Fadhilah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to " Jejaka Lusuh - Frame Senja - Doa Ibu - Rindu Ini Telah Menua - November Ini - Kursi Tua - Para Pencari Koin - Gelas-Gelas Kosong"