Kado dari Ina - Dalam Rimba Kepalaku - Seorang Korban - Jika Aku Menulis Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kado dari Ina - Dalam Rimba Kepalaku - Seorang Korban - Jika Aku Menulis Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:43 Rating: 4,5

Kado dari Ina - Dalam Rimba Kepalaku - Seorang Korban - Jika Aku Menulis Puisi

Kado dari Ina

: mi’raj altair

kubiarkan kau mengembik meski bukan kambing
                           mengaum meski bukan harimau
                                 berkicau meski bukan burung
                                    mengeong meski bukan kucing
                                        mencericit meski bukan tikus
                                            berkokok meski bukan ayam,

kubebaskan kau jadi pesawat terbang yang tak pernah terbang
                           kapal laut yang tak pernah melaut
                              kereta api yang tak mengeluarkan api
                                 roket yang tak pernah keluar angkasa
                                    mobil balap yang tak pernah meluncur di sirkuit
                                         layang-layang yang tak pernah melayang

kumerdekakan kau berseluncur di punggungku
                           bermain bola dengan kepalaku
                              beradu tinju dengan dadaku
                                 menyikat gigimu dengan rambutku
                                    menyapu kotoran di hidung dan pantatmu dengan jariku

setiap hari kesembilan di bulan november

saat gerombolan awan kemarau yang tertolak langit dan dibuang bumi, bosan mengambang

lalu rontok jadi hujan. ketika aku mengenang tangis pertamamu, beberapa tahun lalu di pangkal pagi, menjelma senapan peluluh lantak hantu kekhawatiran, yang nyaris 30 tahun di dada dan
di kepalaku berseliweran.

November 2015

Dalam Rimba Kepalaku

tanah yang mencengkeram pepohonan
adalah masa lalu
awan yang kerap gagal jadi hujan
adalah masa depan
telaga yang tergenang di antara belantara
adalah dirimu

pada permukaannya, aku becermin
menyaksikan penyatuan waktu:

keriput wajahku

2015

Seorang Korban

setelah kami menikah, kukhayalkan
di dalam kamar, dengan tubuh bersalut kebaya merah mawar
kutunggu kedatangannya tanpa setitik gentar.
kubiarkan rambut terurai agar tunai tangannya membelai.
kain berhias benang emas membalut pinggang hingga mata kakiku
menyembunyikan sumur sonder dasar, tempatnya melepas
jutaan makhluk serupa anak katak dari dalam tubuhnya.
di atas ranjang yang kulapis sprei sewarna abu, perlahan ia lesapkan
jutaan makhluk itu tanpa sisa ke dalam diriku, menjadi milikku.
sementara jauh di atas kamar kami, awan-awan mekar
setenang dan sesunyi lotus merekahkan kelopak di permukaan telaga
keindahan yang ditebar tanpa suara.
sepasang burung gereja yang biasa berkicau di ranting kenanga
akan bersamadi dan menelan seluruh cericitnya,
hingga yang dihamparkan alam semesta hanyalah keheningan
keheningan yang pecah oleh desah nafas dan derit ranjang percintaan

seharusnya kami menikah, seandainya
gunung dapat bergeser, kabut mau menipis, awan tak meledak jadi hujan
langit tak melecutkan kilat, pusaran angin bergeming
matahari tak sembunyi di kejauhan, doa yang dirapalkan teman perjalanan
mampu mengetuk pintu kamar tuhan, malaikat maut melepas cengkeraman
dari badan pesawat yang gemetaran, atau sepasang sayap menyeruak
dari dalam punggungku, mengepak, membawaku terbang menjauhi api
yang tak berampun menghabisi isi perut dan seluruh tubuh rajawali besi
tapi gunung tetap pada tempatnya, seinci pun kabut tak menipis
seperti gerombolan setan turun dari neraka, hujan berluncuran
di persembunyiannya, matahari meringkuk menyaksikan langit
mengibaskan kilat, doa yang dirapalkan bibir-bibir gemetar
hanya jadi peluru yang lepas lalu sasar
cengkeraman malaikat maut di tubuh pesawat semakin gawat
sayap tak tumbuh di punggungku saat rajawali besi lunglai diabukan api
tangis, jerit, dan lolongan yang memanggil nama tuhan
menghantam punggung pegunungan, bayangan wajah kekasih bertaburan
bersama repih tubuh-tubuh manusia yang berhamburan

dari tempat yang hening dan gelap
ke dalam mimpi indahmu, aku kini menyelinap
meminta bantuanmu untuk mencari tahu
apakah berita hancurnya sebuah pesawat
remah tubuhku yang tak berjejak dan tak beralamat
serta pernikahan yang urung dihelat, membuat kekasihku
sulit lelap atau tidur dalam nyenyak yang sangat?

Jika Aku Menulis Puisi

aku tak akan menulis tentang kabut fajar
yang berlayar mengelilingi bukit berpohon sedikit
karena katamu, mereka milikmu. subuh ini
mereka adalah huruf-huruf penyusun kata
menjadi kalimat, membentuk semacam sajak singkat
yang dituliskan malam untukmu, hanya bagimu
tentang meteor yang melesat, sekejap benderang, lalu hilang
bintang jatuh yang kau tafsirkan sebagai kehadiranmu di bumi:
datang, sejenak tualang, lalu pulang

aku pun tak akan menulis celotehmu
angan-angan menulis puisi yang lebih indah
dibanding yang diciptakan malam untukmu
puisi yang memeram keheningan dalam tiap baitnya
yang katamu (juga), akan bersemayam dalam suara
ribuan makhluk penghuni semesta

kau si penceracau, terus-menerus meracau
saat fajar dan kabut perlahan pergi
ketika sebuah bintang tertinggal di timur langit
semasa cahaya matahari belum terlampau sengit
sewaktu aku duduk di sebelah kananmu di beranda
mendengar kau bicara tentang puisi yang tak dapat kuindra
jangan harap ada di puisiku, meski satu kata

Oktober 2015

Inggit Putria Marga lahir dan menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya bertajuk Penyeret Babi (2010). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Inggit Putria Marga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to "Kado dari Ina - Dalam Rimba Kepalaku - Seorang Korban - Jika Aku Menulis Puisi"