Kau - Angin Pun Menepi - Dunia Ngeri-ngeri Sedap - Patung Perunggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kau - Angin Pun Menepi - Dunia Ngeri-ngeri Sedap - Patung Perunggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:34 Rating: 4,5

Kau - Angin Pun Menepi - Dunia Ngeri-ngeri Sedap - Patung Perunggu

Kau

  Keningmu kini mentiung kelu. Seperti pohon tua
purba dengan rimbun kuldi. Menjerembab dalam
sangkar emas bernama dunia. Kuldi-kuldi itu bersama
keanehan-keanehannya terus memperbaharui diri
seiring dengan manuver-manuver teknologi yang se-
olah memutilasi rasa kemanusiaan. Disaksikan gem-
intang dan rembulan yang tak kau hiraukan ketika
mereka mengajak rembugan. Workshop gitu, loh.
Workshop alam semesta. Workshop yang kan
menawarkan rasa kelu, pilu, haru, mencair mengalir
dalam butiran-butiran air mata. Workshop yang kan
menegaskan hatimu sebagai pelaku kehidupan.
Sebagai robot yang tak bisa memilih dalam suatu
rangkuman keniscayaan.

  Namun demikian. Dalam kening yang mentiung kelu
hatimu justru telah menjadi semacam batu akik. Batu
mulia yang keras. Gumpalan ribuan abad yagn me-
mantulkan panorama laut warna-warni dengan motif
berubah-ubah. Ada yang memahami seperti perahu
layar terombang-ambing. Ada yang melihat seolah-
olah sesosok hero yang merampungi kesulitan-kesulit-
an dengan kegagahperkasaan. Ada yang meyakini
seperti filsuf merenungkan jalan keluar tanpa kekeras-
an di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin sempit
dan rumit. Dan dunia yang semakin sempit dan rumit
itu memohon kelonggaran dalam jiwa besarmu.

  Tapi bagiku kau adalah sekumpulan gagasan
adiluhung para pendahulu yang harus mengikuti se-
berkas binar kunang-kunang dalam kegelapan.
Kunang-kunang itu bisa jadi masuk ke sebuah istana.
Membuatmu jadi pewaris tahta dengan penuh beban
pertanggungjawaban di pundak. Menyantuni orang
miskin dan berbagi kegembiraan dengan kaum papa.
Atau bisa jadi kunang-kunang itu masuk ke sebuah
goa berbatu terjal. Di sana kau melanjutkan keperiha-
tinan. Bertandang mengubah goa itu menjadi tempat
bersyukur atas anugerah dan kenikmatan di sisi lain di
luar istana.

2015

Angin Pun Menepi

  Angin pun menepi di hatiku. Menggiring serim-
bongan kupu-kupu yang sibuk mencari tahu tentang
sebuah negeri yang rembulan senantiasa berada
dalam jaringan gigi para raksasa. Hingga darah pun
tersinggung sering menampakkan merahnya. Tentang
para penari yang menari dengan bibir tersenyum tapi
hatinya kecut. Tentang ilusi kerut kening bumi demi
mendengar isu menuju bangsa tanpa sasta. Tentang
sastra yang menggelandang di jalan-jalan. Merana
dan miskin tapi menyangga keberadaan laut dan
gunung dan taman kemanusiaan.

Sastra antara ada dan tiada membayangi mata dan
telinga
Tidak ada tapi para telinga mendengar
Ada tapi para mata tiada melihat
Abstraksi dan absurditas mereka alami sehari-hari
Tetapi tiada sempat lagi memahami

Benarkah tanpa sastra ibarat tak merasakan detak
jantung sendiri?

Dunia Ngeri-ngeri Sedap

Seri-seri kali yang terkait duri hati
Ada terasa masa yang kelewat lihai
Meniup sang kala dan rambut sang dewi bergerai
Wangi bau? Bukankah hanya jendela?
Bagi menuju ajakan baik, merestorasi suara hati
Yang mesti kita dukung dengan tulang belulang
Tapi tulang belulang kita rapuh
Dalam ancaman ganggang dan gurita liar

Angin bertiup ngajak kita terus berlanjut mengarungi
bahtera
Mungkin mengorbankan apa yang ktai sayang apa
yang kita senang
Seperti monumen-monumen daluwarsa dan tahan
gempur
Demi dunia maya yang ngeri-ngeri sedap ini
O, negeri ungu yang selalu membangun pagi baru

2015


Patung Perunggu

   Kau tinggalkan aku dalam bentuk patung perunggu.
Sepeninggalmu, udara beku melengking tinggi. Dan
bersama biola, ia menyelesaikan dirinya sendiri.
Diakhiri dengan performance art, tarian kupu-kupu
yang terkapar. Lalu sunyi lalu aku tertegun. Melihat
langit bahagia melihat bentukku seperti ini. Sementara
aku membayangkan yang meninggalkan aku belum
tentu semenderita aku. Juga belum tentu sebahagia
aku. Tapi jelas mereka bergulat dengan ilmu
bintangnya sendiri-sendiri.
   Bahagia? Ya. Aku ternyata lebih bahagia ketika me-
lihat langit bahagia dengan menyaksikan ujud keber-
adaanku sebagai patung perunggu. Daripada aku
berlapis emas tapi hamparan langit cemberut.

   Sepeninggalmu pula aku semakin yakin bahwa la-
ngit yang berbahagia itu memuat berkah yang me-
limpah. Ia bakal menurunkan hujan untuk dikelola jadi
panen raya melalui kuning padi dan hijau oranye be-
buahan. Panen raya sejahtera yang menekuk-lututkan
niat untuk saling seteru karena kesenjangan. Karena si
iri dan si dengki direkaya waktu jadi jaelangkung
yang datang tak diundang pergi tak dianara.

   Sepeninggalmu, hari-hariku semakin istimewa.
Keistimewaan yang juga berkah dari langit.
Keistimewaan yang lebih matang ketimbang
kebahagiaan. Keistimewaan yang menjadi wadah can-
dradimuka bagi lahirnya mutiara-mutiara baru nan tia-
da terduga di hari ini akan ujud dan pesonanya seba-
gai buah keadilan dari Hyang Maha Dahsyat.

   Keistimewaan yang tak bisa diganggu gugat.
Keistimewaan seperti hari-hari yang mengalir meng-
gerakkan awan, gelombang, riak belantara, gesekan-
gesekan dan kemelut berbagai gunung. Keistimewaan
yang menggerak-hidupkan sulur-sulur reranting mem-
belit tubuh dan leher angsaku. Barangkali ada juga
yang benalu. Tapi terlihat ada juga lumut-lumutan dan
pakis yang rupanya saling bermusuhan dengan be-
nalu yang seenaknya naik dari jempol kaki ke ubun-
ubunku. Hingga semuanya berbiak jadi semak-semak.

   Begitu rungkut. Sampai-sampai ular-ular gemar
bersarang menetaskan telurnya di kakiku di mana be-
rakar segala macam tumbuhan. Juga para unggas
membesarkan anak-anaknya. Lalu di kepalaku sering
mampir bertelur burung kutilang, kenari, kacer, love-
bird, jalak dan burung-burung penyanyi lain. Hanya
gagak hitam si pemakan bangkai itu berputar-putar
menunggu tubuhku berdaging emas.

   Ya, kau tinggalkan aku dalam bentuk patung
perunggu. Bila kau datang nanti mungkin aku sudah
menjadi bagian dari sebuah hutan pelestarian.

2014


Fauzi Abdul Salam: 
Tinggal di Nguwotan Ngestiharjo Kasihan Bantul.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fauzi Abdul Salam
[2] Perah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Februari 2016


0 Response to "Kau - Angin Pun Menepi - Dunia Ngeri-ngeri Sedap - Patung Perunggu"