Kejutan Valentine | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejutan Valentine Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:16 Rating: 4,5

Kejutan Valentine

SETELAH Vin mengatakan ajakan itu tiga hari lalu, aku selalu memikirkannya. Ke mana dia akan mengajakku di hari valentine nanti? Apa yang sebenarnya akan dia lakukan?

Rumah kami masih satu kompleks dan itu membuat kami begitu dekat sejak kecil. Hingga kini sama-sama di SMA, kami masih berteman dekat, laiknya kakak adik. Selama itu pula kami tak pernah menyinggung tentang perasaan satu sama lain. Hari-hari kami selalu asyik. Namun semua itu hubungan pertemanan semata. Apakah ini saatnya? Apakah tiap persahabatan pada akhirnya harus sampai pada tahap ini?

Aku sering mendapati. Dari cerita-cerita FTV, novel, maupun lagu-lagu pop. Persahabatan erat antara seorang cowok dan cewek pada akhirnya harus sampai pada satu titik, di mana keduanya harus memilih; terus melanjutkan persahabatan dan memendam segala perasaan, atau mengakhiri dan menggantinya dengan hubungan percintaan.

"Tom, hari Valentine ntar temenin gue ya!" ajak Vin setelah ia turun dari motorku di depan rumahnya. 

Meski adegan itu sudah tiga hari lalu, aku masih ingat betul bagaimana parasnya ketika mengatakannya. Betapa wajah itu berkilau, matanya berbinar, dan rambutnya yang panjang berkibar pelan laiknya iklan sampo di televisi. Aku seakan sedang dalam adegan-adegan FTV, novel-novel roman, atau videoklip lagu cinta pop.

Lima tahun dekat dengannya, aku nyaris tak pernah merayakan Valentine bersamanya. Beberapa kali Vin pernah bercerita tentang pengalamannya di hari Valentine. Ketika ia diajak cowoknya ke tempat-tempat romantis; rumah makan mewah dengan denting piano merdu, kafe pinggir pantai dengan suasana senja yang remang, sampai pegunungan hijau dan sejuk, semuanya pernah dirasakan Vin. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Namun itu sudah lama. Kini aku tahu; Vin sedang jomblo.

Ting tung.... Ponselki berbunyi. Sebuah pesan terlihat. "Jgn lupa, besok jam sembilan ya... kutunggu di rumah. Ok!"

SMS dari Vin. Membacanya membuatku semakin memikirkannya. Aku tidak tahu harus merasa bagaimana. Apa harus bahagia, atau bagaimana. Aku melempar ponsel ke ranjang, lalu merebahkan badan.

Barangkali aku tidak perlu merasa begini. Barangkali aku harus bersikap biasa-biasa saja. Namun kenyataannya? Jantungku  berdegup kencang tiap mengingat ajakan Vin tiga hari lalu itu. Aku terus saja kepikiran. Apa yang akan dia lakukan di hari Valentine? Mengapa dia mengajakku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berjejalan di kepalaku.

Tak kupungkiri, sejak SMP aku memang sudah suka Vin. Cinta? Entah. Sampai usia 17 tahun ini nyatanya aku belum mengerti betul arti cinta. Namun, kenyataannya rasa itu tak pernah cukup membuatku berani mengungkapkan. Aku lebih nyaman dengan yang ada saat ini; persahabatan. Ya, persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil. Bertahun-tahun kebersamaan itu terjalin sampai-sampai aku menganggapnya sebagai adikku sendiri. Tapi ajakan di hari Valentine itu....

***
AKU bersiap ke rumah Vin. Memenuhi ajakannya. Masih ada sisa-sisa keresahan dalam benakku, namun aku berusaha tenang dan emnganggap ini tak perlu terlalu dipikirkan. Aku hanya perlu datang dan melihat yang akan ia lakukan.

Tak sampai lima menit, aku sampai di depan rumahnya. Vin sudah menungguku di teras rumah. Setelah aku menghentikan sepeda motor, Vin langsung menghampiriku. Jantungku mulai berdegup cepat.

"Sudah lama menunggu?" tanyaku basa-basi untuk menenangkan diri setelah mencopot helm dan meletakkan di spion sebelah kiri. Kemudian berpura-pura merapikan rambut dengan tangan dan memandang kaca spion sebelah kanan.

"Enggak kok, tenang aja. Ayo berangkat" Sekonyong-konyong ia sudah membonceng di belakangku.

"Ke mana sih?"

"Sudah jalan aja dulu, nanti kutunjukkan arahnya sambil jalan."

Pagi itu kami melaju membelah kota di bawah sinar yang cerah. Dalam perjalanan, beberapa kali Vin mengarahkanku. Aku menurut saja dengan arahannya. Kami melewati mal-mal dan hotel yang megah, taman kota yang ramai, pasar-pasar tradisional yang becek, kemudian masuk ke gang kecil sepi. Aku mulai berpikir, mungkin sebentar lagi sampai. Tapi ke mana sebenarnya Vin mengajakku?

Aku terus bertanya dalam hati sambil tetap melajukan motor. Namun kemudian aku harus mengurangi kecepatannya karena jalan semakin becek dan rusak. Beberapa kali motor tersentak-sentak karena melintasi batu-batu besar dan jalan bergelombang. Kabar baiknya, itu membuat Vin beberapa kali merapatkan pegangannya di pinggangku.

"Kita hampir sampai," ucapnya tiba-tiba. Aku sedikit terkaget.

"Mana?"

"Tikungan depan, ambil kiri."

Aku menurut saja perintahnya. Dalam hitungan detik kami sudah sampai di lokasi. Seketika aku terkejut sekaligus bingung mendapati tempat itu.

"Tidak salah?" tanyaku sambil mengangkat alis tinggi-tinggi. Vin menggeleng dan tersenyum.

"Tidak. Tidak salah. Aku emang ingin ngajakin ke sini. Ini hari Valentine kan, hari kasih sayang. Aku ingin berbagi dengan mereka," jelasnya sambil berjalan masuk ke dalam panti asuhan anak-anak yatim itu.

Detik itu juga aku tersadar, semua yang kulihat ketika mengajakku saat itu hanya perasaanku saja. Wajah yang berkilau itu, mata yang berbinar itu, dan rambut panjang yang berkibar pelan.

"Tom, ayo masuk!" ajaknya setengah berteriak saat langkahnya sampai di muka pintu.

Aku sempat tersentak sebelum akhirnya ikut melangkah ke dalam panti. Di dalam, seketika riuh anak-anak terdengar, menyambut kami. 


Al Mahfud. Lahir dan tinggal di Pati, bergiat di Komunitas Sastra QOV Kudus.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Al Mahfud
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Februari 2016

0 Response to "Kejutan Valentine"