Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Atlas Penyair | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Atlas Penyair Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:36 Rating: 4,5

Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Atlas Penyair

Kepada Maut (1)

Kepada siapa kita berjalan mendekat?
Ke arah mana kita hanyut bersama pasir?

Ia menjadikan kita dari sekadar lempung disusun seperti puzzle
mainan kanak-kanak yang bisa tumbuh dan berkembang namun rentan
menuju remuk menjadi serpihan kayu di kuburan dimakan ngengat

kita berjalan mengendap-endap ke utara, ngeri dan waswas
menerka takut dan cemas ditebas dari depan atau ditikam di bokong

tak bisa kita berlari menjauh dari mata yang mengintai di balik utara itu
menanti dengan birahi menyala seperti kelamin lelaki buas menjebol perawan

tak bisa tidak kita harus berjalan mendekat ke arahmu
walau tak bisa diterka hanyut ke arah surga atau neraka
-ngawi-kedung dani-


Kepada Maut (2)

*) pledoi jenar

Bagaimana aku harus menyebut dan menyapamu?

lidah akan pasti kelu saat bersua
sedang setiap lezat menajam di ujungnya
nikmatmu tak hanya menggumpal di urat lidah
namun juga akan meresap ke dalam sel-sel kelenjar tubuh
seperti nikmat birahi yang lepas saat sperma meloncat
hanya sekilat di puncak sekedap

Dan dipeluk erat lekat kudekap kau: gelombang puncak hebat yang nikmat!
Ngawi.


Di Depan Sebuah Kuburan

oranng-orang selalu salah terka kalau dalam lahan bisa menafsir sepi
mereka tak pernah tahu dalam seribu bisu kau bisa menghikmati hiruk pikuk
padahal suara-suara itu begitu lantang justru saat membentur dinding lahat
melebihi para mahasiswa berebut jadi pahlawan demonstrasi di jalan-jalan
bagaimana orang-orang menerka dalam liang itu bisa menemu sepi
padahal suara-suara akan bergemuruh menuding-nuding mulut dan kelaminmu

orang-orang selalu salah terka kalau tubuh sudah dibujur ke utara
ia akan bisa menerka mana barat mana timur, itu selatan atau tenggara
padahal segala arah telah kehilangan batas liang itu telah jadi tempurung
gelap dan kau katak yang berbaring di dalamnya, menggeram dengan pilu

orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat udara panas berkeringat
padahal angin bersiutan seperti badai menerka arah mana kafanmu berkibar
dan kau kehilangan kefan yang telah di sobek jadi serpihan oleh belatung

ah, selalu saja orang-orang merasa pintar saat melayat mayatnya sendiri!
_geneng saat takziah-

Atlas Penyair

tak ada perjalanan terakhir, lorong sunyi ini tak berujung
: kita adalah pasukan pinilih, tanpa kuda tanpa pelana
musafir pemburu suara gaung di berbagai cuaca, taman kota hingga garis pesisir

tak ada perjalanan yang bakal usai
cuma seteguk istirah melepas lelah di lepas senja
sambil menghitung berapa jarak yang telah dilalui
jarak senyap yang membuat tubuh gemetar
saat teringat pada ciuman terakhir yang tinggal isak sayup

tak ada perjalanan terakhir
-"apa yang telah kaucatat?"
Lereng merbabu-




Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi 18 April 1969. Selain menulis, ia bekerja sebagai pembantu ketua I dan dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 7 Februari 2016


0 Response to "Kepada Maut - Di Depan Sebuah Kuburan - Atlas Penyair"