Kepada Nenek - In Memoriam Sunaryo Ibnu Syams - Menunggu Gerimis Reda - Sarangan - Bulan Sabit - Hujan Menjelang Subuh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepada Nenek - In Memoriam Sunaryo Ibnu Syams - Menunggu Gerimis Reda - Sarangan - Bulan Sabit - Hujan Menjelang Subuh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:05 Rating: 4,5

Kepada Nenek - In Memoriam Sunaryo Ibnu Syams - Menunggu Gerimis Reda - Sarangan - Bulan Sabit - Hujan Menjelang Subuh

Kepada Nenek

kukenang rumahmu dulu di desa
kuingat kerlip sentir di beranda
ada bayangmu jatuh di pagar bambu
begitu fana serpihan-serpihan waktu

kukenang suasana kelam dan sepi
ada desir angin di dedaunan
kau pun tertatih berwudu di perigi
suara azan tinggal penghabisan

kudengar doa dan wirid di langgar
Tuhan mendadak begitu dekat
ada kenangan tergambar samar
mengapakah aku selalu datanng terlambat?
2014

In Memoriam Sunaryo Ibnu Syams

akhirnya kau pun pergi
sebelum kita bertemu lagi
tak ada lagi percakapan
tak ada lagi senda gurauan

ada sepotong bulan bergetar lagi
ada ayat menyelenggarakan sepi
mengantar keberangkatanmu sendiri
ke perbatasan, sebuah negeri sunyi

kursi tua, puisi-puisi, surat-surat
kini tiada arti, tiada makna
almanak pun lepas lagi, begitu fana
surat yasinkah itu menggema di malam larut?

akhirnya kau pun pergi juga
tanpa pertanda dan siyarat
membawa sebuah alamat
yang jauh, ya Allah, entah dipmana
2015

Menunggu Gerimis Reda

ketika angin malam mendesir
ranting dari dedaunan pun gemetar
kaukah menunggu gerimis reda?
detik arlojimu cemas tak berkata

siapakah berangkat di malam gigil begini?
ada yang membisikkan sajak-sajak sepi
ada yang melengkapkan kata-kata
semerbak aroma keringatmu seketika

bangku tua dan dingin di teras sia-sia
kaukah setia menunggu tak ada?
benarkah masih bermakna kisah kita?
namun pernah kita percaya pada cinta
2014

Sarangan

ada sebutir bintang di atas cemara
ada speotong bulan jatuh di kolam
mengapakah kau dan dan aku alpa?
kabut pun makin mengerlap dalam kelam
2011-2014

Bulan Sabit

ada bulan sabit memudar
bertahan sepi di atas bubungan
angin pun risik berbisik di luar
dingin basah dan lembab pepohonan

di beranda almanak terasa makin fana
penuh catatan dan kenangan kita
siapakah berdoa seusai sembahyang
di malam larut dan makin lengang?

ada bulan sabit memudar
ada angin bercakap-cakap lirih
di tingkap kau pun menembang megatruh
di atap seberkas cahaya dan gerimis luruh
2013

Hujan Menjelang Subuh

ketika selembar daun kering jatuh
hujan pun menderas menjelang subuh
ada seberkas cahaya sekejap lalu lenyap
dihalau angin malam dan gelap

di manakah sebenarnya inspirasi penyair?
malam hitam pun terasa lebih panjang
ke manaka tahun-tahun pergi melenggang?
sebentar lagi azan memanggilmu hadir
2015

Gunoto Saparie, dilahirkan di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi tunggal dan bersama. Mengikuti berbagai forum sastra dan bahasa di berbagai kota Indonesia dan Asia Tenggara. Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia ini tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Semarang 50181. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunoto Saparie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 31 Januari 2015

0 Response to "Kepada Nenek - In Memoriam Sunaryo Ibnu Syams - Menunggu Gerimis Reda - Sarangan - Bulan Sabit - Hujan Menjelang Subuh"