Kue Keranjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kue Keranjang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:15 Rating: 4,5

Kue Keranjang

SEORANG anak perempuan tujuh tahun, rambutnya dikepang dua dan berpakaian rapi mengetuk pintu rumahku. Usianya seumuran denganku, Aku segera membukakan pintu. Ia tersenyum manis kepadaku. Giginya tampak putih bersih. Kulihat ia membawa sepotong kue.  

”Ini buatmu.” katanya. Aku segera menerima kue pemberiannya. 

”Ini kue apa?” 

”Bentuknya kok bundar. Kenyal lagi.” aku bertanya seperti baru pertama kali melihatnya. 

”Ini namanya kue keranjang.” jawabnya. 

”Apa ini kue peringatan hari ulang tahunmu?” tanyaku lagi. 

”Bukan.”

”Ini kue khusus Imlek.” jawabnya. Walaupun belum paham benar, aku tetap menganggukkan kepala. Anak perempuan itu lalu kembali pulang ke rumahnya yang berada di depan rumahku. 

***
Kini, aku bersama sepeda onthelku ada di depan rumah si anak perempuan itu yang tampak sudah tak berpenghuni lagi. Tak terasa 22 tahun keluargaku tinggalkan kota ini. Dan aku tak sempat berpamitan dengannya. Sejak itu aku tak pernah mendengar kabar beritanya. Tapi aku masih ingat jelas kenangannya yang suka memberiku kue keranjang setiap Imlek tiba. Selebihnya, aku tak terlalu ingat termasuk kebiasaan bermain bersamanya. 

Aku lantas turun dari sepeda onthelku. Kusandarkan sepeda ontel di dinding rumahnya yang sudah tak utuh lagi. Kuhela nafas panjang. Sembari mengambil tempak duduk di lantai teras yang sebagian sudah mulai rusak. Tubuh ini kusandarkan pada di dinding yang catnya tampak tak utuh lagi. 

Entah kenapa bayang-bayang anak perempuan itu terus melekat di pikiranku. Bahkan ketika semilir angin membuatku tertidur, bayangnya pun ikut terbawa ke dalam alam mimpiku. 

Di alam mimpiku, aku melihat bayangnya semakin jelas. Ia tampak ada di tengah jalanan yang penuh lautan manusia. Tanpa rasa takut, aku nekat menerobos kerumunan. Lalu menariknya. Membawanya pergi sejauh mungkin dari sana. 

Ada banyak orang mengejar di belakangku. Mereka tak rela ‘buruannya’ itu lepas begitu saja. 

”Berikan gadis itu!” teriak mereka setelah berhasil menghentikanku. Tak aku gubris. Lalu mereka merebutnya dari tanganku secara paksa. Aku berusaha merebutnya kembali. Tapi pukulan, tendangan serta hantaman benda tumpul menghujam ke sekujur tubuhku. 

***
Tepukan di pundak membuatku terbangun dari mimpi buruk. Aku berharap itu tepukan si gadis teman masa kecilku. Tapi ternyata bukan ia. Malah seorang pemuda yang tak aku kenal. 

”Kamu Wawan kan, yang dulu suka diberi kue keranjang waktu kecil.” katanya mengenaliku. Aku mengangguk. Ia lantas memperkenalkan diri sebagai kakaknya. 

”Apa ia baik-baik saja kan?” tanyaku. Ia tampak tertegun sejenak. Lalu mengabarkan si adik sudah meninggal, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun. 

Bak petir di siang bolong, aku terhenyak mendengar kabar itu. 

”Ternyata mimpi buruk itu sebuah pertanda.” gumamku. 

”Sebelum meninggal, Adikku menuliskan surat ini untukmu.” Aku hanya diam tak menjawab. Hati ini masih terpukul dengan kepergian anak perempuan, teman masa kecilku untuk selamanya. Sampai aku tak menghiraukan si pemuda pamitan. 

Surat dari anak perempuan itu tergeletak begitu saja di lantai. Aku hanya mampu melihatnya. Tanpa berani menyentuhnya. Kenangannya yang suka memberiku kue keranjang kembali menggeliat di pikiranku. Tak terasa air mata ini jatuh mengenangnya. 

Hari mulai beranjak sore. Tak terasa sudah lama, aku berada di sini. Menunggu anak perempuan itu membukakan pintu rumahnya. Sama seperti aku yang lakukan dulu setiap kali ia datang ke rumahku, memberiku kue keranjang. Tapi itu tak mungkin terjadi lagi. Karena kini, ia sudah tenang di sana. Bersama bidadari-bidadari surga yang akan selalu menemani dan menjaganya selalu. 

Aku beranjak dari teras rumahnya. Kuambil surat itu dan memasukkannya ke dalam saku baju. Akan kubaca ketika nanti tiba di rumah. 

Lalu segera kunaiki sepeda onthel. Kupacu pelan-pelan. Sepintas, kupandangi langit. Tampak awan kumulonimbus menggantung di sana, pertanda akan turun hujan deras. Dan benar saja, hujan deras mulai turun. 

Aku terpaksa berteduh di emperan sebuah ruko. Kuambil suratnya yang ada di saku baju. Tampak sedikit basah oleh air hujan. Kubaca perlahan isi suratnya. Trenyuh, aku mengetahui ia masih mengingat semua kenangan masa kecilnya denganku sampai umur sepuluh tahun. Suratnya kembali aku masukkan ke dalam saku baju. 

”Akan kusimpan dan kujaga baik-baik surat ini.” tekadku dalam hati sambil mengenakan jas hujan. 

Pandanganku teralihkan ketika dari dalam ruko, tempat aku berteduh, keluar seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua bersama ibunya. Berjalan menghampiriku.  

”Ini.” Ia memberiku kue keranjang. Sembari tersenyum, aku menerima pemberiannya. Sambil tak lupa berucap terima kasih. Ia hanya tersenyum kepadaku. Lalu bersama ibunya, masuk kembali ke dalam ruko. Meninggalkanku sendiri di luar. 

Kue keranjang pemberiannya hanya aku pandangi. Kembali mengingatkanku akan kenangan masa kecil bersama seorang anak perempuan dulu. Kuhela nafas panjang. Kue keranjangnya, aku masukkan ke dalam saku jas hujanku.  

Tampak di luar, hujan sudah mulai mereda. Sepeda onthel segera kunaiki. Lalu kukayuh pelanpelan. Kembali menempuh perjalanan pulang ke rumah. -c 

Yogyakarta, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to "Kue Keranjang"