Laki-laki Tua Berselendang Hitam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laki-laki Tua Berselendang Hitam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:01 Rating: 4,5

Laki-laki Tua Berselendang Hitam

EMAK masih meraung. Menangis seperti anak kecil. Padahal awal kejadian sudah lewat sekitar dua jam. Umur emak 70 tahun. Agak tuli tadi tidak pikun. Sudah sering aku memohon, melarangnya menangis, karena tangisnya hanya memeruncing suasana dan tak menolong apa pun. Masih saja ia menangis. "Cucuku, siapa yang menculik cucuku?" Emak selalu merengek seperti itu. Seperti alarm jam. Monoton dan menjengkelkan.

Yang dimaksud cucu di sini adalah janin  di perut istriku. Usia kandungan sekitar 16 minggu. Aku sendiri heran, perut istriku yang tadinya terlihat menonjol, seketika mengempis.

Hari sudah malam ketika kejadian aneh itu menimpa istriku. Angin kering yang mengalir pelan, serentak menjadi kencang. Kumpulan daun nangka di samping rumah saling gesek. Suaranya seperti kepakan sayap jutaan tawon. Lingkaran cahaya di langit yang tadinya menguning, lalu meredup tertutup kumpulan awan hitam. Seketika istriku menjerit ketakutan dan memegangi perutnya. "Jangan! Enyah kau dari sini!"

Tentu saja kami heran mendengar jerit Darsih, istriku. Aku memegangi kedua tangan istriku. "Ada apa, Sih? Ada apa?" tanyaku gugup.

"Laki-laki tua dengan selendang hitam itu." Kedua mata istriku melihat ke atap.

"Siapa dia?" Aku mencari sosok seperti yang dikatakan istriku. Aku tak menemukan sosok laki-laki tua dengan selendang hitam.

"Dia mau menculik janinku."

Di wilayah kampungku, ayah dikenal sebagai dukun mumpuni. Meski secara fisik terlihat lemah, nasihat ayah masih dituruti. Terawangan ayah tentang masa depan dipercaya akan terjadi. Setiap hari selalu saja ada orang datang ke rumah, tanya tentang masa depan. Atau menginginkan segera dapat jodoh. Juga ada yang tanya cara agar dapat cepat naik pangkat.

"Anakmu, cucuku kelak akan menjadi laki-laki yang linuwih," kata ayah ketika mengetahui istriku hamil.

"Apakah anak itu laki-laki, ayah?"

"Pasti," ujar ayah yakin. "Aku dapat melihat dengan mata hatiku.

Tentu saja aku girang mendengar ucapan ayah. Aku memang menginginkan anak laki-laki.

"Anakmu adalah seorang satria piningit. Anak itulah yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya."

Aku memang pernah mendengar istilah satria piningit. Tapi aku tidak mengerti maksud istilah satria piningii.

"Satria piningit adalah satria yang masih dirahasiakan kedatangannya. Jika ia menjadi pemimpin, maka ia akan menjadi pemimpin yang adil. Pemimpin yang tegas. Salah adalah salah. Hukum adalah hukum.

Hatiku semakin meninggi ke awan. Aku percaya apa yang dikatakan ayah. Aku terharu. Anak yang ada di dalam kandungan istriku ternyata satria piningit.

"Kelak ia akan memimpin negeri yang sedang kacau ini."

Suara ayah terdengar seperti tiupan sukma yang menyejukkan hati. Aku tersenyum sendiri dengan lamunan masa depan anakku. Anak itu akan mengangkat derajat orang-tua dan orang-orang dekatnya.

"Jagalah kandungan istrimu."

Sejak saat itu, aku selalu menjaga istriku. Ke mana pun ia pergi, aku selalu mengikuti. Aku tidak mau kecelakaan menimpa istriku. Karena merasa diperhatikan, istriku mulai terlihat manja. Kadang ia minta sesuatu yang menurutku aneh. Seperti misalnya menyuruh aku melilitkan kain merah putih di perutnya. Demi anakku, aku turuti permintaannya.

Demikianlah. Jadi ketika mendengar istriku memanggil laki-laki tua dengan selendang hitam, ayah sudah paham ada yang aneh. Ada tamu kasat-mata yang tidak dikehendaki kedatangannya. Segera ayah mengenakan kain agungnya. Kain warna hitam. Diraihnya tiga jari dupa dan disulutnya ujung ketiga dupa itu. Komat-kamit sesaat. Menggerak-gerakkan kedua tangannya. "Aku tahu maksud kedatanganmu ke sini."

Di atas terdengar rentetan halilintar disusul tiga kali kilatan cahaya.

"Kau datang dari kegelapan."

Aku mencari sosok yang sedang dihadapi ayah. Apakah ia sosok yang menyeramkan?

"Kau tak rela negeri ini aman. Kau menginginkan negeri ini selalu dirundung  kekacauan, kemiskinan."

Aku tak paham maksud ayah. Gerakan-gerakan ayah kini terlihat kaku dan penuh tenaga. Sesekali kaki kanannya menghentak lantai.

"Ketika Tuhan mengirimkan satria piningit di rumah ini, kau ingin menculiknya?"

Rentetan halilintar terdengar lagi. Tiupan angin makin terdengar riuh.

"Tentu saja aku akan mempertahankannya."

Raut wajah ayah terlihat memerah. Otot-otot di lehernya menonjol.

Tak lama kemudian aku melihat ayah melakukan gerakan seperti orang kelahi. Raganya terlihat makin menegang. Aku hanya dapat melihat dan memeluk istriku.

"Janin itu adalah termasuk darah dagingku. Enyah kau setan kegelapan!"

Ayah memutar-mutar. Keadaan di depan mataku makin menegangkan ketika ayah terjengkang. Aku ingin menolong ayah, tapi aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan? Perlahan ayah tegak meluruskan raga. Napasnya ngos-ngosan. Semenit tegak, ayah terjengkang lagi, seperti ada yang mendoring raga ringkihnya.

Seketika istriku menjerit dan memegangi perutnya. Meski terlihat lemah, ayah segera mendekati istriku. Telapak tangannya ditaruh di atas perut istriku.

"Apa yang terjadi, Ayah?" tanyaku panik.

Ayah tak menghiraukan pertanyaanku. Kedua matanya terpejam.

"Apa yang terjadi, Ayah?" tanyaku sekali lagi.

"Ayah gagal mempertahankan cucuku. Laki-laki tua dengan selendang hitam itu telah menggondolnya. Satria piningit diigondol ke alam kegelapan."

Angin malam mengalir pelan. Lingkaran kuning di langit memancarkan cahayanya. Tapi kini kemurungan melanda kami. Anakku, satria piningit itu sudah digondol pergi entah di mana letak alam kegelapan itu.

"Apakah ayah tidak dapat mengejar dan menarik anakku dari tangan laki-laki tua dengan selendang hitam itu?"

Pelan ayah menggeleng, "Mustahil."

Menegtahui cucunya telah hilang, Emak mulai menjerit histeris. "Cucuku...." Aku, istri dan ayah terdiam kaku.

"Entah sampai kapan negeri ini terhindari dari kegelapan," kata ayah pelan.

Aku elus perut istriku yang sudah mengempis. Rasa sedih menyelimuti ragaku. Anakku hilang!

Demi menghindari raungan emak yang menjengkelkan, aku pun keluar rumah. Aku pandangi lingkaran cahaya di langit dengan otak penuh tanda tanya. Di mana letak alam kegelapan? Mau diapakan anakku di alam itu? Angin malam menerpa wajahku.

Entah dari mana asalnya, aku mendengar suara halus: "Di negerimu, mustahil akan lahir seorang satria piningit."

Aku mencari arah suara itu, tapi aku tak mampu melihat sosoknya. (k)

Rumah Mimpi, 2015

Basuki Fitrianto: Lahir di Yogyakarta, 22 Desember 1968. Tinggal di Jalan Manduro 53 Kratonan Kartotiyasan Solo 57153

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Februari 2016




0 Response to "Laki-laki Tua Berselendang Hitam"