Lelaki dengan Jagung di Tangannya - Kepulaga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki dengan Jagung di Tangannya - Kepulaga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:57 Rating: 4,5

Lelaki dengan Jagung di Tangannya - Kepulaga

Lelaki dengan Jagung di Tangannya

: Sofyan Widianto, dalam lakon Buried Child

1/
Tilden, seseorang menamainya ladang
: tanah yang menyimpan rahasia-rahasia
--penghasil utama getah keheningan pertapa.
Akan tiba mereka yang berdarah tangannya
oleh masa silam atau duri-durian sekalipun,
menjemput yang terkubur bersama kelam jiwa

2/
Di dalam sebuah rumah kayu,
aku memanjat bayang pohon hikayat
setelah pendar cahaya kulipat-lipat.
Nafas lumpur menyembul dari bibir kami
yang sepertinya tak slaing kenal, kemudian
kami gagap membawa cerita kematian
setiap prajurit yang mematuk janji pada belati
--tentang membelah hati setiap pesaing lelaki.

3/
Tapi kau petani yang tak pernah berlari,
berkisar di antara pembicaraan
tentang jagung dan kesepian.

Lihatlah!
Pengarang dari kota lepas itu membawa keramat
yang menetap dalam selipan kepak sayap gagak
yang mencium bau mayat. Adakah yang lebih mistis
selain empas-empas kain yang melepas hantu-hantu
dan lesap ke dalam batu? Fondasi utama pada rumahmu.

4/
Barangkali kita saling percaya, bahwa masa lalu
dan perang tidak pernah benderang atau kita
kehilangan kata permisi setelah melankolia datang,
kala hujan berada jauh dalam sebuah meditasi.

Kaukah yang berfantasi
tentang taksa tiga generasi
atau tepi dadamu adalah persinggahan
bagi para leluhur yang telah ditelan zaman?

Kepulaga

Entah dari mana datangnya angin ini,
menghalau perahu, membawa kepulaga
bagi penduduk sekitar pesisir.

Saban hari semua orang di sini
mengangkat kaki inggi-tinggi
meninggalkan anak-anaknya
dalam kurung-kurungan kayu
sementara mereka terus berjibaku
dengan kaku langkah sendiri

Mereka meraba kenisbian semesta
mengukur tingginya mercusuar
seperti menanjaki pohon kaliki
menuju langit yang diduga asin rasanya.

Begitu juga tangis bayi-bayi
hanyut terbawa perahu bersama kepulaga,
ditelan merahnya karang terbaik
dan orang-orang makin merinding
terus pula meninggi di gigir binara hari.

Barangkali di atas hunian yang buta ini,
akan kami temukan bulatan-bulatan baja
pengganti kepulaga bagi peperangan iman
atau dongeng-dongengan yang sejak bayi
membenturi kepala mereka.


Marsten L Tarigan, lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Kini tinggal di Bandung bergiat di regu kesenian Cengos.si, Komunitas Kandang Singa.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marsten L Tarigan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 14 Februari 2016


0 Response to "Lelaki dengan Jagung di Tangannya - Kepulaga"