Lelaki Pemuja Harapan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Pemuja Harapan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:10 Rating: 4,5

Lelaki Pemuja Harapan

: - Perempuan-Perempuan Terkasih
Memendam terlalu lama terasa sangat menyakitkan
Tetapi berucap tentu akan lebih menyakitkan lagi
Sebab tak ada jaminan sekaligus tak ada kepastian
Apakah angin hendak berpihak kepada kesendirian
Karenanya kuyakinkan dan kutetapkan dalam diri
Menanti dan menanti sampai suatu saat kau berucap
Sesungguhnya perasaanku sama dengan perasaanmu!
Karena serasa aku berjarak sepanjang helaan nafas
Hingga tak bisa kupahami isyarat kerdipan matamu
Bukankah setiap pertemuan selalu melahirkan kenangan
Tetapi jika kenangan hanya menggoreskan luka dan perih
Tentu akan lebih pantas harapan itu nikmat dikulum
Sebagaimana kanak-kanak kegirangan mengulum senyum
Manakala menemukan penanda-penanda baru kehidupan
Seperti ceritaku tentang dirimu meski bukan ceritamu
Sebab aku tak pernah menyangka bisa menemukanmu lagi
Sebagaimana saat ini yang setiap saat kurasakan
Aku justru bisa menatap wajahmu setiap waktu
Meski tatapan demi tatapan senantiasa getir rasanya
Dan benarkah takdir hidup ini laksana selarik mantra
Tapi pujangga dari mana yang mengumandangkannya
Sungguh aku tak bisa memahami dan memaknai semuanya
Saat ini yang kurasakan tak lebih hanya ketakberdayaan
Seibarat kupu-kupu terperangkap di sarang laba-laba
Sedemikian sulit hanya untuk sebatas menggerakkan sayap
Hingga akhirnya diam tak berdaya di tengah berjuta sesal

Dan aku begitu khawatir pertemuan ini seperti embun
Sesaat membasahi dedaunan sejenak kemudian menghilang
Seibarat angin datang seibarat angin pergi bertiup
Menandai ketidakberdayaan diri menghadapi cakrawala
Sebagaimana perasaanmu terhadapku sebatas kerdipan mata
Meski terkadang kuyakini rasa iba lebih dari segalanya
Seperti kabar yang berhembus dari balik daun jendela
Meninggalkan jejak yang terasa mengasingkan diriku
Menempatkanku dalam kesendirian dan kesunyian abadi
Padahal apa yang telanjur tercatat di hati dan jiwa
Tentu sulit untuk dihapus sebagai sebuah riwayat
Sebagaimana pertemuan kita sebagaimana akhir cerita
Laksana galah yang tak berujung dan tak berpangkal
Selalu saja sesekali datang kemudian sesekali pergi
Meninggalkan makna yang teramat sulit untuk dimengerti
Sebagaimana senyuman dan kerdip matamu demikian syahdu
Menggoda asa dan rasa untuk mendekat dan mendekap
Meski kebimbangan tak pernah beringsut dari diriku
Manakala rapat kusedekapkan tangan berkali-kali
Tak ubahnya kisah yang ingin tercatat sebagai sejarah
Tetapi selalu dan selalu angin bertiup mengirim kabar
Sesengguhnya tak boleh diri berlarut-larut meratap
Tak boleh menyesali apa yang dibisikkan di telinga
Kerena garis hidup telah dilekatkan di atas kening
Serupa lukisan pelangi saat muncul di ujung senja

Yogyakarta, Januari 2016


Rujukan: 
[1] Disalin dari karya M Haryadi Hadipranoto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 31 Januari 2016

0 Response to "Lelaki Pemuja Harapan"