Lelaki Tua dengan Kisah Masa Lampau | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Tua dengan Kisah Masa Lampau Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:32 Rating: 4,5

Lelaki Tua dengan Kisah Masa Lampau

MALAM baru aku tetap masuk kerja. Bahkan ada kebijakan dari bos, untuk malam tahun sampai esoknya, kafe buka nonstop. Itu berarti sudah bisa dipastikan malam tahun baru kali ini akan berjalan seperti malam tahun baru yang sudah-sudah, tak mungkin bisa melewatinya bersama orang terkasih. Apalagi aku kebagian shif malam.

"Kafe kopi berpotensi sebagai tempat pilihan orang untuk menghabiskan malam tahun baru." Begitu kata bos menguatkan alasan mengapa kafe tetap harus buka. 

Namun sepertinya malam tahun baru kali ini akan diganggu hujan, karena hujan yang turun dari pukul lima sore belum juga reda hingga sekarang. Dan jika hujan masih terus berlangsung hingga waktu pergantian tahun, bukan tidak mungkin akan membuat orang jadi enggan bepergian. Mereka akan memilih mendekam di rumah sambil menikmati siaran televisi. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan akan sedikit longgar. Hanya orang-orang yang menganggap hujan bukanlah halanganlah yang akan tetap nekat menelusurinya.

Jika hal itu benar, tentu saja apa yang akan terjadi di kafe kopi pun akan menemui dampaknya dan akan bernasib sama, sepi. Jika memang begitu, aku pasti berharap kafe segera ditutup hingga aku bisa memeriahkan malam tahun baru bersama kekasihku. Mungkin kami akan ikut dalam rombongan orang-orang yang nekat. Meluncur di jalanan sembari menikmati suasana kota yang diselubungi riuh hujan. Dan aku yakin justru hal itu akan membuat acara itu terasa lebih istimewa. Namun nampaknya angan-anganku tak mungkin kesampaian, karena si bos baru saja menginstruksikan bahwa kafe tetap buka, tak peduli kafe sepi. 

Pada saat aku berangkat kerja, hujan justru deras-derasnya dan setelah itu ternyata hujan benar-benar berhenti sampai waktu pergantian tahun. Apa yang kuperkirakan ternyata jadi sungguhan, kafe kopi menjadi sepi. Hanya beberapa pengunjung yang datang. Itu pun pelanggan lama.

Bicara masalah tahun baru dan pelanggan, aku jadi kepikiran tentang pelanggan yang satu ini. Dia seorang lelaki tua yang selalu menulis. Aku masih ingat ketika pertama kali dia datang pada malam tahun baru setahun lalu. Sejak saat itu hampir tiap akhir pekan dia datang di kafe ini.

Meski tugasku bukan di depan tapi aku punya kebiasaan memperhatikan setiap pengunjung yang datang. Aku ingin tahu siapa mereka meskipun hanya sekadar pengamatan sederhana dan hanya dari luarnya saja. Tapi hal itu bisa sanagt berguna untukku agar bisa menyimpulkan sajian kopi kira-kira seusai dengan yang mereka mau, baik dari segi rasa dan seni gambarnya. Terlebih bagi pengunjung yang memnag sudah jelas masuk dalam daftar urutan aku yang membuatkannya. Karena hal itulah, kami para barista secara tidak langsung menjadi hafal siapa yang harus menangani setiap pengunjung yang datang. Seperti sudah otomatis terpilah-pilah dengan sendirinya. Hal itu pula yang mengakibatkan keasyikan kami bekerja. Ada semacam iaktan yang erat antara barista dengan pengunjungnya, meskipun tidak secara langsung.

Tapi untuk pengunjung yang satu itu, bisa dibilang punya hubungan langsung denganku. Awalnya dia pernah memohon pihak kafe untuk diperkenankan bertemu denganku. Katanya dia tertarik dengan lukisan-lukisan yang kubuat di setiap kopi yang dia pesan. Karena hal itulah aku menjadi akrab dengannya. Usianya seumuran dengan ayahku yang sudah tiada saat aku masih kecil. Aku menemukan sosok perhatian di dirinya yang biasa dimiliki seorang ayah, dimana aku tak sempat mendapatkannya lebih dari ayahku.

Dia selalu duduk di bangku yang paling pojok. Di sana biasany adia mulai menulis di sebuah buku yang selalu dia bawa. Pada awalnya aku mengira dia menulis hanya untuk mengisi waktu selama dia berada di sini agar tidak bengong. Ternyata dugaanku salah. Dia menulis sesuatu yang dianggapnya sangat berarti dalam hidupnya. Mungkin semacam obsesi yang sampai kini masih dinantikan.

Pernah suatu kali keadaan kafe lagi sepi aku menemaninya tapi tetap saja dia tidak banyak bicara. Dia lebih suka menulis daripada bicara. Namun begitu dia bilang padaku bahwa dia senang bisa berbincang dan berteman denganku. Aku percaya dengan perkataannya karena kau bisa melihat itu sebuah kejujuran ketika di suatu kesempatan dia beberapa kali mempersilakan aku untuk membaca tulisan-tulisannya. Dari sana aku menjadi lebih tahu banyak mengenai dirinya.

"Aoakah Bapak masih mempunyai keluarga?" Padanya aku memberanikan diri bertanya.

"Istri saya sudah lama meninggal. Dan ketiga anak saya sudah berkeluarga, semuanya tinggal di tempat yang jauh," jawabnya. 

"lalu siapa wanita yang ada dalam tulisan-tulisan Bapak itu?" tanyaku ragu.

"Kamu sudah membacanya?" Dia balik bertanya.

Aku mengangguk. "Sebagian," jawabku bohong untuk menutupi pertanyaan bodohku tadi.

Dia memang benar. Sejujurnya aku telah membaca semua. Sebenarnya aku juga sudah tahu siapa wanita yang ada dalam tulisan itu. Di sana diceritakan bahwa di masa lampau dia pernah bertemu dengan seorang wanita panggilan. Dia jatuh cinta dengan wanita itu. Tapi karena dia sudah punya istri dan anak, dia tidak berhasrat melanjutkan hubungan serius dengan wanita itu. Dia tak ingin mengkhianati istrinya.

"Bukankah sudah aku jelaskan di sana?" tanyanya mengejutkan lamunanku.

Aku tak tahu harus menjawab apa.

"Benar. Dia seorang PSK," katanya kemudian tanpa menunggu jawabanku.

Aku tersenyum.

"Ada kalanya orang pernah melakukan kesalahan dan aku mengakui, itu kesalahan yang pernah aku lakukan sewaktu aku masih bersama dengan istriku," katanya.

Aku melihat kejujuran ada di bola matanya yang mulai terlihat keruh.

"Aku hanya melakukannya sekali dan setelah itu aku tak mau melakukannya lagi, bukan karena aku sudah tak ingin tapi karena aku mencintainya," katany alagi.

"Apakah dia juga mencintai, Bapak?" tanyaku lancang.

"Aku tahu dengan keadaannya yang seperti itu, mungkin cinta baginya adalah omong kosong. Oleh karena itulah dia tak pernah mau membicarakannya," jawabnya.

"Dia juga mengatakan padaku bahwa dia tidak mau menemuiku jika aku tidak berhasrat untuk menidurinya dan membayarnya," lanjut lelaki itu.

"Sampai seperti itu?"

"Bahkan untuk bertemu berbincang dan aku akan membayarnya pun dia tak pernah mau melakukannya. Hingga akhirnya tak ada alasan lagi untuk aku bisa bertemu dengannya sampai.."

"Sampai tempat ini dibongkar?" sahutku.

Ya. Dari tulisan Bapak itu pula aku baru tahu kalau tempat berdirinya kafe kopi yang paling terkenal di kota ini, dulunya adalah tempat lokalisasi. Karena program penataan kota tempat ini harus dibongkar. Di tulisan itu diterangkan bahwa lokalisasi itu ditutup pemerinta dan semua penghuninya ditampung di dinas sosial dan dibina. Mereka dibekali pengetahuan home industry dan diberi dana secukupnya. Dari situlah bapak ini hilang kontak dengan wanita itu. Dan karenanya pula dia suka berkunjung di kafe ini. Mungkin dia berharap ada keajaiban akan terjadi di kafe ini.

"Berapa usiamu?" Dia bertanya.

"19 tahun," jawabku begitu saja.

"Waktu itu mungkin dia seumuran kamu sekarang."

"Oya?"

"Dia punya mata yang bagus, mirip mata kamu."

Aku tersenyum. (k)


Yuditeha: Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Tinggal di Jaten RT 01 RW 14 Jaten Karanganyar Surakarta.  


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 31 Januari 2016


0 Response to "Lelaki Tua dengan Kisah Masa Lampau"