Mata yang Terus Menatap | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata yang Terus Menatap Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:17 Rating: 4,5

Mata yang Terus Menatap

"MARTIR!”. 

“Bukan! Dia pembunuh!” 

“Dia pahlawan!” 

“Dia penebar ketakutan!” 

“Dia orang suci. Rela korbankan nyawa untuk kita !” 

“Kita? Siapa kita? Aku tidak sama dengan dia! Cabut katamu!” 

“Kita ya kita. Semua orang tertindas!” 

“Eee bisa diam tidak?! Mayat ini jadi dikubur apa tidak?” 

“Ya, jadi dong! Dia berhak mendapatkan penghormatan yang layak!” 

“Jangan! Dia tidak boleh dikubur di sini!” 

“Terus di mana?” 

“Ya, terserah! Pokoknya jangan di sini!” 

“Ngomong lagi! Mayat ini jadi dikubur apa tidak?!” 

Semua orang diam. Yang setuju dan tidak setuju hanya bisa saling pandang. Tak ada yang bisa memberikan keputusan. Jenazah Arkhis tetap saja berada di keranda. Matanya tetap terbuka. Terus menatap, wajah Synthia, seorang perempuan bergaun hitam yang berdiri di gerbang makam. 

***
Pemantik bom itu ditekannya. Bom dalam tas ransel itupun meledak. Tubuh Arkhis hancur. Seluruh isi perut dan rongga dadanya terburai. Kepalanya ringsek. Hanya matanya yang masih utuh. Sepasang mata itu menatap tajam siapa pun yang memandangnya: polisi, wartawan dan orang-orang yang berkerumun di depan kantor Duta Besar Republik Sebrackshahood, di kota Crowdez. 

Bagian depan gedung duta besar itu hancur. Empat anggota satuan pengamanan tewas. Lima orang ekspatriat binasa. Delapan puluh orang, luka-luka. Sembilan orang luka sangat serius. 

*** 
Arkhis tak lebih dari anak kampung, lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya seorang guru sekolah menengah. Ibunya, seorang aktivis lingkungan yang selalu jadi incaran para penebang liar dan bos-bos perusahaan yang mereguk keuntungan dari menghisap isi bumi secara ilegal. 

Sejak bocah, Arkhis tidak menunjukkan tanda-tanda orang frustrasi, kejam, nekat dan brutal. Cita-cita Arkhis sejak kecil menjadi pesepakbola seperti Messi atau Cristiano Ronaldo. Dia pun masuk sebuah klub sepakbola amatir Je Block United yang berprinsip ëkehormatan itu segalanya. Dalam sebuah pertandingan kaki Arkhis keburu ditebas pemain lawan. Patah. Arkhis pun melipat cita-citanya. 

“Bakatmu bukan main bola, tapi main pikiran,”ujar Ibu Arkhis. 

“Ibu ingin aku jadi cendekiawan?” 

“Ya tentu, sayang. Sebaik-baik orang adalah yang berilmu. Ilmu itu jalan menemukan kebenaran.” 

“Bagaimana jika aku jadi pedagang kaya?” 

“Uang itu mengerikan, sayang. Uang bisa menumbuhkan taring-taring di dalam jiwa kita. Celakanya, tidak semua orang dapat mengendalikan pertumbuhan taring itu, malah banyak orang memeliharanya agar tumbuh panjang. O ya, tidak semua pedagang buruk, tentu,” 

“Apa aku harus menyelesaikan kuliah?” 

“Ya, harus jadi sarjana. Lalu doktor. Bisa jadi dosen, kemudian guru besar. Manusia mulia adalah yang selalu mengajarkan ilmu.”

Arkhis ternyata banyak mengantuk di dalam kuliah. Dia pun mulai malas ke kampus. Matanya justru berbinar ketika dia mengikuti diskusi bersama banyak aktivis yang dicap ‘kiri’ oleh pemerintah. Di situ, ia mengenal gadis bernama Synthia yang matanya selalu bercahaya ketika mengeritik penguasa. Arkhis merasa menemukan mata ibunya pada mata Synthia. Dia semakin akrab berinteraksi dengan Synthia. Diskusi mereka bergelora, penuh aroma cinta. Bagi Arkhis, Synthia telah membawa pada pertualangan yang menggairahkan hingga menjadi aktivis Ludom (Ludoz Freedom) yang anti pemerintah Ludoz karena pro negara adikuasa Sebrackshahood yang dipimpin presiden Boraks Zookcerta. 

Ludom menggunakan perang semesta melawan lengan-lengan kekuasaan Sebrackshahood . Mereka bergerilya untuk menghancurkan aset ekonomi dan militer Sebrackshahood yang berada di negara Ludoz. Beberapa bank dan pusat Arsenal telah mereka hancurkan dengan ledakan bom. Anggota Ludom yang tewas tak terhitung lagi. Tapi perjuangan jalan terus. 

“Bom akan terus meledak hingga Ludoz merdeka dari Sebrackshahood, “ujar Boirkez pemimpin tertinggi Gerakan Ludom. Kata-katanya penuh api. 

Boirkez menargetkan tempat vital untuk diledakkan: gedung kedutaan Sebrackshahood. “Kita harus bikin gentar Presiden Boraks agar dia paham negeri kita tak bisa dijadikan koloni yang diperas!” 

Para anggota Ludom terpompa nyalinya. Termasuk Synthia dan sang anggota baru, Arkhis. 

“Sekarang tunjuk jari, siapa yang berani meledakkan gedung kedutaan Sebrackshahood. Siapa?”ujar Boirkez. 

“Aku siap! Kesempatan ini sudah aku tunggu lama,” ujar Synthia dengan tenang dan pasti. 

“Kamu masih terlalu muda untuk mati, Synthia,”ujar Arkhis. 

“Ini bukan kematian sayang, tapi pembebasan.” 

“Bunuh diri kok bukan kematian.” 

Boirkez tampak kesal,”Arkhis! Mestinya kamu mendukung Synthia!” 

“Aku tak rela Synthia mati.” 

“Kamu siap jadi pengganti?” 

“Siap!” ujar Arkhis tiba-tiba. Semua orang kaget. Suasana pun jadi tegang. Arkhis merasa tanpa sadar menjawab. Dia ditekan rasa menyesal. “Maaf, maksud aku,” 

“Kata-kata yang sudah terucap tak bisa dicabut. Ini bagian dari sumpah Ludom!” hadik Boirkez. 

Synthia menggenggam erat tangan Arkhis. 

Arkhis mencoba melarikan diri. Namun para gerilyawan Ludom menangkapnya dan berhasil mengancam dan memaksa Arkhis untuk melakukan bom bunuh diri. 

Dan bom pun meledak di depan kantor kedutaan besar Sebrackshahood. Pemerintah Ludoz kalang kabut. Dunia mengutuk kekejaman itu. Datang bantuan tentara Sebrackshahood untuk mengatasi teror susulan. 

Tubuh Arkhis hancur berkeping-keping, kecuali kepalanya yang relatif masih dikenali, meskipun ringsek. Synthia sempat melihat wajah Arkhis di lokasi kejadian. Mata Arkhis menatap wajah Synthia. Terus menatap hingga Synthia lenyap dari kerumunan orang. 

*** 
Rombongan pengubur jenazah Arkhis masih mencari lokasi, setelah ditolak sana-sini. “Mau dikubur di mana?” ujar salah seorang penandu peti mati. 

Tak ada yang bisa menjawab. Dari jauh, Synthia melihat peti mati itu dengan tatapan mata basah. Mendadak ada pergolakan yang aneh dalam rongga dada Synthia. Boirkez, di mata batinnya, telah berubah jadi monster. Dia ingin mencabik-cabik monster itu dan keluar dari Ludom. 

Synthia menggigit bibirnya, menggigit duka yang maha pahit. Dia terus menatap peti mati itu. Ia merasakan kehangatan tatapan sepasang mata Arkhis. - g 

Indra Tranggono, pemerhati kebudayaan dan cerpenis. Dua bukunya yang sudah terbit: “Sang Tedakwa” dan “Iblis Ngambek”, penerima Hadiah Sastra dari Yayasan Sastra Yogya, pimpinan Prof Dr Rachmad Djokopradopo ( 2011).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 14 Februari 2016 

0 Response to "Mata yang Terus Menatap"