Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:30 Rating: 4,5

Mata

MULA-MULA ia menganggap kelainan yang menyerang matanya hanyalah akibat cuaca yang jelek, atau lantaran ia kurang tidur. Mata itu menjadi merah, bengkak dan berair. Ketika dua minggu belum juga hilang sakit yang menyerang matanya tersebut, barulah ia merasakan gangguan dikarenakan ia tak lagi bisa konsentrasi untuk melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Apalagi matanya yang kanan membesar dan ia merasakan sakit yang luar biasa seakan-akan ada benda keras yang terus-menerus menghantamnya.

Ketika kelainan tersebut ia konsultasikan pada dokter mata, ia tidak memperoleh kesenangan dari jawaban dokter yang mengatakan penyakitnya tidaklah berbahaya. “Hanya terlalu lelah. “Sampeyan istirahat saja,” begitu nasihat dokter. Mendengar jawaban  itu ia malah semakin gondok karena baginya dokter itu hanya mementingkan uangnya saja. Apalagi ketika ia disuruh untuk sesering mungkin berkonsultasi.

“Dengkul sampeyan itu yang perlu konsultasi,” ia memaki dokter itu dalam hati sembari ngeloyor.

Akibat yang ditimbulkan dari matanya yang kini menjadi menakutkan dan menjijikkan adalah ia menjadi tidak bisa lagi nguber para pejabat untuk diwawancarainya. Akibatnya ia tidak lagi menerima persenan yang lumayan dari pejabat. Sebagai penulis lepas, yang penghasilannya mengandalkan dari hasil tulisan yang dimuat, ia amat bergantung pada wawancara-wawancara macam itu. Karena disamping ia mendapat honorarium apabila tulisannya nongol, yang pasti ia akan memperoleh sangu pulang dari tokoh yang ia wawancarai, tentu saja dengans atu syarat, menuliskan hal-hal yang baik saja. Dan itu bukanlah persoalan lagi baginya.

Dengan matanya yang bengkak, merah dan terkadang seakan hendak melompat keluar ia tentu saja tidak berani mengadakan wawancara. Ia terpukul oleh keadaan itu. Lebih terhempas lagi adalah keadaan rumah tangganya yang menjadi terseok-seok ekonominya. Istrinya berubah jadi makhluk yang menakutkan dengan cacian dan sindiran-sindirannya. Perempuan memang menjadi makhluk asli apabila tidak memegang uang. Mulutnya akan seperti senapan mesin.

Semua terapi, segala obat dan cara-cara penyembuhan yang telah dilakukan tidak juga membawa hasil. Mata kanannya dari hari ke hari tampak menjijikkan, terus menerus menderaskan air kental dan berbau busuk.  

”Kenapa sampeyan tidak istirahat saja dahulu, seperti saran dokter,“ temannya memberi pendapat ketika mereka berdua bertemu di kantor surat kabar, ”Rekreasi, tamasya, agar mata sampeyan tidak terlalu lelah. Apa sampeyan juga masih senang dengan fotografi?“

Ia mengangguk.

”Nah, apalagi sampeyan tak mau menghentikan kesukaan itu. Santailah,“ temannya menasehati.

Namun ia sama sekali tak sependapat. Dalam situasi yang menghargai waktu dengan uang macam begini mana noleh bersikap santai. Hanya orang malas dan goblog sajalah yang senang bertamasya dan berleha-leha. Dan orang-orang macam itu akan tercecer di jalanan. Menjadi orang yang tidak kebagian apa-apa selain frustasi dan kemiskinan. Baginya, kesukaan macam begitulah yang menjadikan mental bangsa ini bukan mental juara. Lembek. Dan mudah puas.

”Menjadi orang itu harus tangkas. Dengan begitu kita akan selalu mendapatkan setiap kehendak kita,“ begitu ia selalu menasehatkan pada anak-anaknya. ”Yang pertama adalah memikirkan diri sendiri. Jangan sentimentil. Masa seperti seperti itu sudah berlalu. Jangan cepat merasa bersimpati kepada penderitaan orang lain. Hati-hati, karena orang lain juga punya kepentingan, yang siapa tahu merugikan sendiri?“

Dan terbukti didikan seperti itu menghasilkan sukses bagi anak-anaknya. Anak yang ulet dan tekun merintis karir bagi dirinya sendiri.

Suatu pagi, ia dikejutkan rasa perih yang terus menerus mencucuki bola matanya. Betapa kaget dan ngerinya ia ketika melalui cermin ia melihat mata kanannya berubah banyak, membiru dan mengeluarkan nanah. Bau busuk memenuhi ruangan. Mata kanannya telah muncul keluar dan bergerak-gerak mirip makhluk purba yang liar sekaligus membikin nyalinya bergidik.

Terdorong kengerian ia berteriak-teriak. Liar. Meraung dengan kepedihan yang tak pernah dimengertinya. Kegaduhan yang ditimbulkan olehnya cukup mengundang istri dan anak-anaknya serta beberapa tetangga. Ia masih menggelepar-gelepar ketika orang-orang mengerumuninya.

”Kenapa sampeyan?“

”Kesambet, ya?“

”Apa yang terjadi?“

”Mata, saya. Mata saya“ ia menjerit.

”Kenapa?”

Beberapa orang menahan gerakannya. Beberapa menit setelahnya ia bisa ditenangkan dan orang-orang langsung memperhatikan matanya yang biasa-biasa saja, cuma tampak merah.

”Mata sampeyan kena apa?“

Dan betapa kian tidak mengertinya ia tatkala ia melihat matanya tidak nongol keluar. Biasa saja hanya nampak merah. Dan orang-orangpun mengumpatinya, mencaci-maki. Istrinya ngedumel. Anak-anaknya malah lebih berani lagi, mengatakannya sebagai kurang pekerjaan saja. Cuma bikin kaget. Dan ia kembali dicengkeram kesendirian dan ketakutan yang tidak dimengerti sama sekali. Sebuah keadaan yang amat menghina dirinya. Bagaimana mungkin ia bisa dipermainkan situasi seperti itu? Ia tak habis pikir. Ia tidak bohong. Ia tidak main-main. Yakin, yah, ia yakin matanya memang berubah amat mengerikannya. Tetapi?

“Santet. Siapa tahu ada yang menyantet sampeyan,” temannya mencoba melihat persoalannya. “Barangkali sampeyan punya musuh, ada pihak-pihak yang merasa tersinggung atau merasa pernah disakiti oleh sampeyan. Maka cobalah sampeyan menghubungi orang pinter. Sekti. Yah, tentu saja kalau sampeyan percaya. Kalau setuju, saya bisa kasih informasi seorang dukun yang gini,” temannya menunjukkan ibu jarinya.

Atas petunjuk temannya itu, ia pun segera menjumpai dukun yan diberitahukan temannya, meski ia ragu-ragu apakah langkah ini akan menyelesaikan persoalannya. Dukun itu usianya sudah mendekati senja. Dan ia sama sekali tidak menaruk kepercayaan sedikit juga kepada dukun itu. Apalagi ketika duku tersebut cuma menasehatinya, yang kata dukun itu sebagai penyembuhan spiritualnya. Nasihat yang baginya sudah pantas dimusiumkan saja.

Mata dukun itu terus menatapnya, sementara mata dukun itu menggetarkan perasaan aneh yang membuat ia mangkel, dukun itu mencoba bahwa ia sudah saatnya menumbuhkan rasa syukur. “Ada yang sampeyan lupa dalam hidup sampeyan yang terus-menerus memuja duniawi. Kalau sampeyan yakin adanya hukum Tuhan, maka itulah yang tengah menyerang dalam jiwa sampeyan. Jiwa yang kesepian, yang tersesat dalam rimba ciptaannya sendiri tetapi tidak mampu sampeyan fahami. Orang yang baik itu tidak terseret dalam dunia yang ia ciptakan tetapi mencoba memahami dunianya. Dan itu dilakukan dengan mengalirkan cahaya Ilahiah yang tersimpan dalam setiap jiwa manusia. Itu tidak sampeyan lakukan selama ini.”

Kalau saja dukun itu tidak tua, tentulah sudah ia pecahkan batok kepalanya  ke tembok. Untunglah ia mampu menahan amarahnya, sehingga yang dilakukan adalah cepat-cepat minggat dari tempat yang membikin kupingnya terbakar.

“Sampeyan itu yang koplo!” umpatnya.

Tersuruk ia dalam keadaan mata kanannya yang terus menterornya. Keadaan mengerikan itu, dimana matanya menjadi borok dan berbau anyir serta terkadang nongol keluar dengan nanah yang mengandung binatang-binatang kecil. Pelupuk matanya mengkerut. Bijinya berkerak, sementara binatang-binatang kecil yang menjijikkan berkrugetan keluar. Memang mula-mula ia ngeri dan menjerit-jerit. Tetapi ketika setiap kali orang-orang datang matanya menjadi normal, ia merasa dipermainkan keadaan itu. Apalagi orang-orang menganggapnya sebagai mengada-ada. Ia lantas tak menjerit-jerit lagi. Hal itulah yang membuatnya amat tersiksa, karena harus menanggung kengerian itu sendirian. Pernah ia mencoba bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke tembok tetapi sia-sia. Nyawanya tak juga minggat. Ketika mencoba minum racun, mukanya saja yang berubah keras dan mata kanannya menggempal dan tak apa-apa. Malah matanya kian nyeri.

Ia dilempar pada dunia yang mengerikan. Sendirian. Dan ia tak tahu pintu mana yang akan membawanya keluar dari kengerian tersebut.

Waktu tidak memberinya kesempatan untuk memahami ruang apa yang ia masuki, segalanya menyergapnya dengan semena-mena. Bagai air bah segala sesuatunya menenggelamkan kesadarannya. Yang mana kenyataan dan yang mana pikiran tak dapat ia sadari. Baur membaur dalam ketakutan dan keinginan untuk lepas dengan keyakinan yang selama ini ia kukuhi. Ia diseret kesebuah rimba yang asing, dunia tanpa jawab sehingga bukan pengertian yang ada. Dunia yang terus bersamanya. Duani yang menderanya.

“Siapa sampeyan?” ia memekik.

Tak ada jawaban. Ia betul-betul merasa buntu. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Yogya Pos" Minggu 1 Juli 1990

0 Response to "Mata"