Melati Bukit Rembulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melati Bukit Rembulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:55 Rating: 4,5

Melati Bukit Rembulan

"JAGALAH melati di makam ini agar tetap tumbuh di dekat pusara leluhurmu!" Pesan Ibu pada Gandis, ketika lelaki itu berumur tujuh. Kini Gandis berumur 55. Ibu meninggal 10 tahun silam. Pohon melati itu masih juga tumbuh di sisi nisan leluhur, liar tidak rimbun benar, dan selalu berbunga putih rekah, mungil, harum. Tiap kali pohon melati itu mati, tumbuh lagi pohon melati baru di sisinya. Begini seterusnya, bertahun-tahun, berpuluh tahun, seolah-olah pohon itu tak pernah mati.

Dari lereng bukit, Gandis sudah mencium aroma bunga melati dalam kesenyapan senja. Pelan-pelan melangkah, mendaki ke arah Bukit Rembulan, Gandis didera perasaan bimbang. Ia hampir mencapai makam leluhur di puncak bukit. Bulan purnama seperti bisa diraih. Langit terang. Tapi hati lelaki setengah baya itu gundah. Ia tak pernah ziarah ke makam leluhurnya,  kecuali dulu pada masa kecil, diajak ibunya. Membersihkan makam, berdoa, dan menabur bunga. "Jangan pernah lupakan leluhur, asal mula kehidupanmu," kata Ibu penuh kebanggaan.

Berpuluh tahun, setelah Gandis berusia 55, dan ibu sudah 10 tahun meninggal, tak lagi pernah ziarah. Ia selalu memandang bulan purnama di atas bukit, seperti begitu dekat di atas bunga-bunga kamboja tua, tak jauh dari kepak sayap kelelawar di atas puncak pohon mangga. Ini kali dia datang ke puncak bukit, ziarah ke makam leluhur, pada senja yang sunyi, sendirian, untuk menemukan ketenangan.

"Coba kaupikir lagi," kata pengusaha kepada Gandis di ruang tamu." Ini kesempatan baik bagimu untuk mencalonkan diri sebagai wakil walikota. Kami akan mendukungmu. Akan memberikan semua biaya yang kau perlukan."

"Apa aku pantas akan kedudukan itu?"

"Yakinlah! Segera mendaftar. Kami akan memasangkanmu dengan walikota yang kini berakhir masa jabatannya. Dia sangat populer di hati rakyat."

Pengusaha itu sangat ramah, penuh semangat, wajah bercahaya, dengan kepala botak berkilau. Dia sudah meninggalkan ruang tamu. Tapi Gandis masih duduk, termenung, seorang diri. Tiga batang rokok disulut, dihisap, dan terbakar luruh sebagai abu. Ia tertegun di ruang tamu. Masih tersisa harum tubuh pengusaha itu. Masih terngiang suara tawanya. Masih terpancar sepasang matanya yang penuh harapan. Ia bicara dengan penuh kepastian.

Gandis bimbang. Apa yang akan kuputuskan? Ketika umurnya sudah mencapai setengah abad lebih, ketika kedua anaknya, Wulan (22) dan Lintang (19) sudah kuliah dan meninggalkannya, dia tinggal berdua dengan istri (47), mestikah menjadi pejabat? Kesepian mulai menggersangkannya. Istri yang tak pernah emncintainya itu, semenjak menikah sampai hari ini, senantiasa hidup dengan dirinya sendiri, dengan kemauan-kemauannya sendiri.

***
RUANG tamu itu menjadi gersang pada senja yang muram, ketika istri Gandis masuk. Duduk berhadap-hadapan dengan Gandis. Dari sepasang mata istrinya yang tajam, yang penuh dengan hasrat terpendam, yang kadang tak terduga. Gandis merasa bakal berhadapan dengan kemauan yang keras. Sepasang mata perempuan itu senantiasa menyerangnya. Sepasang mata yang selalu menggugatnya. Wajah istri Gandis diliputi dengan kemarahan, diliputi dengan kemurkaan.

"Lalu, kehidupan macam apa yang ingin kauberikan padaku, kalau kau menolak hidup sebagai pejabat?" tanya si istri tajam, menggugat, dan menyudutkan Gandis.

"Ya seperti yang kita jalani selama ini. Inilah kehidupanku."

"Membosankan!"

Gandis tak ingin pertengkaran yang meruncing, yang kemudian akan disusul dengan kata-kata kasar, saling memaki, saling menyalahkan, saling tuding, dan saling terluka. Hampir tiap hari istrinya marah, menyerang dan memaki Gandis. Tentu akan terjadi pertengkaran yang dahsyat bila Gandis tak menahan diri. Istrinya selalu menikmati pertengkaran dengan suami. Perempuan itu akan tetap nyenyak tidur, akan tetap menikmati hidup dengan tenang.

Matahari telah tenggelam, dan gandis keluar dari ruang tamu. Ia memandang bukit. Di puncak bukit itu ada makam leluhurnya. Telah bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun, ia tak ziarah ke makam leluhurnya. Ia bukan seorang peziarah seperti ibunya, yang senantiasa membeli bunga mawar, kantil, dan kenanga untuk ditaburkan di atas nisan kakek neneknya -lurah dari kehidupan masa silam, dengan kekayaan tanah hampir separuh kampung pinggir kota besar ini. Tanah-tanah itu dibagi pada ahli waris, ke ahli waris berikutnya, hingga tak ada bekasnya. Kekayaan keturunan leluhur sudah tak terlacak lagi, banyak di antaranya dijual pada orang-orang berduit dari kota.

***
AROMA bunga melati itulah yang pertama kali dihirup Gandis ketika berjongkok di sisi makam leluhurnya. Ia tepat berada di puncak bukit rembulan, menghadap ke timur, menatap lurus bulan purnama yang menerangi rekah bunga-bunga melati. Saat ia menoleh ke kiri, ke arah utara, terlihat kota mulai berpendar gemerlap serupa kunang-kunang, laut menghitam, perahu nelayan terapung-apung berpencaran, terhampar dermaga, remang alur sungai, kampung-kampung kumuh di tepi pantai dan tambak ikan.

Gandis masih ingat benar, bagaimana pengusaha yang membujuknya menjadi wakil walikota itu datang pada sebuah sore, dengan wajah yang penuh rayu, mulut manis yang berbisa, memintanya untuk memengaruhi penduduk sekitar Bukit Rembulan menjual tanah dan merelakan makam tua itu dipindah. Tercium harum tubuhnya. Licin botak kepalanya. Penuh ambisi pada sepasang matanya.

"Kami berniat membeli tanah di puncak Bukit Rembulan, dan memindahkan makam," kata penguasa itu. "Kami memerlukan dukunganmu. Kalau kau ikhlas melepas makam di puncak bukit itu dipindah, tentu orang-orang lain akan merelakan makam dan tanah di sana dijual."

"Mengapa kami harus memindah makam?"

"Toh itu cuma makam tua. Tidak ada lagi orang ziarah. Lihat, bukit itu jadi angker," kata pengusaha. "Kami akan membuat lapangan golf dan vila puncak bukit yang menghadap ke kota dan laut."

Gandis teringat pesan Ibu untuk merawat pohon melati yang tak mati-mati di sisi makam leluhurnya. "Tidak. Aku tak akan pernah menjual makam itu. Aku juga tak akan pernah memengaruhi orang-orang untuk memindah makam leluhur ke tempat lain."

"Kami sudah menyediakan lahan tak jauh dari tempat ini," bujuk pengusaha itu.

Menggeleng, pelan, dan pasti, Gandis menolak bujukan pengusaha. Dia tak berani dusta pada pesan Ibu. Pohon melati yang berada di dekat makam leluhurnya mesti dirawatnya.

"Kami sediakan ganti rugi, uang yang cukup besar bagi para ahli waris makam itu."

Gandis tetap menolak. Bunga melati itu sungguh mengagumkan, senantiasa tumbuh pohon baru, bila pohon yang sebelumnya mati telantar di musim kemarau. Kisah tentang pohon melati yang senantiasa tumbuh dan berbunga itu dituturkan para peziarah yang rajin membersihkan makam dan berdoa di Bukit Rembulan.

***
MEMANDANGI pohon melati yang tidak rimbun daun-daunya, tetapi senantiasa memekarkan bunga-bunga mungil itu, harum, dan rembulan bangkit di langit menerangi bukit, Gadis mulai paham kini akan wasiat Ibu untuk merawat bunga melati itu. Ibu memang tidak dimakamkan  di Bukit Rembulan. Makam ini sudah terlalu tua dan hanya berisi beberapa makam leluhur. Ada makam di timur kampung yang lebih datar, lebih luas, dan lebih bersih --tempat penduduk dikubur, untuk beristirahat dengan tenang.

Masih diingat Gandis, ketika ia bakal menikah, Ibu bertanya, "Apa kau tak bisa berpisah dari calon istrimu?"

Gandis terbelalak waktu itu. "Kenapa mesti berpisah, Bu?"

Tertegun sesaat sambil memandangi bunga-bunga  melati itu, Ibu menukas, "Perempuan itu mestinya memiliki sifat-sifat pohon melati ini, tumbuh di tempat gersang sekalipun, tak gampang layu, dan senantiasa memekarkan bunga-bunganya, dengan aroma semerbak harum. Calon istrimu sepertinya jauh dari keindahan bunga melati."

"Kita sudah melamarnya. Tak mungkin aku berpisah dengannya begitu saja."

"Kalau begitu, kau harus tabah." Teringat akan kata-kata Ibu di masa lalu, sebelum Gandis menikah, ia mulai paham kini akan segala hal yang dijalaninya. Ia mesti segera memutuskan: akan mengikuti permintaan pengusaha untuk menjadi wakil walikota, atau menolak. Ia pandangi bunga-bunga melati itu. Ia hirup bau harum yang lembut. Ia rasakan cahaya bulan. Ia bangkit. Menuruni jalan setapak makam tua itu.

Keputusan Gandis sudah pasti: menolak permintaan pengusaha itu. Ia tak mungkin mencalonkan diri sebagai wakil walikota dengan dukungan pengusaha itu. Di kemudian hari, ia tak mau diperas pengusaha itu. Langkah-langkahnya tenang menuruni jalan setapak Bukit Rembulan. Terhadap desakan istrinya, ia mesti menjawab dengan tenang: menolak mencalonkan diri sebagai wakil walikota.

Tiba di rumah alangkah sunyi. Istri Gandis sudah kabur meninggalkannya.

***
MENDAKI Bukit Rembulan tiap bulan menjadi kesukaan Gandis. Terutama bila bulan purnama muncul, cuaca cerah, langit tak berawan, lelaki 55 tahun itu mendaki jalan setapak ke makam leluhurnya. Dia memotongi tangkai-tangkai pohon melati yang menjalar liar dan mengering. Kadang membawa seember air bila musim kemarau. Tak pernah sekalipun ia memetik bunga-bunga melati yang bermekaran. Bila hatinya sedang sedih memikirkan istrinya yang pergi dan tak pernah kembali, ia akan mendaki jalan setapak ke Bukit Rembulan. Hatinya menjadi tenteram, memandangi pohon melati.

Gandis paham sekarang, pohon melati itu telah memberinya kententraman, harapan, dan ketangguhan. Pohon yang berkali-kali melampaui musim kemarau, tak terawat, tetap tumbuh memekarkan bunga-bunga putih mungil. Istrinya tak pernah kembali. Mencalonkan diri sebagai wakil walikota, berada di mana pun ia suka, sibuk setiap hari, dengan foto besar-besar terpajang di sepanjang jalan, terpasang di pohon, terbentang di spanduk, iklan, selebaran, dan baliho-baliho berdebu di seluruh penjuru kota.

Perempuan itu sudah lenyap dari hati Gandis. Di hatinya kini senantiasa teringat akan pohon melati di Bukit Rembulan. Dia memerlukan menengok dan merawatnya, kadang bersama kedua putrinya bila pulang dari kota yang jauh: Wulan dan Lintang. Ia menemukan ketentraman hati di sini. (92)

S Prasetyo Utomo, dosen Universitas PGRI Semarang. Karyanya pernah dimuat di media lokal mau pun nasional. (*)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya S Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 31 Januari 2016


0 Response to "Melati Bukit Rembulan"