Pada Tubuhmu yang Hancur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Tubuhmu yang Hancur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:20 Rating: 4,5

Pada Tubuhmu yang Hancur

AKU dengar sudah tiga hari kau terbaring di atas dipan. Kabar-kabar sakitmu serius, bahkan kau sulit berjalan untuk sekadar mengambil segelas air minum di dapur. Rasa-rasanya sudah tahunan kita tak bertemu. Kau yang tak pernah mau pulang setelah hari pernikahanmu. Ah, sebegitukah kau membenciku? Dan aku, enggan rasanya menemui orang yang murka kala melihatku.
DULU, kau bahkan tak mengabariku jika istrimu melahirkan anak pertamamu itu. Tetangga sebelah bilang, bayimu berhidung mancung seperti istrimu dan matanya sedikit sipit menurunimu. Sekali dua kali, aku ingin datang, menimang-nimang cucu pertamaku. Ikut menyumbang sebaris nama untuknya. Tapi, sepertinya kau tak pernah mengharapkan kedatanganku sehingga kuurungkan lagi niatanku.

Sebetulnya, aku juga ingin, aku ingin pergi berkunjung pada hari lebaran. Entah memasuki umur ke berapa tahun anakmu, mungkin dia sudah lincah berlarian. Tapi, bukankah seharusnya kau yang menemuiku pada hari suci itu? Nyatanya, hingga berganti bulan, kau tak kunjung datang. Aku rasa, kau benar berniat menjauhiku.

Terakhir kali kita bertemu ketika kau diceraikan istrimu. Tepat satu tahun lalu, kala anakmu sedang senang-senangnya jalan tertatih-tatih. Sekilas mata kita sempat saling tatap, tapi dengan cepat kau mengalihkan pandang. Apa yang ada dalam pikiranmu? Hingga sedikitpun kau tak mau sekadar melihatku, apalagi menyapaku.

Ketika hakim mengetuk palu, ketika itu pertama kali kau meneteskan air matamu setelah sekian lama kau terlihat sebagai pria tangguh layaknya aku. Di ruang pengadilan itu, kau biarkan semua orang melihat kesedihanmu. Semua orang melihat kerapuhanmu sehingga beberapa orang merasa kasihan padamu, termasuk diriku.

"Mengapa kau mau diceraikan?" kataku sedikit berbisik. Ah, apa salahnya jika aku yang lebih dulu menyapamu.

"Mengapa Bapak bercerai?" sahutmu setelah lama menatapku.

"Ibumu yang memintaku karena dia tak pernah mencintaiku." Kau beringsut pergi setelah mendengar jawabanku. Apakah itu juga alasanmu? Cinta, hanya karena kata cinta kita melepaskan seorang yang amat berharga.

**
KAU memang lelaki baik. Kau mencintai orang lain tanpa pandang bulu. Tapi cintamu itu lebih pantas untuk gadis yang juga baik sepertimu.

"Aku akan menikahinya, Pak." Kau pelan-pelan bicara padaku.

"Apa tak ada wanita yang lebih baik darinya?"

"Tidak ada. Aku sungguh mencintainya. Dia memang janda, Pak. Tapi dialah yang terbaik."

"Kau ini tampan juga mapan. Kenapa harus janda? Sudah, biar nanti Bapak yang carikan."

"Restui sajalah kami, Pak. Aku mohon...."

"Tidak! Bapak tidak rida jika kau menikah dengannya!"

Kau tertunduk, diam. Mengapa kau tak pernah mau belajar dari sejarah paling kelam? Kau tahu, ibumu dulu seorang janda yang kunikahi. Tapi setelah melahirkanmu, ia meninggalkan kau dalam gendonganku. Dia bilang, ia akan kembali pada suami pertamanya yang tiba-tiba jadi kaya-raya. Kemudian ia menceraikanku saat kau baru pandai mennyusu.

Ah, andai saja dulu kau dengar kata-kataku. Anda saja dulu aku berhasil menggagalkan pernikahanmu dengan janda itu. Takkan pernah ada perceraian. Tapi kau justru menikah tanpa restuku. Kau menitip pesan kepada paman agar aku datang. Kau kira aku akan berubah pikiran? Tidak, aku tak sudi datang ke pernikahan kalian. Sejak itu, kau pun tak pernah menemuiku.

Benarkah kau sangat membenciku?

Sudah setengah tahun yang lalu sejak perceraianmu kita tak bertemu.

**
INI hari Jumat, aku berniat akan menjenguk dengan serantang puding cokelat kesukaanmu. Mereka bilang sudah sewajarnya aku menemuimu. Mungkin, pada saat sakit seperti ini, kau akan ingat bahwa aku ialah ayahmu. Aku juga membeli buah di pasar, semangka manis tak berbiji. Sebagai ayah yang merangkap jadi ibu, aku tahu apa-apa kesukaanmu.

Sebagaimana dusun, hati orang-orang juga hancur. Kabar tersampaikan bahwa kawasan tempat tinggalmu tertimbun tanah longsor. Hujan deras sejak Kamis lalu menimbulkan bencana terparah di Banjarnegara. Longsoran bukit-bukit seketika menyapu pemukiman penduduk. Jadikah aku menemuimu Jumat ini, sedangkan longsor juga menutupi jalan lintas antarkabupaten di kawasanmu?

Ah, sial, mengapa longsor harus datang pada hari Jumat kala aku baru saja akan menjengukmu? Aku ingin menyuapimu seperti waktu kau bayi dulu. Aku ingin menyanyikan tembang agar kau lelap dalam tidurmu.

Pukul sepuluh pagi. Aku harus menemuimu. Akan kuserahkan tangan ini untuk kau salami. Tak seharusnya kita saling membenci. Tak seharusnya kita saling tak peduli. Aku juga ingin menimang-nimang cucuku. Aku membawakannya balon bergambar bebek kesukaanmu pada masa kecil dulu.

Jalanan sunyi, hanya beberapa yang melintasi. Benarkah longsoran tanah telah menimbun dusun? Kupercepat laju motorku. Seketika tubuhmu menyergap memoriku. Tubuhmu hancur tertimbun. Aku membayangkan rumahmu roboh, genting-genting runtuh dan kaca-kaca pecah berserakan di bawah tanah.

**
MUNGKIN kau lari kala mendengar reruntuhan tanah, menggendong anakmu dengan susah payah keluar rumah. Lantas dengan motor kau pergi dari dusun. Jika saja kita tak saling membenci, tanpa malu kau bisa melarikan diri ke gubukku, tempat tinggal masa kecilmu. Tak seharusnya kita lama tak saling sapa. Dan, sejujurnya, aku pun merindukanmu. Tapi, mengapa harus aku dulu yang datang menemuimu?

Anak-anak menangis kehilangan orangtua, sanak, dan saudara. Orang-orang berwajah pilu. Dusunmu kini rata. Tak ada satu pun rumah terlihat berdiri di sana. Ah, kau ada di mana kala seperti ini? Siapa yang bersamamu? Siapa yang membantu meredakan tangis anakmu? Mungkin anakmu ketakutan, apa kau berhasil menenangkannya?

Pukul sebelas malam. Aku lelah, mataku kurang tidur sehabis begadang nonton wayang semalam. Aku tak mendapatimu di beberapa tenda pengungsian. Kau di mana? Benarkah kini kau tak mau memaafkanku? Karena mungkin saja kau melihatku  memasuki sebuah tenda, tapi dengan sengaja kau membiarkanku meninggalkanmu.

Aku menanyakanmu kepada beberapa tetangga, tetapi tak ada yang melihatmu. Benarkah kau melarikan diri ke luar dusun bersama anakmu? Mungkin ke rumah kerabat atau teman sekantor. Beberapa kali aku menelefon, tapi tak kau terima telefonku. Sebegitukah kau tak mau bicara denganku?

Aku lapar, biar sejenak aku istirahat dan makan. Aku telah mendapati lokasi rumahmu yang rata tersapu tanah. Aku berharap kau tak ada di dalamnya. Tubuhku lelah, ototku pegal, dan tulangku mulai sedikit nyeri. Biarlah aku tidur sebentar, sebentar, sebentar sekali.

Beberapa donatur datang. Pengungsi sibuk saling berebut. Suara berisik mereka membuatku terbangun. Apa kau sudah makan malam? Kau paling suka makan berlauk oseng teri campur kecambah dan pete bakar sebagai pelengkap. Sewaktu kau kecil, aku senang memasakkanmu menu itu. Kau bisa habis dua piring sekali makan lantas dengan senang kau bilang, "Biar aku yang mencuci piringnya, Pak."

Donatur lebih banyak lagi berdatangan. Membawa pakaian, selimut, peralatan mandi, dan banyak lainnya. Aku sengaja meminta satu selimut untukmu. Bersih putih warnanya. Jika nanti kau ditemukan tak bernyawa, biar selimut ini yang lebih dulu menutup tubuhmu. Ah, tidak! Aku harus lebih dulu menemuimu sebelum kematianmu.

Pukul satu malam, aku kembali menguap. Para pengungsi mulai tertidur. Aku memasuki tenda-tenda sesak lantas keluar tanpa melihatmu, juga anakmu. Aku berjanji, besok akan kembali mencarimu. Biarlah sejenak aku tidur di antara tumpukan barang-barang dari para donatur. Aku berjanji, besok akan menemukanmu.

**
HARI Sabtu pukul dua siang, sebanyak dua belas orang ditemukan meninggal oleh tim gabungan. Mereka bilang, pencarian terkendala oleh cuaca dan medan berat karena akses jalan terputus oleh longsoran tanah. Aku bersikeras melihat para mayat. Syukur, tak ada kau di sana.

Jalan lengang, beberapa kendaraan tertimbun. Sudah jelas, semua pengemudi dan penumpang meninggal. Benarkah kau sempat keluar dusun? Jika tidak, sekarang kau ada di mana? Mereka bahkan telah menggunakan life locator dan acoustic device untuk mendeteksi detak jantung ataupun gerakan di bawah longsoran tanah. Tapi, kenapa tak ada tanda-tanda tentangmu di mana-mana?

Barangkali kau tak mau bertemu. Tenda-tenda pengungsian masih berdiri di beberapa tempat, seperti di kantor camat dan kantor kelurahan. Mungkin kau ada bersama mereka di bawah tenda. Kau sedang menidurkan anakmu di atas tikar. Kau melihatku, tetapi sengaja menghindar. Barangkali kau tak mau bertemu.

Andai saja tak ada pertengkaran, kau tak perlu mengontrak di kabupaten yang memiliki kawasan pegunungan dengan risiko tanah longsor cukup tinggi ini. Kau bisa tinggal bersamaku, menemaniku. Aku yang akan merawat anakmu kala kau pergi bekerja sehingga kau tak perlu mahal-mahal membayar tempat penitipan anak. Setidaknya, anakmu ialah cucuku. Ada darahku yang mengalir di sana.

Jalan semakin lenggang, terasa sekali angin semilir menyusup pori-pori kulit. Aku menyusuri bukit. Mungkin kau sedang tertidur di atasnya. Barangkali kau terbaring kedinginan. Kulihat banyaknya timbunan. Orang bilang, kurang lebih ada sekitar 100 orang, 35 rumah dengan sekitar 82 keluarga. Aku berdiri tak jauh drai jurang, akan sulit kendaraan memasuki area ini.

Kakiku menyusuri jalanan, lokasi longsor sekitar 50 meter di bawah jalan utama. Jalan desa ikut tertimbun. Seperti itukah hatimu, tertimbun kekecewaan atas keputusanku untuk tak merestuimu? Seperti itukah dirimu, tertimbun amarah untukku? Lantas nanti jika dusun ini kembali berdiri, mungkinkah kau mau bertemu denganku dan memaafkanku?

Langit menghitam. Awan menangis. Aku menemukanmu, aku melihatmu di rumah. Tak kau hiraukan tanah longsor yang menimbun rumahmu. Kau terbaring memeluk anakmu di atas dipan dengan selimut abu-abu tersingkap. Aku mendapati tubuhmu yang hancur.

Sebegitukah kau sangat membenciku sehingga kau enggan berpamitan sebelum meninggalkanku? Seberapa dalam rasa sakitmu sehingga tak kau coba mengobatinya dulu? Aku merindukanmu. Pada tubuhmu yang hancur, kutelusuri kebencianmu. Kutelusuri setiap luka yang pernah kutebar untukmu. Lain waktu, kelak, di tubuhmu yang hancur, aku berharap ada kesempatan untuk kuulurkan tanganku agar kau salami.***

Nunuk Priyati, lahir di Kebumen, 24 September 1994. Menulis cerita sejak SMA dan beberapa karyanya terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Yogyakarta dan tercatat sebagai mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Priyati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 31 Januari 2016

0 Response to "Pada Tubuhmu yang Hancur"